Mengejar Cinta Mas Tama

Mengejar Cinta Mas Tama
Sepenggal Kisah Sean dan Airyn


__ADS_3

Tama pulang setelah ia menyelesaikan tugasnya. Ayden datang menggantikannya. Jika perusahaan sudah stabil, maka Sean hanya perlu memantaunya dari jauh saja dan sudah bisa dengan mudah bekerja meski dirinya ada di Korea.


Jarak Antara Korea Selatan Dan Amerika Serikat. 10.751 km, 6.680 mil, 5.805 mil laut. Jarak dihitung antara pusat geografis Korea Selatan dan Amerika Serikat. Karena Sean akan berangkat dari New York, maka ia membutuhkan waktu 15 jam, 35 menit nonstop ke satu Kota.


Berharap tak ada kendala, Sean tak henti-hentinya berdoa demi keselamatannya. Kemudian, bisa bertemu dengan kekasih hatinya. Sebelumnya, Sean juga memberikan kabar kepada Feng, jika dirinya hendak ke Korea. Dengan begitu, Feng akan memberikan kabar bahagia itu kepada Airyn yang ada di sana.


Sekitar 18 jam berlalu.


Airyn menghitung waktu demi bisa menjemput Sean tepat waktu di Bandara. Jantungnya berdebar kencang ketika menyambut kedatangan suaminya yang dimana penerbangan baru saja tiba.


"Huh, hari ini aku merengek kepada Kim Chin Hwa supaya aku bisa bertukar shift dengannya. Berharap Sean bisa mengenaliku tanpa aku membawa papan selamat datang,"


"Kau sudah gila Airyn, kau datang 3 jam lebih awal ke Bandara hanya demi menemui suamimu yang hilang ingatan? Kau memang sudah gila! Allahu Ya Rabbi—"


Airyn terlihat sangat antusias menunggu kedatangan suaminya ke Korea. Tidak lama setelah menunggu tiga jam lebih di Bandara, barulah Sean keluar dengan pakaian santainya. Hoodie hijau army, celana hitam dan mengenakan kacamata hitamnya.


Bukan hanya jantung Airyn yang berdebar. Bahkan Sean pun merasakan hal yang sama. Ia gugup, tangan berkeringat dan mulai merasa sedikit tidak tenang. "Apa aku sakit jantung? Kenapa jantungku terus berdebar dan berkeringat berlebihan seperti ini?" batinya.


Tanpa lambaian tangan dari Airyn, Sean mampu menemukan dengan navigasi cintanya. Senyum manis Airyn menyambutnya kala itu. Namun, ada hal yang membuat pandangan mata Sean terpana. Tubuh kurus Airyn membuatnya merasa sedih.


"Bagaimana bisa tubuhnya begitu kurus dari sebelumnya? Dua bulan tidak bertemu dan pipi chubby nya hilang?" batin Sean, membalas senyuman Airyn dan melambaikan tangannya.


Sean menunjuk ke arah depan Airyn seraya mengatakan 'tunggu aku ke sana'. Hatinya begitu teriris melihat kondisi istrinya yang berubah drastis. Sean merasa bersalah akan itu. Tapi mau bagaimana lagi? Takdir memang menguji cinta keduanya dengan sebuah perpisahan yang mungkin banyak orang mau mengalaminya.


Setelah beberapa bulan lamanya, akhirnya keduanya dipertemukan. Namun, masih ada penghalang diantara hubungan mereka. Yakni, sebuah sandiwara hilang ingatan Sean yang sampai saat itu masih ia lakukan.

__ADS_1


"Ternyata bukan hanya tubuhnya yang kurus. Cekungan mata dan lingkar hitam di matanya menandakan jika dia menjalani hidup yang tidak baik," batin Sean, semakin mendekat langkahnya.


"Haduh, jantungku. Kenapa sejak semalam terus saja berdetak. Bagaimana ini? Aku harus ingat, jika Sean masih hilang ingatan," batin Airyn juga merasa risau.


Keduanya hanya saling tersenyum. Tataan keduanya tak mampu berbohong. Wajah datar, emosi yang mampu terkendali, tapi tak tau bagaimana rasanya gejolak perasaan masing-masing. Ada kalanya keduanya ingin berpelukan. Namun, halangan hilang ingatan itu masih harus membuat mereka bersabar.


"Apa kamu—" Airyn mencoba memulai obrolan.


"Aku apa?" tanya Sean dengan suaranya yang membuat hati Airyn menjadi tenang.


"Ah, tidak, hehe. Mari, kita ngobrol sambil pulang," Airyn menjadi canggung.


"Um, maaf. Bukan aku menolak, tapi kita mau pulang kemana, ya? Apakah kamu mau mencarikan aku hotel?" tanya Sean dengan sandiwaranya.


Deg!


"Semangat Airyn, kami pasti bisa!" wanita ini tengah menyemangati dirinya sendiri.


Helaan napas Airyn, menandakan bahwa dirinya masih sabar menghadapi cobaannya. Tanpa membuat Sean bingung, Airyn pun bertanya, "Apakah Kak Feng atau Mas Tama tidak mengatakan apapun tentang statusmu? Atau aku, mungkin?"


"Eh, kita bicara pakai bahasa Indonesia. Mengapa kamu bisa memahami? Bahkan kamu juga bicara dengan bahasa Indonesia?" Airyn memang cerdas.


Kwak … Kwak … Kwak…


Suara burung gagak terlintas dipikiran Sean. Iya baru sadar jika dirinya bisa menjawab ucapan istrinya. Kikuk, Sean pun segera mencari alasan untuk menjawabnya.

__ADS_1


"Tuan Hao (Feng) mengatakan, jika kamu adalah istriku. Lalu, kamu juga berasal dari Indonesia. Jadi, apakah ini hukum alam? Meski aku hilang ingatan, tapi aku tetap mengingat hal-hal yang pernah terjadi diantara kita, meski hanya sedikit. Ya, contohnya ini!" alasan Sean.


Airyn mengerutkan keningnya. Apa yang dikatakan oleh suaminya masuk akal juga jika Sean bisa paham bahasa yang ia gunakan. Namun, Airyn kembali merasa aneh saat Sean tak lagi seperti orang asing.


"Apa kamu sudah mengingat semuanya? Mengapa sudah tidak menyebutku, Nona lagi?" tanya Airyn.


"Um, 18 hari terakhir, aku menjalani pengobatan. Feng dan juga Tama menceritakan segalanya tentang statusku, sebagai suamimu" jawab Sean masih ngada-ngada.


Tidak ingin merusak suasana, Airyn percaya saja apa yang dikatakan oleh suaminya dan segera mengajaknya pulang. Tetap saja meski mereka suami istri, mereka tidak bergandengan tangan karena tahu yang terjadi mereka sudah berpisah selama 2 bulan. Dan itu menimbulkan kecanggungan bagi Airyn tersendiri untuk menggenggam tangan suaminya.


"Tapi, kok, aku merasa juga dia tidak hilang ingatan, ya?" batin Airyn. "Juga kakinya baik-baik saja. Tapi memang ada beberapa bekas luka juga di wajah dan juga tangannya," sambungnya.


"Luka di wajahnya itu sangat jelas sekali. Pasti dia mengalami kesulitan ketika hilang. Tapi kenapa semuanya begitu cepat? Bukan kalau orang … ah, kenapa aku ini? Aku harus bersyukur dia masih bisa kembali!"


Airyn meyakinkan diri untuk tidak banyak bertanya dan curiga kepada suaminya. Menikmati pertemuan dan merasa senang karena suaminya telah kembali.


"Ini mobil kamu?" tanya Sean.


"Iya, kamu yang memberikannya. Apa kau tidak ingat?" jawab Airyn.


"Aaaaa manis sekali. Ingin sekali aku memeluknya, mencium seluruh wajahnya dan tak ingin aku lepaskan. Lihatlah betapa manisnya dia ketika memasang wajah yang seperti itu," batin Sean mulai goyah.


"Um, aku tahu kalau kamu belum mengingat banyak. Pelan-pelan saja, pasti nanti kamu akan mengingat semuanya. Aku ada disini dan akan sabar membantu mengembalikan ingatanmu." ujar Airyn dengan senyuman manisnya.


Sean semakin tidak berdaya melihat keimutan yang ada pada istrinya. Meski begitu, Sean harus menahan diri sampai kondisi terkendali dan mengatakan kebenarannya terhadap istrinya.

__ADS_1


Mereka pun menuju perjalanan pulang. Ayyana (kakak sepupu Airyn) sengaja menginap di rumah Tuan Jin karena tidak ingin menganggu momen kebersamaan adiknya dengan suaminya. Sejak pagi tadi, Ayyana membawa sejumlah barangnya dan Haidar tentunya, pergi ke rumah Tuan Jin.


__ADS_2