
"Berikan ponselmu kalau begitu."
Erekleus meraba ponsel di saku baju tidur Dinda yang mungkin mau dia persiapkan sebagai jebakan juga. Lalu pada ponsel itu ia berbicara.
"Argan, kamu mendengarku?"
Ponsel itu tiba-tiba menunjukkan pola mawar merah, emas, dan hitam kelam sebagai tanda ponselnya terkontrol oleh sistem Narendra.
"Berikan foto mesraku dan istriku. Sebanyak mungkin."
Dinda yang masih cengo melihat ponselnya diajak bicara semakin syok saat foto-foto Erekleus bersama seorang wanita super duper duper cantik.
Mereka memakai pakaian megah, bertatapan, berciuman, berpelukan, berdansa di tengah keramaian, seolah-olah mereka adalah pemeran sebuah drama cinta klasik.
"Sekarang percaya? Atau ingin istriku bicara langsung?"
Nampaknya tidak. Erekleus menepikan ponsel yang tengah otomatis menghapus jejak-jejak foto tadi, sementara Erekleus membelai pipi gadis di bawahnya.
"Syarat tidur denganku sangat mudah, Nona." Erekleus mengecup bibirnya. "Hilangkan dulu rahimmu. Benihku berharga. Tidak bisa jika tumbuh di sembarang tempat."
Dinda hanya bisa menahan malu.
"Tapi aku akan menerima rayuanmu sedikit." Erekleus akan memanfaatkan dia sebaik mungkin. "Tetaplah bersamaku sebentar. Sampai aku pergi."
Benar kata Yohana. Gadis ini pasti bisa mengintimidasi Mute secara tidak langsung.
*
"Dinda, gimana kemarin?" Bunga langsung mengunjungi kamar anaknya begitu Erekleus pulang. "Kamu sama dia ngapain? Kamu bakal dinikabin kan?"
"Boro-boro!" Dinda menjawab ketus. "Dia udah nikah beneran, Bu! Udah punya istri!"
"Hah?"
"Dan istrinya tuh cantik banget!" Dinda menggaruk kasar rambutnya, frustrasi mengingat gambar wanita itu. "Cantiknya tuh kayak, ugh, cantik banget! Aku tuh enggak ada apa-apanya! Cantik banget, cantik bangeeet! Aku nari bugil juga enggak bakal dilirik kalo dibandingin sama istrinya!"
Dinda pundung hanya karena foto istri Erekleus. Dia bahkan pantas disebut bidadari nyasar di bumi. Ngimpi deh jadi istrinya. Duh, ngimpi yang terlalu keterlaluan.
"Tapi seenggaknya dia bilang aku boleh deket-deket."
Itu sudah lebih dari cukup. Menikmati dia selagi masih bisa.
*
*
*
__ADS_1
"Anda tidur dengan gadis itu, Tuan Muda?"
Erekleus mengangkat alis. "Tidak," jawabnya tenang. "Aku hanya menciumnya dan menyentuh dia. Tidak berseng-gama kalau maksudmu itu."
"Boleh saya tahu alasannya?"
"Dia masih perawan. Jelas dari tingkahnya." Erekleus menggeleng jemu. "Aku sudah tidak mau berurusan dengan gadis perawan."
Kecuali itu istrinya. Tapi kalau untuk ditiduri di luar, itu tidak boleh.
Yang penting adalah Erekleus sudah membuat kesepakatan bersamanya. Dia boleh menempeli Erekleus di mana pun, bertingkah seakan dia sudah memilikinya, agar Mute mundur sendiri.
"Dia mencariku?" tanya Erekleus ketika tiba di tendanya, menjelang pukul lima oagi.
"Ya, Tuan Muda." Erina menjawab. "Dia menunggu Anda sepanjang malam dan baru masuk setelah jam sebelas."
Erekleus menghela napas penuh rasa bersalah. Sungguh kalau saja ia bisa jujur, setidaknya Mute paham. Tapi Erekleus malah jadi penakut untuk hal seperti ini.
"Apa ada kain dari Ibunda untukku?"
"Ya, Tuan Muda. Anda ingin membuat sesuatu?"
"Berikan selendang pada Dinda."
Yohana sempat terkejut. "Tuan Muda, kain Anda berpola mawar. Jika digunakan sembarangan itu justru ...."
"Baik, Tuan Muda."
Erekleus mandi, memasang pakaian lengkapnya lalu keluar disambut oleh banyak anak-anak yang seperti sudah menunggunya.
Mereka semua suka bermain dan Erekleus sangat suka meladeni mereka bermain.
Dari dalam rumahnya, Mute mendengar keributan khas. Suara tawa keras dan ceria juga jeritan para gadis yang berarti pusatnya adalah Erekleus.
Mute buru-buru keluar, hendak memanggilnya karena ia merasa mereka harus bicara soal kejadian waktu itu.
"Tuan Muda."
Mute menepuk lengan Erekleus.
"Mutia." Erekleus tersenyum. "Selamat pagi."
Perasaan Mute langsung menghangat. Baiklah, sepertinya Erekleus sudah tidak sibuk jadi dia tidak akan kabur lagi.
"Saya mau ngomongin soal—"
"Tuan Muda!" Dinda tahu-tahu datang, menyenggol bahu Mute untuk memeluk lengan Erekleus. "Selamat oagi, Tuan Muda," sapanya penuh keceriaan.
__ADS_1
Selama ini Mute selalu yakin bahwa Erekleus tidak menyukai Dinda, bahkan risi padanya. Tapi Mute mematung kaku saat Erekleus balas tersenyum manis.
"Selamat pagi, Cantik. Wangimu menyenangkan hari ini."
Apa? Itu sapaan normal? Erekleus memang suka memuji wanita cantik, bahkan nenek-nenek dan anak bayi. Tapi dia tidak pernah sampai berkata 'wangimu menyenangkan' seolah dia mengisyaratkan ketertarikan seksu4l.
Jangan bilang kemarin mereka tidur bersama? Tidak, kan?
"Tuan Muda, bukankah Tuan Muda berjanji memberi saya sesuatu? Saya sangat menunggu!"
"Benarkah? Maka kemari." Erekleus merangkul Dinda terang-terangan, lalu memberinya sebuah selendang sangat amat cantik, mewah dan berkelas.
Berpola mawar.
Pola yang katanya bahkan tidak boleh dipakai oleh sembarang orang. Bukankah dia yang bilang itu tidak boleh diberikan?
"Wah, kainnya lembut!" Dinda tertawa ceria. Berputar-putar mengibarkan selendang di bahunya. "Ini untuk saya? Anda tidak berbohong?"
"Tentu saja. Itu kain khusus jadi pakai dengan bangga."
Dinda tertawa girang. Dan yang paling mengejutkan dia tiba-tiba berjinjit, mencium pipi Erekleus. "Terima kasih, Sayang."
Bukan risi, bukan terkejut, bukan pula mendorong, Erekleus malah balas mencium kening Dinda. "Senang membuatmu senang, Gadis Kecil."
Detik itu juga Mute berbalik, menyadari bahwa ia telah percaya pada badjingan.
**
**
Mute masuk ke kamarnya untuk menangis keras di bawah bantal. Ia merasa sangat bodoh sudah berfirasat baik pada pria itu. Dia sangat bertanggung jawab, dia juga sangat membuktikan ucapannya jadi Mute pikir dia tidak akan menyakitinya. Tapi dia malah melakukan itu setelah dia mendekati Mute?
Lalu malam itu apa? Kenapa dia melakukannya? Mute secara sukarela memberikannya karena ia pikir dia pria baik dan sangat layak, tapi ternyata dia cuma pria br3ngsek yang tidak mau ambil pusing?
Ya, ya, dia sangat tampan, gagah, dan kaya. Tentu saja dia merasa dunia miliknya dan semua gadis harus rela padanya.
Mute terduduk. Mengusap kasar leher dan tubuhnya yang belum melupakan sentuhan itu.
Sangat intens. Dia melakukannya seperti dia ingin membuatnya nyaman setiap detik. Tapi kemudian dia lupakan? Mute tak mungkin menuntut. Itu justru membongkar aibnya bahwa ia berzinah dengan si Tuan Muda.
Lalu jika ketahuan apa warga akan menyalahkan dia?
TIDAK! Erekleus adalah kesayangan semua orang sebab dia memberi makan, memperbaiki jalan, memastikan air mengalir, memastikan listrik stabil, dan melakukan banyak hal yang sangat berarti sementara Mute hanya beban desa yang tinggal bersama neneknya yang sekarat.
"Mute!"
Sambil berusaha keras menahan tangisnya, Mute masuk ke kamar nenek yang minta diberi air. Mute terisak-isak di sebelah neneknya dan Nenek Iyem sudah terlalu tua untuk sadar.
__ADS_1
*