Mengandung Anak Suami Orang Lain

Mengandung Anak Suami Orang Lain
29


__ADS_3

Anastasia sedang memikirkan ikan jantan dan betina di laboratorium Sanya. Dulu Anastasia pernah bertanya kenapa Sanya mengurung ikan dalam kolam kecil, lalu karena malas akhirnya Sanya menjawab ikan itu sedang tinggal bersama karena anak mereka mau lahir.


Selama ini Anastasia selalu berpikir kalau ia lahir tanpa bapak. Anastasia mengira bahwa ia sama sekali tidak punya dari awal. Tapi kalau Anastasia dan ikan itu sama, berarti ia punya bapak?


"Apa Ayah dan Bunda tinggal bersama?"


"Tidak, Nona."


"Kenapa tidak?"


Ikarus menggaruk kepalanya bingung. Jelas Ikarus tidak menyangka kalau ternyata bocah kecil itu sangat cerewet dan tak berhenti bertanya kenapa.


"Nona, sebaiknya sekarang Nona kembali. Jika Nona bersikap baik, saya akan mempertemukan Nona dengan Kakek Kucing besok."


Akhirnya Ikarus putuskan mengalihkan perhatian.


Anastasia memicing curiga, tapi menerima kesepakatan karena dia rindu Kakek.


Bocah itupun kembali turun ke bawah, pergi lagi ke ruangan Sanya. Kebetulan, Sanya sedang memasukkan seekor bayi buaya baru lahir ke dalam kotak tempat dia biasa merawat hewan langka milik Narendra.


Mata Anastasia mengamati semua itu diam-diam. Kata Bibi Sanya, buaya itu juga ikan tapi dia ikan yang punya kaki dan tangan. Lalu mereka lahir dari telur dan saat mereka besar mereka bisa makan anak-anak nakal.


"Bibi, apa Ana juga lahir dari telur?" tanya Ana polos.


"Mungkin," jawab Sanya masa bodo.


"Lalu apa Ayah itu jantannya dan Bunda betinanya?"


Sanya yang mendengar perkataan aneh itu mau tak mau berpaling. Sanya tidak sadar bahwa dialah pelaku yang telah menanam pengetahuan liar di otak Anastasia. Sekarang anak itu mengira dia dari telur seperti halnya ikan dan buaya.


"Yah, bisa dibilang?" Sanya tidak mau repot menjelaskan atau meluruskan jadi ia benarkan saja.


Toh nanti kalau besar dia belajar sendiri.


"Kalau begitu kenapa Bunda tinggal di sini dan Ayah tinggal di permukaan?"


"Karena Bundamu itu ikan sementara ayahmu itu burung. Sekarang mengerti? Jika tidak, pergi tidur sana!"


Anastasia menggembungkan pipinya sebal. Pergi begitu saja setelah menjulurkan lidah pada Sanya yang tidak mau mengurusi isi kepala kecil itu.


*


Anastasia menatap pantulan dirinya di cermin saat Mute sibuk mengeringkan rambut panjangnya. Gadis kecil itu baru saja mandi, bersiap untuk tidur sesuai jadwalnya. Tapi karena masih ada batrei yang tersisa, Anastasia masih punya tenaga.


"Bunda."


"Ya?"


"Bunda juga ikan?"


Mute dibuat syok.

__ADS_1


"Bibi Sanya berkata kalau Bunda seekor ikan dan Ayah seekor burung."


"Anastasia, sudah Bunda bilang jangan mendengarkan Bibi Sanya kecuali—" Perkataan Mute yang kesekian kali mewanti-wanti anaknya agar tidak ikut gila mau tak mau terhenti.


Ayah? Baru saja anaknya menyinggung soal Ayah?


Seumur hidup Anastasia, tidak pernah sekalipun dia menyebut kata Ayah dan sepertinya dia sendiri tidak tahu Ayah itu apa. Kenapa ....


"Siapa yang mengajari kamu soal Ayah? Dari mana mendengarnya?" Mute langsung waspada.


Anastasia kontan saja menutup mulut.


"Ana, beritahu Bunda, dari mana kamu mendengar kata Ayah? Siapa Ayah?"


Anastasia buru-buru putar otak. "I-itu Bibi Sanya!" Lagi-lagi Sanya yang dijadikan alasan. "Kata Bibi Sanya, Ayah itu jantan!"


Mute cengo. Kagok melihat anaknya mulai bercerita tentang bayi buaya yang berasal dari telur setelah jantan dan betina saling tinggal bersama.


Seketika, Mute menjadi lega. Paling tidak dia tidak merujuk pada ayah sungguhan.


"Kamu sepertinya harus mengurangi waktu bersama Bibi Sanya." Mute khawatir pada otak anaknya. "Mulai sekarang bermain di ruangan Bunda saja."


"Heeeeeeeh?" Anastasia langsung protes. "Ruangan Bunda membosankan! Isinya hanya buku! Ruangan Bibi Sanya banyak hewannya!"


"Ana, Bunda menyukai Bibi Sanya tapi kamu tidak boleh—"


"Kalau begitu biarkan Ana naik ke permukaan." Anastasia yang tidak tahu tentang peraturan jelas saja tidak mempertimbangkan.


Bahkan kalau tahu, secerdas apa pun dia, Anastasia adalah anak kecil yang mementingkan kepuasannya sendiri daripada logika.


"Tidak." Mute menggeleng tegas. "Permukaan berbahaya. Ana dan Bunda di sini saja."


"Bibi Sanya berkata permukaan tidak berbahaya!"


"Tidak ya tidak, Ana."


Anastasia pelan-pelan menangis. Dia sebal karena Mute bicara hal berbeda dari kenyataan yang dia lihat. Anak itu pun berlari dari kamarnya, pergi ke ruangan Sanya dan menutup pintu agar Mute tidak masuk.


"Ana marah pada Bunda!"


Sanya yang melihat anak kecil penuh tangis itu seketika menghela napas.


"Kenapa harus aku yang mengurus anak kecil?" gumam wanita itu walau pada akhirnya menerima Anastasia di sana.


*


Hari ini Anastasia lagi-lagi naik ke permukaan. Gadis kecil itu sekarang sudah memutuskan bahwa dia mau tinggal di permukaan saja, karena di permukaan ada Kakek dan kucing-kucing.


"Selamat pagi, Nona." Ikarus ternyata menunggunya di depan pintu lift.


"Selamat pagi." Anastasia membalas singkat. "Paman, namamu siapa?"

__ADS_1


"Tolong panggil saya Ikarus saja, Nona. Tidak perlu menggunakan kata Paman."


"Baiklah." Anastasia mengangguk setuju. "Kamu berjanji membawaku pada Kakek. Ayo pergi sekarang."


"Baik, Nona." Ikarus mengulurkan tangan. "Mari, Nona."


Anastasia mengerjap. "Apa?"


"Saya akan memegang Nona."


"Kenapa?"


"Karena saya mau."


"Aku tidak mau!"


Ikarus tertohok, tapi segera dia mengeluarkan senjata pamungkas. "Cokelat, Nona?"


"Baiklah!" Anastasia menerima cokelat itu, seolah-olah dia tidak puas sekalipun bertumpuk cokelat ada di dapurnya. Dia membiarkan Ikarus memegangnya, tersenyum-senyum cerah menggigit cokelat berbentuk permen itu.


Mereka berjalan menuju tempat pertemuan rahasia Ana dan Kakek. Saat melihat Kakek Kucing ada di sana, Ana langsung melepaskan Ikarus, berlari menuju Kakek.


"Kakek!"


Eris menerima terjangan tubuh kecil itu. "Kamu memang sulit diatur, Kucing Kecil," ucapnya lembut. "Padahal sudah Kakek bilang jangan naik ke permukaan."


"Hehe, Ana hanya mendengarkan kata hati Ana saja!"


"Memang seorang Narendra. Jika kamu tumbuh besar, kamu akan seperti Askala nantinya."


"Askala?"


"Seorang wanita menakutkan." Eris terkekeh.


*


"Kakek, kenapa Ana tidak bisa tinggal di permukaan?"


Anastasia adalah anak yang pantang menyerah, apalagi kalau sudah membahas tentang rasa penasarannya. Gadis kecil itu tak mendapat jawaban dari Sanya dan Mute, maka dia mencari jawaban pada Kakek Kucing.


"Kamu ingin tinggal di permukaan?" Eris justru balik bertanya. "Apa tinggal di bawah sana tidak menyenangkan?"


Anastasia memiringkan wajahnya, bingung. Kalau ditanya menyenangkan ya menyenangkan. Bahkan semuanya terasa menyenangkan, apalagi jika bersama Mute dan Sanya. Tapi Anastasia tidak tahu kenapa ia tetap penasaran dengan permukaan.


"Jika kamu ingin tinggal di permukaan, ada seseorang yang harus kamu temui dulu."


"Benarkah?!" Anastasia membelalak semangat. "Siapa, Kakek? Ana mau bertemu sekarang!"


"Orang itu akan datang hari ini."


Ikarus yang sejak tadi mendengar seketika mengerti. Wajah pria itu mau tak mau pucat.

__ADS_1


Tunggu, maksud Eris adalah Askala? Ikarus mendengar bahwa Askala akan datang hari ini bertemu Arkas dan Eris mau mempertemukan Askala dengan Anastasia?


*


__ADS_2