
Argan menggerutu sambil memegangi wajahnya yang bengkak. Waktu kecil rasanya Erekleus sangat dewasa dan tenang, tapi kenapa semakin dewasa dia malah semakin kekanakan?
Dia benar-benar menghajar Argan demi melampiaskan kekesalannya, lalu setelahnya malah membawa Argan ke rumah sakit untuk diobati.
Cuma karena dia mau melihat Mute.
Kebetulan sekali rumah sakit sedang penuh oleh pasien laki-laki.
"Yah, Anda tidak bisa membendung," gumam Argan. "Ibarat air, nafsu pria itu mengalir deras. Bagi Anda dan saya mungkin wanita sejenis Mutia itu mudah ditemukan di kastel, tapi bagi orang-orang desa, tentu saja dia barang langka."
Erekleus hanya terus berusaha menahan kewarasannya di tempat karena itu jelas konyol jika dia menjatuhkan bom di desa yang telah dia bangun dari nol.
*
"Pasien berikutnya, silakan masuk," ucap asisten dokter di pintu ruangan Mute.
Untuk kesekian kali yang masuk laki-laki. Mute hanya menunduk fokus pada catatannya sebelum mendongak.
"Ada keluhan apa, Pak?" tanyanya ramah.
"Kepala saya pusing."
"Baik, ada keluhan lain?"
"Enggak ada, cuma itu."
Ah, pasien main-main lagi, kah? Mute sejujurnya kesal tapi seorang dokter tidak boleh sampai kesal di depan pasien karena bisa saja dia sungguhan sakit.
Mute mengambil alat tensi darah dan memasangkan itu ke lengan pria tersebut. Baru saja alat terpasang, orang itu berkata, "Kamu jadi sombong sekarang, Mut."
Eh?
Mute mendongak pada pria itu. Mengamatinya baik-baik. "Maaf, Pak?" Maksudnya apa yah?
"Pura-pura enggak tau. Atau beneran udah lupa karena udah sukses sekarang?" Pria itu menarik tangan Mute. "Ini aku, Mut. Ingetkan? Yang nganterin kamu ke rumah Bidan Sulis."
Mute menahan napas. "Mas Jaler?"
Lalu wanita itu menutup mulut, tak percaya. Sungguh Mute lupa padanya. Bahkan sedikitpun tak terpikir saat Mute menginjakkan kaki di desa ini lagi.
"Inget juga." Jaler melepaskan tangan Mute. "Cantik banget kamu sekarang, Mut. Anakmu gimana? Masih idup?"
Mute menahan rasa tak nyaman saat terus melanjutkan proses pemeriksaan. "Mas Jaler juga ngantri buat liat saya?" Tapi Mute pun bersikap lebih terbuka. "Aneh yah, Mas, kayaknya dulu Mas Jaler cuma ngeliat Dinda yang cantik."
Jaler mendengkus. "Udah cerai."
"Eh?"
__ADS_1
"Dinda ujung-ujungnya selingkuh terus kabur ke kota. Entah kabarnya gimana sekarang."
Mute mengerutkan kening. Dulu ia pasti merasa takut pada Jaler karena dia preman kasar, tapi sekarang Mute hanya ingin dia menjauh karena tidak penting.
"Kamu beneran nikah sama si Erekleus? Aku denger dia udah punya istri."
"Itu urusan pribadi saya, Mas." Mute melepaskan alat pengukur dari lengan Jaler. "Tekanan darahnya normal. Mungkin cuma kurang air," jelas Mute cepat agar dia pun cepat pergi. "Enggak perlu dikasih obat yang penting Mas Jaler minum air optimal tiga liter sehari."
Jaler justru menatap Mute intens.
"Ada keluhan lagi, Mas?" Mute tidak boleh mengusir pasien karena itu tugasnya sebagai dokter bersikap baik, tapi ia harap dia paham kalau dia diusir.
"Ada." Jaler mencondongkan tubuh. "Kalo dulunya saya enggak tertarik tapi sekarang jadi kepikiran, itu namanya apa, Dok?"
Tidak tahu diri. Itu adalah penyakit TIDAK TAHU DIRI.
Bisa-bisanya dia masuk, percaya diri menggoda Mute cuma karena ia menjadi sangat cantik, lalu dia pikir segala sesuatu di masa lalu ia lupakan?
"Baik." Mute tersenyum. "Saya tulis resep buat Mas."
Mute menulis resep vitamin lalu memanggil asistennya.
"Sara."
Sang asisten langsung muncul. "Ya, Dok?"
"Resep buat Pak Jaler." Mute menyerahkannya padahal tidak pernah ia sampai menyuruh asistennya buat mengantar pasien ke bagian apotek.
"Mari, Pak, saya anter."
*
Setelah antrian sangat panjang, barulah Argan dapat giliran ditangani oleh Mute. Padahal sebenarnya Argan tidak terluka parah, tapi Erekleus bersikeras mau masuk ke ruang dokter dan menjadikan Argan alasan.
Mute yang melihat itu bingung harus terkejut atau geleng-geleng kepala.
"Aku memaklumi Tuan Muda, Mutia." Argan berbicara seakan-akan Erekleus tidak ada di sana. "Bagaimanapun beliau sedang mengalami persoalan berat yang menekan mental. Hukuman dari saudara-saudara beliau pasti sangat berat."
Argan secara tidak langsung menyinggung soal Erekleus yang diporoti dan dipekerjakan seperti budak demi mendapatkan hak bertemu anaknya.
"Menjadi bawahannya pasti sangat sulit," komentar Mute. "Kamu sudah berusaha keras."
Argan pura-pura tersentuh. "Aku jatuh cinta seketika."
Membuat kepalanya langsung digeplak dari belakang oleh Erekleus.
Lalu Erekleus berdehem, berusaha terlihat tidak konyol. "Malam nanti akan ada pertemuan dengan pejabat sekitar," ucapnya pada Mute. "Datang dan temani aku."
__ADS_1
"Maaf." Bahkan tanpa berpikir Mute menolak. "Melihat daftar pasien, sepertinya mustahil, Tuan Muda."
"Mereka juga akan mengerti kalau kamu beristirahat." Erekleus mendesak.
Tapi Mute berbalik untuk mencuci peralatan yang sempat dia gunakan mengobati Argan. "Kalau begitu saya memilih beristirahat di rumah saja."
Erekleus mendelik. "Kenapa sebenarnya kamu menghindari aku?"
"Kenapa sebenarnya Anda mendekati saya?" balas Mute santai.
Argan di tengah-tengah mereka hanya mengamati. Dia sedikit tertarik pada fakta bahwa gadis kecil yang dulunya manut diseret ke bidan untuk aborsi sekarang bahkan menentang perintah Erekleus.
Bahkan Erekleus malah bertingkah konyol demi mendapat perhatiannya.
"Saya tahu kondisi desa sekarang hampir tidak membutuhkan bantuan Anda lagi. Anda datang ke sini hanya sebagai pengawas dan tamu kehormatan desa saja."
Mute tersenyum. "Tapi bukankah agak terlalu kurang kerjaan datang ke sini tanpa alasan?"
Uwwah, nusuk.
Argan cuma terkekeh kecil melihat wajah sebal Erekleus. Daripada dia semakin dilecehkan secara lembut oleh wanita, Argan buru-buru menarik tuan mudanya pergi.
"Dia jadi sangat keras kepala sejak bergaul dengan Bibi Sanya!" Erekleus menggerutu saat berjalan meninggalkan puskesmas. "Dia sudah keras kepala sejak awal dan sekarang dia juga besar kepala! Bisa-bisanya dia mengatakan hal semacam itu pada Narendra?"
"Bisa-bisanya Anda membiarkan seorang wanita berkata begitu pada Anda, Tuan Muda Narendra," timpal Argan.
Erekleus melirik tajam. "Apa maksudmu?"
"Walaupun Anda terkenal baik hati dan ramah, bukankah ditolak oleh bawahan Anda adalah hal mustahil?" Argan tersenyum. "Tuan Muda, Anda ditolak oleh wanita di depan saya dan Anda membiarkannya. Jangan bilang Anda jatuh hati pada Mutia?"
Erekleus mengerutkan bibirnya. "Entahlah," gumam dia samar. "Tapi memang jelas aku tertarik."
"Bukan karena Putri Anda?"
"Aku tidak tahu."
*
Malam harinya baru Mute bisa lepas dari pasien-pasien pria, meregangkan tubuhnya yang terasa kaku karena duduk sangat lama.
"Kamu berusaha keras." Arata tersenyum geli melihat raut super lelah Mute.
Dia menyodorkan segelas jus segar dari tangannya. "Aku jadi inget waktu pertama kali datang ke sini, dua bulan lalu. Semua perempuan mendadak punya penyakit dan butuh dokter."
Mute mendengkus. Memang sangat menyebalkan sebab enam puluh persen lebih pasien hari ini datang tanpa penyakit penting.
"Mau pulang bersama?" tawar Arata setelah Mute minum.
__ADS_1
*
prekuel cerita ini, cerita ayah-ibunya erekleus diplagiat orang dan untuk menghentikan itu, author akan berhenti update erekleus. tapi bukan berarti author akan berhenti berkarya. hari senin nanti author akan ngeluarin karya baru untuk lomba kepenulisan Air Mata Pernikahan, tapi untuk karya author ini, khususnya seri Narendra, maaf author enggak akan memberi bahan lebih. karya seri Narendra adalah cerita favorit author yang udah ditulis bertahun-tahun sampai punya silsilah dan sejarah sendiri. maaf buat pembaca yang terpaksa berhenti di tengah-tengah 🙏🙏🙏