Mengejar Cinta Mas Tama

Mengejar Cinta Mas Tama
Kerinduan Airyn Pada Xia


__ADS_3

Ketika makan malam bersama, Airyn bertanya tentang kabarnya Xia. Sudah lama ia tidak mengirim surat untuk Xia karena Sean menghilang dan insiden ledakan malam itu yang merenggut, kakak, kakak ipar, adik, ibu serta sahabatnya.


"Aku sudah lama.tak mendengar kabarnya. Apa dia nyaman tinggal di asrama?" tanya Airyn.


"Sepertinya dia masih harus menyesuaikan lagi. Aku benar-benar merasa Jika dia tidak ingin sekolah di sana. Tapi dia yang sepertinya memaksakan diri untuk tetap berada di sana," jawab Sean.


"Mengapa? Apa alasan dia memaksakan diri?" tanya Airyn penasaran.


Sean pun mengungkapkan perubahan yang dialami oleh Xia, setelah membaca surat dari Chen. Sean juga mengatakan jika Xia saat ini selalu diam dan menyendiri ketika di sekolah, informasi itu dia dapatkan dari pihak asrama.


"Memangnya apa yang Kak Chen katakan di suratnya?" tanya Airyn semakin penasaran.


Sean menggeleng. "Aku tidak pernah membuka surat itu. Tuan Chen sudah mengatakan surat itu untuk Xia, ya jadi hanya Xia yang berhak membukanya." jawabnya.


Jawaban Sean membuat Airyn semakin jatuh hati. Suaminya itu betul-betul bertanggung jawab dan selalu menepati janjinya. Hanya saja Airyn tidak tahu jika suaminya sedang berbohong padanya.


"Aku kasihan dengan anak itu," kata Airyn. "Bagaimana jika aku jemput saja dia?" usulnya.


"Maksudnya bagaimana?" tanya Sean.


"Sebentar lagi magang ku sudah selesai. Mungkin aku masih butuh 4 tahun untuk menjadi dokter di rumah sakit yang saat ini aku jadikan tempat magang," ujar Airyn. "Tapi entah kenapa aku ingin melanjutkan pendidikanku di Indonesia saja," ungkapnya.


Sean tak sadar, ia menggenggam tangan Airyn. Tatapan mata pria itu begitu dalam, suaranya yang lirih dan wajahnya yang tampan itu membuat Airyn pun juga terbuai jadi dia tidak sadar bahwa suaminya saat itu sedang menggenggam tangannya.


"Hei, apa kamu sudah memikirkan apa yang kamu katakan ini dengan sungguh-sungguh?" tanya Sean.


"Airyn, aku tidak ingin kamu menyia-nyiakan usaha kamu," suara Sean begitu lirih, sampai membuat Airyn terbuat. "Bukankah mengejar ilmu kedokteran di sini adalah cita-citamu sejak kecil?" Sean mengingatkan lagi.


Airyn tidak tega saja dengan Xia. Tapi dari pembicaraan itu, Sean mengungkapkan apa yang ia rasakan tentang Tama yang dinilai memiliki perasaan terhadap Xia.


"Heh, mana mungkin Tama suka dengan anak kecil seperti, Xia. Kamu ini ngawur saja!" tentu saja Airyn menepis pernyataan suaminya.


"Jika kamu menyaksikannya sendiri bagaimana cara Tama bersikap pada Xia, maka kamu akan paham, Sayang," ujar Sean, keceplosan memanggil Airyn dengan panggilan Sayang.

__ADS_1


Panggilan itu membuat Airyn tersipu. Pipinya memerah dan makannya jadi lambat. Meski tidak protes, tetap saja Airyn merasa malu, bahagia, dan perasaan lainnya campur aduk.


***


Selama pelajaran, beruntung saja Xia mampu mengikuti dengan baik. Genap 1 bulan ia sudah berada di asrama sekolah. Meski bersikap manja, pada dasarnya remaja ini memang cerdas. Jadi bisa mengikuti pelajaran yang tertinggal dalam waktu singkat.


"Huft, sudah lebih dari seminggu mengapa Kak Sean tidak memberiku kabar. Bagaimana kabarnya, ya?" gumam Xia, kala sendirian menatap senja lewat jendela kamarnya.


Senja itu mengingatkan dirinya pada seorang pria yang telah mencuri hatinya, yakni Tama. Tiba-tiba saja wajah manis Tama muncul dalam bayangan mata remaja cantik itu.


"Astaga, sungguh menyebalkan. Rindu ternyata berat juga, ya ...." celetuknya.


"Kira-kira kapan aku bisa menatapnya lagi, ya?"


"Berhadapan dengannya, memandang wajahnya, kemudian memeluknya—eh, mana bisa memeluknya. Yang ada nanti aku didorong ke laut dengannya,"


"Oh, Kak Tama, aku sangat merindukanmu."


Sudah sebulan lamanya Xia berada di sekolah asrama tersebut. Semenjak kembalinya Xia ke Amerika yang terakhir itu, ia menjadi pendiam. Beberapa teman yang tidak menyukainya semakin senang saja karena Xia tidak pernah membalas jika dicaci oleh mereka.


___


Pagi hari sebelum memulai kegiatan belajar mengajar. Xia duduk di pojokan kelas sambil menatap langit di luar. Xia memang duduk di paling ujung kelas yang dekat sekali dengan jendela dan belakangnya loker murid.


'Tuhan, kenapa hidupku sekarang terasa hampa?' batin Xia.


Xia merasa memang sejak kepergian sang kakak, membuatnya enggan melakukan hal yang membuat orang tertarik padanya, dalam arti tertarik itu adalah, membuat onar sampai dirinya terkenal di sekolah dengan reputasinya yang buruk.


"Hei, katakan padaku. Sebenarnya kamu ini siapa? Kenapa kamu bisa tidur di ruangan yang khusus di asrama sekolah ini?" tanya seseorang yang tiba-tiba saja datang menyambar.


Namun Xia tidak terkecoh, dia masih sibuk melamunkan masa depannya yang tidak jelas pastinya. Remaja berambut warna pirang itu sampai harus menggebrak meja supaya Xia menanggapinya.


"Woy!"

__ADS_1


BRUAK!!


"Hei, bodoh! Apa kau juga tuli selain menjadi gadis yang bodoh? Aku bertanya padamu, astaga ...." remaja berambut pirang itu masih tak gentar.


"Benar-benar membuatku muak. Dia sendiri yang bodoh tapi ngatain orang bodoh," Xia jadi menggerutu.


"Apa katamu? Aku tidak dengar, bodoh!" ketus remaja berambut pirang itu lagi.


Remaja itu bernama Amber. Usianya lebih tua tiga bulan dari Xia. Gadis blasteran itu juga merupakan siswi pindahan tiga tahun lalu dari negara Thailand. Ayahnya asli Amerika dan ibunya orang Bangkok.


"Katamu aku bodoh? Sekarang lihatlah siapa yang jauh lebih bodoh dan tuli—Amber Keith ... oh, astaga, nama belakangnya susah sekali di eja," desis Xia, membaca nama lengkap Amber melalui name tagnya.


"Apa katamu!" Amber berteriak.


Plak!!


Xia langsung menampar pipi putih mulus Amber. Xia sangat benci diteriaki, apalagi teriakannya dengan bahasa dan Nafa yang kasar.


"Kamu menamparku? Apa kamu tidak tahu siapa aku, gadis China!" Amber mulai emosi. Bukan mulai, tapi remaja itu memang sudah emosi.


Plak!


Sekali lagi Xia menampar Amber, kali itu dengan sedikit pelan. Xia mendekatinya, "berkelahi dengan menyebut ras, suku, bahkan budaya daerah itu tidak etis, Amber." katanya.


"Hm, kenapa juga aku harus menjelaskan hal ini padamu? Bukankah kamu gadis yang bodoh?" ledek Xia.


Ketika Amber hendak mengangkat tangannya, mau menampar Xia, ada tangan yang menghentikan tangannya Amber.


"Siapa yang be—" Amber baru saja ingin marah karena ada yang menahan tangannya. Sayangnya, ketika ia mengetahui siapa yang mencegah tangannya menampar Xia, Amber terbungkam.


"Ini kelas tempatnya belajar, bukan tempat saling bertengkar," ujar seorang itu.


Siapa dia? Dia seorang laki-laki yang merupakan kakak senior di sekolah itu. Jadi sekolah itu memang tingkatannya dari sekolah dasar sampai sekolah menengah atas. Diketahui laki-laki itu sekolah menengah atas tingkat dua. Siapa laki-laki itu?

__ADS_1


__ADS_2