
"Chen, Sean, cepat tolong aku!" Tama berteriak memanggil mereka.
Chen dan Sean bergegas menghampiri Tama yang saat itu kerepotan menggendong Xia.
"Ada apa ini? Bawa saja ke dalam, ada tempat tidurnya juga di sana."
Segera Tama membawa ke tempat dimana Chen tunjukkan. Saat itu Xia malah sudah tertidur. Awalnya, Chen terus menyalahkan Xia yang selalu saja membuat keonaran. Tapi setelah mendengar penjelasan dari Tama, Chen merasa bersalah karena sudah salah sangka dengan Xia.
"Aku siram saja pakai air," Leticia gemas sekali, rasanya hendak menyiram wajah Xia menggunakan air dingin.
Hal itu langsung ditepis oleh Airyn. "Cia, kamu ini apa-apaan? Menurutmu, berapa usiamu sekarang? Apa pantas jika suasana seperti ini, kamu malah bertingkah tidak sopan? Keluar dan intropeksi diri!" tegasnya.
"Ryn, tapi—"
Airyn saat itu berusaha untuk membuat Xia bangun. Leticia yang cemburu pergi dari ruangan itu. Sama halnya Xia dan Airyn, sejak kecil memang belum pernah mendapat kasih sayang dari kakaknya. Itu sebabnya ketiga saudari ini selalu saja berharap kasih sayang dari Chen.
"Menyebalkan sekali. Kenapa kakak harus memiliki adik seperti Xia? Harusnya yang jadi bungsu itu aku, gadis itu membuatku kesal saja!" dengus Cia.
Meski begitu, Leticia tidak pernah membenci Xia. Ia hanya tidak rela saja jika kasih sayang Chen terbagi-bagi. Apalagi Airyn yang saat ini selalu perhatian pada Xia dibandingkan dengan dirinya lagi.
"Dia tidur. Pasti Ini pertama kalinya dia menenggak alkohol," ujar Airyn. "Lebih baik dia dibawa pulang aja lebih dulu, supaya istirahat dengan tenang. Acara di sini masih berlanjut, takutnya nanti dia kembali mabuk, dan ..."
Semua orang paham apa yang dikatakan Airyn. Chen mengutus Sean untuk membawa Xia pulang. Namun setelah dipikir kembali, Chen masih membutuhkan Sean untuk menghandle semua tamu. Akhirnya, Chen meminta Tama yang mengantar Xia pulang.
"Ha? Kenapa jadi aku?" tanya Tama. "Tidak, aku tidak mau. Jika nanti dia kenapa-kenapa bagaimana? Apa kalian tidak takut, aku akan berbuat buruk padanya?" lanjutnya malah konyol.
Tatapan mata semua orang yang ada di sana sudah menjawab pertanyaan Tama. Mereka percaya juga bahwa Tama tidak mungkin melakukan hal buruk itu. Mau tidak mau pria berusia 27 tahun ini harus mau membawa Xia pulang dulu.
"Terima kasih, nanti aku akan traktir kamu sepuasnya disini," ucap Sean menahan tawa.
"Aku tidak peduli!" ketus Tama. Pria ini sedang kesal.
__ADS_1
Perjalanan pulang memang selalu lebih cepat daripada perjalanan berangkat. Tama menggendong Xia ke kamarnya tanpa di bantu oleh pelayan di kediaman Wang. Menaiki anak tangga, masih harus menggendong Xia, membuat Tama lebih harus bersabar lagi.
"Alhamdulillah, akhirnya selesai juga tugasku," sambil terengah-engah, Tama bersandar di depan meja yang ada di samping ranjang.
Ketika hendak beranjak, tangan Xia menahan tangan Tama. Membuat pria itu terkejut sampai ia harus melompat, tapi tangannya masih dalam genggaman remaja imut itu.
"Astaghfirullah hal'adzim, kenapa dia masih menggenggam tanganku. Anak kecil ini, lama-lama menyebalkan juga ternyata. Sudah aku bilang, kalau aku tidak mau disentuh secara langsung. Ini malah—"
Tama terus bergeming. Sampai dimana Xia menarik tangan Tama dan kini posisi Tama bersimpuh di samping ranjang Xia. Wajah Xia yang kena sinaran lampu malam membuat Tama sedikit terpana dengan manisnya remaja itu.
"Ternyata wajahnya imut juga,"
Seketika Tama tersadar. "Astaghfirullah hal'adzim, mulutku, otakku. Tenang, dia adalah adik sepupumu, masih kecil dan belum tahu apa-apa. Tama, kamu jangan mesum!"
"Kakak ..." panggil Xia lirih.
"Kakak, kenapa kamu tidak pernah menyayangiku?"
"Mereka adikmu, aku bukan. Aku sadar itu ...."
"Kakak, tapi aku senang karena ibumu menganggapmu sebagai putrinya juga. Kakak, sisihkan kasih sayangmu untukku meski hanya sedikit. Kakak ...."
Mendengar celotehan Xia di saat mabuk membuat Tama sedih. Menjadi Xia memang tidak mudah, apapun yang dia lakukan juga selalu salah di mata orang yang ia sayangi.
"Ternyata kamu mendapatkan kasih sayang dari Chen. Jika kamu tahu betapa sayangnya dia padamu, kamu pasti akan bahagia, Xia," ucap Tama lirih.
"Kakak, aku ... huek, huek, huek ...."
Xia mengeluarkan apa yang ia makan sebelumnya di jas dan celana yang Tama kenakan. Munafik jika Tama tidak marah, tapi setelah melihat wajah pucat Xia, membuat Tama tak kuasa melontarkan amarahnya.
"Istirahatlah, lepaskan tanganku jika kamu sudah merasa jauh lebih baik."
__ADS_1
Perlahan Tama melepaskan genggaman tangan Xia. Kemudian menyelimuti tubuh Xia dan tak lupa melepas kaus kaki yang remaja sini kenakan. Satu persatu jepit yang menghiasi rambutnya juga Tama yang melepaskannya. Setelah semua selesai, pria berusia 27 tahun itu baru meninggalkan Xia di kamarnya.
Di balik pintu, Tama terdiam sesaat. Kemudian pergi ke kamarnya, membersihkan diri yang sebelumnya kena muntahan Xia.
"Malam-malam begini harus mencuci. Ah, memang nasibku sedang apes saja ini. Andai saja aku tidak menjawab telepon di luar gedung," keluh Tama.
Sreek, srekk, sreekkk
Begitu suara Tama ketika menyikat pakaiannya. Setelah di sikat bersih, barulah Tama memasukkan pakaian tersebut ke mesin cuci dan juga melakukan proses pengeringan. Malam berlalu dengan cepat, waktu pagi sudah tiba dan Tama masih sibuk dengan pakaian yang semalam ia cuci.
"Sudah kering?" tanya Airyn.
"Sudah. Tapi sepertinya ada yang tidak bagian serat kainnya karena aku gosok menggunakan sikat," jawab Tama.
"Coba sini aku lihat," Airyn meminta jas tersebut.
Chen turun dan mengatakan jika ia akan meminta Xia supaya minta maaf kepada Tama. Tapi Tama menolak karena Xia melakukan tanpa sadar.
"Ya, ini sebagai bentuk pelajaran saja buat dia. Sean, kenapa juga kamu izinkan kemarin malam dia keluar. Hasilnya jadi seperti itu, bukan?" Chen memang hobi sekali memarahi Sean dan Xia.
"Kak, kenapa jadi menyalahkan orang lain? Namanya juga musibah, siapa yang tahu?" bela Airyn.
Bintang utama telah bangun, ia baru saja keluar dari kamarnya mengenakan t-shirt dan celana pendeknya. Yah, Xia sudah mandi dan lain sebagainya. Melihat semuanya sudah berkumpul di meja makan, membuatnya tidak enak hati hendak bergabung. Merasa jika dirinya tidak dibangunkan dan tidak diajak makan bersama.
"Kalian sedang berkumpul, ya? Aku akan datang nanti saja, silahkan kalian nikmati sarapan kalian," Xia berbalik arah.
"Xia!" Chen memanggilnya.
Langkah remaja imut ini terhenti ketika mendengar kakaknya memanggil. Langsung kembali berbalik arah dan menundukkan kepalanya. "Iya, Kak." jawabnya lirih.
"Turun dan sarapan dengan kami. Kamu juga harus minta maaf pada Tama karena semalam kamu muntah di pakaiannya," perintah Chen.
__ADS_1
"Ha?"
Xia langsung menatap Tama, kemudian melihat jas yang ada di tangannya. Xia pikir semalam yang membawanya pulang adalah Sean, jadi ia berani mengatakan keluhannya tentang kakaknya. Bagaimana cara Xia minta maaf kepada Tama.