Mengandung Anak Suami Orang Lain

Mengandung Anak Suami Orang Lain
39


__ADS_3

Memang Mute orang gila? Ia sudah merelakan segalanya saat meninggalkan desa ini jadi Mute senang jika barang-barangnya digunakan.


Malah Mute terkejut melihat rumah kayunya kini berubah jadi rumah batu bercat hijau lembut. Di teras rumah terlihat seorang wanita sedang menggendong bayi beberapa bulan.


Dengan cepat mereka tiba di balai desa. Mute menemukan dekorasi mewah di sana dan bagaimana tertatanya setiap orang duduk di rumput. Sekarang balai desa memiliki lapangan luas yang Mute dulu ingat adalah sawah.


"Aku senang kembali dan melihat kalian hidup damai." Erekleus membuka pidatonya sangat santai. "Sepertinya ketika aku pulang, aku harus memuji adikku yang menjaga kalian sebelumnya."


Bagaimana dia bicara menandakan kedekatannya.


Mute tersenyum. Terlepas dari bagaimana Narendra begitu gelap di dalam tembok, nyatanya di luar sini ada banyak hidup yang menjadi nyaman berkat kerja keras mereka.


"Ada banyak hal yang mau aku sampaikan, tapi ada satu hal yang sangat penting." Erekleus menatap Mute. "Seseorang kembali setelah sekian lama."


Eh? Maksudnya dia mau memamerkan Mute di sana?


"Ayo naik dan sampaikan sesuatu, Mutia."


Dasar Erekleus menyebalkan!


Itu membuat Mute malu ketika orang-orang mulai berseru. Beberapa mengatakan sesuatu seperti 'udah dibilang itu Mute!' karena ternyata mereka masih cukup ingat padanya.


"Anda menjengkelkan," bisik Mute ketika melewati Erekleus.


Tapi pria itu cuma terkekeh, tak merasa berbuat kesalahan.


*


Pesta penyambutan berlangsung sangat meriah. Apalagi karena kepulangan Mute yang mengejutkan bersama jas dokter resmi di badannya.


Malam hari baru Mute punya waktu untuk mengurus pekerjaan. Dan tentu saja paling pertama adalah berkenalan dengan rekan yang sudah lebih dulu bekerja.


"Dokter Mutia, senang bertemu Anda." Pemimpin Tim Medis secara langsung mengalaminya. "Murid langsung Nyonya Sanya. Kami berharap diberi bimbingan juga oleh Dokter."


Mute tertawa canggung. Gara-gara mengurung diri di bawah danau selama bertahun-tahun, ia merasa sangat canggung berinteraksi sekarang.


"Tolong enggak usah formal, Dok," ucapnya menggunakan bahasa santai.


Bahasa baku dan formal hanya berlaku dalam Narendra atau saat bicara dengan anggota keluarga Narendra. Di desa jauh lebih nyaman bicara santai.


"Baik, kalau begitu." Pria itu tersenyum kecil. "Saya panggil Dokter Mute kalau gitu?"


Mute tertawa malu. "Mute nama kecil saya, Dok, tolong Mutia aja. Saya juga panggil Dokter ...."


"Arata. Orang-orang sini manggil saya Dokter Arata."

__ADS_1


"Ah, dokter dari cabang Jepang? Kalau gitu saya yang mesti banyak belajar." Mute menjabat tangannya sekali lagi. "Salam kenal, Dokter Arata."


Seseorang di depan pintu berdehem, menginterupsi sesi kenalan itu.


*


Mute dan Arata spontan saling melepaskan tangan, berpaling pada Erekleus di sana.


Kenapa Erekleus ada di sini padahal seharusnya dia sibuk mengurusi berkas laporan?


"Laporan kesehatan warga kecamatan, aku belum menerimanya, Arata," kata Erekleus menjelaskan tujuan dia datang.


Arata seketika teringat. "Saya berencana memberikan secara langsung, Tuan Muda. Ada beberapa hal yang perlu didiskusikan dengan Anda."


"Aku punya waktu sekarang jadi lakukan."


"Kalau begitu mari, Dokter Mutia." Arata secara alami mengajak Mute juga. Dia melakukan itu bukan karena sengaja mau menggodanya tapi memang karena Mute akan jadi bagian dari tim medis mereka jadi tentunya dia harus mengetahui seluk-beluk penyakit di daerah ini.


Anehnya Erekleus merasa kurang senang. Dan Mute yang diam-diam menyadari itu berbisik, "Jaga perilaku Anda."


Erekleus cuma mengerutkan bibir. Mengikuti mereka dan berusaha menjaga perilaku seperti kata Mute.


Sialnya esok hari Erekleus malah mendengar berita tidak mengenakkan—untuk dirinya pribadi.


Begitu yang Erekleus dengar dari anak muda desa.


"Spek-spek mommy komik. Susunya gede banget lagi! Ngiler aku!"


"Wangi banget barusan lewat. Duh, pengen gue lamar. Jadi istriku dong, Dokter."


Erekleus mendelik. Hampir-hampir ia mau mengajak anak kecil berkelahi kalau saja kewarasannya tidak menahan.


Nyatanya itu fakta. Mute yang dulu dan sekarang terlalu berbeda. Dia dulu kecil, kurus mungil dan kecokelatan jika tak mau disebut hitam. Tapi sekarang selain putih, rambutnya juga panjang dan lebat, bodynya idaman bagi pria mana pun, dan ya dia wangi.


Dia wangi karena Erekleus SERING menciumnya jadi bisakah mereka berhenti mengkhayal?!


"Tuan Muda, apa ada sesuatu?" Mein yang berada di dekat kursi Erekleus pun bertanya.


"Suasana hatiku hanya tiba-tiba jelek," jawab Erekleus ketus.


"Anda butuh sesuatu untuk menenangkan? Jus buah atau anggur segar?"


Erekleus tidak menjawab, karena dia terlalu kesal.


Situasi desa sudah sangat terkontrol bahkan tanpa harus Erekleus bekerja keras, maka dari itu sekalipun dia cuma duduk merenung di pinggir sawah, tidak ada gangguan bagi Erekleus.

__ADS_1


Pria itu hanya duduk mengawasi warga desa menanam padi sampai Ikarus dan Argan datang membawa laporan langsung.


"Tuan Muda, Anda merindukan Nona Muda?" Ikarus bertanya pelan setelah selesai melapor tapi Erekleus tak kunjung bersuara.


"Tentu saja." Erekleus menjawab malas.


Lalu mendadak dia mendongak, seperti terkejut.


"Hei, tentu saja!" kata dia lagi. "Tentu saja begitu!"


Ikarus, Argan dan Mein sama-sama menatap Erekleus seperti mereka khawatir sang Tuan Muda mabuk di siang bolong.


"Dia ibu dari putriku." Erekleus meracau sendirian. "Tentu saja dia menjadi sangat cantik karena aku. Memangnya aku membesarkan Mutia untuk memuaskam mata mereka? Hah, anakku dan ibu dari anakku tentu saja milikku. Benarkan?"


Mein menatap Ikarus dan Ikarus menoleh pada Argan.


Barusan Ikarus melaporkan tentang situasi jalanan yang rusak akibat gempa bumi beberapa waktu lalu, sedangkan Argan melaporkan tentang kekhawatiran warga akan jumlah air untuk sawah mereka.


Tidak ada satupun dari mereka yang menyinggung soal Mute.


"Tuan Muda, Anda cemburu?" Argan bertanya canggung.


Membuat Erekleus berpaling syok. "Apa?"


"Saya mendengar juga dari banyak orang—pria, lebih tepatnya. Sepertinya Dokter Mutia agak ... disenangi karena ...."


Karena dia terlihat sangat seksi. Seksi bukan dalam arti dia memakai pakaian terbuka, tapi justru seksi karena meski memakai jas dokter, tubuhnya menonjol di tempat yang tepat.


Terus terang, kedatangan Mute membangkitkan banyak kemesuman laki-laki di sekitarnya. Baik dari bapak-bapak sampai remaja laki-laki.


Apa yah kata mereka kemarin?


Ah, benar. Katanya walaupun Mute berkeringat, banyak dari mereka rela menjilatnya karena yakin dia tetap wangi.


"Beritahu aku," Erekleus menyambar kerah pakaian Argan dan siap memukulnya, "cepat beritahu aku cara agar waras!"


Ikarus menahan tawa saat buru-buru menenangkan Erekleus. "Ini hanya efek sementara, Tuan Muda. Warga hanya terkejut melihat perubahan anak kecil sederhana menjadi wanita luar biasa."


"DAN DI SELURUH DESA SEMUA ORANG SEDANG MENAHAN CELANA KETAT MEREKA GARA-GARA EFEK SEMENTARA?!"


Erekleus semakin mengepal tangannya. "Sepertinya kubuat saja pengumuman siapa yang terangsang pada Mutia dia dihukum mati!"


"Itu akan membunuh semua orang kecuali wanita," gumam Argan yang seketika membuatnya dihajar sungguhan.


*

__ADS_1


__ADS_2