
Ares berdehem. "Kalian tahu anak kecil ini adalah anak khusus."
Anak khusus adalah sebutan lembut mereka jika Anastasia ada sebab dia mungkin terluka jika disebut sebagai anak haram atau anak terlarang. Walau Elois tadi sudah menyebutnya anak haram.
"Anak khusus ini lahir di waktu yang kurang tepat, hingga mau tidak mau dia dipisahkan dari Erekleus. Tapi setelah bertahun-tahun mempertimbangkan, aku berpikir kita tidak perlu mengakuinya sebagai Narendra namun setidaknya memberi dia setengah perlakuan sebagai putri Narendra. Bibi Askala tidak menentang dan Ahelois juga Eusebia juga terlihat tidak marah lagi. Jadi, bagaimana menurut kalian?"
Mereka semua saling berpandangan satu sama lain sebelum Elois membuka suara. Kini bukan untuk menyuruh kakak kandungnya mati.
"Kami menerima dengan syarat."
"Katakan."
"Erekleus tidak boleh memiliki istri lagi selain Ariadne."
Erekleus tertegun. Padahal ia baru ingin mengajukan permintaan izin agar bisa menikahi Mute.
"Kakak." Erekleus segera menatap Ares. "Aku menerima syarat apa pun asal aku diperbolehkan menikahi Mutia. Hanya itu."
Ares mengerutkan kening. "Menikahi pekerja Narendra? Itu jarang terjadi tapi tidak terlarang."
Ares berbicara sambil terus membelai kepala Anastasia yang hanya diam menyaksikan.
"Yah, memisahkan hubungan ibu dan anak adalah hal mengerikan tapi bukankah wanita itu tidak mau?"
"Aku akan berusaha. Tolong, itu saja."
Ares menatap adik-adiknya yang lain. "Kalau begitu buat syarat baru untuk bocah malang ini."
"Beri perhiasanmu untuk istriku."
"Serahkan seratus persen saham di tanganmu pada kami."
"Ambil alih pekerjaanku yang berat selama lima tahun penuh."
"Jangan meniduri siapa pun selain istrimu kedepannya, termasuk pelayan cantik kesayanganmu itu. Oh, dan berikan dia padaku."
"Pindahlah ke bangunan paling belakang dan berhenti jadi manusia."
Erekleus memijat pelipisnya pening. Memang saudara-saudaranya tidak ada yang waras.
"Kalau begitu, bagaimana dengan begini saja?" Ares menepuk tangannya dan tersenyum bak malaikat. "Sembilan puluh persen kekayaan Erekleus akan dibagikan pada kita semua dan dia harus bekerja lebih keras dari semua orang selama sepuluh tahun tanpa apresiasi."
__ADS_1
Erekleus seketika 😨. Tapi perkataan Ares terus berlanjut.
"Dia juga tidak boleh lagi menikah—kecuali dengan ibu dari anaknya karena itu menyedihkan memisahkan anak dari ibunya—dan hanya boleh punya satu anak lagi dari Ariadne. Lalu, karena dia bersikap kurang ajar, tidak tahu diri, tidak peduli pada harga diri kakak-kakaknya yang berusaha keras membesarkan dia, maka Erekleus juga harus mengurus kuda-kuda kita selama dua tahun penuh di pesta berburu."
"Kakak—"
"Oh, dan terakhir, karena ibu dari anaknya memohon padaku agar statusnya tidak berubah secara paksa, maka anaknya boleh menginap dengan Erekleus hanya jika Mutia mengizinkan. Tapi karena Anastasia jadi anakku juga, dia boleh menginap denganku, atau dengan Paman Eris, atau dengan siapa pun dari kalian yang mau. Setuju?"
"TIDAK!"
Jeritan Erekleus tidak bisa mengalahkan sorakan setuju dari semua orang.
Walau sebenarnya itu semua setimpal karena jika situasi dibawa ke ranah serius, bahkan kematian Anastasia bisa kembali dibicarakan, tapi Erekleus tetap mau menangis atas keputusan semua orang.
Bagaimana bisa mereka membuatnya bekerja seperti kuli?! Bahkan Ares?!
"Ana, setidaknya peluk Ayah yang sudah berusaha keras," pinta Erekleus yang sudah setengah sekarat.
Anastasia sibuk meladeni Elois dan pamannya yang lain, tapi Ares setidaknya punya kewarasan. Pria itu menurunkan Anastasia, menyuruhnya pergi ke pelukan Erekleus.
"Bayi kecil." Erekleus memeluknya sangat erat. "Ayah mencintai kamu."
Lalu tanpa permisi, Anastasia mengelap tangannya ke pakaian Erekleus.
"Kamu sungguhan keturunan Narendra, Ana." Erekleus cuma bisa berkomentar getir.
Tapi pria itu tak marah, justru menggendong Anastasia pergi meninggalkan meja pertemuan. Karena akhirnya diizinian, Erekleus ingin merayakan hal ini dengan putrinya.
"Ayah, kita ingin ke mana?"
"Bertemu Kakek dan Nenek."
"Benarkah?" Anastasia berbinar-binar. "Tapi apa itu nenek?"
"Itu pasangan dari Kakek. Segala sesuatu berpasangan. Ayah dan juga Bundamu, lalu Kakek dan Nenek."
"Begitu." Anastasia mengangguk-angguk.
"Mereka juga seperti orang tuamu sekarang. Kamu boleh bertemu mereka dan mencari mereka. Tidak diam-diam lagi."
"Benarkah? Apa Ana tidak perlu berbohong pada Bunda lagi?"
__ADS_1
"Ya, berlarilah sebebasmu." Erekleus tersenyum cerah. "Ayah akan memastikan tidak ada sudut tempat ini yang terlarang bagimu."
Yah, walau kedepannya Erekleus benar-benar jadi babu para kakak bahkan adiknya, tapi jika itu bisa memberi Anastasia kebahagiaan, mengapa tidak?
Hal yang terpenting adalah semua Narendra sepakat menerima Anastasia.
*
Mute tidak menyangka ternyata izinnya bisa semudah itu. Padahal ia pikir Erekleus akan membawa pulang Anastasia dengan kekecewaan di wajahnya. Tapi mereka semua setuju?
"Itu tidak mengherankan," kata Sanya saat Mute kebingungan. "Para Narendra ketat terhadap aturan untuk menjaga keseimbangan tapi mereka juga sangat menghargai darah mereka. Contohnya aku."
"Kamu?"
"Aku bukan keturunan Narendra, sudah kubilang berulang kali. Aku juga bukan anak haram Narendra."
Sanya menopang dagu, dengan bercerita malas. "Aku diakui sebagai Narendra hanya karena dua ratus tahun lalu, Trika Narendra adalah seorang Narendra. Padahal jika memikirkan tentang darah, aku ini sedikitpun tidak punya hubungan. Trika Narendra itu hanya istri Narendra, bukan keturunan Narendra seperti Askala. Lalu dia berselingkuh dan punya anak bernama Iaros, lalu Iaros itu diam-diam punya keturunan di luar Narendra dan garis keturunannya berlangsung sampai padaku. Di darahku tidak ada darah Narendra tapi aku diakui sebab Trika tetaplah istri Narendra."
Sanya menunjuk Mute.
"Kamu bukan istri Narendra tapi putrimu anak Erekleus, putra sah dari seorang Narendra dan istri Narendra. Jelas saja mudah bagi dia diterima."
"Lalu kenapa dulu nyawa kami bahkan terancam?" Mute bahkan masih ingat bagaiamana ia ketakutan menunggu seseorang datang menggugurkan bayinya.
"Karena anak itu belum lahir." Sanya mengangkat bahu. "Jika Narendra membunuhmu yang mengandung anak Narendra, itu tidak terasa seperti membunuh Narendra. Apalagi, anakmu dulu bahkan masih berbentuk zigot. Makanya mudah berbicara tentang membunuhmu dan anak itu."
"Tapi sekarang berbeda. Dia sudah lahir, dia menunjukkan ciri-ciri khas seorang Putri Narendra. Membunuhnya tidak akan semudah itu sekarang."
Keluarga bersejarah panjang begini jelas saja rumit. Mute menghela napas, menatap jam tangannya lagi sambil mengingat Anastasia.
Dia sedang naik ke permukaan, dijemput oleh Ikarus lagi. Katanya Ares mengundang dia makan bersama Ahelois.
"Kalau kamu berkata dia baik-baik saja, pasti baik-baik saja."
Paling tidak itu hal pasti.
Sanya mungkin gila tapi dia tidak pernah berbohong pada jaminannya.
"Mungkin ini yang terbaik juga," gumam Mute. "Aku sudah menerima program tugas pertamaku. Masanya cukup panjang, empat bulan. Jika Ana bersama Kakek Neneknya selama aku pergi, itu pasti akan lebih aman."
"Bicara soal itu," Sanya menoleh, "kamu kembali ke desamu yang dulu, kan?"
__ADS_1