
Kekesalannya membawanya ke suatu tempat yang tidak sepi juga. Xia pergi sendirian ke taman dan merenungi akan nasibnya di sana. Pandangan matanya selalu tidak fokus karena terus kepikiran dengan jalan hidupnya yang memilukan.
Duduk di bawah mendungnya langit yang seolah tahu benar isi hatinya saat itu. Pesan dari Tama kemudian ia bukan dan dibaca dengan seksama. Tiba-tiba saja air mata menetes sampai membasahi layar ponsel miliknya.
"Lalu aku harus apa? Apakah aku harus kembali ke Amerika supaya kakak bangga padaku di sana? Tapi aku sudah mulai betah dan nyaman di sini," gumamnya lirih.
"Ibu, kenapa kau berbuat jahat pada semua orang yang ada di dekatku? Mengapa kau juga meninggalkan aku sendirian di dunia ini? Bukankah kau tahu betul, jika di dunia ini tidak ada yang menginginkan diriku termasuk dirimu, Ibu?"
"Jangankan diinginkan, diakui keberadaannya saja tidak pernah. Sampai kapan aku harus hidup dalam kehampaan seperti ini?"
Seperti karma ibunya dipetik oleh Xia sendiri. Dahulu, Cindy—nama ibunya Xia yang memang asli orang Indonesia selalu berbuat jahat dan berusaha membuat orang lain menderita karena ulahnya. Kini, putrinya sendiri yang merasakan penderitaan dari korban Cindy sendiri.
"Kenapa juga kamu tidak pernah patuh dengan apa yang dikatakan oleh ayah. Kenapa juga aku harus lahir dari wanita sepertimu?"
"Lalu kenapa juga aku harus menjadi anak dari seorang pria yang bukan suamimu, Ibu. Hatiku, harapanku, semuanya sudah hancur ketika mengetahui bahwa aku bukanlah anak kandung Ayah Wang, melainkan hasil perselingkuhan Ibu dengan adik kandung ayah Wang sendiri,"
"Aku benci dengan hidupku!"
Tiba-tiba, datanglah seseorang yang ternyata adalah teman sekelasnya. Teman sekelasnya itu selalu merundung Xia di sekolah.
"Hei, apa kau si anak manja? Haha, benar! Kau anak baru itu. Mengapa kau di sini sendirian gadis sombong?" ketus siswi perundung itu.
"Kalian mau apa?" tepis Xia, ketika dua gadis itu mulai mendekati dan menyentuhnya.
"Kita masih mengenakan seragam sekolah. Jangan sampai mempermalukan pihak sekolah. Kalian boleh menindasku di belakang gedung sekolah, tapi jangan di luar sekolah!" sambung Xia dengan tegas.
"Yaa, menakutkan sekali, haha. Kita tidak akan bermain disini teman. Bagaimana jika di gang kecil itu?" tunjuk gadis perundung itu. "Um, di sana kudengar banyak sekali anak sekolahan seperti kita ini bermain menyenangkan, loh!" siswi perundung itu terus saja mengganggu Xia.
Xia yang tidak ingin diganggu itu pun hendak menghindari dari dua siswi tersebut. Namun, tetap saja dua siswi itu terus mengganggunya sampai tidak sengaja, dua siswi itu mendorong Xia ke jalanan dan mengakibatkan kecelakaan.
Tiiiiinnnnnn….
Suara klakson begitu nyaring, dentuman keras juga terdengar mengerikan kala itu. Tubuh gadis kecil berusia 15 tahun itu tertabrak minibus dan terpental jauh.
Bruakk!
__ADS_1
"Kamu yang mendorongnya,"
"Bukan aku, aku hanya menarik dia supaya dia tetap di sisiku,"
"Tapi kamu mendorongnya, bukan aku!"
Kedua siswi itu saling menyalahkan dan kabur begitu saja. Mereka sampai ketakutan karena darah segar mengalir dari kepala Xia dan takut mereka yang disalahkan. Orang yang sedang berjalan di sana langsung mendekati dan ada yang memanggil ambulance.
"Ada apa ini?"
"Aku melihat gadis ini sampai terpental jauh, malahan terbang dan membentur tiang itu,"
"Lihatlah darahnya. Apa ada yang sudah menghubungi ambulance?"
"Tadi aku melihatnya di ganggu oleh dua temannya. Sebab, mengenakan seragam sekolah yang sama. Tapi dimana dua temannya itu?"
"Cepat, hubungi ambulance!"
Sementara di rumah, Sean merasa ada yang salah pada perasaannya. Gelisah, cemas dan juga jantung terus berdebar tidak beraturan yang membuat dadanya sesak.
'Halo, ada apa kamu menelponku?'
"Halo, Nona Airyn. Apakah terjadi sesuatu kepadamu? Maaf sebelumnya, perasaanku tidak enak saat ini. Aku takut terjadi sesuatu kepadamu," tanya Sean.
'Alhamdulillah, aku baik-baik saja. Aku masih sibuk, Sean. Bisakah kau menghubungiku lain waktu? Atau nanti setelah aku selesai, aku akan menelponmu,'
"Um, baiklah. Maafkan aku telah mengganggu." Sean menutup telponnya.
Perasaannya semakin gelisah karena tidak tahu terhadap siapa rasanya itu peka. Lalu, di rumah Tama, datanglah salah satu teman sebangku Xia yang datang memberikan buku pelajaran dan obat lebam untuk lutut Xia.
Ting … Tong….
Bel berbunyi.
Tama segera membukanya dan bertanya, "Cari siapa?"
__ADS_1
'Ah, tampan sekali. Kenapa Xia tidak mengatakan jika dia tinggal dengan pria tampan?' batin gadis kecil itu.
"Hai, apa kamu melamun? Kamu mencari siapa?" tanya Tama lagi karena teman sebangku Xia itu melamun.
Namanya Theresia. Gadis blasteran ini adalah orang yang mau berteman dengan Xia sewaktu di sekolah. Sebab, Xia dan gadis ini memiliki kisah pilu yang serupa. "Oh, perkenalkan namaku Theresia, aku sahabatnya Xia di sekolah yang baru. Apakah Xia ada?"
"Xia belum pulang, ada pesan apa? Nanti aku sampaikan kepadanya," sahut Tama dengan rasa cueknya.
"Ih, benar saja Xia tidak pernah cerita. Cuek sekali dia," gumam Theresia lirih. "Ahahaha, aku datang hanya mengembalikan buku yang aku pinjam dan salep ini saja. Lututnya lebam karena di bully oleh teman sekelas, jadi aku hanya mau memberikan ini," lanjut gadis cantik itu.
"Bully? Dirundung, maksud kamu Xia di—“ belum juga selesai bertanya, ponsel Tama berdering.
Nomor tersebut memang tidak tersimpan, tapi ada nama kantor di bawah nomor itu. Pihak rumah sakit menelponnya dan membuat Tama bingung. "Dari rumah sakit? Siapa ini? Apakah Feng?" gumamnya.
"Halo," jawab Tama.
‘Apakah benar, ini wali dari ananda Xia Wang? Gadis sekolah menengah pertama di sekolah—?’
"Iya, benar. Saya adalah wali dari siswi yang bernama Xia Wang. Ada masalah apa, ya?" tanya Tama.
Pihak rumah sakit mengabarkan jika Xia mengalami kecelakaan dan Tama diminta untuk segera datang. Tama menghela napas panjang, merasa bebannya semakin berat karena merasa bersalah meninggalkan Xia sendiri di jalanan.
"Baik, saya akan segera datang!" seru Tama menutup telponnya.
"Kakak, ada apa? Mengapa menyebut nama Xia?" tanya Theresia.
"Xia kecelakaan. Kamu sebaiknya pulang dulu, saya mau ke rumah sakit untuk melihat kondisinya," jawab Tama, masuk sebentar mengambil dompet dan kunci mobil, kemudian berlari ke rumah Feng, untuk menemui Sean.
Theresia memaksa untuk ikut karena mengkhawatirkan keadaan temannya. Tapi di sisi lain, dirinya juga ingin cuci mata melihat wajah rupawan Tama yang dilihatnya dapat meneduhkan hatinya. Awalnya Tama menolak, tapi karena Theresia terus memohon, akhirnya Tama pun mengajaknya.
"Kita ke rumah siapa? Kenapa tidak langsung ke rumah sakit?" tanya Theresia.
"Jika kamu ingin ikut, maka kamu harus banyak tutup mulut, paham? Jangan menambah suasana menjadi semakin panas, mengerti?" tutur Tama dengan lirih.
Theresia mengangguk. Tama segera memencet bel rumah dan keluarlah Sean. Melihat Sean, membuat Theresia semakin berasa di khayangan bersama dengan bidadara yang tampan. Bagaimana kondisi Xia?
__ADS_1