Mengejar Cinta Istri

Mengejar Cinta Istri
Bab 28 Mengejar Cinta Istri


__ADS_3

Dalam malamnya kota, Naura menyusuri jalan dan menembus gelapnya dan dinginnya malam. Ia tak berfikir apapun lagi selain menemui Aditya dan meminta pertanggungjawaban atas apa yang sudah Aditya lakukan, emangnya apa.yang sudah Aditya lakukan ? memberi harapan palsukah? Seharusnya kan ellu yang jaga diri wkwkwk Gedeg sendiri aku.


*****


"Aku tidak perduli bagaimana kau menyukaiku, aku hanya ingin pengampunan mu, Aku berjanji dengan kehalalan ini, aku akan menebus waktu 3 bulan yang kita lalui dengan buruk menjadi keindahan, Aku tidak memaksa mu untuk menerima ku tapi aku akan berusaha agar hatimu bisa menerima ku dengan cara ku" Aditya memegang kedua tangan Aisyah. Sentuhan yang pertama kali Aditya lakukan dengan keadaan sadar.


Tentu gemuruh hati keduanya seakan saling bersautan, hanya saja ... mereka amankan agar tak terlihat canggung.


"Aisyah, Izinkan aku membuktikan bahwa aku sudah berubah dan tidak akan mengulangi kesalahan yang sama"


"Mas, aku tahu kamu baik, tapi membina rumah tangga bukan hanya itu saja, butuh cinta di dalam nya, butuh cinta antara suami-istri, butuh kejujuran, kesetiaan dan kepercayaan, Aku_"


"Kau bisa pegang janjiku saat ini, Aku ... aku_"


Tiba-tiba suara ketukan pintu membuat Aditya menghentikan ucapannya. Pandangan Aisyah dan Aditya sama-sama mengarah ke arah pintu.


"Biar aku saja yang membukakan pintu, kau istirahat lah" ucap Aditya


Aditya tidak menunggu jawaban Aisyah, ia langsung berdiri dan membuka kan pintu, Ia melihat Bibinya yang ada di depan pintu, dengan meletakkan jari telunjuk nya di bibirnya, tanda jangan katakan pada Aisyah kalau dirinya yang bertamu.


"Ibumu nelfon, katanya mau bicara dengan mu" ucap bibinya dengan pelan.


"Baiklah, Bi. aku pamit dulu ke Aisyah" ucap Aditya, lalu ia kembali mendekati Aisyah


"Siapa?" tanya Aisyah


"Rian, tadi aku pinjam korek padanya, Oh iya ... aku keluar sebentar mau duduk dengan Rian, boleh ?" tanya Aditya


"Pergilah" jawab Aisyah seraya tersenyum

__ADS_1


Tidak butuh waktu lama Aditya pun keluar dari kamarnya ia segera mengambil telepon genggam yang dipegang bibinya.


Kebetulan Rian masih belum tidur ia juga menjadi alasan kenapa Aditya kini keluar dari kamarnya.


"Rian, bisa minta tolong temani aku sebentar disini, aku beralasan mau duduk denganmu pada Aisyah" ucap Aditya


"Baiklah, aku juga belum bisa tidur, Tuan " ucap Rian


"Jangan panggil Tuan, panggil saja Adit " ucap Aditya seraya memencet tombol telfon rumahnya.


"Assalamualaikum, Bu." ucap Aditya


"Waalaikumsalam, Dit. Bagaimana kabarmu?"tanya ibunya Aditya


"Ibu Aditya baik-baik saja, Kenapa Bu? sepertinya Ibu cemas" tanya Aditya


"Ibu mendapatkan kabar bahwa wanita itu akan datang ke kampung Aisyah Ibu tidak mau terjadi sesuatu apapun pada Aisyah jika sampai terjadi sesuatu pada Aisyah, Jangan harap kau bisa memanggil ibu dengan sebutan itu lagi, cukup Dit cukup dua bulan lebih kau menyakiti Aisyah "ucap ibunya dengan marah


"Ibu tidak ingin mendengar ucapanmu, Aditya. Ibu terlanjur kecewa padamu, buktikan ... karena ibu butuh bukti, bukan janji" ucap sang Ibu yang langsung mematikan ponselnya, Hatinya bergemuruh menahan amarah. Kenapa anaknya bisa memiliki teman semacam Naura. Wanita yang katanya berpendidikan dan berprofesi sebagai Dokter spesialis kandungan itu. Kenapa ia jadi tak waras begitu, gerutu Martha ibunya Aditya


*****


"Bu, sudah, Jangan terlalu cemas. Kau sangat tahu bagaimana anakmu kan? dia tidak akan membuatmu kecewa" ucap Ayahnya Aditya


"Itu dulu, Yah. Sebelum kejadian itu, Ibu sudah sangat percaya pada Aditya, tapi apa! dia bahkan melakukan hal besar pada keluarga kita, memalukan " cebik ibunya Aditya penuh emosi


"Ayahmu menyalahkan ibu Kana apa.yang sudah Aditya lakukan, Ibu sudah berusaha mendidik Aditya dengan baik, hanya dengan satu kesalahannya, Aditya seakan menghapus semua prestasi yang sudah ia raih selama ini, Ibu kecewa padanya, Yah"


keluh Ibunya Aditya

__ADS_1


"Ayah tahu, ibu yang sabar ya ... Ibu kan susah tahu, ayah baru saja sembuh dari sakitnya. Menikahkan Aditya dan Aisyah adalah keinginan Ayah, tentu ayah merasa terpukul dengan ini, beliau tidak menyalahkan Ibu " ucap Ayahnya Aditya dengan sabar


"Ibu hanya mau, Aditya sukses membawa Aisyah pulang kemari, Besok Ibu akan ke kampung Aisyah. Akan aku buat wanita itu faham, bahwa tidak pernah ada tempat untuk ya dalam hidup anakku" Sorot mata tajam Martha terlihat jelas kemarahan nya.


Pagi menyapa, menyambut hari baru untuk Aisyah dan Aditya yang mana kini mereka tertidur seranjang untuk pertama kalinya.


Aisyah kedatangan tamu, sehingga ia bangun kesiangan hari ini, apalagi dengan pelukan yang Aditya lakukan setelah sholat subuh tadi.


"Selamat pagi, Ya Aisyah ku" ucap Aditya saat Aisyah membuka matanya


Aisyah ingin teriak tapi dengan cepat Aditya menutup mulut Aisyah dengan telapak tangannya.


"Ini aku Aditya, suamimu Dek" ucap Aditya saat Aisyah masih melotot padanya


Perlahan Aditya melepaskan tangannya, Dan Aisyah bisa bernafas lega.


"Kenapa kaget?" tanya Aditya


"Kenapa mas bertanya begitu? Seharusnya kan ma s tahu jawabannya " ucap Aisyah mencoba menata pikirannya


"Maafkan aku, Aku sudah terllau menyakitimu, bahkan ... kita tak pernah satu ranjang" Aditya mengelus pucuk kepala Aisyah dengan lembut.


Inikah sang suami yang dulu selalu berkata kasar padanya ? inikah suaminya yang telah merendahkannya dan menilainya hanya menginginkan hartanya? ini kah suaminya yang telah meninggalkan nya di malam pertamanya demi wanita lain?


Ya ... inilah Aditya yang sebenarnya, Yang sama dengan apa yang di ceritakan bibinya duku sebelum Aisyah memyetujui perjodohan itu. Ya ... inilah sosok Aditya yang sama dengan apa yang bibinya gambarakan dulu. Meski pernikahan mereka dulu karena kakeknya yang sakit, tapi bibinya berharap mereka bisa menjadi pasangan yang harmonis. Karena bibinya Aisyah sangat mengenali watak Aditya dan keluarganya. Bibinya tak mungkin akan menyerahkan keponakan yang sudah seperti anaknya sendiri pada sembarang orang. Tapi ternyata semua itu butuh pengorbanan besar. Dan semua yang besar pasti butuh yang besar pula.


"Aisyah, Istriku. Setiap saat kita bangun tidur, Izinkan aku untuk mencium keningmu, Kita sholat berjamaah, seperti jalanmu selama ini, Izinkan aku untuk menjadi Imam yang seutuhnya untukmu" Aditya menggenggam erat tangan Aisyah yang masih berusaha mengumpulkan kesadaran nya.


"Izin itu sudah Allah berikan, Mas" ucap Aisyah

__ADS_1


"Baiklah, aku kekamar mandi dulu, dan akan masak makanan kesukaan Mas, Disini juga ada Mas Rian yang akan pergi kan?" ucap Aisyah mengingat kan Aditya.


__ADS_2