
Pria itu keluar dari bangunan utama, berputar menuju danau.
Erekleus memasuki rumah kecil persis di samping danau yang menghubungkannya pada lift ... menuju bangunan yang dibuat di bawah danau. Melewati lorong-lorong penuh ikan berenang kesana-kemari, Erekleus terus berjalan menuju tempat Sanya berada.
"Bibi Sanya."
Sebuah piring melayang ke arah Erekleus dan tentu saja ia spontan menghindar.
"Aku sibuk jadi pergilah!" kata wanita kecil yang tengah asik dengan mikroskop itu.
"Bibi, ini penting. Tolong dengarkan sebentar saja."
"Tidak penting bagiku, wleeeek😜."
Erekleus menepuk keningnya. Sungguh kalau tidak terpaksa mana mungkin ia mau datang ke tempat bibi kurang warasnya ini.
"Bibi, aku punya anak."
"Tidak peduli."
"Bibi." Erekleus mendekat, menarik-narik pakaiannya seperti anak kecil lengkap bersama wajah 😥. "Tolong jangan bersikap dingin begitu. Bantu aku, tolong."
Sanya berdecak. Walau dia bersikap ketus, pada akhirnya dia tidak bisa menolak permintaan anak Roxanne.
"Ya, ya, baiklah. Aku harus membantu apa, dasar merepotkan." Dia bertanya tapi juga tak lupa mencibir.
"Aku tidak sengaja menghamili wanita."
"Lalu kamu ingin aku memotong kemaluanmu sebagai bentuk penyesalan? Baiklah, berbaring di sini."
"Bibi, dia wanita biasa. Sangat biasa dan bahkan tidak mengenal Narendra."
Erekleus duduk di meja, memperlihatkan kefrustrasian yang coba ia tahan di depan siapa pun.
"Tolong, Bibi. Aku tidak mau jika Bibi Askala memutuskan menggugurkan anakku."
Cuma dia satu-satunya di tempat ini yang bisa mengajak Askala berargumen. Askala bahkan bisa mengubah keputusannya kalau Sanya ikut campur jadi dia satu-satunya harapan Erekleus.
*
Sanya akhirnya setuju naik ke permukaan. Perempuan mungil tapi sangat menakutkan dan tidak boleh diremehkan itu berjalan cepat menuju tempat Roxanne. Tanpa izin dia membuka pintu, masuk ke tempat Eris dan Roxanne tengah berbicara.
"Sanya." Roxanne langsung beranjak menghampiri.
__ADS_1
"Aku sudah dengar," kata Sanya. "Kakak setuju membiarkan dia?"
Roxanne ternyata menggeleng. "Dia gadis biasa," bisiknya pelan walau Erekleus mendengar. "Kamu sangat tahu hidup dalam Narendra sebagai wanita biasa itu sulit. Ese bahkan datang meminta dia dibunuh."
"Ibunda, aku akan menjaganya." Erekleus cepat-cepat menambahkan. "Aku bersumpah akan memastikan Ese menerimanya. Bahkan kalau harus memohon ratusan kali."
"Kamu bisa memastikan dia tidak terbunuh," Eris membuka suara, "tapi kamu tidak bisa memastikan dia ingin atau tidak. Tekanan yang dia terima sebagai wanita biasa dalam Narendra itu luar biasa. Kamu, seorang Narendra, tidak akan pernah mengerti."
Erekleus mengatup mulut. Matanya melihat Roxanne dan Sanya yang juga diam.
Sebelum Erekleus lahir, Roxanne berulang kali hampir terbunuh karena dia wanita biasa. Padahal status Roxanne saat itu adalah istri Narendra, namun karena dia tidak dibesarkan di peternakan khusus, Roxanne menghadapi mautnya tak terhitung.
Eris sendiri bahkan pernah mau membunuhnya. Berulang kali.
"Kamu tidak mau menikahi dia?" Sanya akhirnya buka suara lagi. "Memberi dia status istrimu setidaknya memberi dia kenyamanan, sedikit."
"Eusebia dan Ahelois tidak akan setuju," timpal Roxanne. "Mereka berdua terlihat sangat menolak, terutama Ale. Dia sepertinya marah karena Erekleus menyusahkan Ares."
"Ini bukan persoalan tentang pernikahan." Eris beranjak. "Ini persoalan tentang anak generasi baru tidak seharusnya lahir. Ini fase steril."
Erekleus menatap kosong ayahnya. "Lalu apa aku harus membunuh anakku? Apa Ayah sanggup melakukannya jika itu aku?"
"Kamu bertanya pada orang salah, Bocah." Sanya menyeringai. "Eris akan membunuhmu jika itu harus. Itu peraturan."
"Sanya."
*
Mute merasa tak nyaman di tempat ini. Tidak ada satupun orang yang ia kenal dan pelayan bolak-balik datang mengurusnya seperti orang sakit. Bahkan mereka tidak meninggalkan Mute saat mandi hingga ia harus menahan malu telanjang di depan lima orang, tentu saja semuanya wanita.
Tak mau stres sendiri, Mute putuskan buat keluar. Mencari udara segar sekaligus berjalan-jalan. Tapi baru saja ia mau pergi, istrinya Erekleus malah datang.
"Akan kutemani jika ingin pergi."
Dia adalah orang terakhir yang mau Mute temui. Bagaimana perasaan kalian saat hamil anak seseorang dan istrinya itu datang pada kalian sambil tersenyum ramah?
Ya, menakutkan. Menakutkan sebab dia tidak sedikitpun marah.
"Maaf." Mute tahu ia korban tapi ia merasa harus mengatakannya. "Maaf, Kak. Kakak pasti marah banget, kan?"
"Jangan memanggilku Kakak, Nona Muda." Ariadne tersenyum. "Panggil saja Aria."
Sungguh dia tidak marah? Serius?
__ADS_1
"Kalau," Mute kembali berbicara setelah sempat diam, "kalau aku gugurin bayi ini, aku bakal diusir?"
"Tentu saja tidak. Kamu akan diberi tempat khusus karena sudah memasuki wilayah Narendra. Bayi itu adalah pengikatmu di sini."
"Kalo gitu aku bakal lahirin dia sebagai orang asing?" Mute bingung cara menanyakannya.
Apa ia akan melahirkan tanpa suami? Apa maksudnya ia melahirkan lalu bayi ini diberikan pada Erekleus dan Ariadne jadi ibunya? Apa seperti itu?
"Keputusan akan dibuat oleh pemimpin. Kita hanya perlu menunggu."
"Kalo misal keputusannya aku nikah sama Erekleus, kamu bakal marah?"
Ariadne tiba-tiba berhenti. Dia menoleh dan senyum itu pun sirna.
"Kamu sepertinya sangat penasaran apa aku marah atau tidak, Nona Asing." Wanita muda itu menatapnya tanpa ekspresi. "Ya, aku marah. Aku sangat marah dan cemburu. Kamu ingin mendengar itu?"
Mute langsung bungkam.
"Tapi kami istri Narendra dibesarkan untuk tidak peduli, tidak boleh peduli, pada perasaan kami jika itu demi Narendra. Aku cemburu dan marah, namun aku percaya pada Tuan Mudaku."
"...."
Ariadne hendak berjalan lagi, tapi dia mendadak berpaling pada Mute. "Aku tidak akan melepaskan Tuan Muda padamu, Nona. Bukan karena kamu orang ketiga, tapi karena kamu tidak akan kuat berada di posisi istri beliau."
Detik itu, Mute merasa mungkin sebaiknya ia pergi.
*
Mute mungkin hanya gadis remaja. Ia bahkan belum berusia sembilan belas tahun. Ia masih sangat muda. Tapi Mute hidup sendirian. Hanya sendirian karena seorang nenek seratus tahun lebih di tempat tidur, tidak lagi sanggup bergerak dan butuh digendong ke kamar mandi, itu tidak bisa disebut teman hidup.
Walau tentu, dia segalanya bagi Mute.
Mute selama ini hidup tanpa penguat. Setelah ibunya meninggal dan kakaknya yang sialan itu malah melupakan keluarganya di kampung, Mute selalu sendirian.
Ia sudah terbiasa sendirian. Ia bukan anak lemah dan cengeng.
"Tuan Muda." Maka ketika Erekleus muncul, Mute memutuskan berani berbicara tegas. "Saya enggak mau di sini."
Tenru saja Erekleus terkejut mendengarnya. "Ada apa? Kamu merasa tidak nyaman? Kalau kamu ingin sesuatu, katakan saja."
"Gak, bukan." Mute menggeleng pasti. "Saya enggak mau hidup sama kamu."
Erekleus mematung.
__ADS_1
"Saya enggak mau jadi orang ketiga di rumah tangga kamu. Saya juga enggak pantes sama kamu. Jadi biarin saya pergi, jalanin hidup saya sesuai standar saya."
Mute yang mau menangis menggigit lidahnya karena harus tegar. "Saya mau nentuin hidup saya sendiri. Saya enggak mau kamu ikut campur."