Mengejar Cinta Mas Tama

Mengejar Cinta Mas Tama
Usilnya Theresia


__ADS_3

Sesampainya di kantor polisi, Sean dan Theresia langsung menemui sopir tersebut. Setelah hasil interogasi selesai, sopir dinyatakan tidak bersalah karena cctv menunjukkan kecelakaan itu diakibatkan oleh kecerobohan Xia dan dua teman sekolahnya.


"Tunggu, aku tau siapa mereka berdua ini!" Theresia mengenali dua siswi itu. "Hash, benar-benar mereka!"


"Kakak tampan, dia adalah siswi yang selalu melakukan perundingan di sekolah. Xia selalu menjadi target utama mereka." ungkap Theresia.


Theresia mengungkapkan bagaimana perlakuan dari dua siswi tersebut terhadap Xia. Awalnya Sean tidak percaya jika Xia memilih untuk mengalah karena pria ini tahu betul sifat Xia yang tidak pernah mau diam saja jika diganggu. Seperti yang diketahui olehnya, bahwa Xia bukan gadis yang mudah menerima penindasan dalam dirinya. Ada banyak nyawa yang telah mati di tangannya melalui racun mematikan racikannya sendiri.


Namun, semua keraguan itu terjawab ketika Theresia mengatakan bahwa Tama lah asalan pertama untuk Xia berbuat baik di sekolah. Sean semakin khawatir dengan rasa yang seharusnya belum tumbuh itu.


"Kakak tampan, apa yang harus kita lakukan terhadap dua siswi menyebalkan ini?" tanya Theresia menghancurkan lamunan Sean.


"Kami akan memanggil mereka dan orang tuanya sekalian datang kemari. Awalnya kami merasa jika mereka ini sedang bergurau. Tapi mendengar ungkapan dari gadis ini, kita menjadi yakin bahwa korban memang sedang dirundung oleh mereka," ujar polisi di sana.


"Tapi mereka masih dibawah umur. Bagaimana dengan sekolah mereka juga? Bukankah Ini sudah memasuki ujian akhir untuk kelas tingkat akhir sekolah menengah pertama?" tanya Sean.


"Benar. Tapi jika tidak ditindaklanjuti dengan tegas, maka kasus-kasus perundungan di setiap sekolah tidak akan pernah usai. Kita sebagai orang dewasa, harus mendisiplinkan mereka dengan membuat efek jera," jawab polisi.


"Kakak, apa yang dikatakan pak polisi benar. Kita harus membuat mereka ini jera. Supaya tidak ada korban pembullyan lagi di sekolah," sahut Theresia.


"Jika anda setuju dengan saran yang kami berikan, maka tolong silahkan membuat tuntutan terhadap kedua siswi tersebut. Selanjutnya biar hukum yang menangani mereka." lanjut polisi.


Sebenarnya Sean tidak ingin memperpanjang masalah. Namun, jika tidak mengikuti saran polisi, maka akan banyak calon penerus bangsa yang memiliki sikap buruk seperti itu.


"Baiklah, saya mewakili wali dari korban, dan juga sebagai kakak dari korban, saya akan membuat tuntutan atas perundungan yang telah terjadi."


Tak lupa, Sean memberi kabar kepada Aisyah jika dirinya sedang ada di kantor polisi bersama de gan Theresia. Awalnya, Aisyah masih bersikap baik karena Sean menyertakan penjelasan alasan dirinya ke kantor polisi. Namun, Theresia membuat ulah dengan mengirim foto mereka berdua di sana.


"Wah, sedang mengabari istrinya, ya?" tanya Theresia.

__ADS_1


Sean mengangguk.


"Coba kulihat!" seru Theresia merebut ponsel milik Sean. "Ciss …."


Foto tersebut dikirim ke nomor Airyn, dan kebetulan langsung dibuka olehnya. Sean menganga, gak menyangka jika gadis yang bersamanya itu bukan hanya cerewet, melainkan usil juga.


"Kamu—"


"Bercanda, kakak! Hm, istrimu pasti juga tidak akan marah. Bukankah kalian sudah saling percaya, sehingga memutuskan untuk hidup saling berjauhan? Pasti juga istrimu tidak akan cemburu denganku yang masih remaja ini," celetuk Theresia.


Mau bagaimana lagi, foto yang sudah dikirimkan tidak bisa ditarik kembali karena foto tersebut sudah dibuka oleh Airyn sendiri. Airyn yang baru saja selesai melakukan pekerjaannya, melihat foto tersebut pun menjadi tersedak karena saat itu juga dirinya sedang minum.


"Uhuk!"


Pesan gambar sudah sampai di Korea sana.


Kekesalan Airyn membuat sahabatnya heran. Bora—sahabatnya pun kemudian bertanya, "Hei, ada apa? Kenapa pipi merah seperti itu? Apa kamu sedang sakit? Atau kelelahan karena banyak pasien?"


"Iya, aku sangat kesal, marah dan ingin sekali memakan orang! Ahh!" teriak Airyn. "Lihat saja Sean, saat kamu mengingat tentangku, siapa aku, aku akan membuatmu merasakan hal yang sama! Menyebalkan!" Airyn terus menggerutu, dan membuat Bora tidak paham dengan apa yang dikatakannya.


Airyn meninggalkan Bora begitu saja, dia masuk ke ruangan timnya dan terus menatap foto tersebut dengan mata yang berapi-api.


"Lihatlah senyum bodohnya ini. Ingin sekali aku menggosokkan wajahnya ke sakuku!" Airyn masih kesal.


"Aku cemburu!"


"Haaaaa!"


"Kapan ingatanmu pulih, Sean? Seharusnya Kak Feng dan Mas Tama membawa dia kemari, di hadapanku, lalu aku bisa membenturkan kepalanya ke dinding,"

__ADS_1


"Eh, kenapa aku sangat kejam? Dia suamiku, aku mencintainya. Aghhrrr, perasaan ini membuatku gila!"


"Sean, cepat kembali, aku merindukanmu ...."


Airyn terus saja memandang foto suaminya yang tengah bersama dengan gadis muda tersebut. Namun, rasa cemburunya tidak melebihi dengan rasa kerinduannya terhadap suaminya. Airyn mengirim pesan kepada Feng untuk segera membuat Sean sembuh dan bisa berkumpul kembali bersamanya.


Di waktu yang bersamaan, mencegah adanya kesalahpahaman antara hubungan yang sedang jauh itu, Sean menelpon Airyn untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Masih mempertahankan kan emosinya, wanita itu menjawab dengan suara yang tenang meski hatinya memberontak ingin memukul keras wajah suaminya itu.


"Halo, ada apa anda menelponku, Tuan Sean? Kulihat, anda sedang berkencan dengan kekasihmu, mengapa anda menelponku?" tanya Airyn ketus.


"Anda? Tuan Sean?" sahut Sean. 'Dia jelas marah kepadaku. Ahh, aku tidak tega membuatnya marah seperti ini. Pasti dia merasa terluka.' sambungnya dalam hati.


Jika dipikiran Sean Airyn akan menangis dan terluka, sebaliknya di posisi Airyn, dirinya malah ingin sekali mengeluarkan jurus mematikan untuk suaminya sendiri.


"Um, yang ada di dalam foto itu bukan seperti yang kamu pikirkan," ucap Sean menata ucapannya.


"Oh, memangnya aku memikirkan apa, Tuan Sean? Anda saja yang terlalu berpikir, aku biasa saja—"


"Gadis ini adalah teman Xia. Aku sedang bersamanya di kantor polisi. Beberapa waktu yang lalu, Xia mengalami kecelakaan hebat yang membuatnya kehilangan banyak darah dan juga kesadaran. Setelah diselidiki ternyata dia baru bertengkar dengan teman sekolahnya. Nah, kemudian temannya ini datang ke rumah Tama, jadi …."


Merasa lega Sean sudah menjelaskan, tapi Airyn masih memasang harga tinggi kepada suaminya itu. Dengan bicaranya yang ketus, wanita itu pun kembali menjawab, 'Oh, siapa Xia? Lalu bagaimana keadaannya? Apakah itu penting bagiku? Haha, anda ini sangat lucu menjelaskan hal yang tidak penting seperti ini bagiku, Tuan Sean.'


Tapi meski Airyn menjawab dengan ketus, Sean tetap merasa lega karena suara Airyn sudah berbeda dengan awal dirinya menelpon. Pria ini tidak ingin semakin mempermainkan istrinya, ia pun hendak bergerak cepat membuat perusahaan stabil dan bisa kembali ke Korea.


"Nona Airyn, tapi sa—"


Tutt …. Tutt …. Tutt…


Telpon terputus. Airyn menutup telponnya. Sean tidak lagi mengganggunya karena dirinya yakin, jika istrinya masih membutuhkan waktu untuk bersikap asing kepada suaminya sendiri. Mau bagaimanapun lagi memang itu sudah menjadi resikonya Sean karena sudah mengambil keputusan ingin tetap berpura-pura hilang ingatan.

__ADS_1


__ADS_2