
Tapi mungkin itu tidak berarti baik.
Jika ada satu hal yang sekarang tidak bisa Mute dapatkan karena dia hidup di tempat ini, maka tentu saja itu cinta. Pasangan. Dia hidup sendirian sebagai wanita tanpa suami satu anak.
Erekleus pernah ingin pura-pura mencintainya tapi Sanya kemudian membawa Mute turun ke tempat ini.
Apa Mute merindukan hal itu? Apa dia merindukan pria dalam hidupnya dan berharap dia dicintai alih-alih dikucilkan?
"Apa yang Anda lakukan?"
Tanpa sadar Erekleus sudah berdiri di belakangnya, menyentuh tangan Mute agar berhenti menulis. Wanita itu mendongak, menatap Erekleus yang justru menunduk padanya.
Erekleus tidak bisa membiarkan Mute bersama pria lain. Kalau dia jatuh cinta dan menikah, maka Anastasia akan punya ayah lain sekalipun cuma tiri.
"Aku hanya ingin melihat wajahmu saja," bisik Erekleus sepenuhnya berdusta.
Sebagai seorang pria, terlebih sudah menikah sejak usia tujuh belas tahun, Erekleus sangat tahu cara memikat wanita. Wajahnya, tubuhnya, dan kalimatnya. Erekleus tahu nilai jual dirinya.
"Kamu sudah sangat berbeda." Erekleus semakin menunduk, menghidu aroma bunga dari tubuh Mute yang telah dewasa.
Dia sudah cantik. Tak sulit tergoda padanya.
"Mutia, malam itu, kamu sadar sepenuhnya?"
"Tuan Muda, apa yang—" Mute dipaksa menelan ludah susah payah saat Erekleus kini benar-benar di depan wajahnya. "Menjauh," bisiknya lemah.
Tidak hanya pria yang sulit mendorong wanita cantik. Itu juga berlaku bagi wanita.
"Aku bertanya-tanya, Mutia." Erekleus bergumam di bibirnya. "Kamu ... masih mencintaiku?"
*
Semua laki-laki itu punya sisi badjingan dalam diri mereka, setidaknya menurut standar wanita. Erekleus mungkin masuk dalam standar pria baik-baik, tapi Erekleus bukan tidak bisa berbuat 'licik'.
Jika hanya tentang merayu wanita demi anaknya, itu sangat mudah.
"Aku bukan tidak mengenali tatapanmu." Erekleus mengusap tangan Mute dan perlahan-lahan naik ke lengannya. "Aku tahu kamu haus terhadapku, bahkan sekalipun kamu membenciku."
Mute hanya diam meski matanya fokus mengamati Erekleus. Nampaknya dia tahu maksud godaan ini tapi Mute hanya terus diam.
Melihat lampu hijau, Erekleus meneruskan godaannya.
"Semua pria Narendra diperbolehkan berselingkuh dengan beberapa syarat." Erekleus menarik Mute dari kursinya. "Salah satu syarat itu adalah kamu bagian dari pekerja Narendra."
Hanya sesaat setelahnya, Erekleus mencium Mute dan Mute membalasnya.
__ADS_1
Mereka berdua sudah sama-sama dewasa, sudah bukan anak kecil yang dulunya dipenuhi rasa malu juga rasa bersalah. Ketika Erekleus meremas tubuhnya, Mute ikut menarik kemeja Erekleus, tak peduli jika kancingnya terlepas, berjatuhan ke atas lantai.
Erekleus membawanya pergi ke sofa. Menciumnya penuh gairah yang terpancing oleh kecantikan dan keberanian Mute. Ruang kerja yang biasanya hanya diisi oleh suara Anastasia dan suara tangan Mute membolak-balik buku kini digantikan oleh desa-han napas.
"Tubuhmu tumbuh sangat baik," puji Erekleus di puncak dadanya. "Akan ada banyak pria rela berlutut padamu sekarang."
Mute menarik leher Erekleus. "Termasuk Anda?"
"Aku tidak berlutut, Sayang."
Pandangan Mute mengabur bersama gairah yang terus terpancing naik. Itu bukan kebohongan bahwa dirinya terlalu lama bermain dengan pekerjaannya sampai ia tak peduli pada hasratnya sendiri.
Dan benar. Mute sering mengingat itu di malam hari. Malam gelap yang ia pikir manis namun ternyata pahit walau pada akhirnya terasa manis.
Malam itu Erekleus terasa hebat dan hari ini justru dia semakin hebat. Rasanya Mute remuk di bawah pelukannya.
"Anda keluar di dalam saya lagi."
Erekleus terkekeh mengecup keningnya. "Sekarang aku tahu kamu steril. Aku bukan keledai yang mengulang kesalahan sama."
"Begitu?" Mute tersenyum. Datang mencium pipi Erekleus. "Maka saya juga."
Mute mendorong pelan tubuh Erekleus agar melepaskannya. Ia memunguti pakaian yang Erekleus buang begitu saja, kembali memasang pakaian itu santai.
Erekleus melongo melihat perempuan itu pergi seperti dialah yang habis memakai Erekleus.
"Maksudnya dia akan menikmati rayuanku tapi tidak berubah pikiran mengenai Ana?" Erekleus tertawa mengacak rambutnya. "Memang selalu berani sejak dulu."
Sepertinya Erekleus agak meremehkan dia. Pikirnya Mute akan luluh dan mencintainya lagi, lalu dia akan mengizinkan Anastasia bersama Erekleus.
Tapi sepertinya calon dokter memang tidak bodoh.
Erekleus menarik napas panjang. Menutup matanya dengan lengan dan entah kenapa justru memikirkan sensasi tadi.
Nyaman. Erekleus menyentuhnya cuma karena ia merayu, tapi kenapa justru dirinya yang tergoda? Dia sekarang jadi sangat cantik dan jujur saja tubuhnya yang paling menarik.
Keberadaannya merayu Erekleus.
*
"Bunda, tanda merah apa di leher Bunda?"
Mute yang sibuk menunggu cangkirnya terisi kopi langsung menoleh. Lalu spontan memegang lehernya yang ia ingat cukup lama dipermainkan oleh Erekleus.
"Hanya memar biasa," jawab Mute seraya tersenyum. "Tidak sakit jadi jangan khawatir."
__ADS_1
"Benarkah? Apa Bunda digigit serangga?"
"Hm? Mungkin saja."
Anastasia mengerutkan kening. "Tapi kenapa ada serangga di bawah air?" gumam anak itu bingung.
Sementara Sanya yang melihat Mute seketika geleng-geleng.
"Bukannya kamu benci serangga?" tanya dia, menyesuaikan saja dengan pikiran Anastasia.
Mute tertertawa kecil mendengarnya. "Kamu yang mengajariku untuk menggunakan sesuatu bahkan sekalipun tidak suka, kan? Jika itu penting."
"Kamu harus bersyukur serangga itu cukup rendah hati. Jika itu serangga lain, kamu bisa tercekik karena racunnya."
"Tenang saja. Aku tahu jenis serangganya. Itu tidak beracun."
Anastasia mengerjap polos di antara pembicaraan yang sesungguhnya bukan tentang serangga itu.
*
Erekleus tidak punya banyak waktu. Lima hari lagi pertemuan itu diadakan dan sebelum itu terjadi, Mute harus mau membiarkan Anastasia naik ke permukaan.
Maka jika siang tadi gagal, malamnya Erekleus kembali datang.
Erekleus memutuskan lebih fokus pada Mute daripada Anastasia sebab kalau Mute setuju, Anastasia akan sangat mudah ia dapatkan.
"Kuharap kamu belum bosan," kata Erekleus saat duduk di kasur Mute.
Kamarnya sangat kecil jika dibandingkan dengan kamar Erekleus, tapi berbeda dari kamarnya di kampung, tempat ini bersih, rapi dan berbau harum. Erekleus sudah duduk setengah jam menunggu dia masuk, tapi sedikitpun ia tak bosan.
"Anda datang lagi." Begitu balas Mute, melepaskan jas labnya. "Nyonya Ariadne seharusnya menunggu ada di bak mandi, lalu kenapa Anda di sini, Tuan Muda?"
"Aku harus memperjuangkan keputusan mengenai anakku."
"Keputusan mengenai anak?" Mute mendengkus. "Keputusan mengenai anak atau kepuasan seksual Anda?"
"Keduanya?"
Erekleus hanya mendongak ketika Mute mengangkang di pangkuannya.
"Anda benar-benar berpikir kalau pesona Anda itu cukup membuat saya luluh." Mute tertawa kecil. "Sayang sekali, Tuan Muda, tapi saya cuma mau menggunakan Anda sebagai alat pemuas. Kebetulan, saya memang wanita kesepian."
Erekleus memeluk punggungnya erat. "Aku punya cukup kasih sayang," bisik pria itu, "untuk memuaskan juga memeluluhkan."
*
__ADS_1