
"Kakak, kumohon aku akan bersikap baik, aku akan patuh, tolong jangan tinggalkan aku sendirian. Aku hanya percaya padamu, tolong, tolong, tolong, jangan tinggalkan aku," rengekan Xia membuat Tama tidak tega mengerjainya lagi.
Tama menghela napas untuk kesekian kalinya dalam menghadapi Xia. Padahal dia baru menemuinya beberapa waktu saja.
'Aku tahu, aku akan mendapatkan banyak masalah dan repot sendiri setelah memutuskan hal ini. Tapi mau bagaimana lagi? Rasa kemanusiaanku ternyata jauh lebih tinggi,' batin Tama. 'Mana aku juga sudah janji pada Chen pula! Hufft, menyebalkan!' imbuhnya dalam hati.
Perlahan, pelukan Xia Tama lepaskan. Tama berbalik dan kini berhadapan dengan Xia. Dengan amat terpaksa, akhirnya Tama pun mau menerima Xia.
"Kakak, apakah benar kakak mau menerimaku? Aku sangat berterima kasih atas itu. Aku me—"ucapan Xia terhenti kala pelukannya ditahan oleh Tama.
Acungan jari Tama menyiratkan banyak kata. Bukan hanya diam saja, tapi juga meminta Xia untuk tidak menyentuhnya. Tama juga mendorong sedikit kening Xia supaya lebih menjauh darinya. Baru kali itu Tama terlihat kasar. "Nona …."
"Sachi, Tuan. Nama saya Sachi," jawab Sachi ketika Tama menunjuk dirinya.
"Baiklah, kamu bisa bantu dia untuk mengurus sekolahnya. Kamu yang lebih tahu akan Kota ini. Sebutkan berapa yang kamu butuhkan untuk mengurusnya, saya akan berikan nanti," perintah Tama.
"Tuan, maaf sebelumnya. Masalahnya saya juga bekerja, tidak mungkin mengambil cuti tanpa alasan pasti." tolak Sachi.
Tama menepuk keningnya sendiri. Baru beberapa hari tinggal di Tiongkok lagi, dirinya sudah pusing tujuh keliling karena pekerjaan, dan ditambah lagi masalah Xia. Feng, sebagai orang yang ditunjuk supaya bisa membantu dan membimbingnya, malah tidak sepenuhnya melakukan pekerjaannya.
***
Sudah satu bulan berlalu, kini Airyn sudah mulai kembali seperti dulu lagi. Bersiap magang, dan menjalani hidupnya dengan berdamai dengan keadaan. Airyn sudah mulai tersenyum lagi, adanya Ayyana dan Haidar sebagai sepupu mereka di rumahnya, menambah suasana rumah menjadi ramai.
Setelah hari dimana Airyn sangat hancur-hancuran, tidak lama kemudian wanita ini bangkit. Ia sudah pasrah dan hanya terus berdoa supaya suaminya segera ditemukan keberadaannya. Bahkan, Airyn juga sudah ikhlas mendengar apapun kondisi suaminya jika nantinya ditemukan.
Di Tiongkok, Feng baru menemukan kabar lagi tentang keberadaannya Sean. Ditemani oleh Tama dan Xia, mereka datang ke sebuah desa kecil yang dimana katanya Sean ada di sana.
__ADS_1
"Weh, desa apa ini? Kenapa begini banget kondisinya?" tanya Tama.
"Aku juga baru tahu ada desa yang kondisinya seperti ini. Padahal negara kita ini negara maju," sahut Feng.
"Kita matamu. Kamu aja kali!" ketus Tama. "Negaramu ini, aku bukan produk Tionghoa," imbuhnya dengan lirih.
"Oh, aku bukan sepenuhnya produk negara ini. Jadi bukan aku saja. Tuh, yang sepenuhnya produksi dari negara ini. Tuh, belakangmu—" ujar Feng sembari memanyunkan bibirnya, Feng menunjuk Xia.
Xia yang merasa dirinya disindir, langsung kesal dan berteriak, "Apa kalian mau mencicipi racunku? Kenapa kalian bicara menggunakan bahasa yang tidak aku pahami, hah!"
"Aku tahu, pasti kalian sedang membicarakan aku yang buruk-buruk, 'kan?" Xia kesal.
Seketika, wajah datar Tama dan Feng menjawab semuanya. Tapi memang selama sebulan mereka tinggal bersama, Tama dan Feng selalu saja suka menggoda Xia, bahkan remaja itu juga sampai menangis karena tidak tahan dengan bentuk kenakalan Tama dan Feng. Sebelum Xia menangis, pasti keduanya belum berhenti mengganggunya. Xia juga sudah mulai sekolah di sekolahan yang telah Sachi pilihkan. Dia juga ikut tinggal bersama Tama di apartemennya.
"Apa kita akan masuk sekarang atau masih mau bercanda dan membuang waktu saja?" tanya Tama.
"Cih, kau tidak asik!" ketus Feng. "Aku lebih suka bercanda dengan Chen. Huft, aku tidak menyangka dia tega meninggalkan aku!" sambungnya.
Mereka bertiga pun melangkah masuk ke gapura desa terpencil di sana. Baru dua langkah mereka masuk, banyak sekali bambu yang diruncingkan dengan ukuran kecil-kecil yang mengarah ke mereka.
"Jebakan!" teriak Feng.
Beruntung sekali ketiganya memiliki ilmu bela diri. Mereka segera menghindar, dan menampik beberapa bambu kecil yang diruncingkan itu. Setelah beberapa kali serangan, akhirnya ketiganya bisa menghindar..
"Xia, apa kau terluka?" tanya Feng dan Tama bersamaan.
Xia terkejut dengan mata melototnya. Remaja ini hanya mengangguk pelan, menjawab bahwa dirinya masih dalam kondisi yang baik-baik saja. Pada dasarnya, Tama dan Feng memang peduli kepada Xia, sesuai dengan apa yang sudah diamanahkan pada mereka dari Chen.
__ADS_1
"Kita harus berhati-hati. Haih, kupikir ini hanya desa terpencil dan kumuh saja, rupanya ... penduduknya sangat penuh dengan kewaspadaan," gumam Tama.
"Haduh, tahu seperti ini lebih baik aku duduk diam saja di kantor. Malah bisa asik memijat keyboard dan menghasilkan uang," keluh Tama setelah terus bergumam menyalahkan takdirnya.
"Mati sajalah kau!" ketus Feng, dokter bedah ini memang kesabarannya setipis tisu masih harus di belah tiga.
Mereka tidak melangkah lagi, masih berdiri di tempat di mana mereka sudah melangkah sebanyak dua langkah sebelumnya. "Kakak, apakah kita akan masuk ke desa ini sungguhan?" bisik Xia.
"Kau harus waspada. Ingat, belati yang pernah aku berikan padamu, apakah sudah menaruhnya di tempat yang gampang kamu keluarkan?" Feng berbisik kepada Xia, supaya penduduk desa tidak mendengar apa yang dibicarakan.
Xia hanya mengangguk. Dua minggu yang lalu Feng memang memberikan belati milik Chen yang dititipkan kepadanya supaya bisa digunakan dengan baik melindungi Xia.
Tama pun meminta Feng untuk terus bicara. Ia sangat yakin bahwa penduduk desa sedang mengawasi mereka. Akan lebih baik bagi mereka tetap mengobrol seperti biasa siapa tidak dicurigai.
Awalnya, Feng malas untuk melanjutkan lagi dan akan meminta anak buahnya yang mengurusnya. Namun setelah ada nama Airyn, adik sepupu yang paling ia sayangi terlintas dalam ingatannya, dokter bedah ini menghela nafas kasar. Ia hanya ingin Airyn bahagia saja. Jadi, dia pun mau melakukan itu sendiri, tentu saja bersama dengan Tama.
"Selamat siang, semua penduduk desa ini. Kedatangan kami kemari, bukan ingin mencari perkara ataupun masalah. Saya hanya sedang mencari seseorang yang mungkin kalian tolong atau masuk di desa ini sekitar 6-7 minggu yang lalu. Kami datang bukan sebagai musuh. Hanya ingin bertanya saja," Feng mulai bicara dengan serius.
"Eh, benar 6-7 mingguan, bukan? Atau malah baru 1 bulan lebih sedikit?" Feng bertanya pada Tama.
Tak ada jawaban yang terdengar dari desa itu. Desa yang tampilannya mengerikan depan gerbangnya sudah ditumbuhi rumput yang menjalar panjang, membuat kesannya mengerikan. Seolah desa itu adalah desa yang sudah lama ditinggalkan, atau bisa disebut dengan desa mati. Meski tidak mendapatkan jawaban, Tama dan Feng yakni jika penduduk desa mendengar ucapan Feng.
"Sekali lagi, kami datang hanya ingin bertanya. Nama saya Fengying Haochun, saya adalah seorang dokter dari Kota besar. Ini adalah sepupu saya, seorang pengusaha dan ini adalah adik kecil saya. Kami hanya ingin mencari keberadaan saudara saya yang hilang satu bulan lalu. Orang kepercayaan saya mengatakan ... bahwa mereka melihat saudara kami masuk ke gapura ini." lanjut Feng dengan yakin.
Meski sudah menjelaskan siapa dirinya dan maksud tujuannya, tetap saja tidak ada penduduk desa yang keluar, bahkan tidak menjawabnya. Sekali lagi, Feng akan berusaha meyakinkan penduduk desa di sana.
"Saudara saya yang hilang itu, memiliki seorang istri. Istrinya begitu sedih karena belum tahu kondisi suaminya sekarang. Dia baru saja kehilangan kedua saudaranya dan juga Ibunya," sambung Feng, tetap waspada. "Hei, dengan belum ditemukan keberadaan suaminya, dia begitu menderita. Apa ada yang mendengar?" lanjut Feng dengan suara lebih lirih dari sebelumnya.
__ADS_1
Apa yang dikatakannya adalah sebuah kebenaran. Airyn ditinggal semua orang yang baru hadir dalam hidupnya. Feng dan Tama adalah saksi perjalan hidup wanita itu, jadi tahu benar bagaimana perasaan sepupunya itu.
Bagaimana dengan penduduk desa itu? Apakah desa itu benar desa mati, atau memang penduduk desa tidak mau kedatangan orang asing?