
"Saya yang meminta." Sementara Ikarus di sana terkejut mendengar Eris mau mempertemukan Anastasia dengan Askala, di sisi lain, Ariadne memberitahu Erekleus.
"Nyonya Askala datang karena Tuan Muda Ares yang memanggilnya," kata wanita itu lagi. "Merespons permintaan saya agar mengizinkan Anda bertemu Nona Muda."
Erekleus terpaku. "Istriku, itu ...."
"Saya tidak menyukai kesedihan Anda, Tuan Muda." Ariadne tersenyum. Meraih bahu Erekleus untuk memeluknya. "Saya membenci kesedihan Anda. Memberikan jiwa saya pada Anda pun saya bisa."
Erekleus mencengkram lembut punggung Ariadne. Jauh di hatinya, Erekleus selalu takut jika ia melukai Ariadne karena kehadiran Anastasia, tapi sedikitpun dia tak bersuara, justru berusaha untuk menghiburnya.
"Jika hanya meminta hukuman Anda diringankan, saya rasa itu bisa. Selama tidak melanggar peraturan, seharusnya baik-baik saja. Tolong bicara baik-baik dengan adik Anda."
Ya, tentu. Tentu saja. Erekleus tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan.
*
"Tidak." Askala menjawab lantang sambil tangannya mengelus-elus kepala Ahelois. "Hukumanmu adalah tidak menemui anak itu. Berhenti meminta lebih."
"Bibi, kumohon. Akan kuterima hukuman apa pun asal bisa menemui anakku."
"Tidak adalah tidak, Erekleus."
Ale mendelik pada Erekleus. "Kemarin kamu memohon agar anakmu dibiarkan lahir dan kamu memilih tidak melihatnya, hari ini kamu memohon melihat dia, lalu besok apa, Erekleus? Kamu memohon agar anakmu menjadi Narendra sepenuhnya juga?"
Erekleus mengepal tangannya.
"Peraturan adalah peraturan. Keluarga ini berdiri kokoh karena peraturan. Kamu pikir hanya kamu yang berusaha keras? Semua orang juga menekan ego mereka. Berhenti bersikap egois."
"Bibi, aku tahu tentang peraturan." Erekleus menghela napas. "Karena itu aku hanya ingin menemuinya saja. Tolong? Hanya melihat saja."
"Kamu benar-benar tidak mengerti perkataanmu, Anak Kecil." Askala tersenyum dingin. "Jika kamu menemui anak itu secara normal, maka saudara-saudaramu yang lain juga bisa bebas membuat anak haram di luar sana dan membawanya kemari. Lalu mau tak mau kami semua harus terus menerima anak haram kalian sebab siapa yang dapat mengatur hal itu? Kami sudah mengatur kalian agar punya banyak istri dan tidak beralasan bosan dengan satu wanita, tapi sekarang kamu juga harus memantau dengan siapa saja ******** kalian bertemu?"
"...."
"Jika peraturan tidak dipatuhi, menurutmu berapa banyak jumlah anak haram Narendra? Cukup banyak untuk menuntut dari segala sisi."
Itu masuk akal. Itu sangat masuk akal dan Erekleus mengerti. Anaknya bukan kotor atau tidak diterima gara-gara dia lahir dari rahim Mute. Bukan begitu.
Tapi dia tidak boleh diakui sebab kalau dia diakui, itu seperti membenarkan keberadaan anak haram. Lalu jika adik-adik Erekleus mengikuti hal itu lalu menunjuk Erekleus sebagai 'contoh', maka tentu saja itu membuat masalah besar.
Tapi tetap saja ....
"Ayah?"
Erekleus tertegun. Begitu juga Askala, Ahelois dan Eusebia yang langsung berpaling ke arah suara menggemaskan itu.
Di pintu ruangan mereka berada, Anastasia berdiri memegang tangan Eris.
__ADS_1
"Ana." Erekleus hanya spontan datang ke sana, memeluk tubuh gadis kecilnya. "Ana, Sayang. Apa yang kamu lakukan di sini?"
Kenapa dia datang ke hadapan tiga wanita yang bisa saja membuat keputusan membunuhnya?
Anastasia menunjuk Askala secara terang-terangan. "Bertemu Bibi Berambut Merah!"
Yang ditunjuk seketika syok.
*
Karena keturunan Narendra diatur baik-baik waktunya, ini pertama kali Askala melihat bocah sekecil ini di keluarga Narendra setelah keponakannya semua tumbuh dewasa.
Sedangkan Ale dan Ese jelas baru pertama kali melihat makhluk sekecil itu di depan wajah mereka.
"Ayah, apa yang Ayah lakukan di sini?" Erekleus berdiri tanpa melepaskan Anastasia dari pelukannya. "Kenapa membawa Ana kemari?"
Anastasia menatap wajah Kakek Kucing-nya. "Kenapa Ayah menyebut Kakek ayah? Kakek adalah kakek."
Erekleus ingin marah, tapi seketika luluh karena Anastasia begitu menggemaskan. "Karena dia bergelar ayah bagi Ayah."
"Hah?"
"Tidak usah dipikirkan. Ayah merindukan Ana."
Anastasia justru memberontak. "Lepaskan! Ana mau bicara dengan Bibi Berambut Merah!"
"Dia ingin bicara dengan Askala," kata Eris setelah lama terdiam mendengarnya saja. "Katanya ada sesuatu yang mau dia minta."
Tentu saja itu mustahil kecuali dia dipengaruhi. Erekleus mendelik diam-diam pada Eris tapi ayahnya buta, jadi mana dia tahu dan mana dia peduli.
Erekleus sangat khawatir Askala melukai Anastasia dengan perkataan kejam dan dingin. Bibinya ini bahkan bisa disebut Ratu Neraka, membuat siapa saja tidak berani menentangnya termasuk Paman Pemimpin Utama.
"Ana, jangan—"
"Berhenti bicara, Erekleus." Askala mengibas-ngibaskan tangan, memanggil Anastasia. "Kemari, Bocah. Bicara lebih dekat."
Anastasia datang ke sana, memang mau bicara. Sebenarnya Anastasia cuma dipanggil agar dia berdiri di depan Askala, tapi karena kebiasaan, Anastasia naik ke pangkuan Askala.
Erekleus syok, begitu pula Ariadne yang khawatir kalau Askala mencekik bocah itu.
"Bibi sangat cantik." Anastasia malah memuji Askala. "Rambut Bibi berwarna merah. Bisakah Ana juga mewarnai rambut Ana?"
Askala tidak menjawab, justru mengangkat wajah Anastasia dan mengamatinya seolah-olah dia hewan yang harus diperhatikan bagian cacatnya.
"Namamu Ana?" tanya Askala setelah itu.
"Anastasia."
__ADS_1
"Nama yang jelek."
"Ana juga berpikir begitu." Jawaban Anastasia mencengangkan Erekleus. "Nama Ana terlalu panjang, jadi Ana meminta Bunda menggantinya tapi Bunda malah marah."
"Anastasia bukanlah nama untuk Narendra." Askala menyandarkan punggungnya ke belakang, sedikitpun tak menyuruh Anastasia turun dari pahanya. "Lalu, apa yang kamu ingin bicarakan, Anak Kecil?"
Anastasia menyengir. "Biarkan Ana tinggal di permukaan, Bibi. Kakek bilang, Bibi adalah wanita menakutkan jadi Ana harus minta izin pada Bibi dulu."
"Kakekmu itu buta jadi dia tidak mengerti apa-apa." Askala menyeringai. "Lalu, kamu ingin tinggal di permukaan? Bagaimana jika aku menolak?"
"Ana akan minta pada Ayah."
"Memang ayahmu bisa melawanku?"
Anastasia menoleh pada Erekleus dan tiba-tiba mengernyit marah. Dia menoleh pada Askala, pipinya menggembung lucu.
"Kalau begitu biarkan Ana tinggal di sini! Ana mau tinggal bersama Kakek!"
Erekleus tertohok. Apa maksudnya tadi itu? Kenapa dia melihat Erekleus seolah-olah tidak ada harapan jadi dia melawan sendirian?
"Kamu sangat berani." Ale menusuk pipi Anastasia dengan telunjuknya. "Kenapa kamu berpikir bisa meminta seenaknya?"
"Karena Ana mau."
"Kamu setidaknya memang anak Narendra." Ahelois tertawa.
Hal yang cukup mengejutkan karena Erekleus pikir dia akan marah dan mendelik. Mengingat dia menampar Erekleus dua kali saat tahu Mute hamil.
"Hei, aku sedang berpikir." Ese tiba-tiba berseru. "Kenapa anak ini dan aku mirip?!"
Askala menoleh pada Eusebia, lalu memerhatikan Anastasia. "Setelah dilihat lagi memang benar. Dia punya garis wajah Eirene dan Elios."
"Kita mirip?" Anastasia memiringkan wajah. "Tapi aku ingin mirip Bibi Merah saja. Dia lebih cantik."
"HEI!"
"Wajahmu akan sangat cantik saat dewasa." Askala terkekeh.
Mereka tampak menikmati percakapan itu sampai-sampai melupakan bahwa Erekleus, Ariadne dan Eris berdiri di sana menyaksikan.
"Bibi." Erekleus kembali bersuara. "Apa Ana boleh tinggal di permukaan?"
Mungkinkah keputusan sudah berubah sekarang?
"Tidak."
Erekleus berusaha keras tidak berlutut, berteriak kenapaaaaaaa?! Mereka terlihat akrab jadi bukankah seharusnya iya?
__ADS_1