
"Alhamdulillah, Mas. Nenek sadar," ucap Aisyah saat melihat Neneknya sudah membuka matanya
"Syukurlah kalau Nenek sudah siuman, Bagaimana keadaan Nenek? Bagian mana yang sakit?" tanya Aditya
"Nenek tidak apa-apa, hanya sesak nafas saja, memangnya kalian fikir Nenek pingsan? Nenek hanya istirahat setelah minum obat tadi," ucap sang Nenek, membuat Aditya dan Aisyah saking melempar pandangan, Lalu mereka sama-sama tersenyum karena sudah berhasil di Kejari oleh Ramdhan.
"Ah, ini ulah Ramdhan Nek, dia bilang kalau_"
"Mas," ucap Aisyah seraya menggelengkan kepalanya
"Jika Ramdhan tidak mengatakan itu, kalian pasti tidak akan datang, iya kan?" tanya sang Nenek
"Bukan begitu, Nek. Hanya saja ... Aditya sedang mengajak Aisyah pacaran, Nenek tidak mau menggendong cicit dari Aditya," ucap Aditya yang mana membuat Aisyah melotot
"Mas," ucap Aditya geram
Terlihat sang Nenek tersenyum mendengar ucapan Aditya dan protes Aisyah
"Ya, Nenek ingin menggendong anak kalian, cepatlah buatkan Nenek cicit yang banyak," ucap sang Nenek seraya melihat kearah Aisyah
"Doakan saja,Nek. Dan Nenek juga cepat sembuh, hindari ruang yang berdebu," ucap Aditya
"Setelah ini, Nenek pasti akan lebih menjaga kesehatan, asal kalian berjanji akan segera memberikan Nenek cicit," ucap sang Nenek
"Doakan saja, Nek. karena anak adalah titipan Tuhan, semoga Allah senantiasa mempercayai Aisyah untuk memiliki seorang anak dari Mas Aditya," ucap Aisyah menggenggam tangan Neneknya.
"Doa Nenek selalu untuk kalian, Berbahagia lah kalian, jaga pernikahan kalian sebaik mungkin, jangan goyah akan cobaan, Aisyah ... Nenek percaya akan dirimu, Nak. Aditya ... jaga baik-baik Aisyah," Ucap Neneknya Aditya
"Kami berjanji akan saling menguatkan Nek, maafkan kami yang kekanakan, bahkan sampai mempermalukan keluarga besar," ucap Aditya
__ADS_1
"Buatlah kesalahan itu sebagai pelajaran dalam hidup kalian, dan gunakan kesempatan ini dengan sebaik mungkin," ucap Nenek
"Pasti, Nenek, Aditya berjanji akan menggunakan kesempatan ini sebaik mungkin," ucap Aditya
Waktu berjalan dengan cepat, Ibunya Aditya meminta agar Aditya dan Aisyah kembali kerumahnya dan istirahat, Biar yang jaga malam ini adalah Ibu dan Ayahnya. Aditya menerima tawaran sang ibu, mengingat Aisyah masih terlihat lelah .
"Besok pagi-pagi sekali, kami akan datang lagi, Ibu, Maafkan Aditya karena tidak bisa menginap malam ini," ucap Aditya
"Tidak masalah, Nak. Sebentar lagi Ramdhan dan Reno katanya mau bermalam disini juga, jadi ... kalian pulanglah dan istirahat, jangan pikirkan Nenek," ucak Ibunya Aditya seraya mengelus pipi menantunya
"Baiklah, Bu. Kalau begitu ... kami pamit dulu, Assalamualaikum," ucap Aditya bersamaan dengan Aisyah
"Waalaikumsalam," jawab Ibu dan Ayah Aditya
*****
Pagi menyambut dengan begitu cerah. Karizza dan Yusuf susah sama-sama pergi ketempat mereka bekerja, sedangkan Naura masih termenung, Ia belum sarapan pagi, Ia menolak saat Karizza mengajaknya sarapan bersama.
Naura turun dari ranjang tempat tidurnya dan mencari sumber suara itu, Hingga ia terhenti di depan ruangan dan di sanalah ia mendengar suara tangisan itu dengan jelas .
Perlahan Naura membuka ruangan itu, Ya ... ia melihat ruangan yang dulu ia susun sendiri letak semua tempat barang-barang bayi.
"Eh, Nyonya, Silahkan masuk, Nyonya. Ini den Ghifari tidak ingin pakai bajunya," ucap Baby sitter
"Biar aku yang pakai kan, Ayo anak pintar pakai baju sama Ibu ya," ucap Naura
"Bubu ... bubu," ucap Ghifari seraya terus menatap Naura, Naura tersenyum mendengar ucapan itu
"Bisa minta tolong tinggalkan aku dan anak ini, kau siapkan sarapan pagi untuk nya," ucap Naura pada Baby sitter yang mana Baby sitter itu mengerti, bahwa Naura ingin berdua dengan anak itu. Baby sitter itu adalah pilihan Yusuf, tentu ia akan ada di pihak Naura.
__ADS_1
"Anak pintar, sekarang, Ghifari pakai baju dulu, biar gak dingin, Oke" ucap Naura seraya memakaikan baju pada anaknya.
"Ghifari marah ya sama Ibu, Maafkan Ibu ya sayang," ucap Naura bersamaan dengan pecah tangisan Naura.
Naura menyentuh pipi anaknya dengan lembut, Menangis di hadapannya, Meski Ghifari masih kecil dan tak mengerti, tetap saja Naura menangis di hadapannya. Menggendong nya dan mencium seluruh wajahnya.
"Maafkan ibu,sayang. Maafkan ibu atas semua yang sudah ibu lakukan padamu, Ibu pantas mendapatkan hukuman ini, sayang. Tapi percayalah ... Ghifari selalu di hati Ibu. Ibu mencintai Paman Aditya, sehingga membuat Ibu meninggal kan Ghifari, tapi Ibu janji ... ibu tidak akan meninggalkan Ghifari lagi, Ibu akan menjaga Ghifari, Ibu akan menjadi pengasuh yang baik untuk Ghifari, kita berteman sekarang ya sayang," ucap Naura pada putranya. Putra nya seakan mengerti ia melambaikan tangan nya tepat di wajah Naura.
"Sekarang, Ghifari sarapan sama Ibu, Yuk" Naura mengusap air matanya seraya membawa Ghifari keluar dari kamarnya dan membawanya ke bawah. Pemandangan yang ingin Yusuf lihat selama setahun ini, kini ia lihat, meski melalui dari layar ponselnya yang terhubung dengan cctv rumahnya.
"Ayah sudah berjanji padaku, Ghifari, untuk mengembalikan Ibumu padamu, Ayah sudah menepati janji Ayah, sekarang giliran mu untuk bisa mengikat ibumu, agar tidak pergi lagi dari kehidupan kita," ucap Yusuf seraya membelai layar ponselnya.
*****
"Pengasuh, memang begitu kan,Naura. Kau di ambil lagi hanya sebagai pengasuh gratisan di rumah kami, sesuai perjanjian ku dengan Mas Yusuf," ucap Karizza yang juga melihat kejadian itu dari layar ponselnya.
Karizza bisa bekerja tenang saat ini, Karena semua ketakutan nya itu hanyalah pikiran yang tak benar, Yusuf tak pernah bertingkah aneh begitu juga dengan Naura, yang mengatakan bahwa ia tidak mencintai Yusuf, sama seperti dulu.
"Karizza, jangan cemas. Yusuf hanya milikmu, dan apapun yang sudah menjadi milikmu, selamanya akan menjadi milikmu," ucap Karizza dengan senyuman begitu cantik.
Kita tidak tahu akan perasaan seseorang, orang yang kita sangka jahat, belum tentu hatinya jahat, orang yang kita sangka baik, belum tentu hatinya baik.
Dan orang jahat tak selamanya jahat, Pasti akan ada kesempatan untuk dia berubah, Selama ada kemauan, pasti akan ada jalan, beda dengan orang yang baik, tapi hatinya selalu di penuhi rasa cemburu, pasti hati itu akan dikotori dan menjadi licik. Bermuka dua, baik di depan jahat di belakang. kebanyakannya di dunia nyata,d semoga gak ada di dunia novel wkwkwk.
Benar saja, Aisyah kini sudah ada di rumah sakit dengan beberapa makanan yang sudah ia bawa untuk mertua dan saudara suaminya.
"Ibu dan Ayah makanlah dulu, Mas Ramdhan dan Mas Reno, silahkan dimakan juga," ucap Aisyah
"Wah, kebetulan ... aku belum makan mulai kemarin," ucap Reno
__ADS_1
"Ya elah, bener gak makan tapi nyemil gak berhenti, sama aja babang," ucap Ramdhan yang mana membuat semua orang tertawa begitu juga dengan Nenek nya Aditya.