Mengejar Cinta Istri

Mengejar Cinta Istri
Bab 29 Mengejar Cinta Istri


__ADS_3

Naura yang kini dadanya kembang kempis menahan amarah, tidak menghiraukan pandangan sopir taksi yang menatapnya dengan tatapan ******. Ia melihat wajah cantik sang penumpang dengan kegelisahan yang ketara.


"Perjalanan ini sangatlah jauh loh neng, mendingan Neng istirahat saja dulu, nanti kalau sudah sampai tujuan, akan saya bangunkan" ucap sopir itu dengan tatapan yang penuh keinginan


"Sepertinya apa yang bapak katakan benar, Aku harus istirahat, menyiapkan energi untuk esok pagi" ucap Naura tersenyum pada arah pak sopir yang tanpa di sadari sopir itu tersenyum licik pada Naura dari balik spion yang bisa melihat kearah Naura.


Naura pun menyandarkan tubuhnya seraya memejamkan matanya, rasa lelahnya makin terasa, dengan cepat ia sudah mencapai alam mimpinya. Sopir itu menatap arah sekitar jalan, ia tak ingin aksinya di ketahui oleh orang. Satu jam telah berlalu, malam semakin larut, jalanan juga sudah mulai sepi. sang sopir pun memulus kan aksinya, Ia menepikan mobil taksinya di dekat semak dan pepohonan yang rindang, yang senantiasa menghiasai jalan yang menuju ke perkampungan.


Suara raungan hewan dari dalam hutan kini terdengar nyaring, suasana yang sepi bahkan sangat sepi membuat sang sopir tak bisa lagi menahan gejolak bir*hinya.


Perlahan sopir itu membuka pintu mobil taksi itu dengan hati-hati, agar si wanita incarannya tidak terbangun dan menyadari akan aksinya.


Pintu mobil taksi itupun terkunci saat sang sopir sudah berada di samping tubuh Naura. Tangan menjijikkan itu kini sudah menyentuh kulit lembut pipi Naura. Tangan kasar itu mengelus tanpa di sadari Naura hanya menggeliat sesaat. setan dan naf$u kini telah beradu, ia lupa tujuan nya untuk mengais Rizki. Sang sopir kini mulai menggencarkan aksinya dengan meraba dua buah gunung yang terlihat begitu.

__ADS_1


Merasa ada yang menggerayangi tubuhnya, Sontak Naura menjadi terkejut dan mendapatkan wajah mesum sang sopir tepat di depan wajahnya.


"Apa yang kau lakukan,!" bentak Naura pada sang sopir


"Tenanglah Neng, Kita nikmati malam yang dingin ini, aku tak tahan melihat belahan dad* mi ini Neng, ih ... ingin mimik rasanya " perkataan mesum selalu terlontar di bibir sang durjana


"Pak, jangan lakukan ini, aku bisa teriak " ancam Naura seraya memberontak pada sentuhan-sentuhan sang sopir.


"Terimalah sekeras mungkin, Sayangnya disini jauh dengan pemukiman warga, Neng" ucap sopir itu seraya duduk di depan Naura. Melakukan dengan lembut sudah tak bisa, akhirnya sopir itu menggunakan cara yang kasar. Teriakan Naura pun tak ia hiraukan, sehingga terjadilah hal yang tak di inginkan.


"Ah, kalau diam kan lebih nyaman, Kamu sih neng pakai ngelawan, dikasih enak malah gak mau " cebik Sang sopir itu.


"Jahat kau pak, kenapa kau lakukan ini padaku ... !" teriak Naura histeris

__ADS_1


Hiks ... hiks ... hiks ... tangisan itu makin terdengar pilu.


"Bagaimana jika anak gadisnya yang mengalami hal begini? apakah kau tidak akan terluka hatinya, dasar bajing*n aku benci kamu, jelek ... bau ... !"teriak Naura seraya terus meracau dan mengamuk di dalam mobil. Sedangkan kan pak sopir itu hanya berdiam menikmati kenikmatan yang tersisa. Lalu sopir itu berlalu, entah kemana mungkin buang air kecil, sehingga Naura mengambil kesempatan untuk pergi dan membawa mobil taksi yang sudah menjadi saksi hancurnya hidupnya saat ini.


"Hei ... hei, kau mau kemana ?" terima sopir itu seraya membenarkan resleting celananya. Namun ... Naura yang sudah tersulut emosi, langsung melakukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Ia terus melaju. Sehingga ia bertemu dengan beberapa warga yang sedang melakukan ronda keliling kampung.


"Maaf pak, Apakah benar ini kampung Sumur hidup?" tanya Naura


"Benar, Neng. Neng cari siapa? ini sudah sangat malam?" tanya Warga


"Saya Sopir taksi pak, saya membawa penumpang kemari, hanya saja ada barangnya yang ketinggalan, saya takut ... kalau barang itu adalah barang yang penting: ucap Naura dengan raut wajah yang meyakinkan. Entah apa ... ambisinya untuk bertemu dengan Aditya sangatlah besar dari rasa pahit yang ia alami saat ini.


"Duh, kampung sini lumayan banyak warganya neng, memangnya siapa nama penumpang yang Neng maksud, mungkin kami kenal " ucap warga

__ADS_1


"Namanya Aisyah, Pak. Dia menikah dengan orang Jakarta, namanya Dokter Aditya. Saya yakin ... kalau nama mereka sangatlah terkenal, mereka pasti orang baik" ucap Naura meyakinkan


__ADS_2