Mengejar Cinta Mas Tama

Mengejar Cinta Mas Tama
Kerendahan Hati


__ADS_3

"Richard?"


Yah, laki-laki itu bernama Richard. Kakak senior tingkat 2 di sekolah menengah atas. Laki-laki itu adalah ketua dari organisasi yang ada di sekolah asrama tersebut. Sebelumnya sekolah asrama yang ditempati oleh Xia ini khusus perempuan saja. Tapi karena ada kebijakan baru dari kepala yayasan baru, maka aturan itu telah dihapus dan menjadi sekolah umum.


"Kalian berdua harus ikut denganku, ayo!" perintah Richard.


Tidak ada di antara mereka berdua yang berani melawan Richard. Mereka mengikuti langkah senior itu dari belakang. Tatapan dingin dari dua gadis remaja membuat suasana menjadi semakin tegang.


Richard berhenti di ruang bimbingan. Sebagai ketua organisasi sekolah, ia berhak membantu guru bimbingan untuk membimbing murid yang ada di sekolah tersebut, meski tingkatan sekolahnya berbeda.


"Ada apa ini? Mengapa kamu membawa anak sekolah menengah pertama kemari, Richard?" tanya guru bimbingan yanga dari ruangan tersebut.


"Mereka melakukan pelanggaran dengan berkelahi dan saling menghina. Itu sudah melanggar aturan sebagaimana murid harus menanamkan rasa kasih dan sayang," jelas Richard.


'Huft! Dasar kutu buku, sok taat aturan, menyebalkan, membosankan! Cih, aku muak juga lama-lama sekolah disini. Jika bukan karena kakak, aku pasti su—' gumaman dalam hati Xia terhenti.


Remaja itu mengingat bahwa dirinya harus lebih giat belajar supaya bisa menjadi orang yang diharapkan mendiang kakaknya. Dengan senyum angkuh, Xia mengatakan, "Aku tidak pernah memulai perdebatan maupun perkelahian apapun. Tidak mungkin bagiku, murid yang dulunya selalu membuat onar atau berbuat sedemikian rupa. Aku sudah berubah, bahkan para guru saja mempercayai diriku!" tegas Xia.


"Cih, berubah," desis Amber. "Anak kurang ajar dan tidak jelas sepertimu, mana bisa berubah! Bodoh!" ledeknya.


"Terserah kalian mau percaya atau tidak," Xia sedang tidak baik-baik saja perasaannya, jadi malas berdebat.


"Aku tidak pernah ingin berdebat dengannya, percayalah padaku. Lagipula, aku dan dia juga sama-sama murid baru di sekolah ini, jadi untuk apa kalian memperpanjang urusan kami?" protes Amber.


Ucapan Amber tentunya membuat Richard dan guru pembimbing menjadi marah. Tidak terlihat seperti gadis terdidik dari cara Amber bicara. Akhirnya, Richard dan guru pembimbing memutuskan untuk menghukum keduanya.


"Apa?!" sampai Xia dan Amber mengatakan itu secara bersamaan.

__ADS_1


"Serius, kalian ingin menghukumku?" Amber masih saja protes. "Apa kalian tidak tahu, siapa ayahku? Ayahku adalah orang berpengaruh, apakah kalian tidak takut dengan kekuatan ayahku?" imbuhnya dengan kesombongannya.


"Amber, dengar. Ini sekolah kedisiplinan. Semua murid disini harus dilatih kedisiplinan, aturan-aturan yang lainnya juga. Siapapun kamu, anak siapa kamu, tidak penting lagi di sekolah ini," jelas guru pembimbing.


"Maksudnya apa? Apa kalian benar-benar tidak takut dengan kekuatan Ayahku? Apa kalian sudah bosan hidup? Beraninya kalian merundung diriku seperti ini!" amuk Amber.


'Astaga anak ini. Siapapun ayahnya, pasti kehebatannya kalah dari kakakku—Chen dan Kak Sean. Pasti itu!' batin Xia dengan pasti.


Sekolah itu memang sekolah khusus mendisiplinkan dan mendidik anak orang-orang kaya untuk menjadi penerus tahta di keluarganya. Jadi, tetap saja mereka akan diperlakukan sama dan melahirkan sikap yang bijak sebagai seorang pemimpin.


Keduanya dihukum lari mengitari lapangan, tepat di sana juga ada salah satu kelas yang sedang berolahraga. Keduanya menjadi pusat perhatian murid laki-laki.


"Wah lihat mereka. Sama-sama cantik sekali," puji salah satu dari siswa kelas 2 menengah atas.


"Tapi aku rasa yang itu badannya lebih berisi. Lihat saja dua balon yang ada di dadanya itu. Um, ingin sekali aku meremasnya!"


Mendengar ucapan kotor dari senior membuat Xia risih. Ia segera melajukan larinya supaya segera selesai dan pergi dari lapangan. Sementara Amber, terkesan begitu menikmati pujian-pujian kotor dari para senior. Yah, yang memiliki tubuh lebih berisi adalah Amber, lalu Xia badannya mirip sekali anak kecil yang terlihat belum tumbuh dua balon bagian atas dan bawahnya. Itu sebabnya Xia selalu disebut mungil.


"Berhenti!" perintah remaja lelaki itu.


"Ke-kenapa berhenti?" tanya Xia, mengatur nafasnya yang tersengal-sengal. "Katamu, harus hari sekitar 20 putaran. Aku rasa, aku baru berlari selama 15 putaran," imbuhnya.


"Cukup, itu sudah cukup. Kembali ke ruang bimbingan, masih ada yang ingin aku katakan pada kalian berdua," senior itu membelakangi Xia dan Amber, lalu melangkah pergi menuju ruang bimbingan.


Baik Xia maupun Amber masih terengah-engah mengatur nafasnya. Ketika melangkah melewati ruang guru, Xia seperti melihat Tama ada di sana.


'Tunggu! Apa yang aku lihat ini ... sungguh dia?' batinnya.

__ADS_1


Xia menghentikan langkah kakinya secara mendadak, sampai membuat Amber yang waktu itu masih terlihat tebar pesona dengan merapikan bagian dua balon atasnya, menabrak Xia dari belakang.


Bug!


"Astaga, kau ini kenapa!" sentak Amber.


"Kau berhenti di tengah jalan seperti ini, kau hampir saja membuat hal berhargaku rusak, Xia!" ketus Amber, memeriksa dua balon di dadanya.


"Ck, berisik!" desis Xia.


Xia kembali melihat ke ruang guru dan memastikan bahwa yang ia lihat itu benar-benar Tama. Sayangnya, ketiak remaja mungil Ini melihat kembali ke ruangan tersebut, iya hanya melihat wali kelasnya saja. Hal itu membuatnya sedih.


"Kalian berdua! Cepatlah!" suara Richard mengejutkan Amber yang tengah heran menatap Xia.


"Iya, iya! Ayo, tuli!" sahut Amber, mengajak Xia segera ke ruang bimbingan.


Xia berjalan dengan wajahnya yang murung. Dia begitu merindukan Tama dan ingin sekali ia melihat pria yang telah membuatnya jatuh cinta.


Sesampainya di ruang bimbingan, Xia dan Amber di sidang lagi. Keduanya melakukan mediasi supaya tidak ada kejadian serupa terulang kembali. Xia memang mengakui jika dirinya melakukan apa yang dituduhkan Amber, namun Amber masih saja mencari kebenaran sendiri.


"Dengan sangat tulus, aku minta maaf padamu karena telah membuatmu kesal, Amber. Aku berjanji tidak akan ada kejadian seperti ini untuk yang kedua kalinya," ucap Xia, lirih.


"Ayo, Amber. Sekarang giliran kamu mengakui kesalahan dan meminta maaf kepadanya," perintah Richard.


"Cih, aku tidak mau! Aku tidak bersalah, dia duluan yang telah membuatku seperti ini," Amber masih angkuh.


"Terserah kamu ingin mengakui kesalahanmu padaku atau tidak. Bahkan kamu tidak ingin meminta maaf padaku saja aku tidak peduli. Dengarkan aku, Amber, Richard, guru bimbingan … aku mau minta maaf karena aku memang mengakui kesalahanku. Bagiku, dengan meminta maaf tidak akan membuat harga diriku jatuh," jelas Xia.

__ADS_1


"Karena masalah ini sudah selesai, aku juga sudah mendapatkan hukuman atas perbuatanku. Maka aku akan permisi, selamat siang semuanya." tukas Xia, lalu ia pergi begitu saja.


Remaja yang mengaku hidup sebatang kara ini hatinya sedang tidak baik-baik saja. Ketika keluar dari ruang bimbingan, iya sempat mengeluarkan air mata karena menahan rindunya pada mendiang sang kakak dan juga pria yang saat itu menjadi walinya.


__ADS_2