Mengejar Cinta Istri

Mengejar Cinta Istri
Bab 50 Mengejar Cinta Istri


__ADS_3

Jam 5 sore, Karizza pulang dari tempat ia bekerja, tak ada gerakan yang mencurigakan, hingga apa yang Yusuf katakan menjadi pertanyaan bagi Naura.


"Assalamualaikum,Naura." sapa Karizza saat melewati pintu kamar Naura yang terbuka


"waalaikumsalam, Riz. Ada apa?" tanya Naura


"Tidak apa-apa sih, kau sudah makan malam?" tanya Karizza


"Sudah, tadi sama bibi," ucap Naura


"Ayo masuk," ajak Naura, agar Marizza masuk kedalam kamarnya


"Terimakasih, kau sudah jauh lebih baik, ya" tanya Karizza


"Ya ... seperti yang kau lihat," ucap Naura


"Ya ... seharusnya emang kau harus melupakan Aditya, mengingat dia sudah beristri, dan juga ... kau jangan punya pikiran untuk kembali k4 Yusuf, karena biar bagaiamana pun aku adalah istrinya, Meksi ku tahu aku _"


"kau jangan cemas, aku tidak akan mengambil Yusuf darimu, Karizza ... Jika aku masih berfikir untuk kembali ke Yusuf, Kenapa aku harus mengejar Aditya dan meninggalkan Yusuf saat itu, Jadi ... kau jangan berfikir seperti itu padaku, dan juga ... aku sangat berterima kasih padamu, karena kau sudah sangat baik pada Ghifari, kau sudah nmeberi cinta seorang Ibu padanya, Terimakasih Karizza," ucap Naura tulus


"Aku punya nomor, dia duda, tampan dan juga ... sangat bekerja keras, aslinya dia anak orang kaya, hanya saja ... dulu ia pura-pura menjadi miskin, kalau kau mau, aku akan berikan nomornya, biar kau bisa segar move on dan bisa melanjutkan cita-cita mu, tapi ingat! jangan kembali pad Yusuf," ucap Karizza penuh penekanan di akhir ucapannya.


Sejenak Naura terdiam, Ia ingat akan ucaoan Yusuf, tentang Karizza yang memiliki saudara kembar,mungkin orang yang Karizza katakan adalah seseorang yang tahu akan kebenaran dimana kembarannya Karizza


"Boleh juga, biar ada temannya saat lagi sendiri," ucap Naura seraya tersenyum pada Karizza, membuat Karizza tak menaruh rasa curiga atau cemburu berlebihan nya lagi.


"Kau benar, aku kirim ke Wa mu, ya" ucap Karizza seraya merogoh ponselnya yang ada di saku cardingannya.

__ADS_1


Lalu Karriza mengirim kan Nomor, dimana saat Naura menyimpan nomor itu gambar profil itu membuat Naura ingat akan sesuatu, seperti pernah melihat pria itu, tapi dimana?' batinnya.


"Ganteng kan ? coba aja chat," ucap Karizza seraya menyenggol lengan Naura


"Ih, gak ah, mau chat apa coba ?" tanya Naura bingung dengan wajah pura-pura malu.


Namun, Karizza tetap memaksa agar Naura mengirimkan pesan pada nomor yang sudah Ia berikan. sehingga Karizza tidak sabar dan merampas ponsel Naura dan mengirimkan pesan pada nomor yang sudah ia berikan.


'Ternyata nomor ini masih aktif' bathin Karizza saat melihat garis centang dua di pesan yang ia kirimkan.


"Baiklah ... selamat berkenalan, aku yakin dia belum punya istri, Oke" ucap Karizza seraya menepuk pundak Naura dan pergi meninggalkan Naura dengan senyum yang mengembang. Namun ... di situlah ... awal dari kisahnya..


[Waalaikumsalam, Ini siapa?] jawab orang pemilik nomor yang Karizza berikan


'Ya ... dia balas, aduh ... aku harus jawab apa ya, tapi ... mungkin lewat orang ini,aku bisa tahu tentang cerita Yusuf itu benar atau tidak, tapi ... gak langsung bertanya tentang Karizza sih, Naura ayo berfikir, bukankah kau pintar dalam hal menjebak,' bathin Naura seraya mondar -mandir di tepi ranjang nya.


Namun ... pesan itu kini hanya centang abu-abu , Naura berharap ... Jika orang itu tidak lagi membalas pesan nya. Dengan cepat, Naura mematikan data ponselnya'. Ia langsung keluar dari kamarnya dan jalan-jalan mengitari rumah itu l, Naura berhenti disebuah koridor , Ia menatap langit yang kini penuh dengan bintang yang berkelipan


...****************...


"Dek,Apakah kau lelah?" tanya Aditya


"Enggak, Mas. Kenapa?" tanya Aisyah seraya melipat mukenanya. Sedang kan Aditya masih duduk bersila di depannya.


"Kita ibadah yuk, dek" ajak Aditya dengan senyum konyolnya


Aisyah tersenyum mendengar modus Aditya dari balik kata ibadah itu. Susah dari tadi ia memberi kode itu, hanya saja ... Aisyah mengira itu adalah ciuman biasa.

__ADS_1


"Malam ini malam Jum'at lih, dek. Banyak orang mengatakan ibadah di malam ini smaa dengan membunuh orang kafir," ucap Aditya


"Kenapa kau senyum-senyum begitu,Dek. berarti mau ya ... Alhamdulillah," ucap Aditya seraya mengusap wajahnya dengan kedua tangannya.


'Semoga hubungan kami akan selalu seperti ini, Ya Allah' bathin Aisyah seraya meletakkan mukena di tempat nya lagi, sedangkan Aditya melepaskan peci nya dan berganti pakaian nya dengan baju tidur.


'Semoga tidak ada lagi cobaan orang ketiga dalam rumah tangga kami,' bathin lagi Aisyah


Namun ... selama kita hidup di dunia ini, Coba dan uji pasti akan selalu ada, baik.ujo besar ataupun kecil.


'Berikan kami hati yang selalu sabar agar kami bisa menghadapi semua cobaan mu dengan hati yang ikhlas' bathin Aditya saat menatap istrinya yang sedang menyisir rambutnya.


Tak akan ada cobaan di luar batas kemampuan kita, hanya saja ... sabar butuh hati yang lapang serta ikhlas. Jika hati tak lapang maka sempit lah kesabaran itu.


Aditya menangkup wajah Aisyah dengan kedua tangannya. Ia menatap wajah syahdu itu lalu mencium keningnya Aisyah. Lama bibir Aditya menempel di kening sang istri, sehingga kini bibir itu turun ke hidung dan berhenti sejenak, memberikan kenyamanan di bagian hidung masing-masing.


Lama menempelkan hidung, akhirnya ... bibir itu turun ke bibir. Biasanya tadi hanya berdiam, tapi saat sudah sampai di bibir, Bibir itu malah bagaikan ter0ris yang menyusup ke dalam bibir Aisyah. Menuntut agar Aisyah membuka bibir mungil nya dan membalas setiap permainan yang Aditya berikan.


Malam terlewati dengan begitu indah, Malam yang dingin namun membuat kedua manusia berkeringat.


"Semoga disini segera ada buah hati kita, Sayang," ucak Aditya seraya mencium perut datar istrinya.


"Amin,Mas" jawab Aisyah yang kini memegang kepala Aditya yang tidur di perut nya, Di belai.l rambut Aditya m seolah permainan tadi adalah sebuah pertempuran yang dahsyat. Membuat peluh mereka bercucuran.


"Sayang, bangun ... sudah shubuh," ucao Aisyah membangun kan sang suami.


Pagi telah tiba, hari ini, Aditya akan meminta izin secara langsung Agar bisa liburan. Kemaren Aditya hanya membicarakan dengan sesama dokter saja, agar jadwalnya bisa di gantikan, sekarang ia harus izin pada kepala rumah sakit perihal rencana bulan madunya.

__ADS_1


"Hahhaah Aditya, Jagan gugup begitu, Oke, aku aku sudah mengijinkan mu, Bulan madulah sehingga pulang-pulangnya nanti, sang istri sudah berbadan dua, Jangan cemas ... kau sudah meminta dokter Firdaus untuk menggantikan jadwalmu, kau sudah sangat bertanggung jawab, Dit. Bahagia kan istrimu, Bulan madu mu yang tertunda akan mendatangkan cuan padaku," goda kepala rumah sakit itu dengan tawanya yang memenuhi ruangan itu.


__ADS_2