
Mute bahkan tidak berpikir. "Satu-satunya bukti kasih sayang Anda pada Ana adalah Anda menahan diri tidak bertemu. Hanya itu. Silakan pergi, Tuan Muda, karena saya sedang bekerja."
Mute pasti tahu tindakannya ini bisa berujung kematian. Tapi mungkin karena dia tahu Erekleus tidaklah sekejam itu, maka dia berani bersikap kurang ajar.
"Aku tahu kamu marah." Erekleus menahan tangannya yang berencana pergi. "Aku sangat tahu itu. Aku tahu kamu telah berjuang sendirian."
"Ini bukan soal saya." Mute menarik tangannya. "Ini soal keluarga Narendra memiliki peraturan. Keputusan sudah dibuat jadi jangan terlalu sering merengek, Tuan Muda. Bukankah Anda tidaklah manja?"
"Hanya kamu yang mengerti." Erekleus meringis getir. "Kamu yang paling mengerti perasaanku pada Ana, kan? Aku merasa seperti bisa membunuh siapa pun demi anak itu, Mutia. Tolong."
"Maka seharusnya Anda juga mengerti." Mute tersenyum muram. "Saya juga bersedia melakukan apa pun untuk menjaga anak itu. Termasuk dari Anda."
*
"Bibi, kenapa Bunda sangat marah pada Ayah?"
"Marah?" Sanya mengangkat alis. "Bocah, Bundamu tidak dalam posisi bebas marah pada ayahmu. Dan tidak ada alasan untuk dia marah."
"Lalu kenapa Bunda tidak senang Ayah datang?"
"Karena itu bukan urusan anak kecil." Sanya menyentil kening Anastasia tak peduli dia menjerit sakit. "Diam dan pergi bermain dengan boneka saja."
Anastasia menjulurkan lidah mengejek, berlari ke pojok mainannya daripada disentil lagi oleh Sanya. Ketika melihat anak itu benar-benar pergi bermain sesuai perintah, entah kenapa Sanya malah penasaran.
"Anastasia."
Gadis kecil itu mendongak.
"Kamu menyukai ayahmu? Ingin bersamanya?"
"Ana menyukainya." Anastasia kembali menunduk pada mainan. "Tapi Ana tidak mau jika tidak bersama Bunda."
"Kalau begitu biar aku beritahu." Sanya menopang dagu. "Kamu itu anak terlarang."
"Apa itu anak terlarang?" Anastasia mengerjap polos.
"Kamu lahir di waktu yang tidak dibolehkan."
"Berarti orang-orang membenci Ana?"
"Tidak, tapi kelahiran kamu itu seharusnya tidak terjadi." Sanya mengamati mata anak kecil itu saat memuntahkan hal yang mustahil dipahami oleh anak-anak. "Kamu bukan Narendra secara utuh tapi juga bukan orang biasa secara utuh."
__ADS_1
"Lalu Ana apa?"
"Kamu yang menentukannya." Sanya menunjuk ke atas. "Dan cara menentukannya berada di sana."
Jika anak kecil biasa mustahil mengerti akan perkataan itu, Anastasia yang besar di tangah genius gila macam Sanya tentu saja mengerti.
Bibi Sanya-nya sedang berkata bahwa Anastasia harus naik ke atas untuk menemukan dirinya itu apa.
*
"Ana." Mute membuka pintu ruangan Sanya dan bergegas datang memeluk anaknya. "Ana, jangan bertemu dengan Paman itu lagi, mengerti? Bagaimanapun juga, jangan bertemu dengannya lagi sekalipun dia turun ke bawah sini."
Anastasia menatap wajah Mute lekat. "Bunda, apa Ayah berbuat salah?"
Mute menggeleng. "Bukan Ayah. Panggil dia Tuan Muda. Seseorang yang menakutkan akan marah jika kamu memanggil dia Ayah."
"Tuan Muda?"
"Ya, benar. Tuan Muda." Mute membelai wajah Anastasia lembut. "Dengar, Ana, jika melihat Tuan Muda, segeralah lari pada Bunda atau Bibi Sanya."
"Kenapa?"
"Bunda hanya ingin seperti itu. Ana mau melakukannya, kan?"
"Dia hanya membual," kata Mute lembut. "Jangan dengarkan perkataan siapa pun selain Bunda."
Tentu saja Mute masih merasa trauma pada bagaimana orang-orang itu berbincang tentang kematian anaknya. Keluarga ini bukanlah keluarga penuh kasih sayang.
Mata Sanya yang buta sebelah adalah buktinya.
"Ana ingin naik ke permukaan." Anastasia mengungkapkan perasaannya. "Ana tidak membenci tempat kita tapi Ana ingin naik ke permukaan. Di atas ada langit, Bunda. Di sini tidak ada langit."
"Di atas sana kita tidak bisa melihat ikan-ikan." Mute menjawab tanpa masalah. "Ayo sepakat tidak membicarakan hal itu lagi, mengerti?"
Anastasia justru menatap Sanya. Membuat Mute seketika menghela napas.
"Sanya, katakan sesuatu," pintanya lemah. Kalau Sanya yang bicara, Anastasia juga akan mendengar.
"Jika semua Narendra sepakat menerima Anastasia, dia akan terjamin." Sanya justru mengucapkan hal sebaliknya. "Terlebih, sebentar lagi kamu akan meninggalkan Kastel untuk menjalankan tugas, kan? Bukankah lebih baik jika Anastasia dititipkan pada Eris?"
"Sanya—"
__ADS_1
"Aku hanya mengusulkan. Aku berjanji menjaga kalian jadi selama nyawa kalian tidak terancam, aku tidak keberatan." Sanya berbalik pada pekerjaannya lagi. "Naik ke atas sebentar, setidaknya menghadiri pertemuan, itu tidak mengancam nyawa. Kurasa."
*
Erekleus tidak menyerah. Ini adalah kesempatan yang diberikan oleh Bibi Askala padanya maka jelas Erekleus harus berusaha memastikan semua itu tidak sia-sia.
Tidak menunggu besok, hari ini juga Erekleus kembali berusaha menemui Mute.
Bisa Erekleus memberi perintah sebagai Tuan Muda. Bagaimanapun Anastasia itu anak Narendra jadi dia terikat padanya. Jika menggunakan statusnya, Mute bahkan bisa ia buat berlutut.
Namun Erekleus juga tak ingin menyakiti Mute hanya demi anaknya. Erekleus ingin berdamai dengan Mute.
"Aku membawa makanan kesukaanmu." Erekleus datang saat jam makan siang. "Ini dibuat oleh koki bangunan utama jadi aku menjamin rasanya. Ayo makan bersama."
Mute bahkan tidak berbalik. "Saya sudah kenyang."
"Kalau begitu aku akan menunggu sampai kamu lapar."
Erekleus bersedia duduk di sana, meletakkan makanan di atas meja dan diam menyaksikan Mute. Sedikitpun dia tak berusaha bersuara, memberi ruang bagi wanita itu bekerja.
Dia benar-benar sudah berubah. Dulu Mute adalah gadis kecil kurus, berdada kecil, wajah kusam kurang terawat dan rambut yang selalu diikat ke belakang. Tapi sekarang dia menjadi wanita cantik, rambut lebat dijepit ke belakang, wajah tanpa make up tapi terawat, kulit pucat dan dada lebih berisi. Atau sangat berisi, jujur saja.
Jika nanti dia bertugas, dia pasti akan jadi dokter cantik kesukaan pasien laki-laki.
"Kamu sebentar lagi bertugas," ucap Erekleus setelah sekian lama diam. "Aku membaca jurnal yang kamu tulis. Kamu melakukannya sangat baik sejauh ini."
"Terima kasih," jawab Mute datar.
"Satu tahun masa tugas seharusnya cukup untuk kamu melanjutkan pendidikan spesialismu. Bidang apa yang kamu minati?"
"Saya hanya ingin jadi dokter umum." Mute sempat berhenti menggerakan jarinya di kertas. "Dengan begitu saya bisa membantu lebih banyak orang secara umum."
Erekleus tersenyum. "Nenekmu pasti bangga padamu."
Wanita itu diam.
"Kamu marah padaku, Mutia? Tentang kehidupanmu di dalam sini?"
"Tidak." Mute kembali menulis. "Hidup saya nyaman di sini. Jauh lebih baik daripada saya harus luntang-lantung sendirian di kota, mencari pekerjaan sana-sini sambil berpikir bagaimana saya membayar ini dan itu."
"Kalau begitu aku senang." Erekleus tersenyum lega. "Aku tidak menghancurkanmu terlalu banyak."
__ADS_1
"...."
*