
Suasana klinik kini mulai sepi, Ia menatap layar ponselnya dan melihat jam sudah menunjukkan pukul 3 sore,
"dokter, saya pamit pulang dulu, ibu saya ingin pergi kerumah paman, dan tidak ada yang mengantar" ucap Fahmi, orang yang membantu Aditya selama di klinik
"Baiklah, Pulanglah" ucap Aditya seraya tersenyum pada Fahmi.
"Terimakasih, dok" ucap Fahmi seraya melangkah mundur.
Aditya tersenyum melihat keramahan warga kampung, apalagi mereka sering memuji sang istri, Rasa menyesal tentu selalu Aditya rasakan. Sampai kapanpun rasa bersalah itu sangatlah Aditya rasakan.
Aditya tersenyum sumbang menatap gambar Aisyah yang ia ambil gambarnya dari arah samping, Hidung mancungnya semakin terlihat, lesung pipinya semakin menambah kecantikan nya di balik luka yang sudah ia torehkan, Aisyah selalu menampilkan senyuman nya.
"Aku adalah laki-laki yang beruntung, tapi juga paling rugi, karena mengabaikan mu selama ini, wanita baik-baik seperti mu telah aku sia-siakan, Aisyah ... semoga pernikahan ulang kita, bisa membuat aku memperbaiki kesalahanku selama ini"ucap Aditya pada foto Aisyah, Aditya membelai ponsel itu seolah ia mengelus pipi lembut Aisyah.
*****
"Mbak, mungkin besok atau lusa, Saya akan menjemput Kenzo, terimakasih ya mbak ... karena sudah menjaga Kenzo" ucap Rian
"Kok cepet, Mas. Kalau Mas masih repot, tidak apa-apa kok, aku senang bisa jaga Kenzo" ucap Aisyah
"Saya tahu, mbak wanita yang baik, hanya saja .
nenekku ingin bertemu dengannya,"ucap Rian
"Ah, baiklah kalau begitu ... aku pasti akan merindukan Kenzo setelah ini" ucap Aisyah dengan nada jelas terdengar sedih.
"Kalau begitu ... aku akan menggunakan waktu sebaik mungkin bersama Kenzo" imbuh Aisyah yang sudah merasa sayang dengan anak kecil itu
"Terimakasih, mbak" ucap Rian
"Sama-sama, Mas" ucap Aisyah
__ADS_1
"Assalamualaikum" Rian
"Waalaikumsalam" Aisyah
Sambungan itupun terputus bersamaan dengan Rian yang kedatangan tamu di kediamannya.
"Tuan, dia adalah Nona Lancashire, dia adalah Putri dari Tuan Deordo" ucap Asisten Rian
"Duduklah,!" ucap Rian seraya memasukkan ponselnya dalam saku celananya
Nona Lancashire yang akrab di panggil Shire itu, duduk dengan tatapan terpesona.oleh ketampanan Rian.
"Apa ada hal yang ingin Nona sampaikan?" tanya Rian to the poin
"Apakah Tuan tidak mengingat ku, Kita adalah teman semasa kecil, Papa menyuruhku kemari untuk mengundang Tuan kerumah" ucap hati-hati Shire dalam berkata.
Terlihat Rian mengingat-ingat, tapi tidak ada ingatan sama sekali tentangnya.
"Kalau asisten ku sudah mengatakan itu, maka baiklah ... salamkan pada Tuan Deordo, aku menyetujui undangannya" ucap Rian yang mana kepalanya menengadah menatap langit-langit rumahnya.
"Baiklah kalau begitu ... saya pamit dulu, Tuan" ucap wanita yang masih terpana, namun ... Rian terlihat abai dengan tatapan dan senyuman Shire
"Apakah semua yang kau laporkan itu benar?" tanya Rian
"Kemungkinan besar begitu, Tuan. Gadis kecil itu di temukan oleh seorang wanita yang tinggal di kampung Damai," ucap Asisten Rian
'Bukankah kampung itu adalah tempat tinggal mbak Aisyah ..., mengapa kebetulan seperti ini?' bathin Rian seraya mengusap wajahnya.
"Cari lagi informasi nya dengan lengkap, lusa aku akan datang ke kampung itu" ucap Rian yang terus menengadah kan kepalanya
"Baik, Tuan* ucap Asisten itu
__ADS_1
"Berapa usia anak itu,?" tanya lagi Rian
" Kalau tidak salah usianya saat ini 24 Tahun, Tuan" ucap Asisten Li itu.
"24 Tahun, baiklah" ucap Rian.
'Benarkah cinta ... membawa bahagia, ceriakan hidup insan, Tapi kenapa cinta ini bagiku adalah bencana bagi anakku, Ia harus kehilangan Ibunya di usianya yang masih balita, apa yang harus aku katakan padanya nanti, di saat ia bertanya, Kemana Ibuku?' bathin Rian, mengingat semua pengkhianatan istrinya.
"Kau, perintahkan juga pada anak buahmu, untu memantau terus kehidupan mantan istriku" ucap Tian yang di balas anggukan kepala oleh Asistennya
Akhirnya setalah mengatakan itu, Rian beranjak pergi menuju ke kamarnya.
Disisi lain, Naura hanya diam, menatap kosong arah luar jendela hotel. Lama ia terdiam dalam keheningan sehingga semua kejadian beberapa bulan terakhir ini terlintas dalam ingatan nya bahkan hingga hari dimana ia di perkosa oleh sopir taksi yang tidak ia kenal. Air matanya menetes, ia merasa hidupnya sudah hancur dan sudah tidak ada gunanya lagi. Apa yang harus ia pertahankan dalam hidup ini, Cinta yang ingin ia perjuangkan sudah tidak ada harapan lagi, ia juga sudah di nodai oleh sopir itu, dan sekarang akan menjadi budak mantan suami dengan istri barunya, Hidup yang bagaimana lagi yang Naura harapkan.
'Jalan satu-satunya hanyalah mengakhiri semua ini, hidup ini tak adil bagiku, Kalau begitu ... aku yang akan berhenti hidup, ya ... aku yang akan berhenti hidup, dengan begitu ... semua angan-angan ku yang hancur hilang bersama hilangnya nyawaku, dan kau Aditya ... kau akan bahagia tanpa bayang-bayang cintaku lagi, aku mencintaimu, Aditya ... ' bathin Naura dengan Isak tangisnya, Kini ia berdiri dan keluar dari kamarnya membuka jalan yang menuju ke balkon kamar nya, Ia berdiri di perbatasan pagar balkon, dan melihat kearah bawah. Tinggi ... tentu, Kini Naura ada di hotel lantai 10.
'Kalau aku jatuh dari sini, kemungkinan semua rasa sakit ini akan hilang dari hidupku, cukup 1 kali sakit, maka semua sakit akan hilang' bathin Naura, bersamaan dengan itu, Yusuf masuk kedalam kamar Naura dan tidak mendapatkan Naura di ranjang, Betapa terkejutnya Yusuf saat melihat Naura di pagar pembatas balkon.
Dengan langkah cepat Yusuf menyusul Naura, dan Naura sudah merentangkan kedua tangannya, Ia ingin menerjunkan diri nya.
"Naura ... " ucap Yusuf seraya menarik tangan Naura, sehingga kini Naura tertarik dan berada di pelukan Yusuf.
"Apa kau masih waras? kau ingin bunuh diri ...? kau ingin mati, begitu ... ?" Yusuf begitu emosi namun terlihat jelas kekhawatiran dalam dirinya.
"Kenapa kau tidak membiarkan aku mati saja, sudah tidak ada gunanya aku hidup, hidupku sudah hancur, Hidupku sudah tidak ada gunanya" Naura menangis seraya berusaha melepaskan dirinya dari pelukan Yusuf
"Naura, jangan gila ... kau jangan bodoh, apa karena cintamu yang tak terbalaskan, kau akan menyia-nyiakan hidupmu, masih ada banyak orang yang membutuhkan mu, kau hanya mengunci diri dengan obsesi dirimu, sadarlah Naura ... masih ada anak yang juga membutuhkan kasih sayangmu,sadarlah ... dan buka matamu" ucap Yusuf yang masih terus memeluk Naura
"Hidupku sudah tidak ada gunanya, Yusuf. Anak itu juga sudah tidak membutuhkan aku, dia sudah memiliki Ibu yang sangat baik, Jadi biarkan dia tidak mengenalku sebagai ibunya, aku tak pantas lagi hidup, Yusuf" ucap Naura dengan masih menangis
"Naura, anak kita masih sangat membutuhkan ibu kandungnya, Sebaik-baiknya Ibu sambung, tapi Ibu kandung tetaplah yang terbaik, Naura ada rahasia besar yang harus kau ketahui, tapi tidak saat ini, Naura, Ku mohon ... buka matamu, tutup hatimu untuk cinta salahmu, Ku mohon ... anak kita membutuhkan mu, sayangi dia Naura " ucap Yusuf yang kini menatap wajah Naura yang sudah basah dengan air matanya.
__ADS_1