
Mute terkejut saat orang-orang berkumpul di rumahnya mengatakan pembangunan mereka disegerakan karena khawatir akan kondisi Nenek Iyem. Bahkan sejumlah ibu-ibu datang untuk melihat nenek, lalu membawa sejumlah makanan yang mau tak mau disimpan.
Mute merasa ini tidak alami, tapi ia bersyukur karena memang sedang butuh. Berkat itu, seminggu setelahnya semua tempat sudah direnovasi. Dinding kayu berlumut telah diganti jadi dinding kayu kokoh berkualitas. Apalagi ketika Kepala Desa datang memberikan anggaran khusus untuknya, aturan baru bagi setiap keluarga yang tidak memiliki anggota keluarga pria yang bekerja.
Detik itu, Mute tahu ia dibantu oleh si Badjingan. Mute sangat mau menolaknya, sangat mau melempar ke wajah Badjingan itu sambil mengumpat 'saya enggak butuh sedekah!' tapi nyatanya ia butuh.
Ia butuh sedekah bahkan dari Badjingan karena neneknya butuh makan, tidak seperti cucunya yang bisa tidak makan demi gengsi.
Yah, walau cucunya Nenek Iyem ya gengsian dan keras kepala.
"Kamu enggak perlu ngasih saya sedekah." Setelan sekian lama, akhirnya Mute mendatangi pria itu.
Kali ini bukan buat bicara tentang malam yang sok dia lupakan, tapi soal harga diri sesungguhnya.
"Kamu dateng ke sini ngasih orang kerja, jadi kasih saya kerja."
Erekleus mengangguk tanpa protes atas sikap itu. "Itu bukan sedekah untukmu, tapi nenekmu. Orang tua layak diberi kasih sayang."
"Sok suci," cibir Mute spontan.
Tapi Erekleus pura-pura tidak dengar, berbalik pada bawahannya. "Beri gadis ini pekerjaan. Yang cukup dekat dari rumahnya agar bisa bolak-balik melihat neneknya."
Setelah itu dia pergi, meninggalkan Mute yang diam mengepal tangan.
Baik. Baiklah kalau dia maunya bermain lupa ingatan.
Mute juga bisa pura-pura lupa. Walau cuma pura-pura, setidaknya terkesan lupa.
Mute pun diberi pekerjaan sebagai pemasak untuk tukang. Mereka memasak di sawah kosong seberang rumah, jadi Mute bisa bebas bolak-balik merespons teriakan neneknya.
Hari demi hari berlalu, hubungannya dan Erekleus kini tak lagi seperti awal. Dia sibuk bersama Dinda dan pekerjaannya, sementara Mute mulai terbiasa makan hati.
Satu bulan awal berlalu dan dua bulannya pun menyusul. Kini desa menjadi lebih hidup, menjadi sesuai aturan Erekleus sekalipun ada masalah di setiap sudut yang harus dihadapi.
"Kurasa dia sudah baik-baik saja," kata Erekleus pada bawahannya. "Aku tidak merasa dia melirikku lagi bahkan saat datang. Mungkin dia sepenuhnya meyakini aku badjingan."
Jauh lebih baik begitu daripada dia terus bersedih.
"Anda bukan badjingan tapi itu yang terbaik, Tuan Muda."
"Ya." Erekleus mengangguk. "Segera selesaikan proyek untuk pekerjaan para wanita. Itu juga yang terbaik bagi Mutia."
"Dimengerti, Tuan Muda."
__ADS_1
Erekleus melakukan hal sebisanya untuk menebus rasa bersalah sekalipun tidak pernah datang meminta maaf. Mungkin di akhir nanti, saat ia akan pergi, Erekleus baru berani minta maaf.
Ya, saat akan pergi nanti.
*
*
*
Mute menggigil dan pucat pasi setelah selesai memuntahkan isi perutnya di pagi hari, untuk kesekian kali dan hari.
Kenapa ia muntah-muntah tanpa sebab? Awalnya Mute pikir ia masuk angin tapi itu sudah berlangsung seminggu. Apa ada penyakit seminggu muntah-muntah tanpa alasan?
"Enggak." Mute memegangi perutnya dan menggeleng-geleng semakin pucat. "Cuma masuk angin. Iya, terus kurang makan juga makannya begini. Cuma itu."
Tidak mungkin ada sesuatu. Itu cuma satu malam. Tidak mungkin seseorang hamil semudah itu ketika ada pasangan yang butuh bertahun-tahun agar hamil padahal setiap hari melakukannya.
"Butuh makan. Kamu butuh makan, Mute. Cuma butuh makan."
Mute ke dapur barunya untuk membuat makanan. Bahkan ia membuat makanan enak—versi dirinya. Nasi goreng, diberi potongan sosis kecil, lalu ditambah sebutir telur juga.
Makanan mewah baginya.
Tapi terlihat tidak enak.
Sendok itu seperti ditahan oleh tangan lain yang tidak mau ke mulutnya. Mute diam-diam sadar itu dirinya sendiri yang melihat makanan ini tidak enak walaupun biasanya enak.
Walau memaksa dirinya, pada akhirnya tidak mau.
Mute meletakkan sendok kembali, terisak-isak menutup wajahnya sambil berdoa agar dugaan itu salah.
Tolong salah. Tolong salah.
Dua minggu lagi badjingan itu pergi jadi tolong salah.
*
*
*
Mute berdoa dirinya salah tapi Mute memperlakukan dirinya seperti wanita hamil. Ia berhati-hati pada orang lain, khawatir dan panik setiap kali seseorang mendekat apalagi jika itu seorang wanita dewasa, seakan-akan takut ia ketahuan hamil sebelum menikah.
__ADS_1
Mute juga semakin kurus. Ia bahkan bisa tak makan sehari agar tubuhnya lebih kurus lagi, takut jika ia malah tambah gemuk lalu orang tahu ia hamil.
Padahal belum dipastikan.
Tingkah Mute itu justru disalahartikan oleh warga. Mereka berpikir bahwa Mute depresi karena kondisi neneknya semakin buruk dan kiriman dari kakaknya belum juga datang.
Jelas, Erekleus mendengar.
"Aku sudah melakukan segala jenis cara agar dia tetap hidup tanpa bantuan kakaknya," kaya Erekleus sambil menggaruk kepala, "tapi aku bisa apa jika secara mental dia tertekan?"
Erekleus berpikir dia khawatir soal nenek dan kakaknya, jadi Erekleus juga merasa tidak bisa berbuat apa-apa. Kematian seseorang pasti datang, apalagi pada wanita tua lebih dari seratus tahun.
Manusia yang sampai di umur itu sekarang sudah sangat jarang. Nenek Iyem bahkan tidak perlu sakit untuk menjemput kematiannya. Begitu pikir semua orang.
"Mungkin memberinya teman akan membantu, Tuan Muda?" saran Erina. "Gadis itu sejauh ini tidak memiliki teman curhat seperti gadis-gadis di usianya. Memberi dia teman setidaknya membantu mentalnya."
Erekleus memikirkannya. "Benar juga." Pria itu mengangguk. "Lalu siapa?"
"Dinda?" saran pengawalnya asal.
Walau kemudian mereka sadar itu tidak mungkin sebab Dinda terlalu merasa dirinya hebat dan tidak layak berteman dengan rakyat miskin.
Yohana mau menyarankan sesuatu, tapi Erekleus lebih dulu berucap, "Dinda cukup baik."
Eh?
"Akan kuminta Dinda berteman dengannya. Itu saran yang bagus."
Erekleus beranjak pergi, langsung menemui Dinda untuk menyuruhnya berteman dengan Mute. Tentu saja dia sempat syok.
"Anda serius meminta itu?!" katanya nyaris berteriak.
"Kamu ingin aku melakukannya sendiri? Memeluk gadis itu dan berbiskk 'semua baik-baik saja, Manis, jadi bersandar padaku'."
Dinda mendengkus. "Tidak! Akan saya lakukan!" putus dia seketika, tidak rela Erekleus bersikap baik pada orang lain selain dirinya.
Dinda sudah sadar diri tidak bisa jadi istri, jadi paling tidak dia mau menyandang gelar sebagai wanita kesayangan Erekleus selama dia tinggal di desa.
"Bersikap baiklah." Erekleus memperingati. "Akan kubelikan perhiasan untukmu kalau kamu bersikap baik."
Dinda langsung terbelalak. "Anda berjanji?"
"Ya." Perhiasan di toko tidak berharga bagi Erekleus yang seorang Narendra. Perhiasan Narendra bahkan bisa jauh lebih mahal dari sebuah kapal pesiar, jadi sebenarnya ia seperti cuma menawarkan uang koin sebagai ganti permen.
__ADS_1
Tapi Dinda sudah cukup senang. Dia pergi menjalankan tugasnya, menghibur hati Mute yang menunggu kematian neneknya.
*