Mengejar Cinta Mas Tama

Mengejar Cinta Mas Tama
Mengejar Cinta Yang Tertunda


__ADS_3

Istirahat telah tiba.


Sesuai janji Tama, dia pun mengajak Xia mengobrol di ruangan yang memang khusus untuk bertemunya murid dengan walinya.


"Ada urusan apa Kak Tama datang kemari?" tanya Xia, berlagak.


"Sesuai dengan janjiku padamu. Ketika di Tiongkok waktu itu—aku mengatakan bahwa aku akan mengunjungimu dalam waktu dekat," jawab Tama.


Xia langsung menatap pria yang membuatnya jatuh hati dengan pandangan penuh harap. Memang susah menahan diri bagi Xia untuk bersikap mahal didepan Tama.


"Kak!'


Xia bersemangat sekali sampai dia melompat, memeluk Tama. Sontak membuat pria berusia 27 tahun itu sampai membelalakkan matanya karena terkejut. Ingin sekali mendorongnya, tapi terhenti niatnya ketika Xia mengatakan, "Aku sangat merindukanmu."


Hampir saja Tama terbuai dengan ingin membalas pelukan remaja cilik itu. Begitu sadar, Tama langsung melepaskan pelukan Xia. "Lepaskan!" desisnya.


Sedikit tersentak ketika Tama mengatakan kata itu disertai dengan nada kasar.


'Mengapa dia selalu seperti itu? Apakah dia tidak tahu, aku sedih ketika dia bicara dengan nada kasar padaku?' batin Xia.


"Duduk," pinta Tama.


"Oke!" remaja cantik itu terlihat girang dan semangat.


Xia siap mendengar dengan seksama, wajah berbinar-binar itu membuat Tama menahan senyumnya. Xia tak tahu lagi apa yang membuatnya begitu menyukai pria ini.


"Dengarkan aku. Ingat, aku tidak akan mengulangi ucapanku lagi, jadi kau harus benar-benar mendengarkan," tegas Tama.


Xia mengangguk-angguk seperti anak anjing yang patuh.


"Kelulusan nanti, aku akan membawa pulang ke negaraku. Kamu akan tinggal bersamaku dan juga sekolah disana. Tapi ada syarat jika kamu ingin tinggal bersamaku," kata Tama, pelan-pelan.


"Pertama, kamu harus lulus dengan nilai terbaik. Tak perlu yang paling tinggi, cukup terbaik saja. Kedua, kamu harus belajar bahasa Indonesia, karena jika kamu ikut denganku, aku tidak ingin menjadi translator untukmu,"


"Terkahir, aku ingin kamu menjadi Xia yang kamu mau. Tak peduli bagaimana surat wasiat Chen, tapi aku ingin dirimu yang sesungguhnya,"

__ADS_1


"Xia, aku tidak peduli poin ketiga bisa kamu lakukan atau tidak. Tapi untuk poin pertama dan kedua, aku mewajibkannya. Jadi semua itu tergantung padamu,"


"Ujian dariku bisa kamu selesaikan, maka kamu tinggal bersamaku. Tapi jika tidak, maaf Xia ... mungkin ini kali terakhir aku menemuimu sebagai walimu, paham!" tukas Tama.


Xia langsung berdiri. "LAKSANAKAN!" serunya.


Segala sesuatu yang Tama katakan, Xia selalu bersemangat menanggapinya. "Kak Tama, aku akan melakukan apa yang kakak minta. Aku janji, aku pasti bisa!"


Tama menyudutkan bibirnya, senyum manis dengan reaksi semangatnya Xia. Khusus hari itu, Tama mengajak Xia untuk libur satu hari saja di sekolah dan jalan bersamanya. Tama menganggap itu sebagai bentuk hadiah karena Xia sudah mau kembali ke sekolah asramanya lagi.


"Aku akan menunggumu di mobil. Ini mobil yang aku kendarai saat ini," Tama menunjukkan foto mobilnya.


"Wah, ini mobil Kak Sean. Okay, aku akan kembali ke kelas mengambil tasku, tunggu sebentar!" Xia begitu semangat sampai ia bersenandung kecil melewati lorong kelas.


Ketika sampai di kelas, Xia pamit dengan gurunya. Tama sudah meminta izin pada wali kelas dan juga pihak sekolah jika ingin membawa Xia pergi hari itu hingga besok malam kembali ke asrama.


Riangnya hati Xia saat itu, sampai pertikaiannya dengan Amber ia lupakan. Saat turun di tangga, Xia bertemu dengan Richard. "Bahagia sekali yang ingin menikmati perjalanan indahnya dengan pria asing," pria itu bersandar di pegangan tangga.


Xia yang tidak ingin merusak suasana baiknya mengabaikan Richard dengan melewatinya begitu saja.


Telinga Xia jadi panas mendengar ucapan buruk Richard untuk pria yang ia sukai. Tentu saja ia tak terima, "Apa katamu?" tanyanya dengan ketus.


"Dia itu adalah waliku. Mendiang kakak pertamaku telah menyerahkan hak walinya padanya. Jadi untuk apa aku waspada padanya? Dia adalah sepupu dari mendiang kakak pertamaku," jelas Xia. "Kau tau apa!" hardiknya.


Richard adalah anak dari klien Chen dan Sean dulu. Hubungan mereka juga sudah dekat sekali hingga saat itu. Wajar saja jika Richard begitu mengkhawatirkan Xia karena kakak Xia yang ia kenal hanya Chen dan Sean saja.


"'Xia, apa kamu tidak menyadari kalau aku sangat khawatir padamu?' batin Richard.


Girangnya Xia masih bertahan. Ia segera berlari menghampiri mobil Tama yang terparkir di parkiran khusus tamu. Begitu sampai, dia langsung masuk dan menyapa Tama dengan manis. "Hai, Kak!"


"Sudah siap?" tanya Tama.


"Hehehe, tentu saja. Lihatlah, aku bahkan sudah mengganti pakaianku," jawab Xia. "Um, kita mau kemana?" tanyanya.


Tama tidak menjawab, dia segera menyalakan mesin mobilnya. Tak ingin cepat menghabiskan waktu dengan mengendarai mobil, Tama mengajak Xia untuk jalan kaki saja.

__ADS_1


"Loh, kenapa kita turun disini? Memangnya kita kau kemana?" tanya Xia.


Helaan nafas panjang terdengar. "Jangan bawel, kita akan menghabiskan waktu bersama selama aku disini. Apa kamu tidak mau?" Tama sedikit kesal jika Xia sudah mode berisik.


"Eh, tentu saja aku mau. Kemanapun kakak membawaku pergi, aku akan selalu bersedia setiap saat," mulut Xia sangat manis sekali.


Mereka berdua menikmati waktu yang ada dengan sebaik mungkin. Jalan-jalan, makan berdua dan juga menikmati keindahan kota berdua. Malam itu juga Xia diperbolehkan untuk tidur di rumah, paginya dia akan pergi lagi bersama dengan Tama sampai dititik perpisahan mereka di bandara nanti.


Xia tidak bisa melupakan satu hari itu dengan mudah selama Tama pulang nantinya. Tama begitu memanjakannya sampai Xia semakin mencintai pria itu.


Sampai tiba di penghubung waktu, Tama harus pulang dan Xia mengantarnya ke Bandara. Xia menjadi sedih, senyum yang seharian terus tersemat, hilang begitu saja.


"Apa ini? Apa kamu ingin mengantarku dengan wajah seperti itu? Setidaknya berilah senyuman supaya aku bisa menikmati perjalan pulang ke dengan indah, Xia," tegur Tama.


"Aku sedih kakak akan pulang. Tak bisakah sehari lagi kakak disini?" Xia masih belum puas.


"Baik, aku akan di sini sehari lagi," jawab Tama dengan cepat. Membuat Xia tersenyum cerah. "Tapi rencana aku akan membawamu pulang ke Indonesia tidak jadi, bagaimana?" lanjut Tama.


Senyumnya langsung luntur, Xia lemas seketika. "Tak perlu! Lebih baik kau pulang saja, kak. Aku akan belajar giat disini," katanya.


Tama tersenyum. "Baiklah, aku akan pergi. Jaga dirimu baik-baik. Sering-sering kirim surat, aku sudah memberikan alamatku padamu, hm?" ucapnya bergegas pergi.


"Kakak, tunggu!" Xia menghentikan langkah Tama.


Begitu Tama menoleh.


CUPH~~


Kecupan bibir Xia menempel di bibir Tama. Mata Tama membulat besar, tangannya mencengkram erat celananya sendiri. Gadis cilik itu semakin memanas ciumannya. Tak lama setelah itu, Xia melepaskan ciumannya.


"Aku sudah janji dengan diriku sendiri. Kak Tama ... aku akan mengejar cintamu. Ya, aku mencintaimu. Aku sangat mencintaimu, sangat, sangat, sangat mencintaimu."


Perpisahan pun terjadi, Xia melambaikan tangannya dengan senyum girangnya. Mata sipitnya hampir saja tenggelam oleh pipi chubby-nya. Sementara Tama merasa tidak tenang setelah itu.


Season 1 selesai.

__ADS_1


Season berikutnya akan publish secepatnya. Setelah Karya "I Choose You" selesai. Kemungkinan karya tersebut akan langsung end di bulan berikutnya. Terima kasih untuk kesabaran dan juga dukungan kakak-kakak selama ini.


__ADS_2