Mengandung Anak Suami Orang Lain

Mengandung Anak Suami Orang Lain
14


__ADS_3

"Aku merasa seperti badjingan." Erekleus bergumam seraya melihat ke rumah Mute, di mana lampunya mati padahal sudah malam. "Matanya terlihat mati tadi. Tentu saja dia kecewa."


"Jika Anda memikirkan semua gadis yang kecewa pada Anda, pada cinta mereka yang tertolak oleh Anda, maka istri Anda sekarang sejuta bukan satu, Tuan Muda." Pengawalnya menyeletuk.


Membuat Erekleus berpaling. "Adikku yang memberitahumu?"


"Maksud Anda?"


"Ese mengatakan hal sama persis."


"Karena itu fakta."


"Ya, tentu saja fakta." Erekleus mengangguk dan berpaling pada rumah lusuh itu lagi. "Tapi yang kemarin-kemarin bukanlah gadis desa polos yang aku perlakukan seperti adikku sendiri."


Bawahan Erekleus menatapnya dari segala sudut.


"Tuan Muda, apa Anda benar-benar tidak sadar?"


"Aku tidak akan tidur dengannya jika sadar. Aku memiliki empat gadis cantik di sini, demi nama Ibundaku." Erekleus berucap frustrasi. "Aku hanya berpikir aku sedang bermimpi. Aku bermimpi tentang istriku dan yah, begitulah."


Erekleus mengacak-acak rambutnya. "Harusnya kubawa saja istriku kemari!" teriaknya semakin frustrasi.


Tapi sebenarnya sulit juga karena istrinya punya pekerjaan berbeda sebagai istri Narendra. Maka dari itulah empat sekretaris cantik mengikutinya, walau tentu saja urusan utama mereka adalah daerah ini.


"Anda benar-benar terlalu banyak pikiran." Erina tiba-tiba datang, memeluk tubuh Erekleus dari belakang. "Mari ke ranjang Anda dan lupakan semuanya."


Erekleus menoleh pada pengawalnya. "Lindungi aku. Aku digoda."


Mereka malah tertawa.


"Ayolah, Tuan Muda." Mira ikut datang, menarik tangannya. "Ayo masuk. Ayo."


"Hei, kalian mendengar aku berkata aku merasa badjingan, kan? Lalu kalian malah menyuruhku tidur dengan kalian berempat? Itu seperti memvalidasi aku memang badjingan."


"Kami mendapat izin dari Nyonya Muda." Mein yang biasanya pendiam bahkan ikut merayu. "Ayo, Tuan Muda. Ayo."


Erekleus menghela napas sebelum ia beranjak, menerima rayuan mereka.


Setidaknya memang benar berhubungan badan membuatnya lupa pada rasa bersalah itu. Dan ia memang harus lupa. Bersikap baik pada Mute justru akan membuatnya terlihat seperti memberi dia harapan palsu.

__ADS_1


*


*


*


Mute merasa sangat bodoh sebagai wanita. Bahkan biarpun sudah semalam suntuk menangis, pikirannya tidak mau melupakan Erekleus. Dia terlalu tidak bisa dilupakan oleh apa pun.


Tiap kali Mute terpejam, yang terbayang justru malam itu. Malam dia bernapas di telinganya, mendesah di bibirnya, menghentak tubuh mereka sampai-sampai Mute lupa pada dirinya sendiri.


Kenapa rasanya cuma Mute yang menganggap itu spesial? Haruskah ia tidak? Lalu caranya berhenti bagaimana kalau itu justru seperti narkoba?


Apa karena ia gadis desa jadi pikirannya sangat bodoh? Kata orang lupakan pria badjingan, tapi badjingan itu malah seperti punya tempat tinggal di kepalanya.


Mute mendadak jadi mayat hidup. Ia seperti tidak ada beda dengan neneknya yang tidak bisa melakukan apa-apa selain bernapas. Mute cuma makan sekali sehari, itupun sangat tidak berselera. Mute kebanyakan melamun, ya memikirkan badjingan, sambil sesekali teralihkan oleh neneknya.


Mute bahkan sampai lupa kalau kakaknya belum mengirim uang.


Yang mengingatkan Mute adalah fakta ketika masuk ke dapur, ingin memasak nasi untuk bubur nenek, yang ia dapat justru tempat kosong.


"Astaga." Mute berjalan gontai ke kamar. Menarik laci tempat uangnya berada dan dibuat sadar lagi bahwa ia cuma punya dua lembar uang sepuluh ribu.


Mute membawa uang itu ke toko untuk membeli beras dan sisanya telur. Dibawa pulang dan dibuatkan untuk neneknya, sementara ia terpaksa harus ke balai desa meminta makanan gratis yang tersedia sekali sehari.


Saat Mute mau mengambil, sebuah suara mengejutkannya.


"Mute."


Itu Erekleus.


Saking tak maunya menatap dia, Mute bergegas meninggalkan piring, memilih tidak makan daripada harus berurusan lagi. Hatinya sakit dan kepalanya mau pecah memikirkan dia.


Tentu saja Erekleus yang melihat itu terkejut, walau segera paham.


"Ini pertama kali dia datang mengambil jatah makanan gratis." Erekleus berbalik pada Yohana. "Cari tahu ada apa."


"Baik, Tuan Muda."


Ada pikiran Erekleus berkata dia datang cuma untuk melihatnya. Mungkin dia putus asa dan seorang gadis memang akan kacau saat patah hati. Tapi ternyata tidak begitu.

__ADS_1


Setelah menyelidikinya, kemungkinan uang bulanan dia tidak dikirim oleh kakaknya di kota karena dia belum membeli persediaan bulanan di pasar.


"Dia tidak ikut bekerja karena menjaga neneknya, jadi satu-satunya penopang hidup hanya kakaknya," gumam Erekleus. "Minta Argan mencari tahu kondisi kakaknya."


Laporan selanjutnya datang satu jam kemudian yang mengatakan kalau kakak gadis itu terlilit hutang. Dia nampaknya bekerja sangat keras tapi kehidupan di kota justru mencekiknya hingga tak bisa lagi mengirim uang.


Kalau terus begini, kiriman yang Mute tunggu tidak akan datang.


"Untuk sekarang percepatan pembangunan rumah Mute. Bawa banyak pekerja di sana dan makanan agar dia bisa ikut makan bersama."


Dia terlihat sangat kurus seperti neneknya. Erekleus khawatir dia justru mati kelaparan.


"Lalu sambungkan aku pada Tuan Muda Pertama."


Erekleus mau tak mau pergi ke kediaman Dinda karena di sana adalah tempat lain dirinya bisa terhubung dengan Kastel Mawar selain di tenda. Seluruh pencahayaan mati di kamar itu, kecuali cahaya dari transmisi.


"Lama tidak berjumpa, Adik."


"Ya, Kakak, singkirkan basa-basi menjijikan itu karena aku ingin bicara hal penting." Erekleus tersenyum pada kakak sepupunya, Tuan Muda Pertama sekaligus calon pemimpin Narendra.


Kalau ibarat Erekleus adalah pekerja, maka dia ini bosnya.


"Padahal aku rindu adik kecilku yang jarang menghubungiku ini." Pria itu menyeringai main-main. "Baiklah, apa?"


"Ada beberapa keluarga tanpa penopang ekonomi di sini. Maksudku, mereka tidak punya ayah yang bekerja untuk mereka atau seorang kakak. Salah satu tetanggaku, dia seorang gadis muda dan neneknya sudah tidak bisa bergerak. Satu-satunya penopamg adalah saudara perempuannya yang terlilit hutang di kota."


"Itu kasus yang banyak kudengar dari adik-adik yang lain," balas Tuan Muda Pertama. "Aku sudah berdiskusi dengan Ayahku dan Ayahmu. Untuk sementara, kami akan mengirim anggaran bulanan untuk setiap keluarga tanpa tulang punggung pria. Tapi karena sulit menjaganya untuk jangka waktu lama, pastikan setiap dari mereka mulai menemukan pekerjaan yang nyaman dan beri pembekalan ilmu untuk keperluan pekerjaan mereka."


"Aku memikirkan hal sama. Terima kasih, Kakak." Erekleus mengangguk lega. "Akan kubicarakan besok dengan para staf desa."


"Kamu terlihat cemas, agak terlalu." Kakaknya memicing. "Ada apa?"


Kalau ada satu orang yang akan membunuhnya sebelum Ibunda, maka orang ini adalah orangnya. Tentu saja Erekleus buru-buru mengelak.


"Tidak. Aku hanya cemas sebab neneknya sangat tua. Orang-orang desa bahkan berkata mereka cuma menunggu nyawanya hilang."


Setidaknya itu yang Erekleus dengar dari pembicaraan orang desa. Katanya Nenek Iyem tinggal menunggu waktu saja sampai takdir Tuhan menentukan.


*

__ADS_1


__ADS_2