
Jantung Xia berdebar kencang ketika mau membuka map berwarna merah muda itu. Ia berlari ke kamarnya supaya bisa membacanya dengan leluasa.
Blank!!
Pintu ditutup rapat-rapat oleh remaja ini, kemudian meletakkan map berwarna merah muda itu dengan hati-hati.
"Jangan dibuka dulu. Alangkah lebih baiknya jika aku membersihkan tubuhku dulu. Benar, aku akan mandi, lalu maskeran sebentar supaya tidak terlalu larut membersihkan maskernya," gumam remaja cantik itu.
"Um, aku akan membongkar koperku dulu. Eh, tidak! Aku akan ke asrama besok, jadi sepertinya aku harus ..." gunakan Xia terhenti. "Apa aku memohon saja pada Kak Sean, supaya aku tetap menempati rumah ini, ya? Bukankah rumah ini akan tidak berpenghuni juga?"
Xia mengangguk-angguk, "Benar saja. Rumah ini hanya akan dihuni oleh beberapa pelayan saja. Jika aku tinggal di rumah ini, rumah ini jadi akan berwarna, bukan?"
"Aku adalah gadis manis kesayangan Kak Sean, dia pasti akan mematuhi dan memenuhi keinginanku!"
Xia sudah percaya diri sekali jika dirinya pasti akan diizinkan untuk menempati rumah tersebut. Bener memang rumah itu Xia, bahkan tertulis juga pemilik dari rumah itu ia remaja berusia 15 tahun ini. Tapi semua itu masih dirahasiakan oleh Sean sampai nanti Xia beranjak dewasa dan mengerti.
Setelah selesai mandi, Xia kembali memungut map merah muda yang ia letakkan di sudut ranjangnya.
"Ahh, aku hampir melupakan surat dari kakak," katanya.
__ADS_1
"Apa isinya, ya? Apakah kakak memberikan aku banyak nasihat?"
"Ash, bukan, bukan. Pasti kakak telah menuliskan banyak keluhan tentangku di dalam sini. Bagaimana ini?"
Secara perlahan, Xia memantapkan hatinya untuk membaca ke dalam map merah muda itu. Di dalamnya terdapat dua lembar yang di mana ada tulisan tangan Chen di sana. Sisanya adalah foto-foto serta ada sedikit cerita di balik foto tersebut.
"Astaga, ini fotoku saat kecil?"
"Lihatlah, Xia. Kau sangat cantik sekali saat kecil. Bahkan keimutannya melebihi dari seekor kelinci!"
Xia senang sekali memuji dirinya sendiri.
Lembar pertama.
"Hai, Xia. Bagaimana keadaanmu saat ini? Aku harap kamu baik-baik saja setelah kepergianku. Aku ingin meminta maaf kepadamu karena sejak dulu aku memperlihatkan bagaimana bencinya aku terhadapmu. Xia, percayalah ... Aku benar-benar tidak membencimu. Aku malah bersyukur memiliki adik seperti dirimu. Surat pertama ini akan aku isi dengan permohonan maafku padamu yang belum sempat aku sampaikan kepadamu secara langsung. Tolong kamu jangan lagi membenci kakakmu ini setelah aku pergi. Jujur, aku lebih tersiksa darimu, karena aku harus menjaga hatiku supaya terlihat bahwa aku tidak menyayangimu. Aku menyayangimu seperti aku menyayangi kakak keduamu (Sean) dan juga dua kakak perempuanmu (Airyn dan Leticia). Setelah aku pergi, sanggupkah kamu menjaga kepercayaanku? Dua hal yang ingin aku minta darimu. Pertama, sebelum kamu mengerti tentang dunia dewasa, tolong jangan pernah kamu mengungkapkan identitasmu yang sebenarnya kepada publik atau itu akan membahayakan dirimu sendiri. Belajarlah dengan sungguh-sungguh supaya kamu bisa menjadi orang yang teladan. Yang kedua, tolong jaga Sean dan Airyn untukku. Saat ini merekalah keluargamu. Airyn sangat menyayangimu seperti adik kandungnya sendiri. Jadi tolong berbahagialah bersama ketika surat ini sudah kamu baca. Berjanji padaku bahwa kamu akan menjadi orang yang hebat di suatu saat nanti. Aku percaya padamu, Kamu pasti bisa menjadi orang yang aku harapkan. Xia-ku, tidak akan pernah menghianatiku."
Baru lembaran pertama sudah membuat air mata Xia banjir. Selama ini dia tidak pernah tahu jika Chen sangat menyayanginya. Jan terlihat membenci dirinya karena pria itu tidak ingin Xia bergantung padanya. Chen tahu jika musuh lama pasti akan kembali, takutnya Xia tidak bisa menghadapinya. Itu sebabnya Chen mengutus Sean secara langsung supaya bisa membuat Xia menjadi orang yang hebat.
"Bahkan di surat ini, semua harta yang kakak kumpulkan akan diberikan padaku? Segitu sayangnya dia padaku?"
__ADS_1
"Aku pikir kakak tidak pernah menyayangiku. Ternyata begitu besarnya cintanya padaku sampai ia harus berpura-pura membenciku. Dia sangat yakin jika aku berbeda dari ibu, makanya dia percaya padaku?"
"Kenapa aku tahu setelah dia tiada? Kenapa Tuhan tidak pernah adil padaku?"
Xia kembali terisak, dari luaran sana, Sean mendengar isak tangis adik kecilnya itu. Sean yakin jika Xia sudah membaca surat dari Chen, yang dimana dia juga tidak tahu apa isi surat tersebut.
Kembali Xia membuka lembaran kedua. Xia memantapkan hati dulu supaya tidak terlalu larut emosinya dalam setiap tulisan yang Chen tulis.
Lembaran surat ke dua.
"Surat kali ini mungkin tidak terlalu memuaskan bagimu karena aku minta maafnya tidak banyak. Tapi tolong baca surat ini dengan cermat. Xia, Aku meninggalkan banyak harta untukmu, Aku meninggalkan nama baikku padamu. Tolong kamu jaga dan kamu kelola segala hal yang aku berikan padamu ini dengan baik. Ingat Xia, jangan pernah membicarakan Siapa dirimu yang sebenarnya kepada siapapun juga. Jangan pernah mempercayai orang lain ketika kamu masih berada di Amerika maupun di tanah kelahiranmu. Jika aku bisa mengusulkan, kamu bisa ikut pulang ke Indonesia bersama dengan keluarga kandungku yang di mana pastinya mereka akan menerimamu dengan baik. Xia, tumbuhlah dengan sangat baik, bersihkan nama baik ibumu dengan prestasi yang kamu miliki. Jika kamu membutuhkan apapun itu, kamu bisa minta tolong kepada Sean dan juga saudara-saudaramu yang lain di Indonesia. Aku jamin mereka akan selalu ada untukmu. Semua berkas sudah ada di tangannya Sean saat ini. Jagalah kakakmu itu dengan baik. Selalu ingatkan akan kesehatannya, dia mulai tidak mendengarkan aku ketika aku mengingatkan kondisinya. Xia, Aku berharap kamu menemukan laki-laki yang pantas untukmu, yang bisa membimbingmu ke arah yang lebih baik lagi. Satu hal yang perlu kamu ingat, aku selalu menyayangimu meski aku tidak pernah menunjukkannya padamu. Terima kasih karena kamu sudah lahir menjadi adikku."
Surat itu dilipat kembali oleh Xia, kemudian dijaga dengan rapi supaya suatu saat bisa dibaca kembali ketika dirinya mulai lalai.
"Kakak, kenapa kamu harus pergi secepat ini. Bahkan aku belum tumbuh menjadi gadis yang cantik, anggun, dan juga cerdas,"
"Aku tidak tahu aku harus apa sekarang. Tapi apa yang aku ucapkan sebelum ini tentang aku ingin tinggal di rumah ini, akan aku urungkan,"
"Aku akan tinggal di asrama dan menjalani hidupku seperti seorang siswi pada umumnya tanpa memberitahu identitasku yang sebenarnya. Aku akan menjaga pesan-pesan darimu ini, Kak. Kuharap kau bahagia disana bersama dengan ibumu, adikmu dan juga istrimu." tukas Xia.
__ADS_1
Malam itu, Xia langsung pergi tidur dengan harapan bisa bertemu dengan kakaknya lewati mimpi. Xia juga yakin sekali, jika Chen sudah mengutus Tama untuk menjadi walinya itu adalah suatu keputusan yang tepat. Di dalam surat tersebut, Chen juga mengatakan bahwa Ia mengutus Tama supaya bisa menata hidup Xia. Kini, Xia tidak akan pernah cemas lagi jika tidak bertemu dengan Tama. Hanya saja, remaja cantik ini sudah terlanjur jatuh hati dengan pria berusia 27 tahun itu.