Mengandung Anak Suami Orang Lain

Mengandung Anak Suami Orang Lain
38


__ADS_3

"Ya." Mute tersenyum. "Aku mengajukan permintaan dan itu diterima oleh Tuan Muda Pertama. Aku ingin pulang sebentar dan memastikan desa baik-baik saja."


"Begitu." Sanya memutar matanya dan diam-diam berpikir.


Haruskah ia beritahu kalau Erekleus meminta agar dia yang memimpin rombongan Mute? Sepertinya Mute berpikir kalau dia akan pergi bersama Tuan Muda lain atau cuma perwakilan Tuan Muda saja.


Harusnya memang begitu tapi Erekleus meminta proyek tersebut dikerjakan secara cuma-cuma. Sanya juga sudah dengar Erekleus kehilangan sembilan puluh persen saham di tangannya. Dia tidak bangkrut selama dia masih Narendra tapi yah bisa dibilang dia sekarang menjadi babu tulen.


"Kamu ingin mencari pria di luar sana?"


Mute mengerjap atas pertanyaan Sanya. Tumben dia penasaran dengan hal semacam itu.


"Tergantung keadaan. Prioritasku adalah pekerjaan dan Anastasia, jadi bukan mencari pasangan."


"Pertanyaanku bukan tentang pasangan." Sanya menjatuhkan punggungnya ke sandaran kursi. "Pria. Untuk mainan. Kamu jelas melakukannya pada Erekleus, jadi kamu juga mau melakukannya bersama pria lain? Lagipula sekarang kamu sudah tidak mungkin hamil sembarangan."


"Entah? Mungkin saja."


Mute tidak tahu.


Sekali lagi, prioritasnya sekarang adalah pekerjaan dan Anastasia. Mute tak mau teralihkan lagi oleh pria lalu membuat hidupnya hancur lagi karena alasan konyol.


*


Libur untuk Tuan Muda Narendra itu biasanya hanya seminggu, namun karena Ares memberi keringanan, dia membiarkan Erekleus mengambil waktu libur hingga dua puluh hari. Itu waktu yang cukup untuk Erekleus menghabiskan waktu bersama anaknya sebelum dia kembali bertugas.


Hari ini adalah keberangkatan mereka.


Mute yang melihat rombongan Erekleus tentu saja terkejut.


"Halo." Erekleus tersenyum tanpa dosa. "Selamat atas tugas pertamamu, Mutia, dan selamat datang dalam timku. Kuharap kita bisa bekerja sama."


Nampaknya si Tuan Muda ini sangat tidak terima ditolak. Mute menghela napas, hanya mengangguk sopan.


Mau Erekleus bersikap seperti apa, pokoknya hubungan mereka itu hanya sebatas atasan dan bawahan, tidak lebih.


"Mohon bantuannya kedepan, Tuan Muda."


Lalu Mute berlalu, karena ia harus pamit pada anaknya.


"Kamu sudah akrab dengan semua orang," bisik Mute lembut. "Jaga perilakumu dan dengarkan kata Nenek, mengerti?"


"Ya, Bunda. Kakek bersama Ana juga jadi Ana baik-baik saja." Anastasia mencium pipinya. "Cepatlah pulang."

__ADS_1


Mute sedikit merasa sedih karena harus berpisah sebentar tapi ia tahu itu tidak perlu. Mute juga pamit pada Roxanne yang berjanji menjaga Anastasia sebagai penggantinya. Lalu pada Ariadne karena untuk kedepan dia pula yang berinteraksi dengan Anastasia.


"Maaf merepotkan, Nyonya Muda." Kini Mute tahu bahwa ia benar-benar harus bersikap baik pada Ariadne.


Bahkan sekalipun bertebaran alasan untuk dia marah bahkan berusaha mencelakai Mute atau Anastasia, Ariadne justru cuma tersenyum manis.


"Lakukan yang terbaik membantu Tuan Muda." Ariadne malah berpesan lembut. "Dan jangan khawatir pada Anastasia. Dia berada di tangan yang tepat."


Setelah sesi pamitan selesai, Mute masuk ke helikopter yang bukan tempat Erekleus. Mereka berangkat lebih dulu sedangkan Erekleus malah sibuk menciumi tangan anaknya.


"Ayah pergi dulu," kata dia untuk kesekian kali. "Jaga dirimu tapi selalu rindukan Ayah, Ana."


"Ana lelah mendengar Ayah!"


Erekleus malah memeluknya erat sampai Anastasia sesak. Kalau bukan Roxanne yang mencubit telinganya, Erekleus pasti lupa waktu.


"Baik, baik, aku pergi." Erekleus segera berjalan menuju helikopter yang menunggunya.


Anastasia melambai-lambaikan tangan. Bahkan terus menatap hingga kedua helikopter yang membawa kedua orang tuanya itu hilang.


"Anastasia, ayo pergi!" seru Roxanne yang sadar Anastasia tidak mengikutinya.


"Baik, Nenek." Anastasia hendak berlari tapi tak sengaja mendengar Ares dan Ariadne bicara.


"Jika ada yang mendengar, seseorang akan mengira Anda sedang menyuruh saya berbuat jahat."


"Aku hanya menyuruhmu untuk tidak ikut campur pada hal itu. Jangan bersikap baik pada Anastasia jika itu menyakiti kamu, Aria. Menjauhlah darinya kalau perlu. Ada kami yang menjaga Anastasia. Tidak harus kamu."


"Anastasia putri Tuan Muda saya, Tuan Muda." Ariadne tersenyum. "Tugas saya adalah bersikap baik."


Anastasia berjalan pergi sambil memikirkannya.


Kenapa Bibi Cantik itu terlihat sedih? Kepalanya bertanya-tanya hingga ketika malam, Anastasia pergi menanyakannya pada Sanya.


"Itu urusan orang dewasa, bocah," jawab Sanya.


"Apa Ana membuat Bibi Cantik bersedih? Dia baik pada Ana. Dia memberi Ana cokelat berbentuk kelinci dan gelang-gelang berwarna."


"Sebaiknya jangan terlalu dekat dengan Ariadne." Sanya bergumam. "Dia terlalu mencintai Erekleus, maka dari itu dia berharap jadi istri yang pertama memberi Erekleus anak tapi kemudian kamu lahir."


"Hng?"


"Awalnya mungkin dia tidak terlalu khawatir karena kalian terpisah, tapi sekarang kamu dan Erekleus sudah bersama."

__ADS_1


Sanya mengoceh tanpa tahu bahwa anak yang dia ajak bicara itu cuma anak empat tahun.


"Dia tidak akan melukaimu karena cemburu tapi dia menahannya sendiri, karena itu dia melukai dirinya sendiri. Menjauh saja darinya."


Anastasia cuma bisa menangkap maksud bahwa Bibi Cantik itu bersedih sendirian.


*


Mute menatap pemandangan desanya dari jendela helikopter. Semua berubah. Ini seperti tempat yang asing namun familier.


Dulu helikopter hanya bisa mendarat di lapangan desa karena tak cukupnya ruang, tapi sekarang helikopter mendarat persis di depan sebuah rumah tiga tingkat dengan simbol mawar Narendra di depannya.


Posko Narendra.


Mute turun dari helikopter bersama penumpang helikopter lainnya. Menatap sekumpulan warga yang berkumpul seolah-olah mereka menunggu kedatangan sang Tuan Muda.


Tak butuh waktu lama helikopter Erekleus pun mendarat. Kedatangannya disambut teriakan.


"Padahal sudah kubilang tunggu saja di balai desa." Erekleus melambaikan tangan, menyapa seolah dia mengenal mereka semua. "Apa yang kalian lakukan di depan rumahku?"


"Menunggu Tuan Muda!" teriak mereka kompak.


"Aku tidak punya cokelat." Lalu Erekleus membuat isyarat mengusir tapi justru tertawa.


Tak Mute sangka kalau dia berteman baik dengan orang-orang ini.


"Ayo, Mutia. Kita perlu mengucapkan salam di balai desa."


Mute mengikuti langkah Erekleus menuju mobil yang sudah menunggu mereka. Jalanan desa begitu mulus sekarang, sampai rasanya Mute tidak percaya ini desa, tapi nyatanya memang demikian.


"Bukankah Anda tidak menyukai sambutan meriah dan suka langsung bekerja?" tanya Mute mengingat masa lalu.


"Itu karena keadaan desa dulunya mengkhawatirkan." Erekleus tersenyum. "Buat apa mereka menyiapkan mobil ketika jalanan ke neraka bahkan lebih mulus? Buat apa mereka menyiapkan sambutan meriah saat rumah-rumah mereka sendiri siap rubuh?"


Menusuk.


"Sekarang sudah tidak. Semua tempat sudah kutangani dengan baik. Aku bahkan memastikan tunjangan untuk anak baru lahir." Erekleus menunjuk ke luar jendela. "Itu rumahmu dulu, tapi sekarang ditinggali orang lain. Tolong jangan minta itu lagi, mengerti?"


***


teruntuk kalian yang copi-paste karya-karya author, terima kasih udah bikin author punya alasan untuk berhenti publikasi karya dan lebih selektif. tapi kalau bisa tolong berenti. author tau udah dua karya yang kamu copi, mungkin udah lebih dari itu.


mohon maaf tapi author enggak rela karya yang susah payah author tulis kalian copi dan bagiin ke tempat lain.

__ADS_1


__ADS_2