Mengejar Cinta Mas Tama

Mengejar Cinta Mas Tama
Sean Pamit Pulang


__ADS_3

Rencana hanya seminggu di Amerika, Sean malah membutuhkan waktu sampai 18 hari di sana. Dirinya sibuk mencarikan asrama yang jauh lebih baik lagi untuk Xia dari sebelumnya. Sayangnya, memang asrama pilihan Chen sebelumnya sudah sangat bagus. Belum juga mengubah semua aset yang Chen yang hendak diberikan kepada Xia dengan atas nama Xia sendiri. Dimana itu hanya akan digunakan ketika Xia berusia 18 tahun, dan jika Xia belum memenuhi umur segitu, maka harus meminta persetujuan dari Tama terlebih dahulu.


Tepat di hari ke 19, Sean akhirnya mampu menjalankan semuanya dengan mudah. Fokusnya menyempurnakan langkah perusahaan di Tiongkok dari Amerika, membuahkan hasil yang memuaskan.


"Alhamdulillah, akhirnya semua stabil dalam waktu tiga hari ini. Aku bisa pulang ke Korea menemui istriku," gumam Sean, membereskan beberapa berkas yang sudah ditandatangani.


"Tapi, bagaimana caraku bicara dengan Airyn? Dia taunya aku hilang ingatan, lalu … bagaimana jika dia tidak mau menerimaku?"


Tok … Tok … Tok…


Suara pintu diketuk. Sean mempersilahkan siapapun orang yang mengetuk pintu tersebut. Seorang wanita dengan pakaian kantornya yang sedikit ketat, seksi dan sampai buah peach-nya mengembang.


"Perkenalkan diri terlebih dah. Lalu katakan apa yang kamu inginkan," perintah Sean, padahal belum menatap wanita tersebut.


"Tuan, saya sudah di sisi anda selama seminggu terakhir ini. Um, apa Tuan tidak mengenali saya?" ujar wanita itu.


Tangan Sean terhenti, sepasang matanya perlahan menatap siapa wanita itu. Setelah dirasa cukup melihatnya, Sean langsung memalingkan wajah dan melanjutkan kesibukannya.


"Maaf, saya tidak memahami siapa dirimu. Selama saya disini, saya tidak memandang siapapun juga kecuali asisten saya," kata Sean dengan sikapnya yang dingin. Persis sekali dengan sikap Chen sebelumnya. Sean benar-benar seperti Chen saat itu.


'Sial! Orang Asia ini rupanya sangat susah di senangi!' umpat wanita tersebut dalam hati.


"Ada apa? Mengapa kamu datang ke ruangan saya?" lanjut Sean bertanya.


"Oh, saya dengar hari ini anda akan mengambil cuti. Bisakah saya mengantar anda jalan-jalan sebentar menikmati kota ini?" wanita itu berusaha keras.


"Maaf, tapi saya tumbuh besar disini. Jadi tidak perlu melihat-lihat pemandangan lagi. Jika tidak ada yang dikatakan lagi, pintu keluar ada di sana," tegas Sean, menunjuk pintu.

__ADS_1


"Baik, Tuan. Saya permisi dulu jika seperti itu__" wanita itu pergi dengan mengepalkan tangannya.


Jangankan berpaling dari Airyn, bersama dengan Yu Liu yang super menggoda saja Sean sama sekali tidak tertarik. Apalagi dengan wanita yang bekerja menjadi sekertaris di perusahaannya sendiri.


Wanita itu terus saja menggerutu, dirinya ingin sekali mendekati Sean karena memang status Sean dengan Airyn belum pernah dipublish ke perusahaan yang ada di sana. Meski begitu, bukan Sean tidak mau mempublikasikannya. Hanya saja menjaga supaya Airyn tetap aman, salah satu alasannya mengapa dirinya tidak pernah menyinggung statusnya.


Sebelum melakukan penerbangan jauh ke Korea, Sean menemui Xia terlebih dahulu di asrama khusus putri itu. Sean tidak ingin Xia kecewa ketika membutuhkan dirinya, tapi ternyata ia sudah pulang tanpa berpamitan.


***


Di ruang pertemuan, Xia yang masih mengenakan seragam sekolahnya menghampiri Sean. Selama 17 hari di asrama, Xia juga sudah menunjukkan perubahan yang positif. Ia menjadi siswi yang memiliki ketenangan dan bicara dengan baik tanpa merengek dan protes dalam bentuk apapun sebelum lawan bicaranya selesai bicara.


"Xia, kau masih belajar?" tanya Sean berdiri menyambut kedatangan Xia.


"Duduk saja, aku akan duduk di sini. Sebenarnya, untuk apa kau menemuiku di waktu jam pelajaran? Bukankah baru satu tiga hari yang lalu kau menemuiku?" tanya Xia, duduk dengan anggun.


"Maksudnya apa? Kau sudah mau pulang? Menemui istrimu—Kak Airyn?" tanya Xia.


Sean mengangguk.


"Jika seperti itu, kamu tidak harus memberikan semua uang ini kepadaku, bukan? Kamu bawa saja, lalu bisa kamu transfer uangnya ke pihak yayasan sekolah asrama ini," ujar Xia.


"Keperluan sekolah sudah langsung ditransfer ke sekolah. Ini untuk kebutuhanmu sendiri. Amanah Tuan Chen, harus aku lakukan. Aku tidak mungkin bisa mengunjungimu seminggu sekali lagi. Jadi, tolong terima ini."


Sangat jelas sekali Xia sedang marah pada Sean. Itu bisa jelas terlihat ketika Xia menyebut Sean dengan sebutan 'kau' bukan 'kakak' seperti biasanya. Bentuk dari menghormati pemberian kakaknya, Xia pun akhirnya menerima buku rekening tersebut. Xia harus benar-benar sendiri menghadapi hidup.


"Jika ada apapun juga, kamu harus tetap menghubungiku, Tama ataupun Feng juga, ya. Kita akan selalu ada untukmu, Xia. Tetap semangat belajarnya, aku ingin melihatmu sukses dengan cita-cita yang kamu inginkan itu." tukas Sean, menyentuh bahu Xia.

__ADS_1


Tak terasa, air mata Xia menetes. Kepergian ibunya, Tuan Wang dan juga Chen—kakak kesayangannya memang membuatnya terluka. Tapi setelah mendapat kasih sayang dari ketiga pria yang selalu ada untuknya, rasanya berat sekali dirasa oleh gadis remaja itu.


"Aku mengerti, selamat jalan dan selamat bertemu kembali suatu hari nanti—Kak Seab," lirih Xia.


Mendengar sebutan kakak dari mulut Xia, membuat Sean kembali tersentuh. "Kamu, akhirnya Kamu memanggilku dengan sebutan itu lagi, kakak?" tanya Sean memastikan.


Xia menatap mata Sean. Matanya berkaca-kaca dan kemudian mengangguk dengan tetesan air matanya yang membasahi pipi. Hanya menggigit bibir, kemudian kembali mengangguk.


"Kenapa? Kenapa baru sekarang kamu memanggilku dengan sebutan Kakak lagi setelah 19 hari disini? Apa aku sebelumnya tak layak menjadi kakakmu lagi, setelah aku mengatakan jika aku mau ke Korea?" Sean menyentuh pipi Xia dengan lembut.


"Dari sekian kerabat Ayah Wang yang ada, mereka sama sekali tidak peduli padaku. Kata aku masih hidup atau sudah mati, bolehkah sama sekali tidak pernah menanyakan tentang keadaanku. Hanya Kakak yang selalu ada untukku dan selalu menerima aku dalam setiap … setiap—"


Ucapan Xia terhenti karena begitu sesaknya ia mengingat kepahitan hidupnya yang sejak dulu seakan tidak pernah diharapkan kehadirannya. Sean memeluk dengan erat tubuh remaja itu dengan kasih sayangnya.


"Jangan pernah menengok kebelakang lagi jika itu membuat hatimu terluka. Tataplah masa depan, fokus dengan belajarmu, jangan pernah gagal seperti ibumu dan juga ayah kandungmu, Xia. Kamu harus menjadi dirimu yang sesungguhnya. Aku yakin, kamu pasti jauh akan lebih hebat dari Tuan Chen." kembali Sean memberikan cahaya semangat untuk Xia.


Xia membalas pelukan Sean, kemudian menangis tersedu-sedu karena orang yang paling berarti setelah semuanya meninggalkannya, akan pergi jauh darinya.


"Jujur sekali, Aku sedih Kakak akan pulang secepat ini. Tapi disisi lain, istrimu—Kak Airyn sudah menantimu sangat lama. Jadi pulanglah dan segera memberiku keponakan yang lucu, hm?" ujar Xia dengan senyumannya.


"Aku ingin menjadi bibi dari anakmu nanti. Bisakah kau dan istrimu memberiku itu? Aku akan mengajarinya naik sepeda nanti," lanjut Xia.


"Apa kamu bisa naik sepeda? Bahkan kamu saja tidak bisa duduk di jok belakang sepeda. Untuk apa kamu mengajarkannya?" ujar Sean mencolek hidung Xia.


"Baiklah, aku akan mengajarinya menjadi seorang ilmuwan sepertiku. Aku janji akan menjadi yang terbaik, kak. Datanglah di saat kau senggang, selalu ingat aku dan jangan putus hubungan denganku. Katakan kepada Kak Airyn kalau aku sudah berubah. Kak, aku ingin disayangi oleh semua orang juga__"


Mereka kembali berpelukan. Sean sangat bersyukur Xia sudah berubah menjadi jauh lebih baik lagi. Pelajaran yang mampu diambil Xia adalah, lebih banyak mengucap syukur karena apa yang dimilikinya saat ini, belum tentu semua orang bisa memilikinya.

__ADS_1


Dahulu, ibunya selalu mengajarkan tentang dendam, pembalasan, kekerasan, pembunuhan, kekuasan dan juga hal buruk lainnya sebagai manusia egois. Itu sebabnya, Xia menjadi anak nakal dan jahat yang tak pernah disukai oleh siapapun, termasuk di sekolah asramanya dulu.


__ADS_2