
yang bingung kenapa mute bisa tinggal di bawah danau, itu maksudnya bangunan kaca di bawah danau yang kedap air, yah. bukan dia bisa bernapas dengan insang kayak ikan duyung, mohon maap 😅
***
Mute menatap seorang wanita dewasa tapi tingginya bahkan lebih rendah dari Mute. Dia seseorang yang membawa Mute turun ke tempat aneh, yang disekeliling mereka adalah air seperti dasar laut.
Atau danau, lebih tepatnya.
"Kamu mengutuk takdirmu, Ibu Muda?" Sanya, wanita itu, mendorongnya duduk di atas sebuah tempat tidur dan mulai memasanginya alat-alat medis.
"Bagaimanapun kamu mengutuk, itu sudah takdidmu jadi lebih baik jalani saja walaupun rasanya ampas."
"Tante—"
"Sanya. Aku bukan tante atau bibi."
"Sanya." Mute menatapnya lekat. "Kamu juga Narendra?"
"Bukan." Sanya tersenyum. "Aku cuma orang asing yang kena sial dan dihitung sebagai Narendra. Kamu akan sama sepertiku jadi jangan banyak menangis sebab aku benci orang cengeng. Mengerti?"
Mute mengangguk, sudah berjanji pada dirinya bahwa ia tidak akan menangis.
Ayo jalani ini dan berharap suatu saat ia benar-benar menemukan kebahagiaan sendiri.
*
Walau kalian membenci keadaan, waktu pada akhirnya akan terus berjalan.
Mute sekarang memasuki usia dua puluh empat tahun, menghapus seluruh jejak masa lalu di dirinya dan berubah menjadi wanita dewasa cerdas didikan Sanya.
Perkataan Erekleus saat itu benar. Bahwa tidak bersekolah bukan berarti bodoh. Nyatanya berkat belajar dari Sanya, Mute sekarang menjalani pendidikan terakhirnya sebagai Dokter Keluarga Narendra.
Bukan di bangku kuliah namun di balik punggung Sanya, mendengar ocehannya dan disuruh membaca sangat banyak buku tiap harinya. Dan seraya melakukan itu, Mute menyaksikan putrinya tumbuh besar.
"Tidak mau!"
Putrinya yang malah meniru perilaku Sanya.
"Pokoknya tidak mau! Ana tidak mau!"
Namanya Anastasia, warna kesukaannya adalah merah, dan hobinya adalah merengek minta cokelat.
Oh, dan membuat Mute kesal, mungkin saja.
"Bunda akan kasih cokelat, Ana," kata Mute sambil berusaha sabar, "tapi setelah makan. Makan buahmu dulu baru cokelat. Mengerti, Anak Pintar?"
"Ana mau cokelat dulu!" Anastasia melotot lalu kabur begitu saja.
Mute menatap kepergian anaknya sambil memijat kepala. Entah karena dia Narendra atau karena dia diasuh oleh Sanya juga, tapi sungguh kelakuannya diluar nalar. Padahal nanti ujung-ujungnya dia kembali juga, minta makan buah karena lapar.
__ADS_1
Daripada sakit kepala, Mute biarkan saja dia pergi, kembali fokus pada jurnal yang ia tulis. Kalau nanti Sanya kembali dan ini tidak selesai, Mute pasti akan dimarahi lalu Anastasia yang melihat Mute dimarahi akan ikut memarahinya sambil berkata 'Bunda memang lelet'.
Ya, jangan harap Mute punya anak manis dan penyayang apalagi tahu diri. Anak itu adalah anak nakal walau Mute setengah mati sayang padanya.
Sementara Mute sibuk berkutat di ruang kerjanya, Anastasia yang sebal tidak diberi cokelat pun diam-diam naik ke permukaan.
Anastasia dilarang naik entah untuk alasan apa, tapi Anastasia tahu jalan rahasia menuju ke permukaan. Dia sering melihat Sanya masuk ke sana, namanya lift.
Anastasia berlari diam-diam meninggalkan danau, pergi menyelinap ke bangunan kastel utama. Ada seseorang yang mau Anastasia temui karena dia sering memberinya cokelat tanpa syarat.
"Kakek," bisik Anastasia saat melihat targetnya sedang dikelilingi kucing. "Kakek, ini Ana."
Anastasia tidak tahu siapa dia tapi dia berkata namanya Kakek. Dia sangat tampan dan lembut, punya banyak kucing juga banyak cokelat. Matanya buta hingga dia selalu menutup matanya.
"Gadis Kecil." Si Kakek itu mendengar suara langkah Anastasia. "Kemari. Kakek sudah menunggu."
Anastasia tersenyum gembira. Mendekati Kakek dan menghamburkan diri ke pelukannya.
"Kamu lari dari ibumu lagi?" bisik Kakek di telinganya. "Tidak ada yang melihatmu di sini, kan?"
"Um, tidak ada." Anastasia mengangguk yakin. "Ana berbuat baik jadi berikan cokelat, Kakek."
"Tentu." Kakek merogoh kantongnya, mengeluarkan kotak lucu bergambar yang Anastasia tahu berisi cokelat.
Mata anak itu langsung berbinar-binar. Tak pakai tunggu dia memenuhi mulutnya dengan cokelat, tidak peduli pada omongan Bunda yang bilang harus makan buah dulu baru cokelat.
"Kamu suka?"
"Mintalah selalu, Gadis Kecil." Kakek membelai surai panjangnya. Menarik Anastasia dan mencium keningnya.
Bocah itu tidak kenal siapa Kakek, tapi berada di sekitarnya membuat Anastasia nyaman. Entah kenapa itu mengisi ruang kosong yang Anastasia tidak tahu mengapa ada di hatinya.
"Ana, ada sesuatu yang mau Kakek minta padamu."
Mulut Anastasia penuh cokelat jadi dia cuma mendongak, mendengarkan.
"Jangan naik untuk beberapa hari dulu. Kakek akan mengirim banyak cokelat jadi tetap bersama Bundamu dulu. Jangan mencari Kakek."
Anastasia mengerjap sedih. "Kenapa?"
Ini sudah sering terjadi. Tiap beberapa bulan sekali, Kakek pasti bilang jangan naik, jangan menemuinya karena beliau tidak ada. Tapi Anastasia tidak pernah mengerti kenapa harus berhenti datang.
Memangnya dia ke mana?
"Hanya sementara, Nak. Hanya sementara. Seperti biasa."
Anastasia tidak pernah suka. Dia suka naik ke atas dan suka bersama Kakek walau hanya duduk.
"Kamu berjanji, kan?"
__ADS_1
"Baik." Anastasia menyahut lesu.
*
"Kamu menyelinap lagi?"
Anastasia langsung terpekik mendengar suara Sanya. Bocah empat tahun itu berbalik, menatap wajah Sanya yang menatapnya seperti ia kucing nakal bermasalah.
"Hehe." Anastasia langsung menyengir. "Jangan beritahu Bunda yah, Bibi?"
"Sudah kubilang aku bukan Bibi," gerutu Sanya berlalu. "Anak-anak sangat sulit diberitahu."
"Tapi Bunda berkata Bibi Sanya adalah Bibi Sanya."
"Berisik! Sudah cepat kembali ke kamarmu!"
Anastasia membentuk sikap hormat, kemudian terbirit-birit masuk ke kamarnya. Bocah pintar walau nakal itu masuk ke kamar mandinya dulu, membersihkan gigi agar bukti-bukti habis makan cokelat terhapuskan.
Baru setelahnya Anastasia naik ke kasur, tidur sampai Mute datang mencarinya.
"Ana, bangun dan makan dulu makananmu."
Anastasia yang sudah kenyang cokelat akhirnya mau makan buah suapan Mute.
"Bunda."
"Hm?"
"Besok Bunda sibuk bekerja juga?"
"Ya, mungkin saja." Mute mengamati wajah anaknya. "Ada apa? Kamu ingin ditemani bermain?"
Anastasia menggeleng. "Hanya bertanya," jawab bocah itu.
Padahal diam-diam mau memastikan kapan dia bisa kabur ke atas. Pokoknya besok ia mau naik walaupun Kakek bilang jangan.
Sementara Mute yang melihat tingkah ameh anaknya cuma geleng-geleng. Sanya itu genius sampai-sampai dia pernah gila, makanya Mute sering khawatir anaknya yang terlihat genius ikut-ikutan gila.
"Ana, satu-satunya yang boleh ditiru dari Bibi Sanya hanya—" ucap Mute, mengulang-ulang kalimat sama setiap waktu agar Anastasia mengerti.
Saking seringnya diulang, Anastasia jadi hafal lanjutannya. Tidak boleh meniru Sanya kecuali ....
"Kecerdasan."
"Selain itu tidak boleh." Mute menegaskan. "Tidak boleh."
Mute mungkin lupa atau tidak tahu bahwa anak kecil mana paham kata tidak boleh. Tidak peduli berapa banyak kata tidak boleh, Anastasia sudah terlanjur terbiasa melihat Sanya hingga secara alami menirukannya.
Menirukan 'kegilaan'nya.
__ADS_1
Anastasia mengangguk lalu besoknya siap menyelinap. Gadis kecil itu memastikan Mute sibuk di ruang belajar dan Sanya sibuk meneliti, sebelum dia naik ke permukaan.
*