
Erekleus melampiaskan frustrasi pada Yohana dan Ikarus, lalu masuk seolah-olah dirinya tenang. Pria itu duduk di sebelah Mute, ragu-ragu mengusap punggungnya yang bungkuk memeluk boneka.
"Anak Kecil," panggil Erekleus lemah, "aku tahu kamu sedang berduka tapi bisakah kamu makan sedikit saja? Aku khawatir pada bayimu."
Mute justru semakin menangis. Hampir saja Erekleus panik, perempuan kecil itu tiba-tiba menenggelamkan wajah di dadanya.
"Benar." Erekleus langsung memeluknya. "Bersandar padaku. Berikan semuanya. Akan kutangani sebaik mungkin."
Kesedihan itu, rasa kehilangan, bahkan kedepannya, makanan dia, selimutnya, kesehatannya, Erekleus akan menanggung semua itu karena ia telah berbuat salah pada perempuan muda ini.
"Kita bakal nikah?" Mute tiba-tiba mendongak. "Kamu bakal tanggung jawab, kan?"
O-ow, akhirnya datang juga, pertanyaan yang jawabannya tidak bisa diberikan.
Jika Erekleus bukan Narendra maka ya, akan ia nikahi gadis ini malam ini juga, membuatkan dia pesta semegah apa pun yang dia mau.
Tapi tolong jangan lupa Erekleus adalah Narendra. Ia bahkan tidak boleh menikahi putri perdana menteri yang cantik, berprestasi dan luar biasa.
"Aku akan menjagamu." Erekleus hanya bisa memberinya jawaban itu. "Ikut denganku pulang. Ayo tinggalkan desa ini."
Setidaknya sekarang dia sudah bisa melakukan itu. Erekleus sempat khawatir tidak bisa membawa Mute karena neneknya, tapi sekarang dia bisa menjual rumahnya dan ikut dengan Erekleus.
"Mutia, soal Kakakmu—"
"Gak usah." Mute langsung menolak dingin. "Aku enggak punya kakak. Enggak punya keluarga kecuali nenek."
Baiklah. Erekleus tahu kakaknya Mute bukan tidak ingin pulang tapi sangat kesulitan di sana, tapi dari sisi Mute, dia pasti merasa ditinggalkan.
"Kalau begitu makan dan istirahatlah." Erekleus mengusap air mata di wajahnya. "Aku akan menyelesaikan semua tugasku di sini lalu kita pergi bersama. Jangan khawatir pada apa pun lagi dan percaya padaku, mengerti, Anak Kecil?"
Mute memejam. Menganggukkan kepalanya patuh dan berbaring sesuai perintah Erekleus.
Agar tidak memicu kecurigaan warga, Erekleus tidur di depan tenda bersama para bapak-bapak dan anak muda sambil berpura-pura merayakan keberhasilan kerjanya di desa. Erekleus juga mengatur baik-baik siapa yang akan memegang kekuasaan setelah dirinya, agar segala yang ia bangun tidak dikacaukan lagi.
Erekleus memastikan semuanya, seluruhnya, ditangani dengan sempurna.
Karena ia tidak bisa membawa masalah lebih besar dari kehamilan terlarang gadis kecil itu.
__ADS_1
**
**
Hari kepulangan Erekleus akhirnya tiba juga. Tenda tempat tinggalnya telah dibongkar sejak pagi dan sawah itu diubah menjadi tempat berkumpul sekaligus tempat makan besar. Tentu saja ada banyak hal yang Erekleus lakukan sebelum memulai pidato perpisahan.
Tapi meskipun merasa sangat lelah, bagaimana wajah-wajah warga yang terbantu olehnya sedikit membayar rasa lelah itu.
"Aku ucapkan terima kasih tanpa batas pada bantuan kalian padaku selama di sini." Erekleus pun memulai pidatonya. "Terima kasih sudah menerimaku, terima kasih sudah memaklumiku, dan terima kasih tetap diam meskipun mungkin aku bersikap menyebalkan."
Erekleus mengucapkan pidato penuh tanpa contekan. Pria itu hanya bicara segala hal yang terlintas di benaknya, menatap wajah-wajah warga yang mengaguminya, lali memberitahu mereka hal-hal yang perlu dijaga dan akan selalu Erekleus awasi bahkan sekalipun ia tak ada.
Setengah jam lamanya Erekleus bicara, pria itupun menutup pidatonya dengan pemberitahuan.
"Aku akan membawa Mutia bersamaku. Aku berjanji akan menjaganya, sebaik mungkin, jadi tolong jangan khawatir padanya."
Erekleus turun dari podium bersamaan dengan Mute dikelilingi warga, mengucapkan selamat tinggal padanya. Pria itu sejenak menghampiri staf desa yang di awal ia beri ancaman. Ada beberapa yang telah Erekleus pecat, tapi setidaknya ia senang Pak Kades masih ada.
"Aku sangat senang bisa bekerja di sini, Paman." Erekleus menepuk-nepuk pundaknya, memanggil dia Paman untuk pertama kali. "Ucapan terima kasihku akan dikirim ke rumah kalian masing-masing. Itu dariku pribadi jadi kuharap kita tetap berhubungan baik."
"Tentu, Tuan Muda."
Hukuman Argan adalah memastikan desa ini berjalan sama persis ketika Erekleus menjaganya. Hukuman berat bagi pria itu karena dia hanya suka berada di belakang komputer, main game sambil makan puding.
Setelah memastikan Argan menahan tangis karena hukuman, Erekleus pun diantar oleh warga menuju tempatnya datang. Dua helikopter terparkir menunggunya dan Erekleus menuntun Mute naik di helikopter bersamanya, Ikarus juga Erina.
"Keluarga kamu sekaya apa, sih?" Mute bertanya begitu polosnya, memandangi interior helikopter yang baru dia lihat seumur hidup. "Ada mawarnya juga," komentar dia pada logo di kursi.
"Karena ini milik Narendra."
"Terus, Narendra itu siapa?"
Dijelaskan pun akan sangat panjang jadi Erekleus cuma tersenyum. Mute yang melihatnya tersenyum merasa curiga, tapi tidak bisa berbuat apa-apa kalau dia tidak mau bicara.
Mute akhirnya diam, merasakan jantungnya berdebar-debar akibat gugup. Ini maksudnya ia mau bertemu keluarga Erekleus, kan? Bagaimana kalau mereka langsung menentang karena Mute hanya gadis desa, tidak cantik, juga tidak berpendidikan?
Tapi Erekleus bilang dia tidak pernah sekolah jadi kalau soal berpendidikan, Mute lebih berpendidikan daripada dia, kan?
__ADS_1
"Tuan Muda." Erina membuka suara setelah sangat lama hening. "Anda belum menegaskan sesuatu."
Mute langsung menoleh pada Erekleus.
Perasaannya sedikit takut ketika Erekleus menoleh, menatap Mute sangat lama.
"Benar juga. Mutia tidak percaya soal itu," kata dia samar.
"Apa?"
Erekleus tidak bisa menjawab.
Bagaimana ia menegaskan bahwa dirinya memang sudah menikah? Sangat banyak orang yang tidak percaya karena Erekleus tidak mau memperlihatkan istrinya. Bukan tidak mau sebenarnya, tapi tidak diperbolehkan menyebar luas foto Narendra. Apalagi istri-istri Narendra.
"Tuan Muda, Nyonya Muda mungkin menyambut kedatangan Anda kali ini."
Erekleus berdehem, mengangguk mengerti. Tangannya terulur pada Mute, menepuk-nepuk punggung tangan gadis itu. "Semua baik-baik saja."
Ya, akan baik-baik saja untuk dia. Yang tidak baik-baik saja adalah Erekleus.
*
Mute jelas peka ada sesuatu yang Erekleus sembunyikan, tapi Erekleus cuma berkata kalau semua baik-baik saja jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
Helikopter akhirnya mendarat di tempat yang Mute asing padanya. Erekleus beranjak tapi seketika berkata, "Tetaplah di sini sebentar, Mutia. Hanya sebentar."
Mute merasa sangat gelisah sebab Erekleus keluar bersama Ikarus, meninggalkannya hanya dengan Erina saja. Apalagi Erina juga cuma diam, membuat jantung Mute berdebar tak karuan. Jangan-jangan Erekleus mau kabur?
Sementara itu di luar, Erekleus disambut oleh istri dan ibundanya.
"Selamat datang, Putra Ibunda." Roxanne memeluk tubuh tegap anaknya karena ini pertama kali mereka berpisah lebih dari satu bulan lamanya. "Semua baik-baik saja? Kamu menyelesaikan pekerjaan dengan baik?"
"Ya, Ibunda. Semua sesuai arahan Kakak Pertama dan Paman."
"Kalau begitu semuanya pasti baik-baik saja." Roxanne mengecup keningnya. "Kamu melakukannya dengan baik. Kerja bagus, Anak Pintar."
Erekleus tersenyum muram. Semua pekerjaannya di desa baik, tapi tidak dengan dirinya sendiri.
__ADS_1
*
Dukung karya author dengan like👍, vote dan komen, yah😊🙏🙏