
Sampai di Kota, tepat pukul 1 dini hari. Tak tahu kemana arah tujuannya, Sean memberhentikan mobilnya tepat di depan gedung yang pernah meledak ketika digunakan untuk acara resepsi pernikahan Chen dan Lin Aurora. Berharap tempatnya masih sama, bekas ledakan itu masih ada karena memang belum diperbaiki dan di renovasi.
Melihat gedung itu sudah kembali megah, membuat Sean malah semakin sedih. Teringat beberapa minggu lalu, ketika malam sebelum ledakan terjadi, dirinya masih sempat mengobrol bersama dengan Chen.
"Kenapa berhenti. Apa kita sudah sampai?" tanya Feng terbangun.
"Tuan Hao, saya tidak tahu harus membawa kalian kemana. Maka dari itu, saya berhenti di sini," jawab Sean.
"Kenapa begitu formal menjawabku? Bersikaplah seperti sebelumnya. Kita ini saudara, lagipula kau jauh lebih tua dariku. Panggil saja aku Feng dan jangan lagi bicara formal kepadaku." ujar Feng membenarkan posisi duduknya.
Sean menunduk. "Hm, lebih tua beberapa bulan saja 'kan? Mengapa harus di bahas?" gumamnya lirih.
Sean kembali melihat gedung yang menjadikan dirinya terakhir mengabdi ke keluarga Wang yang telah membuatnya menjadi orang yang hebat. Feng juga menatap gedung tersebut, mengingatkan akan kejadian malam ledakan dan mengingat Airyn yang histeris malam itu.
"Ada apa? Kenapa mobilnya berhenti? Apa kita sudah sampai rumah?" Tama menyusul terbangun.
"Maaf jika mengganggu tidurmu. Aku hanya tidak tahu dimana kalian tinggal saat ini. Jadi, aku berhenti di sini," sahut Sean.
"Biarkan aku yang menyetir. Aku akan membawa kalian semua pulang," ucap Tama hendak turun dari mobil.
"Tidak perlu. Kalian katakan saja, dimana kalian tinggal. Atau kalian tinggal di kediaman Wang?" tanya Sean lagi.
Feng pun mengatakan bahwa kediaman dan seisinya sudah ia lelang. Semua uang hasil lelang juga sudah masuk ke rekening pribadi Airyn yang nantinya akan di urus olehnya untuk Xia. Mendengar itu, Sean menjadi sedikit terkejut.
"Di lelang? Lalu, bagaimana dengan perusahaan?" tanya Sean.
"Selama kau hilang, perusahaan yang ada di sini semuanya di tangani oleh Tama dan Ayden. Hish, anak itu harus bolak balik ke sini dan ke Korea hanya membantu menyetabilkan perusahaan," jawab Feng.
Ayden adalah sepupu Chen juga. Chen terlahir di keluarga besar yang memang banyak sekali sepupunya. Namun, mereka akan muncul di saat semuanya kesusahan saja, jarang sekali mereka bersatu dan kompak seperti itu.
"Tuan Jin dan Faaz, mereka mengatur ahli waris dari perusahaan dan semua harta milik keluarga besar Wang dan juga Lim, kasihan mereka berempat harus terlibat," lanjutnya.
__ADS_1
"Tunggu, keluarga Lim? Seluruh keluarga besar Wang? Maksudnya?" Sean masih belum paham.
Tuan Jin adalah seniornya Airyn ketika kuliah di Korea. Sedangkan Faaz adalah sepupu dari Chen dan Airyn juga. Jadi, keluarga besar mereka ini memiliki anak yang bernama, Chen, Leticia dan Airyn satu orang tua, kemudian ada Tama, Feng, Ayden dan juga Faaz. Mereka terlahir di keluarga orang hebat semua. Satu nenek dan satu kakek. Orang tuanya lah yang kakak beradik. (Tenang, meraka nggak akan muncul semua, kok)
Memang tidak ada yang perlu disembunyikan dari Sean. Feng mengatakan jika hanya Xia yang masih tersisa di keluarga Wang. Saudara Tuan Wang yang lain pergi ke luar negeri untuk melanjutkan hidup mereka, bahkan ayah kandung Xia yang diketahui masih hidup saja, tidak mau menerima keberadaan Xia dan lebih memilih pergi membawa harta warisannya.
Tak hanya tentang keluarga Wang saja yang Feng ceritakan. Tama pun juga mengatakan bahwa Leticia juga sudah pergi setelah melahirkan seorang putri yang cantik untuk suaminya. Semuanya pergi bersamaan, meski Leticia meninggalnya beberapa hari setelah ledakan itu.
"Nona Leticia … maksudmu, dia? Bagaimana bisa?" tanya Sean masih tidak menyangka dengan kabar yang Feng sampaikan.
"Pendarahan hebat dan memang sudah ajalnya saja. Kita juga tidak tahu harus berbuat apa. Umur itu rahasia Tuhan, Sean," jawab Tama. "Aku pun tidak menyangka jika Cia juga akan menyusul," imbuhnya.
"Dia meninggal sehari setelah ledakan itu terjadi. Aku rasa dia terpukul dengan meninggalnya Ibunya. Kita semua tahu, bukan? Leticia memang sejak bayi dibesarkan oleh Ibunya," sahut Feng.
"Jadi, apa kau bisa merasakan yang istrimu rasakan, Sean? Dia sangat terluka dan pasti sangat sulit menjalani hidup. Ditambah lagi, kau hilang selama beberapa minggu," timpal Tama.
"Hash, apakah kalian ingin menyingkirkan aku juga, menyusul keluargaku? Aku terserang hipotermia Astaga!" teriak Xia tiba-tiba. "Kalian pikirkan aku juga, aku masih hidup!" kesalnya.
"Bertahanlah, aku akan membawamu pulang secepatnya." ujar Sean. "Dimana kalian tinggal?" tanyanya.
"Apartemen ini—" tunjuk Tama.
Segera Sean membawa mereka menuju ke apartemen tersebut.
Setelah sampai, Feng memberikan kode pin rumahnya kepada Sean untuk ditempati selama Sean di Tiongkok. Feng juga harus stay di rumah sakit karena masa cutinya sudah habis. Begitulah sibuknya Feng sebagai tertua di keluarga besarnya.
"Kamu menyewa apartemen di sebelahku, tapi kamu tidak mengatakan padaku?" desis Tama. "Kurang ajar memang kamu!"
"Siapa kau? Untuk apa aku memberitahumu?" ketus Feng. "Lagipula ini beli, bukan sewa, dodol! Aku tidak semiskin itu epribadeh!" Feng menepis ucapan Tama yang saat itu masih kesal padanya.
"Aku tidak menyangka jika kamu sepicik itu, Feng!" Tama dan Feng memang selalu saja berdebat.
__ADS_1
Tama membalikkan tubuhnya dengan kasar. "Aku bisa tinggal bersamamu jika kamu tinggal di sebelah apartemenku, Feng!" seru Tama mulai nada tinggi.
"Aku yang malas tinggal bersamamu. Kamu selalu saja mengajakku ribut. Jika kita tinggal bersama, aku yakin, aku akan cepat tua karena terus marah-marah karenamu!" sahut Feng juga nada bicaranya mulai meninggi.
Xia berteriak. "STOP!"
"Agghhhrrr, sampai kapan kalian ingin bertengkar, hah! Aku mengantuk, lelah dan malas bersama kalian lagi. Bye!" Xia masuk ke rumah lebih dulu.
Mereka bertiga memang heboh jika sudah jadi satu. Meski susana ramai dan sudah aman, tetap saja Sean merasa sedih atas semuanya yang terjadi. Meninggalnya seluruh keluarga besar yang telah membesarkannya membuatnya begitu kehilangan.
"Apakah aku bisa masuk dulu? Aku juga mau istirahat," ucap Sean menyela perdebatan Feng dan Tama.
Feng mempersilahkan dan segera pergi ke rumah sakit. Sedangkan Tama, tetap masuk ke rumahnya sendiri karena tidak mau mengganggu waktu Sean istirahat. Sebenarnya, Feng belum tugas malam itu. Hanya saja, memang ingin memberikan waktu Sean sendirian.
***
Malam yang sunyi sepi, Sean masih duduk diam di atas ranjang dengan lampu yang padam. Mengingat akan masa kecilnya ketika di angkat menjadi angkat kedua oleh Tuan Wang setelah Chen berusia 9 tahun kala itu.
Tuan Wang juga memasukkan Sean ke sekolah internasional yang sangat bagus. Mendiang kakaknya, adik sepupunya, semua juga hidup di bawah naungan Tuan Wang.
'Tuan, maafkan aku. Maafkan aku yang tidak menjaga Tuan Muda dengan baik. Tapi kenapa kalian pergi semua meninggalkan aku?'
'Tuan Chen, kenapa kamu mendorongku saat itu? Padahal kita bisa pergi bersama menghindari ledakan itu.'
Malam itu, tangisan Sean pecah ketika di kamar. Hatinya begitu sakit kehilangan semua orang yang berarti baginya. Bagi Sean, masih banyak yang belum ia wujudkan untuk keluarga yang telah membesarkannya itu. Memang seorang pria, tapi begitulah cara Sean meluapkan emosinya. Menangis akan membuat hatinya lega.
Memandangi potret sang istri, semakin membuatnya sakit. Sean merasakan apa yang istrinya rasakan saat itu. Kehilangan keluarga, dan kini mereka juga berpisah.
"Sayang, maafkan aku. Pasti kamu sangat terpukul dengan musibah ini. Aku tidak ada di saat kamu membutuhkan aku, aku minta maaf—"
Mengusap wajah istrinya meski hanya di layar ponselnya, sudah membuat Sean jauh lebih baik. Esok hari, dia akan segera mengurus data diri ke kantor kepolisian untuk melapor dan juga sementara mengurus beberapa pekerjaan yang teah Chen.
__ADS_1
Menikah belum lama, tapi sudah diuji begitu berat. Sean dan Airyn, yang sebelumnya hanya orang asing, saling menguatkan diri, berharap sebuah pertemuan mereka dipercepat eh keadaan.