
Walau butuh waktu dan proses, orang-orang akhirnya terbiasa pada kehadiran Erekleus. Mereka mulai mengerti bahwa ia bukanlah Tuan Muda manja melainkan pria ramah yang tegas dan tahu cara melakukan tugasnya.
Situasi desa berubah secara cepat. Jalanan yang dikerjakan oleh orang-orang desa mulai semakin panjang dan nyaman dilewati. Para warga saling bantu satu sama lain sesuai harapan Erekleus meski ia tahu ada juga yang tidak suka pada kehadirannya.
Dalam waktu seminggu ini, Erekleus menendang enam pegawai senior dari desa dan desa terdekat karena ketahuan menggelapkan dana. Erekleus juga secara muntlak mengambil kendali pusat listrik dan air hingga orang-orang yang mengaturnya sesuka hati mereka jadi tak bisa lagi.
Erekleus tak pernah tak sibuk tiap hari. Sampai akhirnya, hari ke dua puluh, dia benar-benar bisa bersantai sedikit.
Erekleus meminta Mute bersamanya melihat-lihat sekolah karena bagian itu juga salah satu tugasnya datang ke sini.
"Selamat pagi, Tuan Muda." Dinda tahu-tahu malah muncul dan tersenyum manis padanya. "Ayah bilang Tuan Muda ingin berkeliling jadi Ayah menyuruh saya mendampingi."
Pantang menyerah bahkan setelah punya istri, kah? Sungguh tipikal wanita sekali. Erekleus hanya tertawa kecil, karena mau Dinda jungkir balik pun Erekleus tidak akan tertarik.
Istrinya sangat cantik. Semua wanita Narendra bahkan layak disebut gadis-gadis tercantik di dunia. Dan bahkan kalau Dinda secantik bidadari, Narendra tidak diperbolehkan menikahi wanita biasa.
"Kalau begitu, dampingi aku, gadis-gadis cantik." Erekleus berjalan di antara Mute dan Dinda.
Tentu saja Mute merasa canggung karena ia malah seperti jadi obat nyamuk.
"Tuan Muda, boleh saya bertanya?" Dinda bertanya lembut untuk terlihat sebagai wanita berkelas.
"Tentu saja, Nona. Bertanyalah."
"Kenapa Tuan Muda tidak mengonsumsi nasi? Apa semacam alergi?"
"Hm? Tidak. Itu peraturan keluarga." Erekleus tersenyum ramah. "Kami tidak mengonsumsi makanan yang merusak tubuh."
Dua gadis yang hidup sambil makan nasi itu cuma berpikir bahwa mereka tidak semenawan Erekleus karena mereka makan nasi dari kecil.
"Lalu, apa makanan kesukaan Tuan Muda?" Dinda bertanya lagi.
"Makanan kesukaanku?" Erekleus berpikir untuk mengingat makanan kesukaannya di Kastel Mawar. "Kurasa anggur? Aku bisa makam tiga kilo anggur sendirian. Juga kesemek kering. Ibundaku selalu menyiapkan kesemek di dekat tempat tidurku sejak kecil."
"Kesemek tuh apa?" Mute tidak mampu menahan rasa penasaran.
"Kamu penasaran?" Erekleus tertawa. "Paket untukku akan datang nanti, jadi akan kubagi padamu kalau ingin."
"Saya juga boleh, Tuan Muda?" Dinda tak mau kalah.
"Ya, akan kukirim padamu juga nanti."
Sepanjang perjalanan Dinda terus bertanya tentangnya dan Erekleus menjawab apa adanya. Dia bertanya apa nama sosial medianya, Erekleus menjawab tidak ada karena memang tidak ada.
Lalu akhirnya mereka tiba di sekolah.
"Kalian bersekolah di sini juga?"
__ADS_1
"Ya, Tuan Muda."
"Diluar dugaanku." Erekleus menatap sekitaran. "Bangunannya memang kecil tapi kurasa siswa-siswinya juga sedikit?"
"Banyak yang putus sekolah karena biaya," jawab Mute. "Daripada ngabisin waktu sekolah, orang milih kerja atau ngerantau."
"Ini sekolah negeri. Apa masih dengan biaya?"
"Emangnya kamu pikir sekolah negeri tuh gratis?"
"Ya, karena itu kebijakan pemerintah sejak seratus tahun terakhir." Erekleus menjawab sungguh-sungguh. "Kami Narendra yang membuatnya dan pemerintah meresmikan itu. Tentu saja, aku tahu ada banyak wilayah yang berbuat curang dan masih memakai peraturan lama. Aku datang untuk menghentikan itu."
Mute terpaku. "Maksudnya sekolah bakal gratis?"
"Itu seharusnya gratis. Sejak seratus tahun terakhir." Erekleus menarik napas panjang. "Yah, memperbaiki sesuatu memang tidak semudah itu."
Mute mendadak murung. Erekleus yang melihatnya jelas penasaran.
"Ada apa?"
"Mute putus sekolah sebelum SMA." Dinda yang menjawab. "Keluarganya tidak sanggup membiayai, Tuan Muda. Uang sekolah mungkin bisa, tapi perlengkapannya tidak."
"Benarkah?" Erekleus mengangkat alis. "Lalu kenapa bersedih, Mute?"
"Kalo saya sekolah saya bisa kuliah," jawab Mute muram. "Bisa cari kerja."
"Aku tidak punya sekolah sama sekali."
"Ya, peraturan keluarga," jawab Erekleus untuk kesekian kali. "Narendra tidak diperbolehkan sekolah. Kami menempuh pendidikan di usia lima tahun sampai lima belas tahun, lalu persiapan bekerja dua tahun dan di usia tujuh belas tahun aku mulai bekerja."
"Maksudnya kamu enggak kuliah?" Mute terbelalak.
"Ya, aku bahkan tidak bersekolah TK, atau apa pun kalian menyebut itu. Tapi aku menguasai Bahasa Indonesia secara keseluruhan, bahasa Inggris, bahasa Prancis, Spanyol, Jepang, Chinese, Arab, dan sedikit bahasa Latin."
Erekleus tersenyum cerah. "Jangan memandang status pendidikan sebagai patokan, Mute. Kamu bisa jadi luar biasa tanpa itupun. Tentu saja, kamu harus belajar untuk itu."
"Tapi itukan karena kamu kaya. Orang kaya mau bodoh pun jadi bos."
"Itu tidak bisa dibantah tapi percayalah tidak bagiku." Erekleus memasukkan tangan ke sakunya. "Semua orang yang memakai nama Narendra itu luar biasa secara pribadi. Kami tidak dibiarkan hidup jika tidak."
*
Dinda merasa sebal dengan cara Erekleus perhatian pada Mute. Pokoknya terserah tentang omongan tidak sekolah dan blabla, tapi seharusnya Erekleus lebih memperhatikannya.
"Tuan Muda, ayo masuk."
"Ya, ayo." Erekleus mengiyakan, masuk ke sekolah itu untuk berkeliling. Kedatangan Erekleus disambut meriah oleh murid bahkan guru. Hari itu mereka bahkan libur dari kelas karena Erekleus mengadakan kuis dadakan di lapangan, mengajak mereka berinteraksi.
__ADS_1
Mute ikut bersenang-senang bersama sekumpulan anak kecil yang mengingatkannya pada masa lalu. Kalau saja ibunya masih ada dan ayahnya yang badjingan itu ingat keluarga, pasti hidup Mute lebih baik daripada sekarang.
Saat mereka pulang, Mute hanya diam mengikuti langkah Dinda dan Erekleus yang bicara satu sama lain. Erekleus mengambil jalan memutar untuk mengantar Dinda ke rumahnya dulu, baru mereka berpisah dan tersisa dirinya dan Mute saja.
"Jangan menyesali takdirmu sendiri, Gadis Kecil." Erekleus tahu-tahu berucap demikian di depan rumah Mute sekaligus di depan tendanya. "Kamu tahu presiden saat ini? Dia pria luar biasa. Orang yang membesarkannya adalah pamanku, yang namanya tidak dikenal terlalu banyak orang. Kamu mengenal Arkas Narendra? Tentu saja tidak. Dia Paman Pemimpin Narendra saat ini. Dia selalu berkata padaku dia berharap tidak lahir sebagai Narendra, tapi dia menjalani hidupnya sepenuh hati."
Erekleus mengelus puncak kepala Mute. "Tidak bersekolah tidak membuatmu jadi pecundang, Nona Kecil. Hidupmu masih panjang dan itu pilihanmu menjadi apa kedepannya."
Bahu Mute tiba-tiba bergetar. Erekleus terkejut melihat gadis itu menangis terisak-isak hingga tubuhnya terguncang. Untuk sesaat Erekleus ingat bahwa dia adalah gadis kecil yang merawat neneknya seorang diri di rumah tua—walau sebagian sudah dalam proses pembangunan—tanpa ayah, kakak laki-laki atau siapa pun.
"Hidupmu pasti berat." Erekleus menarik gadis itu ke pelukannya. Menepuk-nepuk punggungnya yang rapuh. "Tidak masalah. Menangis tidak masalah. Lakukan sepuasnya."
Mute terus terisak-isak.
"Baiklah, aku benci wanita menangis. Itu membuatku merasa tidak berguna." Erekleus melepaskan pelukan itu tapi mengubahnya jadi rangkulan. "Ayo kemari. Akan kuminta Mira menjaga nenekmu sebentar jadi hibur dirimu dulu."
Mute terus terisak-isak sampai Erekleus membawanya masuk ke tenda. Ketika masuk, tangisan Mute dipaksa terhenti oleh pemandangan sekitar.
Wow, ini benar-benar seperti rumah. Ada banyak tirai berlapis-lapis juga dan saat masuk ke tempat tidur Erekleus, Mute malah serasa masuk ke kamar keluarga kerajaan yang penuh emas.
Bukan emas sungguhan tapi kain-kain yang menjadi tirai di sekitaran itu memiliki pola mawar emas berkilau. Ranjangnya diselimuti oleh seprai dengan pola mawar emas pula.
"Saya udah mau nanya dari lama," kata Mute masih agak sesegukan, "kamu kenapa selalu pake barang mawar emas? Suka?"
Erekleus mengerjap. "Tidak. Itu simbol keluargaku. Mawar emas, mawar hitam dan mawar merah."
"Simbol?"
"Mawar hitam menandakan keluarga Narendra secara keseluruhan, mawar merah lebih cenderung pada istri-istri Narendra, lalu mawar emas adalah simbol umum yang dipakai Narendra saat berada di luar. Kami tidak boleh memakai pakaian tanpa pola mawar, tidak boleh selain warna hitam, kecuali warna merah untuk istri Narendra."
Mute mendadak ingat kalau penutup botol sabun mandi orang ini saja punya ukiran mawar.
"Kamu akan berhenti menangis jika kuceritakan?" Erekleus duduk di kasurnya, menepuk-nepuk sisi di sana. "Maka kemari dan dengarkan."
Mute patuh untuk duduk. Mengamati karpet yang lagi-lagi berpola mawar, sandal rumah berpola mawar, bahkan sampai sofanya mawar.
Erekleus pun bercerifa bahwa keluarganya sudah berdiri sejak lebih dari dua ratus tahun dan sejak itu pula mawar menjadi simbol mereka. Erekleus juga bilang bahwa tidak ada lago brand-brand di dunia ini yang memakai mawar sebagai logo mereka sebab itu akan dianggap masalah. Mute jadi sadar betul bahwa Erekleus berasal dari dunia yang sepenuhnya berbeda.
"Kenapa orang kayak kamu dateng sini? Peduli sama desa ini?" Entah kenapa Mute mempertanyakannya lagi.
Kalau dia bisa hidup tenang tanpa peduli, kenapa dia peduli?
"Sebab Narendra sudah sejak lama mempersiapkan diri menguasai negara ini." Erekleus menjawabnya dengan senyum. "Butuh waktu sangat lama sejujurnya, Nona. Dua ratus tahun. Aku adalah generasi pertama dari Narendra yang terjun langsung ke lapangan. Kota dibawah tanggung jawab generasi ayahku, jadi aku sebagai generasi termuda memegang tanggung jawab kecil. Hanya sesederhana itu."
Erekleus menghiburnya dengam cerita-cerita yang tidak Mute mengerti tapi menyenangkan ia dengar. Tanpa sadar malah Mute jatuh tertidur di lengan Erekleus.
Tirai kamarnya tersibak oleh Yohana. "Tuan Muda?"
__ADS_1
"Biarkan saja."
*