Mengandung Anak Suami Orang Lain

Mengandung Anak Suami Orang Lain
6.


__ADS_3

"Ini sumurnya Pak Surya." Mute mengantar Erekleus sampai ke tempat sumur terbersih yang ia tahu. "Air di sini yang paling bersih jadi kayaknya kamu enggak bakal gatel-gatel."


Erekleus tersenyum. "Aku tidak sensitif terhadap air, Mute. Tenang saja."


"Sabun sama sikat gigi atau apa gitu, kamu butuh?"


"Ada di sini." Erekleus menepuk kotak yang di mata Mute lebih seperti kotak uang daripada kotak sabun.


Maka Mute pun mundur, hendak pergi menjauh agar dia nyaman mandi. Namun Mute meringis melihat gadis-gadis desa, seluruhnya, berkumpul tak jauh dari sana untuk melihat sang Tuan Muda mandi.


Bahkan Dinda, kembang desa dari anak paling kaya juga ikut melihat dengan ekspresi kesal. Dia langsung menghampiri Mute begitu gadis itu datang.


"Kenapa Erekleus malah mandi di sini? Harusnya kan kamu anterin dia ke rumah! Di rumah ada kamar mandi tertutup!"


Mute menggaruk tengkuknya canggung. "Katanya dia enggak mandi air bak."


"Hah?"


Ya entahlah, itu kata dia.


Suara pekik histeris terdengar saat Erekleus membuka kemeja hitamnya, memamerkan tubuh putih berotot. Bahkan Mute pun tak berkedip melihat tubuhnya secara langsung mulai dibasahi oleh air.


Pria itu seperti tidak terusik saat semua orang menjerit-jerit tiap kali dia menyentuh tubuhnya sendiri. Erekleus malah menikmati ketika air dingin itu tumpah di atas kepalanya, berjatuhan sia-sia ke atas lantai semen.


Semua gadis di sana nampaknya siap menadahkan tangan buat mandi bekas mandian dia.


Sementara itu, di sisi lain, ada sekelompok pemuda desa yang geram melihat gadis-gadis pergi memuja si Tuan Muda. Jika perempuan suka julid melihat gadis lebih cantik dari mereka disukai oleh banyak pria, maka laki-laki dendam pada seorang laki-laki yang banyak fans wanitanya.


Jaler, preman kampung yang menyukai Dinda dari lama, tak betah melihat itu lama-lama.


"Heh, mesum!" Jaler meneriaki gadis-gadis di sekitar sana. "Udah sana! Orang mandi malah ditontonin udah kayak konser aja! Sana, sana!"


Mereka semua menggerutu tak terima tapi juga takut karena reputasi Jaler sebagai preman kampung. Jaler lantas menghampiri Dinda.


"Dek Dinda, pagi-pagi udah cantik aja. Ngapain di sini sih, Dek?"


Dinda menatapnya dingin.


"Dek Dinda juga suka sama itu cowok boyband? Duh, Dek, cowok macem dia mah cuma manfaatin muka doang buat nipu perempuan. Jangan mau."


Mute buru-buru kabur saja berhubung Erekleus sudah selesai. Dia tampak mengeringkan rambutnya dengan handuk, tanpa menutup tubuh atasnya yang basah.


"Nih, handuk." Mute menyerahkan handuk sambil berusaha tidak mengintip.


Masa sih cowok ganteng dan badan juga ganteng begini nyata? Itu sangat tidak nyata! Dia sudah kaya, masa dikasih ganteng plus kekar juga?!


"Terima kasih." Erekleus yang tahu Mute salah tingkah tidak terlalu peduli.

__ADS_1


Erekleus sudah hidup dalam pengagungan dan pujian sejak lahir hingga ia bahkan menganggap reaksi apa pun itu adalah hal normal.


"Tolong bawa ini dan pulanglah duluan." Erekleus justru menyerahkan tas berisi peralatan mandinya pada Mute. "Aku akan langsung ke kantor desa."


Erekleus berjalan pergi begitu saja selesai memasang kaus berlogo mawar emas di dadanya. Bahkan setelah seratus langkah pergi, dia langsung diikuti oleh banyak orang untuk mengaguminya dan Erekleus malah cuma tersenyum.


Hidup orang emang beda, pikir Mute lelah. Gadis itu pun memutuskan segera beranjak pulang karena nenek mungkin menunggunya.


Tapi Jaler menghadang Mute.


"Siniin tasnya, Mut."


"Eh? Enggak!" Mute melindunginya. "Mas Jaler mau ngapain coba?! Udah sana urusin Dinda!"


"Heh! Mau ngelawan kamu?!"


Mute terpekik saat tangan Jaler terangkat, seperti mau menamparnya. Spontan tas itu ia lepaskan karena jelas dirinya lebih penting.


Tapi begitu Jaler memegang tasnya Erekleus, Mute merasa bersalah.


"Mas, udah dong! Entar malah aku yang dimarahin!"


"Halah, bacot! Orang kota kayak gitu tuh enggak perlu kamu jagain! Penjaganya banyak!"


Jaler tertawa-tawa pergi, membawa tas hasil rampasannya.


*


Piring-piring dicuci bahkan dikeringkan.


Mute berdiam di rumah mengurus Nenek. Tugasnya memang cuma itu sedangkan kakaknya, kakak perempuannya, merantau jauh di kota untuk bisa memberi mereka makan. Mute sangat ingin menghubungi kakaknya, bercerita tentang kondisi desa mereka tapi kakaknya selalu bilang Mute tidak perlu menelepon kecuali dia menelepon Mute duluan.


Menjelang pukul dua, Dinda tiba-tiba datang ke rumahnya.


"Erekleus mana?"


"Belum pulang dari kantor," jawab Mute bingung. Soalnya itu aneh Dinda sampai datang ke sini. "Emang kenapa?"


"Kamu juga mau deketin Erekleus yah?"


Pertanyaan Dinda langsung membuat Mute cengo. "Deketin? Orang yang besarnya enggak makan nasi kayak dia?" Mute menunjuk dirinya. "Aku? Aku yang lulus SMP doang?"


Dinda yang sempat menatapnya seperti musuh seketika berpikir. "Iya juga sih, mana mungkin dia mau sama kamu," kata Dinda.


Agak membikin sakit hati tapi sayangnya fakta.


"Kalo gitu suruh Erekleus pindah! Suruh aja ke rumah aku! Kalo kamu usir kan dia juga nanti enggak bakal mau maksa tinggal di sini!"

__ADS_1


Mute terdiam. Berpikir sebentar sebelum ia mengangguk. "Yaudah, nanti aku suruh."


Toh dirinya tidak pernah ingin dia tinggal di sini. Erekleus sendiri yang mau tinggal di sini, dengan alasan dia mau langsung merasakan hidup susah itu bagaimana.


"Bagus." Dinda tersenyum. "Terus, Erekleus makan apa sama kamu?"


"Hah?"


"Kamu bilang dia enggak makan nasi. Terus makan apa?"


Jadi maksudnya dia mau mencari informasi untuk mendekati sang Tuan Muda?


Mute lagi-lagi diam sebelum ia putuskan jujur. Yaudahlah, terserah mereka. Toh mau bagaimana juga Mute tidak akan pernah jadi bagian dari hidup si Tuan Muda.


Kecuali dia nanti makan nasi, mungkin? Itupun masih mustahil.


"Enggak tau sih dia enggak bilang. Tapi katanya dia enggak makan nasi, santen, minyak, terus tepung. Eh, tapi tadi asistennya bilang kalau mau kasih telur kasih yang dimasak aja. Terus kalo ada ubi ya ubi masak boleh."


Mendadak Mute sadar sesuatu. Kok makanan si Tuan Muda malah kesannya jadi makanan jaman dulu? Ubi rebus, telur rebus. Jangan-jangan dia juga makan singkong bakar?


"Itu kan makanan kampung semua!" Dinda melotot. "Kamu bohong yah, Mut?"


"Sumpah, enggak! Orang tadi aja waktu yang lain makan dia minum air sendiri!" Mute buru-buru meluruskan. "Dia kali yang bohong! Dia enggak mau makan di sini soalnya jijik!"


Dinda langsung berpikir. "Bener juga sih," kata dia. "Masa katanya dia udah nikah, padahal kata Pak Kades dia masih dua puluh tahun. Terus aku cari di sosmed enggak ada tuh foto dia sama istrinya."


"Ya siapa tau dia mau nolak halus cewek deketin dia," gumam Mute spontan. Termasuk Dinda kali, begitu pikirnya tapi jelas tidak boleh diungkapkan.


"Aku enggak percaya dia udah nikah!" Dinda berkata begitu, lalu beranjak pergi meninggalkan kediaman Mute.


"Tapi serius kalo dia enggak makan nasi, santen, minyak, terus dia makan apa?" Mute masuk ke kamar neneknya sambil terus memikirkan si Tuan Muda itu besar sambil makan apa.


Tak terasa hari sudah sore. Mute tengah membasuh tubuh neneknya dengan air hangat setelah membersihkan kotorannya waktu Erekleus pulang.


"Di mana tas mandiku, Mute?" Begitu dia bertanya dari luar.


Mute yang lupa bahwa tasnya diambil seketika loncat. Gadis itu panik. Buru-buru menarik selimut untuk neneknya yang meracau, bertanya itu siapa tapi Mute tak bisa menjawab.


"I-itu ...."


Erekleus mengangkat alis. "Ada apa? Aku harus mandi sekarang dan kembali bekerja. Tas mandiku, tolong?"


".... Diambil." Mute menunduk ketakutan. "Diambel Jaler," ucapnya lagi, ragu-ragu.


"Apa maksudmu?"


*

__ADS_1


Bantu author ngembangin karya dengan dukungan kalian, yah ☺


Dan buka juga karya-karya Candradimuka lainnya, terima kasih 🙏🙏


__ADS_2