Mengejar Cinta Mas Tama

Mengejar Cinta Mas Tama
Ingin Disayangi


__ADS_3

"Ha, he, ha, he. Cepat turun!" tegas Chen menggunakan bahasa Mandarin.


Xia turun dengan langkah cepat, langsung berdiri tepat di depan kakaknya. Airyn menyentuh kedua bahu Xia dan mengajaknya duduk bersamanya. Tapi pagi itu, Xia tidak melihat adanya Leticia di sana.


"Duduklah," pinta Airyn. "Kamu jangan dengarkan ucapan kasar kakak tadi, ya." imbuhnya dengan nada lembut.


"Kakak juga. Jangan begini lagi ketika aku berada disini. Aku tidak suka adanya kekerasan fisik maupun mental. Itu terlalu kekanak-kanakan!" tegur Airyn.


Selama Airyn di rumah itu, memang dia yang terlihat dewasa pemikirannya. Xia jadi menyukai Airyn karena gadis berjilbab itu selalu memperlakukan Xia dengan baik dan penuh kelembutan.


"Siang nanti, kita semua akan berangkat ke Indonesia. Kakak dan Sean akan pergi ke Paris. Mereka menitipkan dirimu padaku, jadi ... kamu daripada kamu di rumah sendiri, kamu bersedia tinggal bersamaku, 'kan?" suara Airyn yang lembut itu membuat hati Xia tentram.


Xia menatap kakaknya, sang kakak masih saja sibuk marah-marah tidak jelas. Xia tidak tahu jika kakaknya meminta cuti untuknya selama dua minggu karena tidak mau mengajaknya ke Paris, perjalanan bisnis. Xia sadar, dirinya memang tidak bisa menjadi seperti Airyn dan juga Leticia.


"Aku akan tetap tinggal di sini saja. Mungkin kalau memang Kak Chen dan Kak Sean lama di Paris, kalian bisa mengembalikan aku ke Amerika," ucap Xia.


"Sebaiknya memang aku di sana, karena disana adalah tempatku berada, iya, seharusnya, begitu, bukan?" imbuh Xia dengan suaranya yang lirih.


"Kalian sarapan dulu saja. Aku mau keluar sebentar, bye semua ...."


Ketika Airyn hendak menyusul, Tama menahannya. Ia menjelaskan pada Airyn bahwa Xia sedang kecewa. Padahal niat Airyn baik sekali untuk membawa Xia ke pulang ke rumah dan mengenalkannya pada keluarga kandung Chen yang lain. Namun, saat itu Xia saja juga sedang kecewa terhadap kakaknya, Airyn yang baru saja mengenal Xia hanya bisa diam.


Apa yang sudah menjadi keputusan Xia tidak bisa lagi diubah. Xia meminta Sean bicara dengan Chen supaya mengabulkan permintaannya untuk kembali ke Amerika dan sekolah di sana lagi. Tak peduli bagaimana perasaan Chen terhadapnya, tapi Xia sudah lelah saja berusaha menjadi adik yang baik bagi Chen.


Setelah dipertimbangkan, Chen pun mengabulkan permintaan Xia yang minta sekolah kembali ke Amerika. Malam sebelum keberangkatannya, Xia duduk merenung di balkon depan kamarnya menatap langit malam dan gemerlapnya negara kincir angin.

__ADS_1


"Akan jauh lebih baik jika aku memang pergi," gumam Xia.


Baru saja mau sedih, tapi ada saja yang membuatnya ngakak tak tertolong karena tangannya kejepit pagar kaca di balkonnya. "Duh, sakit." rintihnya.


"Haha, jariku sampai bengkok. Apa bisa diluruskan lagi, ya?"


Xia menatap jarinya dengan fokus sampai matanya juling, pupilnya ke tengah semua. "Sepertinya aman. Huft, jariku yang cantik,"


Kembali Xia menatap langit malam. Berharap di Amerika bisa belajar dengan baik meski sebenarnya dia tidak ingin kembali lagi ke sana. Mengingat dirinya selalu dipandang sebelah mata dengan orang barat, membuat Xia sedikit ragu. Namun, ia juga masih kesal dengan kakaknya yang tidak pernah menganggapnya ada.


Tok ... tok ....


Ketukan pintu membuat lamunan Xia terpecah. Terdengar lembut ketukan tersebut, Xia yakin jika yang mengetuk pintu bukanlah Sean.


Pintu dibuka. Dugaan Xia benar, yang mengetuk pintu adalah Airyn dengan membawa makanan untuknya. Senyum Airyn yang tulus itu mampu membuat Xia luluh.


"Kak Ai, kamu ...." ucapan Xia terhenti ketika melihat menu makanan yang Airyn bawa. 'Sial. Aku sangat lapar sekali, melihat makanan yang dibawa olehnya, membuat perutku semakin bergejolak saja!' batinnya.


Airyn melihat Xia yang terus menatap makanan yang ia bawa. Wanita ini tersenyum manis, kemudian masuk begitu saja ke kamar Xia yang gelap. "Teruslah menganga sampai air liurmu itu habis, Xia." ujarnya memetik saklar lampu.


"Kamu melewatkan waktu makan malam bersama kami. Jadi, aku membawakan makanan ini untukmu," lanjut Airyn, meletakkan baki-nya di meja belajar Xia.


"Huft, kamarmu ini sangat berantakan sekali," kata Airyn, begitu melihat kamar remaja 15 tahun itu. "Um, kamu makanlah dulu selagi aku membereskan kamarmu," imbuhnya.


Tanpa mengatakan apapun, Xia langsung duduk dan menyantap makan malam yang dibuat oleh Airyn. Makanan yang belum pernah Xia coba, membuatnya terlihat rakus ketika melahap-nya.

__ADS_1


"Pelan-pelan saja. Jika kurang, masih ada di dapur. Sengaja aku sisihkan untukmu. Kakak bilang, kamu sangat suka sekali makan, makanya aku membuat porsi lebih untukmu," kata Airyn, sibuk menata boneka.


"Kakak yang mengatakan itu? Apa mungkin? Kakak siapa yang kak Ai maksud? Kak Chen, atau kak Sean?" tanya Xia dengan mulut penuhnya.


"Aku akan percaya jika yang mengatakan itu adalah kak Sean," lanjutnya menyeruput sup ala Airyn.


Aktivitas Airyn langsung terhenti, merasa sedih karena hubungan kakaknya dengan adik bungsu tidak seharmonis yang ia pikirkan. "Percaya atau tidak, yang mengatakan itu adalah kak Chen." ungkapnya.


Meski begitu, Xia tetap tidak percaya. Xia terus bergeming kalau kakaknya mana mungkin bersikap baik dan perhatian seperti itu. Sambil sibuk makan, Xia juga menceritakan hubungan sebenarnya dirinya dengan kakak tertuanya. Bagaimana dulu Xia diperlakukan dengan dingin dan tidak pernah dianggap, hal itu telah melukai perasaannya.


"Xia, apa kamu memang ingin kembali ke Amerika? Kamu saja cari kembali dari sana, apa kamu tidak mau memanfaatkan waktu dua pekan bersama dengan keluarga kakakmu?" tanya Airyn.


Xia meletakkan sendoknya. "Kata beberapa pelayan di rumah, dulu ketika ayah dan ibu meninggal, Kakak suka sekali tidak pernah menjenguk atau menemuiku. Padahal kami tinggal satu atap," ungkapnya.


"Sewaktu usiaku 10 tahun, tanpa alasan kakak mengirim ke Amerika. Lalu kemudian aku dijemput kembali oleh kak Sean setelah aku tahu tinggal di sana,"


"Aku masih tidak paham kenapa kek Sean menjemputku. Kau pikir kakak yang memintanya membawaku kembali. Tapi nyatanya, perlakuan kakak masih sama terhadapku. Bahkan malah semakin dingin dan jauh saja, seolah tidak bisa aku raih kasih sayang dari kakak,"


"Tidak hanya sampai disitu saja. Setelah 3 bulan aku tinggal di sini, tak tahu apa kesalahan yang telah aku perbuat sampai-sampai kakak membenciku dan mengirimku kembali ke Amerika. Dan satu bulan yang lalu, tanpa pemberitahuan, dia memintaku kembali, tapi perlakuannya padaku masih saja tetap sama,"


"Katakan padaku, kak. Kamu menganggapmu sebagai adikmu juga 'kan? Katakan padaku, sebenarnya sikap yang kakak berikan kepadaku itu, kenapa dan apa? Aku seolah-olah diberi harapan, kemudian harapanku juga dihancurkan olehnya,"


"Aku juga ingin disayang. Aku juga ingin diperlakukan baik seperti kak Chen memperlakukan kak Ai dan juga Leticia,"


Xia mengelap air matanya. Mengatakan bahwa dia tidak mau berharap lagi karena harapan itu sudah sirna ketika Chen membentaknya di depan Airyn dan Leticia. Maka dari itulah, Xia memutuskan untuk kembali ke Amerika meski dirinya juga tak ingin tinggal di sana.

__ADS_1


__ADS_2