Mengandung Anak Suami Orang Lain

Mengandung Anak Suami Orang Lain
21


__ADS_3

Mute bahkan merasa tidak boleh bersedih sekarang. Ia mendadak takut dan ingin pulang. Tapi Mute juga sadar bahwa Tuhan seolah menyuruhnya berada di sini, karena mengambil Nenek tepat sebelum kedatangannya kemari.


Mute pikir keluarganya sekarang adalah Erekleus, tapi ternyata semuanya cuma ketidaksengajaan?


"Nak." Roxanne menepuk bahu Mute dan menyadarkannya dari lamunan.


Entah sejak kapan mereka berada di dalam sebuah kamar luas, sangar amat luas bahkan untuk disebut luas saja.


"Anak itu dilarang meminta maaf karena namanya." Roxanne menggenggam tangan Mute. "Jadi sebagai gantinya, tolong maafkan dia kalau melakukan kesalahan. Saya berjanji akan memastikan kamu tidak tertindas di tempat ini. Jangan khawatir."


Mute mengerjap. ".... Tante enggak marah?" tanyanya ragu-ragu. "Saya orang miskin, enggak punya pendidikan, jadi selingkuhan anak Tante. Tante enggak—"


"Sshhh, sama sekali tidak." Roxanne justru memeluknya. "Percayalah setidaknya keluarga ini tidak pernah memandang status kemiskinan."


Air mata Mute kembali berjatuhah. "Tapi saya jadi pelakor," isaknya pedih.


Sungguh ia tak terpikir. Jadi sejak awal omongan Dinda benar bahwa dia beristri? Mute sangat percaya bahwa itu karena Erekleus mau menolak Dinda dan semua gadis yang berharap dekat dengannya.


Lalu bagaimana dengan istri Erekleus? Dia pasti merasa sangat terkhianati. Dia pasti sangat membenci Mute sekarang.


"Jawab saya, Anak Kecil." Roxanne melepaskan pelukan itu. "Apa anak saya memaksa? Dia memperkosa kamu? Melakukannya sementara kamu menolak?"


Mute menggeleng samar.


"Kalau begitu semua baik-baik saja." Roxanne mendorongnya pelan ke tempat tidur. "Berbaringlah. Seseorang akan segera datang membantumu."


Mute hanya diam sepeninggal ibundanya Erekleus. Matanya menatap langit-langit kamar yang begitu mewah. Rasanya kalau mereka mengaku sebagai keluarga terkaya di muka bumi, Mute akan percaya begitu saja saking mewahnya.


Mungkin karena lelah, Mute pun tertidur. Badannya jadi gampang capek sejak hamil. Tak tahu apakah karena ia hamil di usia terlalu muda.


Ketika terbangun, Mute dikejutkan oleh kehadiran Erekleus dan istrinya.


"Kamu tidur sangat lama." Erekleus tersenyum lembut. "Bangun dan makanlah, lalu mandi dan beristirahat lagi."


Sekarang Mute canggung melihatnya. Ia tak boleh menuntut lebih jika benar Erekleus sudah punya istri.


Di sisi lain, Erekleus yang melihat Mute jadi sangat pendiam sadar bahwa perempuan itu tak nyaman.


"Kamu marah padaku?"


Mute hanya diam.


"Jika kamu tidak ingin aku ada, maka aku—"

__ADS_1


"Saya mau pergi." Mute mendongak pada Erekleus. "Saya mau pergi."


"Mutia—"


"Maksud saya, pisah baik-baik aja." Mute buru-buru menjelaskan pikirannya. "Saya bakal tinggal di tempat lain. Kalau kamu mau tanggung jawab, kamu bisa kasih saya uang bulanan. Saya enggak bisa tinggal di sini kalau—"


"Nona Muda." Ariadne menghentikan ucapan itu. "Bayi di perutmu jauh lebih berharga dari negara ini."


Eh?


"Tolong jangan menganggap kamu terjebak dalam situasi hamil tanpa sengaja lalu kamu ingin pergi membesarkannya sendiri. Itu tidak bisa, Nona. Bayi itu menanggung darah Narendra. Itu seperti bayi seorang raja dunia yang terikat takdir pada tahtanya."


Mute menyentuh perutnya sendiri. Tapi kalau ia berada di sini, bukankah ia akan sangat mengganggu mata mereka? Bukankah jauh lebih baik dirinya menjauh?


"Nona Muda, kamu ingin bayimu lahir?"


Mute terkejut akan pertanyaan dari istri pria yang menghamilinya itu.


"Itu ...." Mute tidak tahu. Ia sekarang tidak tahu karena ternyata situasi tidak sesederhana ia bisa meminta dinikahi sebagai bentuk tanggung jawab.


Erekleus yang melihat Mute diam pun merasa takut.


Jika Mute berkata dia ragu atau bahkan tidak mau melahirkan anak itu, besar kemungkinan keputusan adalah menghilangkan dia. Anaknya.


Dari wanita yang juga tidak seharusnya.


"Aku akan memanggil pelayan masuk menemanimu." Erekleus beranjak. Batal menemani Mute makan. "Ayo, Aria."


Istrinya mengerti, mengikuti langkah Erekleus. Ketika di luar, wanita itu membuka suaranya.


"Apa Anda takut Mutia memilih tidak melahirkannya?"


Mute punya hak memutuskan, berbeda dari istri Narendra. Kalau dia istri Narendra, dia harus melahirkan jika Narendra memutuskan demikian. Tapi dia bukan. Dia berhak memilih.


"Aku bahkan tidak tahu aku sedang takut pada apa sekarang." Erekleus menjawab gamang, terus melangkah pergi walau tak benar-benar punya tujuan.


*


Sementara esok harinya Mute cuma bersembunyi dalam kamar, hari ini Erekleus kedatangan tamu sangat penting dan menakutkan.


Adiknya, Eusebia dan adik Ares, Ahelois, atau yang lebih akrab disapa Ale. Mereka berdua adalah orang pertama yang menampar wajah Erekleus.


"Tidak berguna," gumam Ale dengan wajah sangat dingin. "Kamu dipercaya melakukan tugas mulia tapi kembali membawa masalah untuk kakakku? Benar-benar tidak berguna."

__ADS_1


"Ale—"


"Diam. Aku tidak mau mendengar penjelasan."


Gantian Eusebia yang menampar pipi lainnya. "Dasar bodoh!" cerca adiknya. "Bisa-bisanya Kakak pulang membawa berita bodoh! Sekarang belum waktunya aku menjadi bibi! Tapi Kakak justru membawa pulang anak?!"


Erekleus cuma bisa diam.


"Apa Kakak berpikir bisa seenaknya menanam benih di semua tempat?! Kakak seharusnya meminta istri baru jika memang bosan dengan Aria, bukan malah menghamili gadis yang bahkan kulitnya menjijikan!"


"Ese, jangan menghina seseorang," tegurnya lembut. Tapi dibalas tamparan lagi. "Baiklah, adik-adik, baik. Maafkan aku. Aku sungguu minta maaf. Aku seharusnya—"


"Aku menolak." Ale memotong. "Anak itu, gugurkan."


Erekleus tersentak. "Ale, dia seorang Narendra—"


"Tapi ada peraturan dalam keluarga ini yang harus dipatuhi. Kamu berpikir kamu pantas melanggarnya? Hal yang dijaga ratusan tahun, kamu berpikir hanya karena kamu tidak sengaja maka boleh melanggar itu?"


Eusebia ikut berkata, "Kalau begitu aku juga menolak."


Ini gawat. Dua gadis ini mungkin terlihat polos dan mungil, tapi kekuasaan mereka tidak main-main. Jika mereka berkata tidak boleh, Erekleus bahkan sulit membantahnya.


"Adik Kecil, itu tetap keponakan kalian. Bagaimana bisa kalian menolak dia?" Erekleus memelas sebab bersikap kasar pada anak perempuan Narendra itu seperti sebuah dosa. "Tolong, kasihani dia."


Ale membuang muka, menyeret gaunnya pergi. "Ese, ayo pergi."


Eusebia menatap Erekleus sejenak lalu ikut membuang muka. "Kakak benar-benar membuatku kecewa."


Bibir Erekleus saling menekan kaku. Lantas berpaling pada Ariadne yang sejak tadi diam.


"Tuan Muda." Kali ini Ariadne tidak bisa berkata baik-baik saja sebab dua gadis itu punya backingan sangat kuat.


Bibi Askala, saudari dari Arkas, Paman Pemimpin Narendra sekarang. Kalau Bibi Askala memutuskan anak Erekleus tidak boleh lahir, maka siapa pun tidak boleh lagi menentang.


"Aku perlu bertemu Bibi Sanya."


Erekleus harus mencari jalan aman untuk anaknya. Walau ia tak tahu bagaimana Mute sekarang, apakah dia ingin melahirkan atau tidak, tapi Erekleus setidaknya harus mengamankan anak itu dari Narendra.


"Anda perlu saya temani, Tuan Muda?"


"Tidak. Tetaplah di sini dan jaga Mutia. Ese dan Ale bisa saja menemuinya."


"Kalau itu perintah Anda." Ariadne membungkuk sopan mengiringi langkah Erekleus.

__ADS_1


*


__ADS_2