Mengandung Anak Suami Orang Lain

Mengandung Anak Suami Orang Lain
26


__ADS_3

Ternyata benar Kakek tidak ada di tempat pertemuan rahasia mereka. Kucing-kucing juga tidak ada. Anastasia mengintip ke sekitaran. Memutuskan berjalan saja, tapi diam-diam biar tidak ketahuan.


Anak itu tidak tahu bahwa selama ini alasan mengapa dia, bocah kecil, tidak ketahuan oleh siapa pun itu karena Kakek, alias Eris, memastikan semua orang pura-pura tidak melihat dia.


Dan alasan kenapa Eris melarangnya naik hari ini adalah ... karena ini adalah hari kepulangan Erekleus dari tugas.


Ketika Anastasia sibuk menyelinap, Erekleus pun baru mendarat di helipad. Pria itu selalu memandangi permukaan danau tiap kali dia pulang, menahan rindu pada anaknya yang tidak pernah dia lihat bahkan tahu apakah dia perempuan atau laki-laki.


"Saya yakin anak Anda juga merindukan Anda, Tuan Muda." Ariadne mengusap punggungnya lembut. "Anda bisa mendatangi danau lagi setelah beristirahat."


Erekleus mengangguk pelan, hendak berjalan ketika mendengar suara kasak-kusuk dari semak-semak mawar. Spontan Erekleus berhenti, menatap semak-semak itu.


"Kucing peliharaan Ayah mungkin tersesat," katanya. "Ikarus, ambil itu dan kembalikan. Dia bisa gila jika kehilangan kucingnya."


"Ya, Tuan Muda."


Ikarus pergi ke semak-semak itu, membukanya.


Tapi alih-alih menentukan kucing, yang dia temukan justru seonggok anak kecil, melotot dengan mulut tertutup.


"Eh?"


Anastasia yang tengah bersembunyi karena ingat tidak boleh dilihat siapa-siapa terus menutup mulutnya. Wajah bocah itu mulai pucat, membayangkan semarah apa Bunda jika tahu ia naik ke permukaan.


Berbeda dari Ikarus yang terpaku kosong.


"Ikarus? Bawa kucingnya dan kembalikan."


Ikarus mennelan ludah. Walau sekarang tinggal tersisa beberapa Tuan Muda yang belum menikah dan setiap Tuan Muda bahkan sudah punya lebih dari satu istri, cuma satu yang punya anak usia di bawah lima tahun.


"Bukan peliharaan Tuan Eris, Tuan Muda." Ikarus berbalik, sekaligus menyembunyikan si Kucing Nakal itu. "Ini ular peliharaan Tuan Ares."


Erekleus mengangguk. "Baiklah."


Pria itu berjalan pergi, namun Ariadne merasakan ada kejanggalan dari sikap Ikarus. Wanita itu tidak mengikuti Erekleus tapi menatap Ikarus.


"Ular Tuan Muda Ares bukankah sudah dilarang berkeliaran?"


Ikarus mematung kaku.


"Apa itu, Ikarus?" tuntut Ariadne, curiga.


"Nyonya—"


"Hiks."


Ariadne ikut mematung. Buru-buru dia menarik tubuh Ikarus bergeser, membuka semak-semak dan menemukan seekor 'Ular' tengah menangis terisak-isak.


"Huhuhu, ular." Anastasia tersedu-sedu, mengira bahwa sungguhan ada ular di sana. "Ana takut ular, hiks. Ana tidak suka ular, huhuhu. Bundaaaaaa."


Ariadne langsung meminta Ikarus untuk mengambil anak itu, mengeluarkannya dari semak-semak tempat dia bersembunyi sampai dikira kucing dan ular.

__ADS_1


Bagaimana bisa anak ini berada di sini? Bukankah seharusnya Sanya menjaga dia agar tidak pernah naik ke permukaan?


"Tenanglah, Nak. Tidak ada ular." Ariadne menepuk-nepuk puncak kepalanya. Kasihan juga melihat dia tersedu-sedu ketakutan. "Itu hanya kebohongan. Hanya candaan. Jangan menangis."


Anastasia terus menangis. "Cokelat," kata anak itu. "Hiks. Mau cokelat."


Cokelat?


Ikarus dan Ariadne bertukar lirikan tapi segera Ikarus pergi, mengambil cokelat dari bangunan utama untuk diberikan pada bocah yang menangis itu.


Apa saja asal dia tidak menangis.


Anastasia langsung berbinar. Disambar cokelat dari tangan Ikarus, memenuhi mulutnya hingga menggembung. Ketakutan soal ular seketika pergi dari otaknya.


"Di mana ibumu, Nak?" Ariadne akhirnya bisa bertanya. "Kenapa kamu berkeliaran di sini? Apa ibumu di sini?"


"Tidak." Anastasia menggeleng jujur. "Ana datang menemui Kakek tapi Kakek tidak ada."


"Kakek?"


"Ya, Kakek Kucing."


Eris, pikir mereka berdua spontan.


Satu-satunya yang memelihara kucing dan bergelar kakek di sini ya hanya beliau. Mereka berdua pun segera paham bahwa Eris ternyata diam-diam menemui anak Erekleus padahal Erekleus tidak dibolehkan.


Yah, itu tidak melanggar peraturan karena Eris bebas melakukannya tapi lebih baik tidak. Seharusnya tidak.


Ariadne tersenyum. "Bukan. Itu bukan Kakek."


"Lalu? Kenapa wajahnya mirip Kakek?"


"Entahlah. Mungkin kebetulan." Ariadne tidak bisa membiarkan anak ini tahu hubungan Eris dan Erekleus karena itu akan membuat dia tahu siapa ayahnya.


Perintahnya mengatakan tidak boleh.


"Pulanglah, Nak. Ibumu pasti khawatir. Berjanjilah untuk tidak naik ke tempat ini lagi."


Anastasia mengerutkan wajah tanda dia tidak mau. Tapi Ariadne cuma mengusap-usap kepalanya sebelum menyerahkan dia pada Ikarus untuk diantar pergi.


"Beritahu Bibi Sanya untuk tidak membiarkan dia lewat lagi," bisik Ariadne diam-diam.


"Baik."


"Sampai jumpa, Gadis Kecil."


Anastasia melambai cerah. "Sampai jumpa, Bibi Cantik."


*


Mute baru ingat bahwa hari ini Erekleus kembali dari tugas. Dia selalu pergi tiga bulan atau lima bulan lalu pulang seminggu sebelum pergi lagi.

__ADS_1


Yah, Mute tidak berkata ia merindukan dia atau bagaimana. Setelah menjalani hidupnya cukup lama dan berhenti jadi gadis desa bodoh, Mute sadar bahwa ia bahkan tidak cukup dekat dengan Erekleus untuk jatuh cinta padanya.


Mute benar-benar cuma gadis yang dia hamili tanpa sengaja.


"Enggak usah dipikirin, Mute, enggak usah." Wanita itu menggeleng-gelengkan kepala. "Sanya juga masih hidup biarpun enggak nikah lagi. Tenang aja."


Mute beranjak dari kursinya, memutuskan pergi mencari Anastasia. Ditemukan anak itu tampak sedang berada di ruangan Sanya, bertanya sesuatu padanya.


"Bibi Sanya."


"Hah?"


Mute mengintip diam-diam.


"Apa Kakek punya saudara?"


Kakek? Siapa yang dia sebut Kakek?


"Ya, punya," jawab Sanya. "Saudaranya orang gila bernama Elios."


"Jadi Paman yang mirip Kakek itu bernama Elios?"


"Paman?" Sanya menengok pada Anastasia. "Elios berada di pegunungan lain, Bocah, jadi mustahil dia berada di sini. Paman siapa maksudmu?"


"Paman yang berwajah seperti Kakek. Dia mengira Ana adalah kucing. Lalu temannya berkata Ana adalah ular padahal Ana benci ular."


Sanya mengibas-ngibaskan tangan. "Aku tidak mengerti omongan anak kecil. Karena tidak penting sudah lupakan saja."


"Tapi Ana penasaran!"


"Aku tidak jadi diam!"


"Tidak mau!"


"Kakek siapa?" Mute akhirnya memunculkan dirinya dan langsung mengajukan pertanyaan. "Anastasia, siapa yang kamu temui? Kakek siapa?"


Anastasia langsung membulatkan mata terkejut. Tanpa basa-basi dia menunjuk Sanya yang mendesis karena dilimpahkan masalah.


"Pengawal." Sanya berbohong meskipun kakek maksud Anastasia adalah kakek kandungnya. "Dia sering datang mengambil berkas dan memberikan cokelat pada Ana."


Mute sempat curiga tapi begitu mendengarnya, mau tak mau dia percaya. Sempat ia takut Anastasia bertemu Narendra.


"Ana, kemari."


Bocah itu datang.


"Bunda sedang capek bekerja." Mute menggendongnya. "Temani Bunda bermain, hm?"


Anastasia mengangguk cerah. Berpura-pura seakan tidak ada apa-apa, padahal kepala kecilnya masih penasaran siapa pria berwajah seperti Kakek itu.


Kalau Kakek sedang tidak ada, apa saudaranya itu akan memberi Anastasia cokelat?

__ADS_1


*


__ADS_2