Mengejar Cinta Mas Tama

Mengejar Cinta Mas Tama
Perkenalan Xia dengan Kedua Adik Kakak Kesayangan


__ADS_3

Sore hari, ketika semuanya berkumpul di ruang tengah, Xia baru keluar saja dari kamarnya. Ia berjalan ke dapur untuk minum dan membuat cemilan karena siangnya belum makan apapun. Ketika melewati ruang tengah, Xia mendengar ada suara wanita yang sedang tertawa dan wanita yang satunya sedang bercerita. Namun ia tidak paham dengan apa yang diucapkan oleh wanita itu, karena menggunakan bahasa lain.


"Siapa mereka? Terdengar asik sekali mereka bercanda ria," gumam Xia dalam hati.


Xia melewati ruang tengah dan melihat ada pria yang sebelumnya sudah berkenalan dengannya, lalu Sean dan yang lainnya adalah dua wanita. "Pria itu juga masih disini? Huh, rumah menjadi ramai. Aku tidak suka!" kesalnya dalam hati.


Tanpa menyapa orang yang ada di ruang tengah, Xia jalan saja menuju dapur dan mulai membuat camilan yang dia mau. Sore itu, Xia berencana membuat pie susu untuk teman mengerjakan tugas yang wali kelas berikan kepada untuk cutinya selama dua minggu.


Sekitar dua jam, barulah Xia berhasil membuat pie susu sendiri. Makanan yang berasal dari Bali itu pertama kali Xia cicipi ketika usianya menginjak 3 tahun. Dari sana Xia sudah mulai menyukai makanan tersebut.


Setelah selesai, Xia mau membawa ke kamar untuk teman belajar. Sayangnya, ketika remaja ini melewati ruang tengah, Sean memanggilnya. "Nona Xia!"


Langkah Xia terhenti, kemudian menoleh ke arah Sean.


"Kemarilah, kita berkumpul disini," ajak Sean dengan senyuman.


"Huh, mengapa dia malah mengajakku bergabung? Aku memang suka dengan keceriaan dan juga hal yang menyenangkan. Tapi dua wanita itu ..." ucap Xia dalam hati.


Sean menarik tangannya yang saat itu masih membawa piring dengan kue pie di atasnya. "Eh!"


Sean memperkenalkan Xia kepada kedua adik dari kakaknya. Tapi Xia hanya tersenyum sinis karena memang masih memiliki rasa cemburu kepada kedua adik dari kakaknya itu. Sean yang tidak ingin suasana menjadi tegang karena kedua adik Chen hanya diam saja, berusaha mencairkan suasana dengan melontarkan candaan kepada Xia.

__ADS_1


"Hei, apa yang kau buat ini, Nona Xia?" tanya Sean, mengambil piring dari tangan Xia.


"Jangan ambil itu ...." sayangnya, Sean tidak menggubris apa yang dikatakan Xia.


Makanan itu diambil oleh Sean, lalu dibagikan kepada kedua adik Chen dan juga Tama, sepupunya Chen. Xia ingin marah, tapi itu hanya perkara makanan. Ia selalu teringat dengan kata-kata kakaknya untuk tidak ribut tentang makanan dan harus selalu bersyukur.


Salah satu adik dari Chen langsung melahap banyak pie susu yang dibuat Xia, sementara Tama dan adik Chen yang lainnya mengurungkan niatnya untuk makan ketika melihat raut wajah Xia yang sedih.


"Ada apa ini, seperti kalian sedang bahagia?" Chen tiba-tiba datang dengan membawa dua paper bag di tangannya.


"Kak, adikmu sangat pandai sekali membuat makanan. Enak sekali makanan buatannya," sahut salah satu adik Chen yang sebelumnya sudah melahap habis pie susu buatan Xia.


Chen hanya tersenyum tipis, kemudian menyambut kedua adiknya dengan memberikan paper bag yang ia bawa. Xia menatap tangan kakaknya yang melewatinya. "Kak, untukku?" tanya Xia, pertanyaan polos yang ketua saja selalu seorang adik minta kepada kakaknya.


Xia langsung menunduk. Menghela napas pelan, kemudian berkata, "Baiklah, kalian nikmati saja waktu kalian. Aku akan kembali ke dapur membawa nampan ini."


Tama dan salah satu adik Chen yang satunya saling bertatap. Tama memberikan kode kepada adik Chen itu untuk menyusul Xia. "Kak, aku mau ke dapur sebentar, aku haus." katanya sebagai alasan.


Usia Xia masih 15 tahun. Wajar jika dia memiliki rasa iri, apalagi dengan keadaan hubungan dirinya bersama sang kakak. Di dapur, Xia terus murung dan kembali mengolah bahan untuk membuat pie susu. Sebagian orang mungkin akan merasa kecewa dan tidak berselera lagi untuk makan ketika direcoki. Tapi tidak dengan Xia yang memang dirinya sudah lapar dan hanya ingin makan pie susu.


"Hei," sapa adik Chen yang sebelumnya tidak ikut makan pie susu buatan Xia.

__ADS_1


Xia menoleh, memberikan senyum tipis, kemudian sibuk mengolah adonan lagi.


"Aku mendengar dari Sean kalau kamu tinggal di Amerika sebelumnya. Jadi, aku harap bahasa Inggris yang aku gunakan, mudah kamu pahami," ucap adik Chen.


Xia diam.


"Aku datang kemari untuk meminta maaf atas nama adikku itu. Dia memakan semua pie susu yang kamu buat dengan susah payah. Aku ingin kamu memaklumi perilakunya juga tidak mungkin, karena usia pun cowok lebih tua dibandingkan dengan dirimu," lanjut adik Chen.


"Sejak kecil dia tidak pergi dengan baik kami tidak tinggal bersama. Aku tidak ingin mengadu nasib denganmu, tapi kedatanganku kemari ... selain meminta maaf atas kesalahan adikku, aku juga ingin membantumu membuat makanan,"


Xia masih diam saja dan fokus mengolah adonan. Kekesalannya memang wajar karena sikap salah satu adik dari kakaknya sudah keterlaluan. Ditambah lagi, kakaknya juga sudah mulai terlihat membedakan dirinya dengan adik-adik kandungnya.


"Apa kamu tidak ingin membuatkan makanan kesukaan kakak kita?" ucapan adik Chen membuat aktivitas Xia terhenti. "Jika kamu tidak perlu resep rahasia makanan kesukaan kakak, maka aku akan kembali ke ruang tengah,"


Adik Chen mulai memancing Xia. Ketika baru saja melangkahkan kaki satu langkah, Xia menghentikannya. "Tunggu!"


"Iya?" adiknya Chen membalikkan badannya dengan senyum ramahnya.


"Sebenarnya aku tidak menerima permintaan maaf kamu karena yang seharusnya minta maaf bukan kamu. Tapi demi kak Chen ... aku mau kau mengajariku membuat makanan kesukaan kakak," Xia kalah.


Mereka pun sepakat untuk memasak bersama untuk makan malam sebelum pergi ke pesta. Acara pesta itu akan dimulai pukul sepuluh malam nanti, jadi mereka pasti akan makan terlebih dulu di waktu sebelum acara dilaksanakan.

__ADS_1


Keduanya saling berkenalan. Nama kedua adik Chen adalah Airyn dan Leticia, yang saat itu menyusul Xia ke dapur adalah Airyn. Gadis yang baik, penuh pengertian dan lembut perilakunya. Kekurangan dari Airyn adalah, dia tidak bisa membaca map, atau arah dan selalu saja mengalami gangguan ketika di jalan menentukan arah.


Sementara Leticia, gadis yang hampir mirip sifatnya seperti Xia. Lucu, banyak sekali tingkah, paling suka makan dan selalu membuat onar. Antara Airyn dan Leticia dilahirkan menjadi saudara kembar. Selisih usia mereka dengan Chen hanya dua tahun saja. Latar belakang keluarga ibu Leticia masih menjadi misteri, sedangkan latar belakang ayahnya Airyn sangat jelas seperti Tama yang keluarga besarnya adalah seorang yang agamis.


__ADS_2