
Rian pun pamitan pada Aditya, untuk segera kembali kerumah nya. Meski Aditya sudah menawarkan agar mereka menginap semalam saja, Namun Rian menolak nya.
"Bukan saya menolak, hanya saja,kami tidak mau mengganggu malam istirahat Tuan dan Mbak Aisyah " ucap Rian dengan nada menggoda Aditya, Aditya tersenyum dengan candaan Rian.
"Baiklah, kalau begitu saya permisi dulu, Tuan. Salamkan pada mbak Aisyah," ucap Rian berjabat tangan dengan Aditya
"Tidak ingin menunggu dia selesai sholat dulu, Tuan?" tanya Aditya
"Tidak usah, kapan-kapan aku akan mampir lagi, jika di bolehkan," ucap Rian
"Tentu boleh, Hati-hati di jalan, Kenzo ... salam untuk eyang uty ya ... " ucap Aditya seraya mengelus kepala Kenzo.
Akhirnya pun berlalu dari kediaman Aditya dan Aisyah, setelah kepergian Ryan dan Kenzo Aisyah keluar dari kamarnya, Iya sudah menduga bahwa Ryan dan Kenzo sudah tidak ada di ruang tamu.
"Mereka sudah pergi, Mas?" tanya Aisyah
"Iya baru saja tapi Tuan ringan mengatakan bahwa ia akan mampir lagi kapan-kapan,"ucap Aditya pada Aisyah.
"Sepi gini ya, nggak ada Kenzo" ucap Aisyah
"Kan ada Kenzo besar, Dek" goda Aditya pada Aisyah
Aisyah terdiam, ia hanya menahan senyum malunya mendapatkan ucapan Aditya.
"Kita istirahat yu, Mas capek" ucap Aditya seraya merangkul pundak Aisyah dan menuntunnya kedalam kamar.
"Biar Ais pijitin ya, Mas" ucap Aisyah
"Emangnya bisa?" tanya Aditya
"Bisalah, Mas. meski gak enak seperti tukang pijit aslinya sih, hehehhe" ucap Aisyah di selingi dengan tawanya. Aisyah pun memulai memijit pundak Aditya, Aditya memegang tangan Aisyah yang ada di pundaknya dan mengambil ya, mencium tapak tangan Aisyah dengan lembut, seketika tangan Aisyah yang satunya yang masih aktif memijit terhenti karena merasakan kehangatan ciuman Aditya di tangannya.
__ADS_1
"Aku ingin menebus kesalahanku, aku ingin kita bisa bersama selalu, mengisi kekosongan yang susah 3 bulan kita abaikan, bukan kita, tapi aku yang mengabaikan mu," ucap sesal Aditya seraya meletakkan tangannya Aisyah di pipinya.
"Kita lupakan masa itu, Mas. jika di ingat sesak itu akan terus kita rasa," ucap Aisyah
"Terimakasih, kita mau di kamar saja apa mau jalan-jalan di luar, cari makanan di penjual kaki lima, gitu" ajak Aditya
"Mas tadi bilangnya capek, gak usah ... mas istirahat saja," ucap Aisyah
"Kan sudah di pijitin tadi sama istriku, kita pacaran ala anak ABG, jalan bergandengan tangan pasti sangat menyenangkan," ucap Aditya seraya mengambil jaket dan memakainya, dan mengambilkan sweater untuk Aisyah pakai.
"Terimakasih, Mas" ucap Aisyah
"Sama-sama bidadari ku," ucap Aditya seraya mengambil tangannya Aisyah dan menggenggam nya.
Menikmati anginnya malam, bergandengan tangan dengan orang yang paling berarti bagi kita itu rasanya berbeda. Aditya dan Aisyah berjalan-jalan yang mana tempat mereka dekat dengan taman kota, sehingga banyak penjual kaki lima yang nangkring.
"Eh, bentar ya dek, ada telfon dari Ramdhan," ucap Aditya seraya mengambil ponselnya dari saku jaketnya
"Waalaikumsalam, Dit. Maaf ... tapi Dit, ada kabar duka, Nenek ... nenek masuk rumah sakit sekarang," ucap Ramdhan, membuat Aditya terkejut dan hampir saja menjatuhkan ponselnya.
"Aku akan segera kesana," ucap Aditya yang mana ia langsung meletakkan ponsel nya di dalam sakunya lagi.
"Ada apa,?" tanya Aisyah
"Nenek masuk rumah sakit,Maaf acar pacaran kita, kita tunda dulu," ucap Aditya seraya menggenggam tangan Aisyah lalu membawa nya kembali kerumahnya untuk mengambil mobilnya.
"Jangan cemas, yakinlah nenek pasti akan baik-baik saja," ucap Aisyah mengusap lengan Aditya yang membawa mobilnya dengan laju yang cepat.
"Aku belum minta maaf pada Nenek, Dek. Aku banyak salah padanya, aku benar-benar banyak salah padanya," ucap Aditya
"Aku mengerti, Tapi jangan terlalu cepat bawa mobilnya, bahaya juga, Mas" ucapan Aisyah menyadarkan Aditya bahwa ia terlalu cepat mengendarai mobilnya.
__ADS_1
*****
"Assalamualaikum, Ibu bagaimana keadaan,Nenek?" tanya Aditya dengan cemas
"Waalaikumsalam,Nenek sudah mendingan, ia hanya sesak nafas saja tadi, Aisyah ... kau juga ikut, sayang" ucap Ibunya Aditya
"Tentu, Bu." jawab Aisyah
"Aditya kedalam dulu, Bu," ucap Aditya seraya menarik tangan Aisyah agar ikut masuk.
Aditya duduk disisi ranjang Neneknya, menggenggam tangan yang sudah keriput itu. menciumnya dengan berulang kali.
"Nenek, Aditya datang, Nenek tahu ... Aditya sudah membawa kembali cucu menantu, Nenek. Aisyah sudah kembali, Nek. Maafkan Aditya yang sudah membuat Nenek kecewa," ucap Aditya seraya menggenggam tangan Neneknya
"Nek, Aditya dan Aisyah akan menjaga Nenek, bangunlah Nek " ucap Aditya lagi
"Nenek, Aisyah datang, maafkan Aisyah karena pergi tanpa pamit sama Nenek, sekarang Aisyah kembali dan tidak akan pergi lagi, maafkan kami yang terlalu kekanak-kanakan, Sehatlah kembali, Nek. Dan marahi lah kami yang nakal ini," ucap Aisyah seraya mengusap kening sang Nenek
Aditya menatap Aisyah begitu juga dengan Aisyah, membuat tangan sang Nenek bergerak, Aditya merasakan itu, karena tangan Aditya masih menggenggam tangan itu.
Aditya dan Aisyah begitu bahagia menatap mata sang Nenek yang mulai mengerjap.
*****
"Kau yakin dengan kabar itu, kau seperti detektif saja," ucap Ramdhan pada Reno yang berjalan di koridor rumah sakit
"Tapi itu kenyataan nya, Ram. Ah tapi biarlah ... Naura kan wanita semacam itu, menghadapi Karizza mungkin selevel lah dengan Naura," ucap Reno yang mana mendapatkan pukulan di lengannya.
"Kenapa malah memukul ku," ucap Reno
"Ucapanmu itu loh, emangnya Naura dan Karizza itu mau bertarung, kita doakan saja semoga mereka baik-baik semua," ucap Ramdhan
__ADS_1