Mengandung Anak Suami Orang Lain

Mengandung Anak Suami Orang Lain
24


__ADS_3

Sanya mengetuk-ngetuk pipinya dengan ujung telunjuk sambil terus berpikir. Sudah beberapa hari dia meminta waktu memikirkannya sambil terus menunggu keputusan diturunkan. Askala belum bersuara tapi Ahelois dan Eusebia menetap di bangunan utama seolah menegaskan mereka akan membakar rumah ini saja jika anak Erekleus dibiarkan lahir.


"Ada banyak kematian lagi jika sampai masalah ini berlarut-larut." Suara Eris menyusup di telinga Sanya, membuatnya melirik dengan satu mata kanan yang tersisa. "Sangat banyak kematian."


Untuk ukuran pria yang membunuh istrinya dan siap membunuh saudara kandungnya jika perlu, juga menjadi pelaku dari hilangnya mata kiri Sanya ini, sepertinya Eris khawatir pada nasib anaknya.


Sanya tidak peduli, terus terang. Tapi Sanya tidak ingin Roxanne menangis.


"Kalau begitu begini saja." Sanya akhirnya bicara. "Biar aku yang mengasuh mereka."


Roxanne tersentak dari keterdiamannya. "Sanya?"


"Aku juga Narendra tapi secara harfiah aku bukan. Aku ini orang asing yang diakui sebagai Narendra cuma karena nenek buyutku itu Trika. Anak itu, Mutia atau siapa pun namanya, akan dalam pengawasanku. Termasuk anaknya."


Eris sempat diam, walau dia segera mengerti. "Maksudmu hak istimewa untukmu dan anak itu? Anak itu boleh lahir sebagai Narendra tapi akan diberi batasan sepertimu?"


"Ya. Dengan begitu Erekleus juga tidak perlu menikah. Itu jalan teraman. Askala juga pasti tidak akan menganggapnya sebagai masalah dan Ese juga tidak bisa protes."


Itu solusi yang tidak pasti tapi cukup masuk akal. Maka segera Sanya memanggil Ares dan Erekleus untuk memberikan pendapatnya.


Erekleus tertegun sementara Ares segera berkata, "Apa berarti dia akan jadi generasi baru anak haram Narendra? Begitu maksud Bibi?"


"Haknya menikah dan punya anak tidak akan diberikan, jika dia laki-laki namun jika dia perempuan, maka seperti semua putri Narendra, dia juga tidak akan menikah."


Erekleus membeku. Itu sama saja seperti ia membiarkan anaknya lahir tapi dia hanya boleh bersembunyi dan bahkan tidak tercatat dalam sejarah Narendra.


"Nona Muda itu mungkin akan setuju." Sanya melihat penolakan di wajah Erekleus. "Kamu tidak bisa mencintai dia, jadi berhenti berpura-pura melakukannya. Pilihlah, anakmu lahir atau Askala menggugurkannya demi peraturan?"


Kematian atau jalan keluar yang kejam, itu adalah pilihan satu-satunya dalam keluarga ini.


Erekleus menggigit bibir, menoleh pada Roxanne yang mengangguk. Setidaknya dia bisa lahir dan tidak dibunuh.


"Aku memilih membunuhnya." Ares tiba-tiba berucap. "Tentu saja, Adikku, aku tidak sedang memutuskan. Aku mengutarakan pendapat."


Ares menatap Erekleus penuh rasa bersalah tapi merasa harus mengatakan segalanya. "Jika dia tidak menjadi Narendra sepenuhnya maka anak itu tidak akan benar-benar hidup bahagia. Melahirkan dia ke dunia bukan satu-satunya bentuk kasih sayang. Setidaknya bagiku dan kurasa bagi Paman juga."


Eris tanpa ragu mengangguk pada pendapat Ares. Tapi mereka hanya menahannya dalam bentuk pendapat, bukan keputusan. Mereka tahu bahwa Erekleus menginginkan hal lain.


Ketika ruangan itu hanya dipenuhi keheningan, Sanya tiba-tiba beranjak. "Minta Askala mengirimkan pendapatnya segera. Biar aku menemui Arkas sekarang."

__ADS_1


"Bibi—"


"Beritahu perempuan hamil itu tentang nasibnya. Dia harus tahu walaupun dia tidak bisa memilih banyak pilihan. Jika dia memilih aku, dia dan anaknya hidup. Jika dia memilih kamu, dia dan anaknya menderita. Dan jika dia memilih pergi, dia dan anaknya yang mati. Beritahu dia tentang hal itu sejelas mungkin."


Erekleus sepertinya memang tidak bisa banyak memilih.


Maka seperti kata Sanya, Erekleus pergi pada Mute untuk benar-benar memberitahunya.


Seperti apa keluarga ini, seperti apa peraturannya, seperti apa ancamannya, seperti apa dia bisa berakhir jika dia memilih jalan yang dia inginkan.


Tentu saja, Mute tidak bisa berkata-kata. Dia terlihat sangat syok sampai wajahnya memutih pucat. Erekleus sangat khawatir padanya, tak ingin memberinya beban, namun untuk ini saja dia harus tahu.


"Mutia, aku tidak melanggar janjiku. Sedikitpun tidak. Aku akan bertanggung jawab."


Tapi sebagai Narendra, tanggung jawab itu bukan menikahinya.


"Jadi ... apa pilihanmu?"


*


Mute seharusnya sudah mengerti ketika ia melihat betapa besar dan luar biasa luas tempat ini. Mereka tidak mungkin hanya hidup bebas, melakukan segalanya sesuka hati. Peraturan mereka juga pasti sangat kejam.


"Kamu enggak ada rasa sama saya, Tuan Muda?"


"Mutia—"


"Jujur."


Erekleus mengatup mulutnya, lalu mengangguk sangat pelan. "Untuk sekarang, tidak. Tidak seperti bayanganmu."


Kalau begitu pilihannya sudah jelas.


Mute tidak bisa lagi kabur, tidak juga mau mati, maka kalau begitu ia harus menjauh ke tempat yang dibolehkan kan?


Ke tempat yang mungkin sejak awal untuknya.


*


Detik itu juga Mute dipindahkan ke pengasuhan Sanya, turun ke bangunan di bawah danau. Erekleus tidak boleh mendatanginya dan tidak boleh sedikitpun melihatnya lagi, karena itu hukuman untuknya melanggar peraturan Narendra.

__ADS_1


Tapi berkat itu Ale dan Ese terlihat sedikit lebih lunak.


"Aku tidak sepenuhnya menerima," kata Ale saat makan malam khusus antara mereka terjadi. "Tapi jika itu solusi yang tidak mengusik Ares, akan kuterima."


Ares tersenyum mengacak-acak rambut adiknya. "Terima kasih sudah khawatir, Adik Manis. Hanya jangan terlalu dingin pada Erekleus. Dia tidak sengaja."


"Kakak seharusnya menyesal." Ese menerima suapan daging ke mulutnya oleh Erekleus. "Bahkan sekalipun Kakak sangat tampan, bagaimana bisa Kakak tidur dengan seseorang seperti itu? Dia bahkan tidak cantik, Kakak. Kakak benar-benar buta."


"Bisakah kita tidak memojokkanku di sini mengingat aku sedang bersedih?" Erekleus tersenyum getir, berharap pembicaraan ini berhenti.


Tapi Ale justru melemparnya dengan sebutir anggur dan melotot. "Akan kubunuh kamu jika menyusahkan Ares lagi!"


Sepertinya Ale akan terus membully Erekleus setidaknya sampai dia puas dan mau melupakan tentang Mute.


Lepas makan dan mengantar Eusebia ke kamar Eris, karena dia bilang mau tidur dengan ayah dan ibunda, Erekleus keluar dari bangunan utama Kastel, pergi ke perumahan belakang bersama Ariadne.


"Apa yang akan Anda lakukan, Tuan Muda?" tanya istrinya itu.


"Tentang apa?"


"Bayi itu. Apa Anda tidak akan menemuinya?"


Erekleus terdiam. Ia sangat, sangat mau menyaksikan anaknya tumbuh di dalam perut Mute sampai dia lahir. Tapi itu akan membahayakan dia.


Kehidupan anak itu sudah ditentukan dari sekarang. Dia dan Mute akan dilimpahi harta tapi tak boleh memiliki kebebasan. Kalau begitu jauh lebih baik kalau dia tidak mengenali siapa ayahnya.


Bukankah itu justru membuat dia bertanya-tanya kenapa ayahnya ada tapi tidak memberinya waktu bersama? Maka lebih baik dia berpikir ayahnya tidak ada.


"Aku harap itu laki-laki," gumam Erekleus. "Dengan begitu dia menjaga Mutia sebagai gantiku."


"Anda dan saya akan menjaganya bahkan jika tidak bisa menemuinya, Tuan Muda."


Erekleus tersenyum. "Aku bersyukur istriku itu kamu, Aria."


"Selalu, Tuan Muda." Ariadne menunduk, mengecup keningnya dari belakang. "Selalu."


*


mari siap-siap ketemu anaknya erekleus dan mute versi "badass" 😌

__ADS_1


__ADS_2