Mengandung Anak Suami Orang Lain

Mengandung Anak Suami Orang Lain
34


__ADS_3

Anastasia melipat tangannya dan menatap penuh selidik pada ruangan Mute yang kosong. Dari kemarin Anastasia merasa ada sesuatu yang terjadi dan dirinya tidak tahu. Mute tidak ada di ruangannya padahal Anastasia juga tidak melihatnya di laboratorium. Padahal cuma tempat itu saja yang Mute singgahi jika tidak di ruang kerjanya.


"Bibi Sanya, beri Ana cokelat. Ana lapar."


Sanya menghela napas lalu menyerahkan cokelat padanya. "Ini, pergilah."


"Ana tidak ingin cokelat yang ini!" Anastasia melotot. Dia tidak suka cokelat berbentuk batangan! Dirinya suka cokelat yang kecil dan langsung masuk ke mulut!


"Argh, ibumu terlalu banyak bermain serangga sampai aku juga yang mengurus makananmu!" Sanya mendelik sebal. "Sudah pergi saja ke atas! Minta pada Kakekmu atau siapa pun selain aku!"


"Bunda bermain serangga di mana?" Anastasia bertanya penuh rasa ingin tahu.


"Anak kecil tidak perlu tahu."


Jawaban yang entah keberapa kali Anastasia dapatkan dari Sanya. Bocah itu akhirnya cuma melet 😝 sebelum dia kabur menuju lift khusus Sanya.


Anastasia berpikir kalau Ikarus ada di sana, karena dia bilang dia akan menjaga Anastasia tidak naik, tapi ternyata Ikarus tidak ada.


Anastasia berlari menuju tempat pertemuan rahasianya dengan Kakek Kucing, tapi ternyata Kakek Kucing tidak ada.


"Argh! Ana lapar!" gerutu bocah itu sebal. Akhirnya Anastasia pun berjalan tak tentu arah. Pokoknya kalau ia bertemu seseorang, Anastasia akan langsung minta cokelat untuk dimakan.


Entah sial atau beruntung, Anastasia berpapasan dengan Ahelois.


"Bibi!" Kenal pada wajahnya, Anastasia mendatangi perempuan itu. "Bibi, Ana lapar!"


Ale bersama pelayan dan pengawalnya jelas terkejut. Apalagi Anastasia bahkan tidak berbasa-basi, langsung menadahkan tangan.


"Kenapa kamu minta makanan padaku?" Ale mengerutkan kening bingung.


"Karena Ana lapar," jawab Anastasia seolah-olah pertanyaan Ale itu bodoh. "Beri Ana cokelat. Ana lapar. Ayo, Bibi, ayo, Ana lapar."


Ale berdecak. "Bawa dia."


Pengawal Ale langsung datang menggendong Anastasia.


"Bibi akan memberi cokelat, kan? Jika tidak, Ana tidak mau ikut!"


"Ya, ya, berhenti bersikap seperti orang yang tidak pernah diberi makan dan diamlah."


Anastasia hanya tertawa senang karena yang penting ia diberi cokelat.

__ADS_1


*


"Di mana ibumu? Kenapa kamu naik ke tempat ini dan mencari makanan di sini?" tanya Ahelois begitu mereka duduk bersama di ruang santai.


"Bunda sedang bermain serangga." Anastasia menjawab apa adanya sambil mulutnya belepotan puding cokelat. "Bibi Sanya tidak mau memberi Ana cokelat jadi Ana kabur dan mau bertemu Kakek Kucing. Tapi Kakek Kucing tidak ada."


"Kakek Kucing, jangan bilang maksudmu Paman Eris?"


"Ana tidak tahu. Kakek tidak memberitahu namanya pada Ana."


Ale menatap bocah kecil itu dengan kening berkerut. "Aku bingung harus menganggapmu bodoh atau pintar."


"Ana genius!" Anastasia mengangkat tangannya yang kotor akibat vla. "Tapi Ana tidak gila seperti Bibi Sanya."


Perkataan itu tidak direspons oleh Ale, hanya diam memerhatikan dia makan sangat rakus. Entah karena dia kurang makan atau karena dia memang rakus.


Hanya ada suara kunyahan Anastasia selama beberapa waktu sampai tiba-tiba Ares datang.


"Halo, Gadis Kecil." Sang Tuan Muda Pertama pasti berlari ke sini karena takut Ale mencekik keponakannya. "Kenapa kamu di permukaan? Di mana ibumu?"


"Bunda sedang bermain serangga." Anastasia menjawab sama lagi. "Paman siapa?"


Pertanyaan polos tapi sangat berani itu mau tak mau membuat Ares tertawa. Pria itu menarik kursi dan duduk, lalu mengulurkan sapu tangan untuk mengelap cokelat belepotan di bibir Anastasia.


Mata Anastasia terpejam bingung. "Bunda berkata ayah bukanlah ayah, tapi Tuan Muda. Ana tidak boleh memanggil dia ayah, tapi Tuan Muda."


"Ibumu cukup berhati-hati," timpal Ale. "Kamu memang tidak boleh diakui sebagai Narendra sebab itu akan melanggar peraturan."


"Ale, hentikan." Ares menggeleng tegas. Lalu pria itu tersenyum membelai puncak kepala Anastasia. "Kamu bisa memanggil Erekleus dengan sebutan Ayah. Dia adalah ayahmu."


"Apa Ayah adalah jantan?"


Ares tersedak. Tapi buru-buru menjawab, "Ya, dia jantan dan ibumu betina."


"Lalu kenapa Ayah dan Bunda tidak bersama?"


"Karena ibumu bukan istri Narendra," jawab Ale apa adanya.


Tapi sekali lagi Ares menggeleng padanya. Pria itu justru balik bertanya, "Apa kamu lebih senang jika ayah dan ibumu bersama?"


"Tidak." Anastasia menggeleng. "Bunda terlihat tidak suka bersama Ayah jadi Ana tidak mau Bunda dan Ayah bersama."

__ADS_1


"Benarkah? Kenapa Bundamu tidak senang?"


"Tidak tahu."


Ares tersenyum lemah. "Anak kecil, aku bisa membuat Ayah dan Bunda bersama jika aku mau tapi aku harus bertanya padamu dulu. Apa kamu kesepian?"


"Kakak."


Ares mengisyaratkan Ale diam sejenak, karena Ares benar-benar ingin mendengar jawaban Anastasia.


Peraturan memang peraturan. Harus dipatuhi. Tapi itu bukan berarti Ares ingin melihat seorang anak kecil menerima takdirnya yang tanpa ayah.


"Ana ingin tinggal di permukaan juga." Anastasia hanya menjawab polos. "Ana menyukai pemandangan danau dari bawah tapi Ana juga ingin melihat langit. Ana tidak melihatnya saat di bawah danau. Lalu, Ana juga suka bersama Kakek dan kucing-kucing."


Ares mengusap-usap sudut bibir Ana yang sekali lagi belepotan.


"Datanglah pada pertemuan nanti. Jika kamu datang, aku akan berusaha membuatmu tinggal di permukaan."


"Kakak."


"Adikku." Ares menoleh pada Ale. "Kamu bisa saja sangat tegas pada Erekleus dan Ariadne tapi lihat anak kecil ini. Apa harus dia merasa kesepian karena hal yang bukan kesalahannya?"


Ahelois menatap Anastasia yang mengerjap bodoh padanya. Tentu saja bocah itu tidak mengerti apa-apa. Walau dia terlihat cerdas, dia mungkin tidak tahu berapa banyak orang yang pernah berpikir melenyapkannya, tidak membiarkannya lahir, sebab dia bukti pelanggaran peraturan.


Ale benci segala hal yang mengusik peraturan, terlebih menyusahkan Ares. Tapi Ale hanya tahu cara membunuh orang dewasa, bukan anak-anak.


"Hah, baiklah." Ale menghela napas. "Jika semua saudara kita setuju, akan kubiarkan dia jadi anak Erekleus secara resmi."


Ares mengelus-elus kepala Ale. "Aku tahu adikku memang sangat baik."


*


Mute melirik jam tangannya dan menyadari ini sudah jam makan siang Anastasia. Karena Erekleus sedang ada di kamarnya, Mute tidak mau mempertemukan dia dan anaknya, maka Mute bertanya pada Sanya lewat interkom.


"Sanya, Ana mungkin sedang lapar jadi tolong beri dia sesuatu. Jangan beri dia cokelat sebelum makan buah."


"Ya, ya, aku mengerti. Bocah itu sudah makan."


Mute percaya Sanya pasti tidak setega itu membiarkan anak kecil lapar, walau nyatanya memang tega. Dimatikan sambungan itu segera, beralih pada tumpukan kertas di mejanya yang harus diperhatikan.


"Anastasia. Siapa yang memberi nama padanya?" Erekleus bertanya setelah memasang kembali pakaiannya.

__ADS_1


"Sanya," jawab Mute datar.


__ADS_2