
Erekleus melempar masing-masing sekoper uang kepada mereka yang berlutut di lantai.
"Aku tidak terbiasa membungkam dengan uang. Jauh lebih pasti dengan nyawa." Erekleus berucap dingin, tak lagi mengandalkan keramahan juga sikap baik. "Tapi berterima kasih pada Ibundaku dalam hati kalian, karena Ibunda menyuruhku bersikap baik."
Lalu Erekleus berjongkok di depan Jaler. "Nikahi gadis kesukaanmu itu besok. Akan kuumumkan pada warga desa bahwa dia hamil anakmu."
Dinda terbelalak mendengarnya. Tentu saja itu bohong karena ia masih perawan! Dinda ingin berteriak menolak, tapi baru saja mulutnya terbuka, Erekleus mendelik.
Kini, Dinda sudah sepenuhnya takut pada pria kejam itu. Dia selama ini selalu tersenyum tapi sekarang dia terlihat bisa memutilasi tanpa perasaan.
"Aku tidak main-main dan aku benci dikira bermain-main. Patuhi aku atau kubunuh kalian. Aku ini menganut sistem tirani bukan demokrasi. Aku hanya bersikap demokratis. Mengerti, orang bodoh?"
Jaler tersenyum. "Kalo gitu, Tuan Muda Tirani, boleh enggak hambamu ini minta tambah? Duit sekoper mah kurang."
"Baiklah. Aku bersikap baik jadi akan kupastikan kamu jadi orang paling kaya di kampung ini, hari ini juga."
"Woah, serius?!"
Ikarus yang melihatnya malah kasihan. Kalau Narendra bersikap baik pada musuhnya, berarti dia meletakkan mata secara khusus pada mereka dan menunggunya untuk dihancurkan ke kerak bumi.
Berbahagialah selagi bisa, pikir Ikarus prihatin.
"Antar mereka pulang, Ikarus." Erekleus memberi perintah terakhir sebelum datang pada Mute. "Naik ke punggungku, Mutia. Ayo pulang."
Erekleus membawanya pulang jelas setelah memastikan Bidan Sulis tutup mulut. Dibawa Mute ke tendanya alih-alih ke rumah, lalu meminta Mein pergi menemani Nenek Iyem sebentar.
Mute ia baringkan di kasurnya.
"Beri dia makan," perintah Erekleus yang langsung dijalankan oleh Erina dan Yohana. "Pastikan dia makan dengan baik dan tidak kurus keriput lagi."
"Ya, Tuan Muda."
Erekleus berbalik, masih terlihat marah. "Argan," katanya bahkan tanpa harus mencari ponsel. "Cepat turun kemari karena aku harus membunuhmu!"
Sekilas tadi, Erekleus melihat ponsel di tangan Dinda. Anak itu sudah tahu bahkan sebelum Dinda berangkat dan dia tidak melapor.
Sebaiknya dia punya alasan bagus atau Erekleus benar-benar akan membunuhnya.
***
__ADS_1
Siangnya baru Argan turun dari tempat dia mengawasi, karena penggantinya datang sebagai pengawas baru.
Begitu berada di depan Erekleus, Argan langsung berlutut. Bukan berlutut penuh ketakutan melainkan penuh kesiapan.
"Saya berbuat dosa besar," akunya tegas. "Tapi tolong dengarkan penjelasan saya sampai akhir lalu memutuskan."
Erekleus menatapnya tajam. "Singkat."
"Peraturan."
Singkat, sangat singkat, tapi menusuk.
"Tuan Muda, generasi Narendra saat ini belum memasuki tahap sempurna. Adik-adik Anda belum menikah. Jika lahir keturunan baru dan selisih umur merka terlalu dekat, itu hanya akan mengacaukan jumlah Narendra."
Erekleus seketika memejam. Ya, ia tahu itu karena ia tak bodoh.
"Kamu ingin menanggung beban membunuh anakku karena tidak ingin aku yang menanggungnya?"
"Itu tugas saya sebagai bawahan setia, Tuan Muda."
Erekleus terduduk begitu saja, tertawa getir. "Bagaimana aku membunuh anakku, bodoh? Itu anakku."
"Aku tahu. Aku tahu tentang peraturan. Aku Narendra." Erekleus mengusap kasar wajahnya. "Untuk sekarang diamlah. Dan pastikan tidak ada satupun yang tahu selain mereka."
Untuk menutupinya, Erekleus membuat berita bohong bahwa Mute jatuh sakit. Untungnya semua orang sudah berpikir dia depresi hidup sebatang kara—dianggap begitu sebab kakaknya tanpa kabar dan neneknya sekarat. Erekleus menjadikan alasan tersebut agar bisa meletakkan Mute di tendanya dan memberi dia perawatan medis intensif.
Sementara itu, pernikahan Jaler dan Dinda sungguhan terjadi atas perintah Erekleus. Walau Pak Surya datang menuntut keadilan, Erekleus mengancam akan bersikap kejam padanya jika banyak bicara.
Erekleus menjadi kalut. Pria itu menyuruh semua anak buahnya yang mengajarkan sisa-sisa tugas dan memilih untuk tetap di tenda, merenung.
Ini bukan keputusan baik. Menjaga Mute bukan keputusan baik. Tapi membunuh anaknya jelas keputusan buruk.
Di saat badai melanda pikiran Erekleus, mereka justru diberi kabar bahwa kondisi Nenek Iyem memburuk. Beliau mendengar soal cucunya jatuh sakit parah—alasan Erekleus—hingga Nenek Iyem justru menangis terisak-isak.
Mute meninggalkan tenda setelah dibujuk untuk bersabar dan pasrah saja. Perempuan itu tetap pergi ke samping neneknya, terguncang oleh tangisan.
Melihat keadaan, Erekleus semakin kalut.
"Tuan Muda, bersikap tegas kadang sama dengan bersikap kejam."
__ADS_1
Dan melihat kondisi Erekleus, bawahannya memberi masukan.
"Anda tidak boleh memilih sesuatu yang sia-sia."
Artinya bunuh Mute dan neneknya. Ya, itu adalah keputusan 'terbaik' untuk menyembunyikan segalanya dan menyelesaikan segalanya.
"Narendra juga disebut keluarga terkutuk," gumam Erekleus miris. "Ayah bodohku itu bilang darah Narendra selalu meminta kematian sebagai solusi."
Dulu, ayahnya Erekleus punya istri sebelum ibundanya, Roxanne. Ayah membunuh istrinya itu demi Narendra dan hampir membunuh Roxanne juga saudara Eris, Elios, demi Narendra pula.
Karena itu Eris selalu mengajarnya Erekleus untuk berusaha tidak memilih kematian.
"Jangan ambil solusi termudah jika itu berujung kematian," ucap Erekleus mengulang pesan Eris.
Erekleus siap mengambil jalan sulit. Apa saja asal bukan kematian anaknya.
***
Itu mungkin sangat menyedihkan sebab dua hari kemudian kematian Nenek Iyem datang. Hanya Mute sendirian yang menangis sementara semua orang berwajah 'akhirnya terjadi juga'.
Mereka bukan bersyukur beliau mati, tapi sepertinya bahkan anak kecil pun merasa sudah sewajarnya Nenek Iyem mati.
Erekleus bingung harus menghibur Mute seperti apa sekaligus khawatir karena dia sekarang terlihat buruk. Lepas memastikan neneknya dimakamkan baik-baik dan membiarkan mereka melakukan tradisi sesuai kepercayaan, Erekleus membawa Mute kembali ke tendanya.
"Bagaimana aku harus menghiburnya?" tanya Erekleus pada Ikarus dan Yohana yang berjaga di tenda. "Aku tidak bersedih dengan kematian."
Erekleus belum pernah mengalami kehilangan yang menyakitkan seperti ini. Ia cuma sering mendengar dan melihat salah satu anggota keluarganya mati, tapi Narendra diajari untuk tidak berlarut-larut dalam tangisan jika terjadi kematian.
Setidaknya saat ini Erekleus yakin bahwa kematian yang membuatnya sedih itu cuma kematian Ibunda dan kematian adiknya, Eusebia. Sisanya, bahkan Ayah, mungkin tidak.
"Dia jadi sangat kurus sekarang. Bagaimana kalau dia terus menolak makan? Bagaimana kalau terjadi masalah dengan janinnya? Bagaimana aku menghadap Ibunda jika aku jadi pembunuh anakku sendiri?" tanya Erekleus beruntun, frustrasi karena masih mendengar suara tangisan Mute tersedu-sedu.
"Tuan Muda, tolong tenangkan diri Anda." Yohana mengusap-usap dada Erekleus yang naik turun tak beraturan. "Mungkin tidak perlu banyak bicara. Cukup berada di sana dan dengarkan saja."
"Tapi dia hanya menangis. Aku tidak suka mendengar suara tangisan wanita."
Itu membuat Erekleus merasa harus berbuat sesuatu tapi ia juga takut malah membuatnya semakin runyam.
*
__ADS_1