Mengejar Cinta Mas Tama

Mengejar Cinta Mas Tama
Gengsi Bilang Sayang


__ADS_3

"Jadi, kalian berdua tidak tinggal bersama meski kalian saudara kembar?" tanya Xia, sesaat setelah tahu kisah Airyn dan Leticia.


Airyn menggelengkan kepala. "Kami benar-benar dibesarkan dengan latar belakang yang sangat berbeda. Kami bertemu kembali juga baru beberapa bulan yang lalu. Begitu juga dan pertemuan kami dan kak Chen," jelasnya.


"Kedua adik kakak terlihat orang-orang yang bisa diandalkan, terutama Kak Airyn. Pantas saja kakak tidak pernah menganggap diriku ada," Xia mulai berpikiran buruk lagi.


"Eh, kenapa kamu diam saja? Apa ceritaku ini terlalu menyedihkan, sehingga membuatmu murung dan diam seperti itu?" Airyn memecah lamunan Xia.


Xia menggelengkan kepala.


Selama satu setengah jam mereka memasak, barulah semua makanan tersajikan di atas meja makan. Xia sendiri belum pernah memasak sebanyak itu selama hidupnya. Membuatnya terlihat sangat lelah ketika semua makanan sudah tersaji.


"Huh, akhirnya semuanya selesai," ucap Airyn. "Oh, Xia ..." panggilnya, Airyn tidak jadi melanjutkan apa yang hendak ia katakan kepada Xia setelah melihat remaja itu terlihat kelelahan. "Um, kamu segeralah mandi. Lalu turun, kita makan bersama, hm?" pintanya.


"Okay, Ai ... Ryn. Uhh, sulit sekali mengatakannya. Bagaimana jika mulai sekarang, aku memanggil dirimu dengan nama Ai saja?" Xia mulai akrab dengan Airyn.


Airyn tersenyum. "Kamu boleh memanggilku dengan sebutan Kak Ai!" seru gadis itu.


"Kak?" Xia bertanya heran.


"Iya, kakak. Kau adalah adik dari kakakku. Jadi, bagaimanapun juga kau akan menjadi adikku juga. Jadi, panggil aku kakak, dan kamu adalah adik bungsuku, setuju?" keramahan Airyn memang langsung menghipnotis Xia yang memang tidak memiliki kakak perempuan sebelumnya.


Kebingungannya menjadi dirinya hanya mengangguk saja kepada Airyn. Berjalan kembali ke kamarnya dan memikirkan apa yang dikatakan oleh gadis berusia 25 tahun itu kepadanya. Ada rasa terharu yang membuatnya mengeluarkan air mata tanpa mampu ia kendalikan.


"Apa begini rasanya jika dianggap adik oleh seorang kakak? Aku bahkan baru mengenalnya, tapi aku merasa ketulusan yang ada di hatinya. Apa sungguh-sungguh dia sangat menginginkan aku menjadi adiknya?" gumam Xia dalam hati.

__ADS_1


Di dapur, Tama menghampiri Airyn yang saat itu masih membersihkan piring dan juga gelas untuk semuanya makan malam bersama nanti. Sama juga mengacungkan jempol kepada sepupunya itu karena sudah membuat Xia tersenyum kembali.


"Kenapa Mas tomat tahu kalau dia ini adalah seorang yang kesepian?" tanya Airyn.


Tomat memang panggilan khusus dadi Airyn untuk Tama.


"Entah kenapa ketika pertama kali aku melihatnya, aku merasa dia memiliki daya tarik yang tidak bisa dijelaskan," ungkap Tama. "Apalagi ketika aku melihat amarah yang ada di matanya itu. Entahlah, aku malah bingung memikirkannya." lanjutnya.


Airyn tersenyum mengejek. Tama yang sadar jika adiknya itu mengejeknya langsung mencubit hidungnya sedikit kasar. Airyn menggodanya untuk Tama tidak bermain-main dengan Xia karena Xia masih kecil. Tama hanya tersenyum saja ketika Airyn menggodanya.


Suasana makan malam terasa khidmat. Xia yang biasanya ribut perihal makanan, dia hanya diam saja menatap makanan yang ia buat bersama dengan kakak barunya. Sampai Leticia menegurnya dan mengejutkannya.


"Hei, apa yang lihat?" tanyanya sedikit kasar. "Kau sudah kurus seperti ini, apa kak tidak memberimu makan yang cukup? Ini, makanlah daging ini dan sayurannya supaya tetap bisa eeg," celetuknya, mengambilkan Xia daging dan sayuran tersebut.


Xia hanya diam saja, ingin mengucapkan terima kasih tapi masih teringat dengan apa yang Leticia lakukan terhadap pie susu yang sudah ia buat dengan susah payah. Tapi ketika melihat lirikan mata kakak lelakinya di depannya, membuat Xia terpaksa mengucapkan terima kasih kepada Leticia.


"Kakak sepertinya sangat menyayangi adiknya yang ini. Alangkah lebih baiknya jika aku menjauhi dia saja," ucap Xia dalam hati.


Makan malam penuh khidmat karena adanya banyak anggota keluarga yang datang. Chen memperlihatkan senyum yang selama ini ia sembunyikan dari Xia, membuat remaja 15 tahun ini murung terus karena merasa jika kakaknya benar-benar tidak mempedulikannya.


"Aku selesai, aku mau ke kamar dulu untuk siap-siap," ucap Xia, mengalah.


"Makananmu belum habis, kenapa sudah bilang selesai saja, bocah!" seru Leticia.


Xia memutar matanya. "Sial, orang ini sungguh menguji kesabaranku saja!" kesal Xia dalam hati. "Aku sudah selesai, perutku kecil sekali, tidak sepertimu yang apapun itu dimakan tanpa permisi." rupanya Xia masih kesal dengan perlakuan Leticia terhadap pie susunya.

__ADS_1


Seorang Leticia juga tidak bisa disenggol oleh siapapun meski itu adalah anak remaja yang tidak sepadan dengannya. Dia yang kesal dengan mengepalkan tangannya, membuat Airyn harus menasehatinya.


"Cia, apa-apaan kamu ini? Mau berdebat dengan anak kecil? Apa itu sepadan?" terus Airyn dengan lirikan mautnya.


"Tapi, Ryn, dia—" ucapan Leticia terhenti kalau Airyn menyumpal mulutnya menggunakan ayam goreng buatannya.


Tama dan Sean hanya tertawa melihat tingkah Leticia yang tidak jauh dari Xia. Masih kekanak-kanakan, suka main-main dan tidak pernah serius. Berbeda dengan Chen yang terus menatap langkah Xia menuju ke kamarnya. Ada hal yang tidak bisa Chen katakan saat itu pada adik angkatnya itu.


Sampai di kamar, Xia memukul benda yang memang biasanya dibuat sebagai pelampiasan amarahnya saja. Terus berulang kali memukul tanpa mengatakan apapun. Tak sadar, air matanya menetes dan wajahnya mulai memerah karena amarah itu. Pukulan demi pukulan semakin cepat, Xia hendak berhenti tapi tetap tidak bisa.


"Hah!" teriaknya.


Xia mengetikan pukulannya. Tapi sayangnya, benda yang digantung itu tidak berhenti juga sampai mengenai kepala Xia lagi. "Ash, sialan!" kesalnya.


"Huh, menyebalkan. Semua menyebalkan!"


Tubuh mungilnya itu dihempaskan ke ranjang dan menatap langit-langit kamarnya yang indah. Tangannya hanya mengepal tapi bibirnya masih lengket antara atas dan bawah. Tidak ingin mengumpat karena takut Tama akan mendengar seperti siang tadi ketika tiba-tiba ia datang.


Di meja makan, Airyn kembali memperingati Leticia untuk tidak menggoda Xia. Leticia dan Xia memang dua orang memiliki sifat dan karakter yang sama. Meski Leticia berada di tubuh wanita berusia 25 tahun, tapi kelakuannya masih saja stuck masa remaja.


"Kamu kenapa belain dia, Ryn. Yang adik kamu tuh aku bukan dia. Lagian aku cuma main-main saja dengannya, kenapa juga dia menanggapinya dengan serius. Dasar tidak asik!" lagi-lagi Leticia mencari pembelaan.


"Bukan masalah itu, Cia. Kamu belum tahu karakternya, alangkah baiknya kita sama-sama membangun sebuah hubungan dengan baik. Sekarang kamu sudah bukan bungsu lagi, jadi berhenti bersikap kekanak-kanakan seperti ini, paham?" tegas Airyn.


"Darimananya aku yang tidak jadi anak bungsu lagi? Sudah jelas-jelas aku adalah anak terakhir dari ayah dan juga mami. Jika aku bukan bungsu, Lalu siapa bungsu di keluarga kita?" Leticia mulai perdebatan.

__ADS_1


"Ada Xia diantara kita. Bagaimanapun juga dia adalah adikku, Cia. Jadi ubahlah pikiranmu yang kekanak-kanakan itu karena kau sekarang sudah menjadi seorang kakak." setelah mengatakan itu, Chen beranjak dari meja makan menuju ke kamarnya.


Sean dan Tama saling menatap, kemudian melanjutkan makannya dan meminta Airyn segera bersiap ke undangan pesta pernikahan. Sementara Leticia memasang wajah jutek karena tidak terima jika Xia menjadi bungsu di keluarga itu.


__ADS_2