
"Ayah akan menjemputmu nanti." Erekleus mencium wajah anaknya penuh sayang. "Jadilah anak manis dan rindukan Ayah."
"Kalau begitu beri Ana cokelat."
"Ayah akan membawanya nanti."
"Ana tidak suka merindukan orang yang tidak punya cokelat." Anastasia berlari pada Mute, ogah pada Erekleus karena dia tidak punya cokelat.
Melihat tingkah anaknya, Erekleus pundung. Ikut masuk ke lift yang membawanya bersama Ares dan Ale sedangkan Anastasia ditinggal berdua dengan Mute.
Begitu mereka pergi, Anastasia mendongak pada ibunya.
"Bunda marah?"
"Bunda hanya tidak ingin kamu terluka." Mute berlutut, mensejajarkan diri dengan anaknya. "Bibi tadi tidak menyakitimu, kan? Dia tidak mengatakan hal menyakitkan seperti 'kamu seharusnya tidak lahir' atau seperti itu, kan?"
"Tidak." Anastasia menggeleng pasti. "Bibi Ale memberi Ana cokelat. Dia baik pada Ana, Bunda."
Mute tersenyum pasrah. "Kamu bahkan akan ikut jika penculik mengajakmu makan cokelat," gumamnya sedih. Membayangkan hal itu terjadi saja sudah membuat tubuhnya ngilu.
Padahal dulu Mute tidak ngidam cokelat secara berlebihan, tapi kenapa anak ini sangat gila cokelat?
"Sekarang dengarkan Bunda, Ana." Mute memegang kedua bahu anaknya. "Pada pertemuan itu, bersikap baiklah dan tersenyum. Tapi jika seseorang berbuat buruk, terutama Bibi tadi, segera pergi ke belakang Paman Ares."
"Paman? Bukan Ayah?"
"Paman Ares jauh lebih hebat dari Ayah jadi pergi ke belakangnya saja."
Anastasia mengangguk. "Ya, Bunda."
*
Malam pertemuan itu akhirnya datang. Mute hanya menatap putrinya dari kasur tempat tidur ketika dua pelayan sekaligus memakaikan pakaian juga menghias rambut Anastasia. Dalam semua pertemuan Narendra memang setiap orang wajib berpakaian mewah dan wanitanya kebanyakan memakai pakaian tradisional Narendra.
Anastasia terlihat menggemaskan saat hiasan emas dipakaian pada rambut lebatnya.
"Bunda, pakaian ini berat," keluh Anastasia.
"Bersabarlah sebentar dan pakai itu, Sayang." Mute memeluknya begitu dia selesai. "Bunda percaya padamu, mengerti?"
"Mengerti, Bunda. Jika hal buruk terjadi, Ana akan lari ke punggung Paman Ares," ulang anak itu pada pesan Mute yang sudah kesekian puluh kali.
"Anak pintar."
Ikarus datang menjemput Anastasia sebagai perwakilan Erekleus. Setelah mencium pipi Mute, Anastasia langsung berlari ke arah pria itu, minta untuk digendong.
"Pakaian Ana berat, Ana malas berjalan."
__ADS_1
"Nona Muda sangat menggemaskan." Ikarus dengan senang hati menggendongnya.
Untuk pertama kali tanpa harus diam-diam, Anastasia naik ke permukaan. Ternyata lokasi pertemuan diadakan persis di tepi danau hingga Anastasia langsung bisa melihat Erekleus berada di dekat meja raksasa.
Erekleus yang melihat Anastasia tentu saja datang, menerima gadis kecil itu dalam pelukannya.
"Bayi kecil." Erekleus mengusap-usap punggungnya dan merasa sangat bangga sebab Anastasia memakai pakaian Narendra. "Ayah sangat merindukan Ana."
Anastasia menatap penuh rasa penasaran pada wajah-wajah asing yang mengamatinya. Mereka semua adalah saudara sepupu Erekleus.
"Baiklah," ucap Erekleus seraya berbalik. "Kakak-kakak dan adik-adikku, secara resmi kuperkenalkan, ini Anastasia. Putriku."
"Aku menolak." Astra, adik tiri Ares, langsung mengangkat tangan.
Disusul tangan-tangan lain yang terangkat, berkata 'aku juga menolak', membuat Erekleus cengo.
"Tunggu, kenapa kalian—"
"Tentu saja kami menolak!" teriak Elois, adik bungsu Erekleus yang baru menikah tahun lalu. "Kenapa hanya kamu yang diizinkan punya anak?! Aku mendukung kematianmu saja! Bunuh saja Erekleus, benar kan?"
"Ya, mati saja!" sahut yang lain.
"Aku juga ingin punya anak tapi aku harus menunggu sampai adik terkecil kita yang bodoh itu menikah, lalu kenapa kamu justru seenaknya memeluk anakmu?! Hah, mati saja tenggelam!"
Ares yang melihat gelombang penolakan segera mengambil Anastasia untuk memangkunya.
"Makan ini, Anak Kecil." Ares masa bodo, lebih suka menyuapi cokelat ke mulut Anastasia.
Kalau Erekleus mati, dengan senang hati Ares mengakui anak ini sebagai anaknya jadi semua akan baik-baik saja.
*
Sebenarnya ada sebuah perbedaan yang sangat mendasar hingga kurang diperhatikan. Para generasi sebelumnya, generasi Eris dan Arkas menjadi Tuan Muda, terlalu banyak nyawa yang dibuang percuma akibat konflik internal mereka. Kematian Eirene putri kesayangan Narendra, pengucilan Elios, kematian istri pertama Eris, dan bahkan ancaman kematian Elios dan Roxanne.
Itulah sebabnya seluruh generasi lama Narendra sepakat untuk mendidik generasi baru mereka lebih bijaksana dalam bertindak. Kebijaksanaan itu adalah pertemuan ini.
"Mati saja, mati saja! Bunuh Erekleus!"
"Dia bahkan bukan anak kedua, tapi tingkahnya seperti anak pertama!"
"AKU ANAK PERTAMA IBUNDAKU!"
"Kuliti dia!"
Anastasia yang melihat ayahnya bertengkar dengan banyak orang cuma menatap mereka seperti orang bodoh.
"Bunda berkata orang bodoh suka bertengkar," gumam bocah itu pada Ares sambil menerima suapan cokelat. "Kenapa sangat banyak orang bodoh di sini, Paman?"
__ADS_1
Ares terkekeh. "Karena memang menjadi pintar itu sulit, Anak Kecil."
Entah berapa lama pertengkaran itu terjadi tapi yang jelas mereka semua babak belur karena perbuatan satu sama lain. Yang tetap duduk tenang hanya sebagian, setidaknya beberapa saudara mereka yang sadar itu candaan paling bodoh di malam pertemuan ini.
Erekleus meringis memegangi pipinya yang lebam. Ketika dia menoleh pada putrinya, anak itu tengah menatap Erekleus penuh cemoohan.
"Ana?"
Anastasia membuang muka.
"Ana!" Erekleus menjadi histeris.
"Baiklah, para orang bodoh," kata Ares yang sangat bangga mengelus-elus kepala Anastasia.
Dia jelas pamer karena Anastasia lebih suka padanya daripada Erekleus sendiri. "Jika sudah selesai saling membunuh, sekarang duduk dan dengarkan kakak kalian ini bicara."
"Kembalikan anakku dulu!"
"Ana tidak mau!" Malah Anastasia yang melotot. "Tuan Muda sangat bodoh jadi Ana mau mengganti ayah Ana menjadi Paman Ares saja!"
Nyawa Erekleus seperti tercabut seketika. Saudara-saudaranya menertawakan dia sedangkan Ares tampak semakin congkak memeluk Anastasia.
"Mau bagaimana lagi. Karena aku Tuan Muda Pertama, tentu saja aku spesial." Ares membelai rambut Anastasia. "Sekarang mari kita masuk ke inti permasalahan. Di antara kalian siapa yang mengakui Anastasia sebagai putriku?"
Semua orang angkat tangan, kecuali Erekleus.
"Hei!" Erekleus melotot murka. "Kalau ingin anak juga, buat saja anak sendiri!"
Elois mencibir, "Kata orang yang membuat anak di waktu terlarang."
"Elois, aku tidak membunuhmu karena menghargai Ibunda!"
"Kalau begitu karena aku menghargai Ibunda maka sekarang juga aku mau membunuhmu! Bisa-bisanya seorang anak mempermalukan ibunya dengan punya anak haram?!"
"Kamu menyebut anakku anak haram?!"
"Itu sebutan untukmu, untuknya berbeda lagi!" Elois kemudian menoleh pada Anastasia. "Bocah kecil, aku tidak menyalahkanmu tapi ayahmu jadi jangan marah, mengerti?"
Anastasia menatap mereka prihatin. "Ana tidak mengerti kenapa kalian seperti anjing menggonggong."
Ibarat sebuah serangan, dada Erekleus dan Elois masing-masing baru saja tertancap anak panah dari depan dan belakang.
Ares tertawa terbahak-bahak, menepuk kepala Anastasia sangat bangga. "Memang putriku ini pintar," katanya penuh haru.
Mulai sekarang Ares akan sungguhan menganggap Anastasia putrinya tidak peduli Erekleus protes.
"Baiklah, adik-adik, ayo serius sedikit."
__ADS_1