
Esok hari, Erekleus mendatangi danau untuk mengingat anaknya. Percaya tidak percaya, Erekleus bahkan tidak tahu kapan dia lahir.
Tidak ada yang Erekleus tahu tentang anak itu selain dari fakta bahwa dia pasti hidup di bawah sana, bersama Mute yang sekarang fokus belajar kedokteran.
Erekleus yang meminta pada Sanya untuk mengajarinya. Ia takut Mute bosan dan berpikir dia benar-benar hanya sampah, jadi Erekleus setidaknya berharap dia menjadi dokter keluarga Narendra suatu saat.
Kadang Erekleus penasaran apa anak itu juga sepertinya? Tidak tahu sedikitpun tentang Erekleus bahkan tidak merasa ia hidup? Apa dia sedih?
"Aku sedikit menyesal tidak bersikap egois," gumam Erekleus miris. "Tapi hidupnya sekarang pasti lebih baik daripada hidupnya jika sejak awal bersamaku."
"...."
"Tapi Ayah merindukanmu, Nak."
"Hei, Paman!"
Erekleus tersentak. Kepalanya tertoleh ke arah suara cempreng itu dan sepenuhnya tak bernapas melihat seorang anak kecil melambai-lambai di atas jembatan.
Apa ini?
Erekleus sedang berhalusinasi? Apa karena sekarang masih terlalu pagi jadi ia masih setengah tidur?
"Paman!" Sementara itu, Anastasia melambai-lambaikan tangan. "Paman, kemari sebentar! Kemari, Paman!"
Anak itu tidak suka menunggu. Dia sangat penasaran dan pagi-pagi buta dia menyelinap, karena kemarin Bibi Sanya berkata dia tidak boleh naik lagi sampai diizinkan.
Ternyata dunia berpihak padanya. Paman mirip Kakek yang dia lihat malah sedang naik perahu di danau.
"Paman, kemarilah!"
Erekleus tak sadar dia berdiri di atas perahu, karena rasa yang benar-benar tak tertahan.
Anaknya. Itu anaknya. Itu pasti dia!
Tapi tindakan Erekleus barusan adalah kebodohan sebab perahunya oleng, membuat Erekleus jatuh begitu saja ke danau.
Anastasia yang melihat Paman Berwajah Mirip Kakek itu jatuh spontan menutup mulut. Gadis kecil itu mengamati, lalu geleng-geleng.
"Dasar bodoh," gumamnya polos. "Apa ibunya tidak mengajari berdiri di atas perahu itu berbahaya?"
Anastasia selalu diajari begitu bahkan kalau ia tidak pernah naik perahu. Bahkan Anastasia merangkak di jembatan karena kata Kakek, berlari di jembatan membuatnya bisa tenggelam di danau dan mati tersedak air.
"Eh?" Wajah Anastasia langsung pucat. "Apa dia mati? Mati tenggelam?"
Anak itu mendadak berwajah 😱 memandangi permukaan danau.
Si Paman tidak muncul. Padahal sudah cukup lama.
Tanpa pikir panjang Anastasia loncat, berpikir dia bisa jadi superhero yang menyelamatkan Paman Bodoh itu. Air danau yang jernih membuatnya bisa sedikit melihat tanpa kacamata, tapi Anastasia tidak melihat si Paman.
Baru saja Anastasia mau kembali ke permukaan, bernapas dulu baru menyelam lagi, tiba-tiba sepasang lengan memeluknya erat.
__ADS_1
Melesat naik ke permukaan hingga dirinya bisa bernapas.
"Bayi Ayah."
Erekleus menangis memeluknya. Menciumi wajah dan lehernya yang basah, tidak peduli kalau sekarang ia harus sambil berpegang pada pinggiran jembatan.
"Kamu sudah besar," racau Erekleus. "Kamu sudah besar, Nak."
Anastasia cengo. "Paman."
"Ayah." Erekleus menggeleng. "Panggil aku Ayah."
"Paman bernama Ayah?"
Catatan penting yang perlu diingat dan Erekleus tidak tahu. Anastasia tidak tahu apa itu Ayah. Sanya sengaja tidak mengajarinya, sedikitpun, bahwa semua manusia pasti punya ayah dan ibu.
Anastasia tidak pernah mencari Ayah karena anak itu tidak tahu dia punya ayah. Dia bahkan tidak tahu apa itu ayah. Dan Sanya selalu menilai ketidaktahuan Anastasia adalah kebahagiaan bagi anak itu sendiri.
"Kenapa Paman menangis? Paman sangat aneh." Anastasia mencibir Erekleus. "Ayo naik ke permukaan. Ana tidak suka basah!"
Erekleus syok melihat reaksi anaknya. Kenapa dia terlihat sangat santai?
Tapi karena itu perkataan anaknya, Erekleus mengangkat tubuh mereka ke jembatan. Meletakkan Anastasia baik-baik dan memastikan dia tidak meminum air danau.
"Kamu tidak sesak napas? Hidungmu tidak tersumbat?"
Anastasia mendelik. "Ana bisa bereneng!" teriak anak itu marah. Tidak suka dianggap bodoh. "Paman bukan Kakek. Berbeda dari Kakek. Ana tidak suka!"
"Eh?"
*
Erekleus butuh waktu memahami bahwa anaknya tidak mengenali dia sebagai ayah. Anak itu menatapnya sebagai paman—sebutan untuk semua laki-laki dewasa tanpa terkecuali dalam kamus otak Anastasia—dan menganggap kata Ayah itu sebagai nama seseorang.
Detik berikutnya baru Erekleus sadar bahwa seharusnya ia tak bertemu anak ini. Namun detik-detik berikutnya lagi, Erekleus bersumpah tidak mau berhenti melihatnya.
"Namamu Ana?"
"Anastasia." Anak itu menatapnya sedikit tidak ramah. "Paman Ayah adalah saudara Kakek? Di mana Kakek?"
"Kakek?"
"Kakek Kucing."
Erekleus tertegun. Ia bisa langsung mengingat siapa si Kakek Kucing. Si Kucing bodoh itu, geram Erekleus. Dia menemui anakku diam-diam dan bahkan tidak memberitahuku sesuatu?!
"Namaku bukan Ayah." Erekleus tidak menjawab Anastasia tapi memilih meluruskan. "Itu panggilanku. Namaku Erekleus."
"Er-hah?"
Erekleus tertawa. "Reaksimu sama seperti ibumu dulu. Namaku sulit, kan? Jadi panggil aku Ayah."
__ADS_1
"Baiklah." Anastasia setuju daripada harus memanggil dia dengan namanya. "Lalu Ayah, di mana Kakek?"
"Kenapa kamu mencari dia?"
"Karena Ana menyukai Kakek." Anastasia menjawab penuh ketulusan. "Paman—Ayah sangat mirip dengan Kakek jadi Ana penasaran. Lalu kata Bibi Sanya, Paman bernama Elios tapi ternyata Erlus."
"Ayah, Ana."
"Ya, Ayah, terserah saja."
Dia mirip Bibi Sanya, pikir Erekleus ngeri. Aku sedikitpun tidak melihat sisi Mute—kecuali soal dia berteriak tadi.
"Aku bukan saudara Kakek, aku anaknya."
Anastasia memiringkan wajah sambil Erekleus terus mengeringkan rambutnya. "Anak?"
"Itu seperti ikatan antara kamu dan ibumu."
"Bunda?"
"Kamu memanggilnya Bunda?" Erekleus bertanya penuh rasa penasaran. "Apa Bunda tahu kamu di sini?"
"Tidak. Bunda akan marah jika Ana naik jadi ini rahasia. Mengerti, Ayah?"
Erekleus tersenyum. "Tentu saja, Tuan Putri."
"Kalau begitu panggilkan Kakek." Anastasia ternyata belum menyerah. "Ana ingin bertemu Kakek."
Hal yang membuat Erekleus berkerut tak senang. "Kenapa kamu ingin bertemu Kakek?"
"Karena Kakek memberi Ana cokelat," jawab Anastasia seolah-olah pertanyaan Erekleus itu sangat bodoh. "Siapa pun yang memberi Ana cokelat tanpa syarat adalah orang baik."
"Kalau begitu akan kuberikan cokelat apa pun, berapa pun, yang kamu mau."
"Benarkah?!" Anastasia terlonjak gembira. "Wah, Ayah, kukira kamu orang bodoh!"
Erekleus tertawa. Tak tahan untuk tidak memeluk tubuh kecil anaknya yang membuatnya ingin menangis rindu.
Sungguh ia lupa bahwa menemui anaknya adalah pelanggaran berat.
*
"Jadi, kamu menemui anakmu?"
Tidak mungkin kejadian jatuh di danau hingga perahunya terbalik itu bisa dirahasiakan. Begitu memastikan Anastasia kembai ke bawah danau, Erekleus langsung dipanggil menghadap pada Ares, Tuan Muda Pertama.
Erekleus tahu bahwa ia telah melakukan kesalahan dan seharusnya ia tidak mengajak anak itu berinteraksi sekalipun bertemu. Namun Erekleus tak bisa.
Dia sangat kecil, lucu dan menggemaskan. Dia juga sangat cantik, manis dan mengagumkan. Bagaimana bisa Erekleus berpura-pura tidak kenal?
"Erekleus, berterima kasihlah karena anakmu sudah lahir dan baik-baik saja," kata Ares padanya. "Aku tahu kamu mungkin sangat merindukan anakmu, tapi berinteraksi apalagi membuat dia tahu kamu ayahnya itu seperti mengumumkan bahwa kamu ingin melanggar peraturan lagi."
__ADS_1
*