Mengandung Anak Suami Orang Lain

Mengandung Anak Suami Orang Lain
7.


__ADS_3

Mute merasa sangat bersalah dan takut dianggap mencurinya. Sambil terbata-bata ia menjelaskan kalau Jaler tiba-tiba memintanya lalu pergi begitu saja. Mute takut melawan karena Jaler dikabarkan sering mabuk-mabukan di jalan lalu membacok orang.


Pokoknya dia orang jahat jadi Mute tidak mau melawannya secara fisik.


"Itu tas mandiku satu-satunya," kata Erekleus. Dia berbalik, keluar dari rumah. "Kamu membawa peralatan mandi cadangan untukku, Erina?"


"Tidak, Tuan Muda. Ada apa dengan milik Anda?"


"Seseorang mengambilnya."


Mute melihat Erekleus menjelaskan bahwa peralatan mandinya dirampas di tengah jalan saat dititipkan pada Mute. Sejenak, tatapan Yohana mengarah pada Mute.


"Bukan kamu yang membuangnya, kan?"


Mute tersentak. "E-enggak, Kak! Sumpah! Beneran bukan saya!"


"Tuan Muda, saya mencurigai gadis ini." Yohana mengucapkannya lantang. "Dia sejak awal terus membenci Anda dan sekalipun Anda membantunya, dia terus menganggap Anda tidak melakukan kebaikan."


Erekleus menatap Mute. "Itu masuk akal, terus terang."


Jantung Mute mendadak seperti tertusuk. Ia terus menunduk, tak bisa menahan air matanya berjatuhan karena rasa takut. Dirinya mau membela, berkata itu bukan dirinya bahkan kalau masih membenci Erekleus, tapi ia tak punya bukti.


Tasnya di tangan Mute saat itu hilang. Memang masuk akal ia membuangnya.


"Mute, tas itu dan seluruh isinya hanya dibuat di Narendra. Aku tidak diizinkan membeli apa pun, termasuk sabun mandi, karena seluruhnya dibuat khusus untuk Narendra. Jika itu hilang, aku harus menunggu seseorang mengirimnya dari Kastel Mawar ke tempat ini. Mungkin butuh waktu dua hari."


Mute semakin terisak-isak. Kalau tahu begitu tadi ia lari saja dari Jaler.


"Kamu masih membenciku? Kamu masih menganggapku tidak melakukan apa-apa? Benar begitu, Mutia?" tanya Erekleus pelan tapi terkesan sangat menekan.


Bahu Mute hanya berguncang akibat tangisan. Ia mau menjawab tidak. Ia merasa Erekleus memang sedikit berbeda dan nyatanya dia melakukan banyak hal dalam waktu sehari, tapi Mute terlalu larut dalam tangisan sampai sulit menjawab.


"Tuan Muda." Erina ikut masuk ke dalam rumah, melihat situasi memanas. "Ini hanya masalah peralatan mandi, jadi mungkin saja itu kecil. Tapi sikap dari pemilik rumah pada Anda itu keterlaluan. Tolong berhenti menerima penghinaan dan hormati diri Anda sebagai Narendra."


Erekleus tersenyum. "Aku mengerti."


Lalu pria itu datang, menyerahkan dua lembar uang ke atas Mute. "Ini bayaran dari makanan bawahanku dan biaya menginap di rumahmu. Aku menyukaimu, Gadis Kecil, tapi sepertinya kamu tidak. Aku pergi."


Mute merasa dirinya adalah pencuri ketika Erekleus beranjak pergi dari rumahnya, bersama gerombolan perempuan dan pria yang mengikuti dia.

__ADS_1


Ini salah. Kenapa Mute yang disalahkan padahal Jaler yang mencurinya?


Mute tidak mau dikira pencuri! Ia benci pada Erekleus di awal karena ia pikir dia itu datang cuma untuk merepotkan, tapi dia benar-benar bekerja alih-alih orang yang mengaku bekerja di kantor desa mereka!


"Nek, aku keluar sebentar ya." Mute yang nekat pun memutuskan pergi, ingin kesalahpahaman tentang dirinya selesai.


Mute pergi ke tongkrongan Jaler untuk bertanya di mana dia membuang tas tadi. Tapi ternyata yang ia dapatkan justru mereka masing-masing membagi isi tas itu karena isinya terlihat mewah.


"Mas Jaler, balikin punya Erekleus!"


Para pria di pos ronda itu serentak menatap Mute, membuatnya merasa kecil sebagai wanita, tapi lagi-lagi sok berani.


"Itu punya Erekleus! Dia enggak bisa mandi kalo enggak ada ifu!"


"Halah, Bacor!" Jaler melotot. "Dia tuh kaya, Mut, kaya! Masa gini doang dipermasalahin? Pelit bener!"


"Pokoknya balikin!" Mute menerjang mereka, berusaha merebut botol sabun dari kaca dan memiliki penutup emas. Isinya berwarna hitam, tapi terdapat bulir-bulir emas pula.


Pantas saja Jaler tidak sudi membuangnya.


"Balikin, Mas, balikin!"


Aksi saling dorong-dorong pun terjadi. Mute bersikeras menarik botol sabun, botol sampu dan entah botol apa lagi di sana untuk dikembalikan, tapi ia hanya seorang gadis.


"DASAR ENGGAK GUNA!"


*


"Kamu kenapa sih, hah? Cerewet banget dari tadi!" Jaler menyambar leher Mute dan berteriak di wajahnya. "Atau apa, Mut?! Kamu pengen cari muka biar dinikahin sama orang kaya?! Mau sok pahlawan biar dia suka sama kamu?! Halah, ngimpi! Ngimpi kamu ngimpi!"


Jaler menampar-nampar wajahnya sambil menertawakan Mute. Begitu pula dengan lelaki di pos ronda.


"Kalo jadi selingannya Pak Surya kamu baru bisa! Ato lon-tenya Pak Kades tuh kamu masih masuk! Kalo yang kayak gitu kamu incer? Hah, cacing aja masih lebih cakep!"


Tepat setelah mengatakan itu, sebuah tendangan mendarat di wajah Jaler.


Mute terpaku melihat Erekleus dan pria-pria pengawalnya mengepung pos ronda, menyuruh semua teman Jaler duduk diam.


Sementara itu, Erekleus menatap Jaler.

__ADS_1


"Bicaramu tidak berkelas sekali, Orang Kampung. Aku bahkan sampai ingin muntah," kata Erekleus yang biasanya sopan dan penuh senyum.


"Kamu mencuri barangku tanpa alasan jelas, membagi-baginya tanpa izinku, lalu sekarang menyakiti gadis kecil ini. Hei, daripada berkomentar tentang aku tidak mau padanya, lebih baik berkomentar bahwa dia tidak mau denganmu."


Erekleus berbalik, mengulurkan tangan pada Mute yang cengo.


"Baik-baik saja, Manis?" tanya dia lembut.


Mute mengerjap, masih tak percaya. "Kok kamu—"


"Tentu saja aku harus memastikan kamu pelakunya atau tidak." Erekleus membantu Mute berdiri. "Aku tidak tahu harus percaya padamu atau tidak, karena kita baru kenal. Namun aku merasa kamu sedikit terlalu 'bodoh' untuk melakukan hal itu, jadi kuputuskan mengikutimu."


Mute mendadak mewek. Tangisannya pecah begitu saja melampiaskan rasa kesal dan takutnya dituduh pencuri, lalu bertengkar dengan preman demi barangnya Erekleus.


Pria itu malah tertawa melihat tangisan Mute. Mengusap-usap puncak kepalanya lembut. "Terima kasih sudah berkata jujur dan berusaha mengambil barangku kembali."


"Nona, maafkan kami." Erina dan Yohana ikut datang. "Kami terpaksa berkata demikian untuk memastikan. Tolong mengerti posisi kami sebagai asisten Tuan Muda mengharuskan kami untuk bersikap protektif."


Mute mengangguk, setidaknya lega karena ia tak dikira pencuri sungguhan. Syukurlah. Ia pikir mereka akan menganggap dirinya berbuat hal buruk tanpa alasan.


"Terus sekarang kamu pindah ke rumahnya Pak Surya?"


"Dinda, maksudmu? Tidak. Aku akam membuat tenda."


Erekleus mengajaknya pergi meninggalkan Jaler dan kawan-kawan diikat di pos ronda sebagai bentuk hukuman.


Barang-barang mandi Erekleus ditinggal begitu saja karena kata dia, barangnya sudah terkontaminasi kuman.


"Tenda? Kamu mau tinggal di tenda sempit?" Mute membelalak tercengang. "Kamu kan mending tinggal di rumah Dinda aja. Toh di sana udah direnovasi khusus buat kamu, terus kenapa malah kamu tolak terus? Atau kamu enggak suka Dinda deketin kamu? Kalo bener karena itu, serius kamu mesti sadar diri kalo kamu sendiri yang bikin diri kamu—"


Didekati secara alami karena terlalu ganteng, adalah kalimat selanjutnya tapi terpotong alami.


Mute melongo seperti sapi karena melihat sekelompok pria, termasuk warga, berbondong-bondong membangun tenda super besar di samping kediaman lusuh Mute. Tanah di sana kosong karena ada sawah, namun setengah sawahnya sini diisi oleh rangka tenda.


"Kakakku berkata aku tidak boleh menyusahkan warga sipil," Erekleus mengangkat bahu, "jadi aku memutuskan tinggal di tenda saja. Jangan khawatir karena tenda itu tidak akan kecil dan sempit. Kemarin situasinya agak darurat, jadi terpaksa bawahanku memakai tenda sempit."


Mute lupa kalau dia horang kayah.


*

__ADS_1


Bantu author ngembangin karya dengan dukungan kalian, yah ☺


Dan buka juga karya-karya Candradimuka lainnya, terima kasih 🙏🙏


__ADS_2