Mengandung Anak Suami Orang Lain

Mengandung Anak Suami Orang Lain
12


__ADS_3

Melihat Erekleus pergi begitu saja, Mute mengerjap cemas. Kenapa kesannya dia menghindar? Kemarin Mute berharap dia setidaknya mengajak bicara setelah pulang, karena itu juga cukup sering, tapi Erekleus katanya lembur di kantor.


Apa jangan-jangan dia tidak mau menyinggung masalah itu?


Enggak, sangkal Mute pada dirinya. Tuan Muda orangnya bertanggung jawab. Kalo dia ngelakuin berarti dia tau konsekuensi. Pasti cuma karena sibuk.


Begitu Mute menghibur dirinya. Padahal memang fakta bahwa Erekleus kabur.


Erekleus kembali menyibukkan diri di kantor desa, mengatur masalah pembangunan, masalah jalanan, keuangan, bisnis daerah, pendidikan dan lain sebagainya.


Sore hari Erekleus harusnya pulang, pria itu malah tetap di kantornya. Berniat lembur lagi jika Dinda tidak muncul tiba-tiba.


"Selamat sofe, Tuan Muda." Dinda menyapanya dengan senyum manis.


"Selamat sore." Erekleus balas tersenyum ramah. "Ada apa, Nona? Ayahmu mengirim pesan?"


"Eh? Asisten Tuan Muda bilang Tuan Muda memerlukan saya?"


Ah, jadi mereka melakukannya. Erekleus buru-buru mengangguk. "Benar juga. Aku terlupa, Nona."


"Hehe, tidak masalah, Tuan Muda."


Apa yang harus ia katakan? Erekleus sedikitpun tidak punya keperluan tapi daripada pulang, ia memilih untuk bersama Dinda saja.


"Kalau begitu, kurasa aku akan makan malam dengan keluargamu. Bisa aku merepotkan?"


Dinda membulatkan mata terkejut. Astaga, akhirnya Erekleus mau makan bersama mereka setelah dia terus-menerus menolak dengan berbagai alasan!


"Te-tentu, Tuan Muda. Tentu. Mari saya antar." Dinda menahan pekikan girang, membawa Erekleus pulang ke rumahnya.


Mungkin di kampung ini, cuma Erekleus yang bisa membuat orang tua merasa bangga anak gadisnya berhasil merayu pria datang untuk makan malam bersama.


Mereka langsung repot membuat banyak makanan sampai-sampai memanggil tukang masak andalan kampung. Karena sudah cukup lama tinggal, mereka pun sudah tahu makanan yang bisa dimakan Erekleus dan yang tidak.


"Daging kambing bakar dan roti gandum sedikit hangus." Erekleus tersenyum. "Ini makanan enak bagiku. Terima kasih, Pak Surya."


"Tentu, Tuan Muda. Silakan dinikmati."


Bunga dan Dinda menahan jeritan senang karena Erekleus memuji makanan mereka. Hah! Tidak sia-sia mereka belajar membuat hidangan ini setiap hari, menonton berbagai jenis tutorial masak di internet sambil menunggu waktu di mana Erekleus mau menerima jamuan mereka.


Itu adalah lampu hijau karena Tuan Muda selalu menolak makanan yang diberikan, justru balik menawarkan makanannya saja.


Selalu begitu.


Erekleus tersenyum senang menikmati makanannya, sejenak merasa santai lagi dari beban pikiran.

__ADS_1


"Tuan Muda." Dinda tidak mau menyia-nyiakan kesempatan. "Bagaimana kalau Anda menginap saja? Tolong sekaliiiii saja."


Erekleus langsung mengambil air putih dan meminumnya, seolah tak nyaman.


Tak mau membuat tamu penting itu beranjak—karena dia sering begitu—Pak Surya buru-buru bicara.


"Tuan Muda, kami sangat kecewa pada diri sendiri karena Anda menolak tinggal di sini. Putri saya berusaha keras merawat rumah kami untuk Anda."


Erekleus melirik Mira yang menemaninya. Sekretarisnya itu diam-diam memberi isyarat mata bahwa itu bukan ide buruk.


Erekleus juga berpikir begitu. Menginap di sini akan menegaskan jarak antara dirinya dan Mute.


"Baiklah, aku terima. Ucapan terima kasih atas jamuan kalian."


Dinda dan Bunga saling berpandangan penuh rasa gembira.


Akhirnya ada kesempatan menggoda Tuan Muda!


*


*


*


Mute diam-diam duduk di pintu rumah menunggu kepulangan Erekleus. Seharusnya dia sudah pulang sekarang kecuali dia lembur lagi. Tapi Erekleus tidak pernah lembut dua hari berturut-turut jadi kemungkinan dia akan pulang.


Sayangnya Erekleus tidak pulang. Mute sampai memberanikan diri pergi ke tendanya, bertanya di mana Erekleus.


"Tuan Muda menginap di tempat Dinda," kata Erina. "Mereka menjamu beliau dengan makanan kesukaan Tuan Muda, jadi Tuan Muda menginap di sana sebagai ucapan terima kasih."


Jawaban itu membuat Mute gelisah.


Kenapa ia merasa Erekleus menjauhinya? Tidak, kan? Pasti tidak, kan? Dia memeluk Mute dan berkata bahwa Mute bukanlah pecundang. Dia menenangkannya padahal Mute bisa ditinggalkan.


Erekleus tidak seperti itu.


Ya, dia pasti cuma terpaksa menerima.


*


"Gadis itu pasti datang," gumam Erekleus sesaat setelah mandi dan Mira memasangkan kancing baju tidurnya. "Menurutmu apa rencananya?"


"Paling sederhana adalah merayu Anda untuk tidur dengannya dan berpikir Anda tertarik padanya."


Mira selesai mengancing baju, pindah mengeringkan rambut Erekleus.

__ADS_1


"Lebih liciknya, mungkin menggoda Anda," lanjut Mira, "lalu mengadu seakan-akan Anda bersalah, lalu memaksa Anda menikahinya."


Erekleus menatap Mira sedih. "Aku tidak mau membunuh seseorang jadi kuharap bukan itu."


Jika seseorang melakukan itu, Erekleus mau tak mau harus menghabisinya satu keluarga. Karena kalau tidak, maka Narendra yang akan menghabisi mereka bersama kerabat-kerabat jauh mereka yang tidak bersalah.


Itu sangat kasihan, bukan? Jadi sebaiknya jangan.


"Menurutmu aku harus tidur dengannya?"


"Lakukan yang Anda mau."


"Kamu tahu aku paling tidak suka tidur dengan sembarang wanita." Erekleus mengembuskan napas. "Tapi jika kutolak bukankah rencana kalian menjadikan dia 'benteng pertahanan' dari Mutia itu otomatis kacau?"


"Anda benar."


"Lalu aku tidur dengannya?"


"Tolong lakukan sesuai perhitungan Anda. Itu pasti yang palung benar, Tuan Muda."


Mira meninggalkan kamar tidur Erekleus setelah memastikan rambutnya kering. Erekleus pun berbaring, memejamkan mata walau tak bisa tidur.


Sekitar dua jam ia menunggu, akhirnya Dinda datang sungguhan.


Bau parfumnya sudah tercium saat dia membuka pintu diam-diam, masuk perlahan. Dia naik ke tempat tidur hati-hati, lalu mendekati wajah Erekleus.


"Ganteng banget," gumam dia penuh pemujaan. "Ya Tuhan, jadiin jodohku, pliiiis."


Maaf, Nona, aku tidak ingin berjodoh dengan gadis bodoh, jawab Erekleus dalam hatinya.


Perlahan, ia merasa tangan itu menyentuh wajahnya. Dia menyentuh hati-hati dan penuh kekaguman. Lalu jemari itu turun ke leher, membelai dadanya, pelan-pelan membuka kancingnya, lalu akhirnya mencium bibir Erekleus.


Dan ketika lidahnya membelai bibir Erekleus, akhirnya Erekleus membuka mata.


"Kamu sangat mesum, Nona." Ia berguling, balik menindih tubuh Dinda dan mengurungnya.


Dia mau berteriak, ternyata mengambil jalan bodoh dengan pura-pura jadi korban, tapi Erekleus buru-buru membungkamnya dengan ciuman.


Jangan bunuh diri sendiri, demii Tuhan. Dia memang bodoh tapi tidak sampai pantas dibunuh.


"Akan kuturuti keinginanmu, setidaknya selama beberapa bulan." Erekleus berbisik di bibirnya. "Jadi dengarkan aku tanpa sedikitpun membantah, paham?"


Dinda menatapnya takut tapi juga memuja. "A-anda menerima perasaan saya?"


"Sudah kubilang aku sudah menikah. Istriku itu hebat membunuh seseorang." Erekleus tersenyum manis. "Tapi dia juga anak baik jadi dia tidak akan masalah jika aku mencium gadis saat jauh darinya. Kamu mau menerima kesepakatan atau ingin bicara dengan istriku?"

__ADS_1


"Saya—enggak, bukan. Aku enggak percaya kamu udah nikah!" teriak Dinda, akhirnya berhenti pura-pura manis.


*


__ADS_2