
Kebahagiaan yang belum juga Xia mulai sudah kandas lebih dulu. Keberuntungan juga belum berpihak padanya. Tiket baru besok adanya dan kemungkinan Xia akan sampai esok hari juga jika tidak delay, bisa saja malam batu sampai Tiongkok.
"Dasar tidak berguna!" Xia mengamuk.
"Kakakku dikabarkan meninggal dunia, kamu hanya aku suruh untuk membelikanku tiket terbang malam ini juga. Apa gunanya kamu disini, hah!" sentak Xia.
"Nona, tenanglah. Saya sudah berusaha mendapatkan tiket itu. Tapi tetap saja tidak ada penerbangan malam ini," jelas sang asisten.
"BODOH!" Xia mengamuk.
Asisten pribadi yang secara langsung dikirim oleh Chen itu sempat di pukul oleh Xia. Namun, dia tetap saja tidak melawan karena tidak mungkin baginya melawan majikannya sendiri. Terlebih lagi, saat Xia sedang berduka, asisten tersebut hanya bisa pasrah dijadikan sebagai bahan pelampiasan.
"Kakakku tiada, kamu masih tidak bisa mengusahakan. Bagaimana aku bisa tenang, kakakku tiada!"
Xia merasa terpukul karena ketiadaan kakaknya yang meninggal akibat ledakan gedung yang digunakan sebagai resepsi pernikahannya.
***
Setelah menunggu semalaman, akhirnya Xia berangkat pagi-pagi sekali. Perjalanan terasa sangat lama jika dinanti-nanti. Tapi tetap saja akan sampai jika sudah waktunya.
"Aku harus segera ke rumah," gumamnya setelah sampai di Bandara.
Pulang dengan kecemasan dan melihat rumah kediaman Wang membuatnya sakit hati.
BLAM!!
Suara keras tendangan pintu yang Xia lakukan membuat Tama dan Sachi terkejut. Xia datang dan masuk begitu saja dengan mata yang sembab dan koper di sisinya.
Sachi ini adalah temannya istri Chen yang memang sudah dipasrahi oleh istrinya Chen untuk selalu datang ke rumah jika dirinya tiada. Seolah kematian Chen dan istrinya memang sudah direncanakan.
"Siapa dia?" tanya Sachi. "Apa Tuan mengenalnya?"
Tama menggeleng karena dia juga belum tahu jelas siapa yang datang. Orang itu adalah Xia, adik bungsu Chen yang baru saja bisa pulang dari asrama di luar negeri.
__ADS_1
"Kamu, siapa?" tanya Tama mendekati Xia yang saat itu masih mengenakan kacamata.
"Kalian siapa?" Xia malah berbalik bertanya.
"Um, perkenalkan. Saya sepupu Chen, dan dia katanya temannya istrinya sepupu saya," ucap Tama memperkenalkan diri.
"Bukan kayaknya, memang benar saya teman Lin," protes Sachi.
"Oh~
Xia tiba-tiba tertunduk lemas. Tama dan Sachi bingung dan langsung memintanya untuk berdiri. Kemudian memapahnya ke sofa. Air yang sebelumnya diberikan Sachi oleh Tama, Sachi berikan kepada Xia untuk meminumnya.
"Apa kamu sudah tenang?" tanya Sachi.
"Ragaku baik-baik saja, tapi tidak dengan hatiku. Aku sangat terluka," Xia kembali menangis. "Aku sangat terluka karena kakakku meninggalkan aku!" teriaknya.
"Sudah, sudah. Kamu bisa cerita kepada kami, apa masalahmu dan siapa kamu. Kami tidak bermaksud jahat. Jadi, ceritakan saja," ucap Sachi memeluk Xia.
Tama hanya bengong saja. Dia masih mencerna apa yang Sachi dan Xia katakan. Yang dilakukan Feng untuk mendaftarkan Tama sekolah bahasa memang ada faedahnya. Selain bisa berbincang dengan kolega yang tidak bisa bahasa Inggris, dia juga bisa komunikasi dengan yang lainnya. Feng adalah keluarga Chen juga yang tinggal sejak lahir di Tiongkok.
"Aku ingin bertemu dengan kak Chen. Kenapa kalian diam saja, temukan aku dengannya—" tangisan itu masih membuat Tama terluka hatinya.
"Xia," sebut Tama lirih.
"Kamu mengenalnya?" tanya Sachi pada Tama.
Tama mengangguk pelan.
FLASHBACK
3 bulan yang lalu, Chen memang menikahi gadis yang telah dijodohkan dengannya oleh mendiang ayah angkatnya. Mau tidak mau, sebagai anak yang berbakti, Chen pun menikahi seorang gadis yang bernama Lin Aurora.
Cinta hanya dimiliki oleh Lin Aurora sendiri karena Chen memang tidak mencintai gadis tersebut. Setelah mereka menikah hanya dengan mendaftar di catatan sipil, keduanya kembali menikah secara agama yang Chen yakini seperti agama keluarga kandungnya.
__ADS_1
Mereka menikah dan akan mengadakan resepsi di gedung yang sudah dipilih. Tidak menyangka ternyata Lin Aurora adalah putri dari musuh ayahnya. Chen bingung mengapa ayah angkatnya menjodohkan dirinya dengan putri musuhnya.
Pernikahan mereka menuai konflik besar. Chen dan istrinya harus siap mati untuk mengakhiri dendam yang ada. Resepsi yang diadakan tersebut, telah direncanakan untuk aksi pembunuhan oleh keluarga Lin Aurora. Maka dari itu, Chen juga sudah siap untuk menghadapi meski resikonya adalah kematian.
Resepsi itu membuat Chen dan istrinya terbunuh, juga membuat Sean hilang karena tidak ditemukan jasadnya. Sean yang juga baru menikah dengan Airyn, membuat Airyn terpuruk. Hilangnya Sean membuat Airyn tidak lagi memiliki senyum ramah seperti dulu.
Selama 10 bulan di Amerika, Xia memang tidak pernah berusaha berkomunikasi lagi dengan Chen seperti sebelumnya. Niatnya ingin belajar dengan sungguh-sungguh supaya bisa membuat kakaknya bangga padanya.
Sayangnya, usia tiada yang tahu. Chen pergi untuk selamanya sebelum bisa melihat Xia tumbuh dewasa dan mandiri. Begitu terpukulnya Xia juga dengan kepergian sang kakak.
"Kenapa kakakku tega meninggalkan aku dengan cara seperti ini?" ujar Xia dengan tangisannya.
"10 bulan, selama itu aku berusaha untuk menjadi yang terbaik supaya kakak mencintaiku seperti cintanya pada adik kandungnya. Mengapa dia begitu tega meninggalkan aku?"
Tangisan Xia semakin kencang saja. Membuat Sachi turut sedih mendengarnya. Bingung juga mau bagaimana karena Sachi sendiri baru tahu bahwa masih ada keluarga lain di kediaman Wang.
'Oh, gadis ini sedang mengatakan untuk bercerita. Ah, susah dimengerti tapi ya, Alhamdulillah aku sedikit bisa paham dengan apa yang dikatakannya.' batin Tama seraya mengangguk-angguk.
Xia terus menangis sambil memeluk bingkai foto Chen yang ada di ruang depan. Keduanya adalah kakak yang baik bagi Xia. "Kak Sean? Kak Sean kemana?" tanya Xia kepada Sachi.
"Kak Sean? Siapa dia? Aku tidak tahu siapa itu Kak Sean," ternyata Sachi belum mengenal betul siapa itu Sean.
Sachi dan Xia sama-sama melihat Tama yang saat itu berada di depan mereka. Raut wajah Tama sudah mengatakan bahwa ada suatu hal yang terjadi pada Sean.
"Kenapa kamu menundukkan kepala seperti itu? Bukankah kamu Kak Sean sangat dekat? Kak Ai mengatakan itu dalam suratnya, kalian dekat seperti saudara. Lalu apa arti dari raut wajahmu itu, hah!" Xia tak bisa menahan emosinya lagi.
Memang seharusnya Xia tahu keadaan Sean saat itu. Pria ini pun mengungkapkan bahwa Sean masih hilang dan kemungkinan tetap lolos dari maut ledakan gedung itu.
"Maksudnya apa?" tanya Xia.
" Penemuan jenazah yang ada di gedung terbakar itu tidak ada yang teridentifikasi atas dirinya. Sean dinyatakan tidak ikut menjadi korban ledakan malam itu," ungkap Tama lirih.
"Lalu, dimana dia sekarang? Kenapa kamu tidak mencarinya? Dia kakakku satu-satunya saat ini, tolong cari dia hidup ataupun mati, huaa ..." Xia kembali menangis.
__ADS_1
Meski Sean masih belum jelas kabarnya, Sean yakin bahwa ada harapan jika Sean masih hidup di luar sana. Sebab, pagi tadi orang suruhan Feng menemukan ada bekas tangan di pintu belakang yang diduga itu telapak tangan Sean. Gambaran dari bentuk tangan tersebut, sangat jelas jika pemilik tangan sedang berusaha untuk menyelamatkan diri.