
Pria itupun berpaling ke arah wanita di sisi Roxanne. Wanita cantik yang sangat sangat Erekleus cintai sejak awal mereka memulai pernikahan.
"Istriku." Erekleus memeluknya penuh kerinduan. Ada rasa bersalah di hatinya walau ia tahu mungkin wanita ini tidak akan marah.
"Saya merindukan Anda, Tuan Muda." Wanita itu berbisik. "Saya sangat merindukan Anda."
"Aku lebih merindukanmu."
Wanita itu melepaskan pelukannya. "Mari masuk, Tuan Muda. Saya menyiapkan makanan spesial untuk Anda di bangunan Anda."
Erekleus menarik napas. Mencium kecil bibir istrinya sebelum ia mundur, menghela napas. Baiklah, sebagai seorang Narendra, Erekleus harus bertanggung jawab.
Ia tak boleh bersikap takut seperti pecundang.
"Ariadne," panggilnya pelan, "juga Ibunda, ada sesuatu yang harus kukatakan."
"Sesuatu yang tidak bisa dikatakan di dalam saja dan harus di sini." Roxanne sebagai ibundanya langsung mengerti. "Katakan secara singkat, Tuan Muda."
Jika Roxanne sudah memanggilnya Tuan Muda, Erekleus merasa sangat takut. Tapi ia menarik napas lagi, mengungkapnya.
"Aku menghamili seseorang."
Suara Roxanne terkesiap itu membuat Erekleus panik. Apalagi ibundanya sampai terhuyung, nyaris saja jatuh jika tak buru-buru ditahan.
"Ibunda."
"Kamu melakukan apa?" Roxanne bergumam tak percaya. "Erekleus, kamu seorang Narendra dan kamu ... kamu ...."
"Ibunda, aku tahu Ibunda sangat kecewa tapi bisakah kita masuk dan aku menjelaskannya di depan Ayah juga?"
Erekleus meminta pelayan membawa ibundanya masuk, memberinya waktu tenang sebentar. Sementara itu Erekleus menatap wajah istrinya lagi, siap bahkan kalau dia menangis.
Tapi Ariadne justru tersenyum.
"Anda memiliki alasan, benar? Semua baik-baik saja?" kata wanita muda itu lembut.
"Ya." Erekleus sudah tahu istrinya seperti ini tapi ia benar-benar tak menyangka dia tenang. "Kamu kecewa padaku?"
"Tidak, Tuan Muda. Sedikitpun tidak." Ariadne justru datang, memegang tangannya. "Anda tahu bahwa saya dan Anda adalah satu jiwa di tubuh berbeda. Tidak ada yang lebih meyakini Anda lebih dari saya. Tolong selalu pegang itu di hati Anda."
Erekleus mengangguk. Meraih kembali tubuh istrinya.
Karena itulah Erekleus tidak pernah tergoda dengan seseorang di luar sana. Mereka boleh cantik, boleh menggoda, boleh menggiurkan, tapi Erekleus memiliki semua itu di tubuh wanita mungil yang sangat dewasa ini.
"Anda membawa wanita itu? Apa di helikopter Anda?"
"Ya." Erekleus menoleh ke tempat Mute berada. "Kurasa dia tidak memahami cara berpikir dan jalan hidupku. Dia mungkin berharap aku membawanya untuk menikah."
"Itu hal wajar."
__ADS_1
"Dia tidak tahu tentangmu."
"Anda mau merahasiakan saya sementara?" Ariadne tersenyum lagi. "Saya bisa berpura-pura menjadi pelayan Anda. Tidak, saya memang pelayan nomor satu Anda."
"Ayah pasti akan langsung memberitahunya." Erekleus tersenyum getir. "Aku tidak mau melukaimu sama sekali."
"Saya tidak terluka sama sekali."
*
Mute akhirnya diizinkan keluar. Ia tak tahu harus terkejut pada kehadiran seorang perempuan muda, sangat amat cantik, berpakaian sangat megah—ataukah ia harus terkejut pada kemegahan rumahnya Erekleus.
Tunggu, itu rumah? Itu seperti sebuah istana yang di bagian depannya terdapat danau super luas, taman-taman mawar, dan patung yang berjejeran.
Mute tersekat. Merasa bahwa ia telah pindah dunia.
"Ayo ikut denganku, Mutia."
Mute merasakan ketakutan dan rasa waspada karena asing. Buru-buru ia turun, datang memegang lengan Erekleus. Mereka berjalan menuju bangunan megah itu dan Mute hampir tersandung tiga kali lantaran salah fokus ingin menatap ke mana.
Apa seseorang memang boleh sekaya ini? Atau dia sebenarnya keluarga kerajaan Inggris?
Ketika Mute sibuk terkagum, Erekleus hanya sibuk memikirkan apa respons ayah juga kakak pertama, sepupunya.
Anak terlarang itu, kira-kira apa keputusan mereka terhadapnya? Apa mereka mau membunuhnya sekalipun Erekleus nanti berkata tidak?
*
"Mutia, ini ayahku." Erekleus memperkenalkannya secara singkat. "Lalu, ini kakakku, namanya Ares. Kami bersepupu tapi intinya dia Kakak Pertama. Lalu ini Ibundaku."
Mute sedikit salah fokus menatap ayahnya Erekleus. Mata dia terpejam seolah-olah dia tak mau melihat Mute.
"Ayahku tidak melihat." Erekleus berucap. "Tenanglah. Dia menyambutmu."
Jadi begitu. Pikir Mute dia tidak mau melihatnya.
"Lalu ...," Erekleus tiba-tiba menatap perempuan yang mengikuti langkah mereka sampai ke dalam ruangan ini ketik Erina bahkan hanya menunggu di depan pintu, "ini ...."
Erekleus untuk kesekian kali menarik napas.
"Ini istriku."
Mute kehilangan kemampuannya bernapas.
"Aku tidak berbohong mengenai statusku. Sudah kubilang, aku sudah menikah."
Mute menatap kosong wanita muda yang terlihat berada di sekitar usianya itu. Dia benar-benar terlihat sangat muda dan seperti remaja. Walau memang dandanannya mewah, pikir Mute dia seperti adiknya Erekleus atau sepupunya.
Tapi ... eh?
__ADS_1
Kalau begitu kenapa dia membawa Mute? Kenapa dia membawanya ke tempat ini padahal dia punya istri? Kenapa dia melakukan semuanya pada Mute kalau memang dia beristri?
"Nona Muda." Ares beranjak dari kursi, datang mendekati Mute. "Adikku pasti melakukan hal tidak pantas padamu. Kami akan bertanggung jawab atas segalanya. Percayalah."
Mute hanya menatap kosong padanya.
Bertanggung jawab bagaimana? Dia sudah punya istri jadi maksudnya dia mau menikahi Mute sebagai istri kedua?
Erekleus yang melihat keterdiaman Mute sekali lagi menarik napas. Mungkin ia harus mengatakan ini.
"Percaya tidak percaya, aku melakukannya tanpa sengaja. Tapi aku tidak mengelak dan berkata aku tidak bersalah. Aku hanya ingin kamu tahu aku tidak berniat melakukannya. Sedikitpun tidak."
Tatapan Mute semakin kosong saat air matanya menggenang.
"Karena itulah aku menghindarimu setelahnya. Aku menjauh agar kamu memahami bahwa aku tidak merayumu."
Jadi maksudnya Mute yang berdelusi? Mute yang seenaknya memutuskan sendiri bahwa Erekleus menyukainya maka dari itu dia berbuat demikian?
"Aku membawamu karena aku ingin bertanggung jawab. Dan karena itu tetap anakku. Aku tidak akan lari."
Ibunda tiba-tiba beranjak, datang merangkul Mute. "Kemari, Nak. Pergilah ke kamarmu dan istirahat. Kehamilan pertama selalu sulit."
Erekleus hanya melihat Roxanne membawa Mute pergi. Ia tahu ibundanya tidak akan menekan Mute, tapi jelas ibundanya kecewa.
Begitu Mute pergi, barulah Eris, ayahnya membuka suara.
"Aria, kamu baik-baik saja?" tanyanya pada istri Erekleus.
"Ya, Ayah. Saya mempercayai Tuan Muda saya. Tolong jangan menyalahkan beliau."
Ares menatap Erekleus. "Kamu memberiku masalah sangat besar."
Ya, Erekleus tahu peraturan melarang anak itu ada.
"Ayah, aku tidak berani membunuh anakku." Erekleus selalu kurang ajar pada Eris namun untuk kali ini saja ia berharap dia tidak dendam. "Aku tidak berani. Saat tahu ada anakku di perut Mutia, aku menggila dan—"
Eris mengangkat tangan, isyarat untuk tidak perlu banyak bicara.
"Aku akan bicara pada ayahku sekarang." Ares berlalu. "Untuk sekarang pastikan perempuan itu diperiksa dengan baik."
"Baik, Kakak."
Saat Ares beranjak pergi, Eris pun menyusul, berlalu begitu saja tanpa komentar. Erekleus tahu dia kecewa dan sakit kepala memikirkan bagaimana masalah kedepannya.
Masalah yang tidak akan pernah Erekleus bayangkan, mungkin saja.
"Aku sekarang penasaran kenapa kamu tidak marah padaku, Aria." Erekleus mendengkus getir. "Semua orang meninggalkanku sekarang."
"Saya tidak, Tuan Muda." Ariadne mengenggam tangannya. "Saya tepat di samping Anda."
__ADS_1
*
Dukung karya author dengan like👍, vote dan komen, yah😊🙏🙏