Mengejar Cinta Mas Tama

Mengejar Cinta Mas Tama
Airyn dan Sean


__ADS_3

"Hampir 20 hari ini, kita tidak berkomunikasi. Kamu kemana saja?" tanya Airyn memecah keheningan.


"Aku berada di Amerika untuk mengurus perusahaan. Apakah Tuan Hao tidak mengatakannya kepadamu?" jawab Sean, berbalik bertanya.


Airyn mengangguk paham. "Dia mengajariku. Tapi, alangkah senangnya jika kamu sendiri yang mengatakannya kepadaku." katanya.


Selain diam, memang tidak ada hal lain lagi yang mereka bahas. Sampai dimana mereka telah sampai di rumah. Turun dari mobil, melihat ke sekeliling membuat Sean merasa masih mengenal tempat tersebut.


'Hahaha, kenapa aku terlalu mendalami peran? Astaga, bukankah aku hanya pura-pura hilang ingatan saja? Ya tentu saja tempat ini tidak asing lagi bagiku dan aku mengenali tempat ini. Sean, Sean, semakin lama kau semakin—" belum juga Sean menyelesaikan ekspektasinya, Airyn mengajaknya segera masuk.


Sean masih saja berakting dengan pura-pura bingung di gedung apartemen tersebut. Supaya tidak memberikan rasa kecurigaan kepada sang istri. "Kamu tinggal di sini sudah berapa lama?" tanyanya.


"Apa kamu tidak ingat sesuatu?" Airyn kembali bertanya.


"Maaf—"


"Tenang saja, aku akan membuatmu mengingat semuanya secara perlahan. Kamu jangan khawatir, ayo masuk, kita sudah sampai di rumah kita," sahut Airyn tulus.


Melihat betapa tulus Airyn kepadanya, membuat Sean menjadi tidak tega untuk terus membohongi. Namun, jika saja saat itu Sean langsung mengaku, waktunya pun belum tepat untuk jujur kepada istrinya. Dia hanya terus beristighfar meminta kekuatan hati untuk menerima konsekuensinya karena sudah berlaku tidak jujur kepada sang istri.


Mereka pun masuk langsung disambut dengan foto mereka berdua usai melakukan ijab qobul hampir satu tahun yang lalu. Melihat ke sekeliling lagi, tak ada yang berubah di rumah tersebut meski dirinya sudah tak pulang selama dua bulan lamanya. Foto keluarga, foto kebersamaannya dengan Airyn, masih tertata rapi di sana.


"Ini ….." Sean takjub karena Airyn begitu menjaga perasaannya.


"Kamu suamiku, dan selamanya akan menjadi suamiku. Kita sudah menikah, disaksikan di depan keluarga, dipersatukan oleh Allah. Jadi, se-bagaimana mungkin aku harus mempertahankannya meski kamu hilang dan tidak ada kabar waktu itu," jelas Airyn..


"Sejak semuanya pergi, aku merasa sendirian di dunia ini. Ibu, kakak, kakak ipar Aurora, Leticia dan sahabatku sejak kecil juga meninggalkanku secara bersamaan. Hatiku sangat terluka saat itu, Seab. Ditambah lagi, kau hilan waktu itu," sambung Airyn berjalan di depan suaminya.


"Namun, Ayah dan seluruh keluarga berhasil membuatku bangkit kembali. Keponakan kecil, putrinya Leticia juga telah lahir dan memberiku semangat hidup. Setelah memberanikan diri untuk kesini lagi … aku berusaha untuk selalu kuat meski tanpamu,"

__ADS_1


"Aku pikir aku akan terbiasa tanpa dirimu. Ada kak Ayyana dan juga Haidar di sini. Ada Tuan Jin dan Bora temanku yang selalu menemani kami di sini. Tapi tidak adanya dirimu … tetap saja membuat ruang kosong tidak pernah ada yang menghuni lagi," Airyn menyentuh dadanya.


"Sean, kamu memang hilang ingatan. Tidak bisa untuk tidak menganggapnya sebagai suamiku. Di dunia ini kau adalah surga bagiku,"


"Hei, meski aku bisa menjalani hidup tanpamu, tetap saja kaki yang dulunya melangkah bersama harus berjalan tertatih-tatih karena pincang. Kaki yang sebelahnya lagi hilang, dan itu tidak ak—"


"Stt, tolong jangan bersedih lagi. Stop menceritakan hal yang menyedihkan. Aku sudah di sini, aku akan segera mengingat segalanya. Tersenyumlah, aku sudah datang, jangan menangis lagi," tak kuasa melihat istrinya bersedih hati, Sean langsung membuat sang istri berhenti bicara.


Jantungnya berdebar dengan hebat. Sungguh seperti orang yang baru mengalami jatuh cinta. Sean jatuh cinta lagi dan lagi terhadap istrinya. Bahkan, ketika hendak di rayu oleh karyawannya di Amerika saja, Sean tidak tertarik akan itu.


"Boleh tidak, sih? Kita berpelukan? Tidak harus menunggu kamu kembali mengingat seperti apa hubungan kita?" tanya Airyn lirih.


"Hah? Apa? Aku tidak mendengarnya, katakan sekali lagi!" goda Sean.


"Lupakan! Selamat istirahat, aku akan ke kamar bersih-bersih dulu. Permisi!"


"Aaaa ... Aku ini kenapa? Kenapa aku salah tingkah seperti ini? Bukankah dia ini suamimu, Airyn? Mengapa kamu bisa salah tingkah?"


"Tidak, tidak, tidak! Kamu harus tenang, kamu harus tenang. Oke? Jangan seperti ini. Sekarang yang kamu perlukan berdiri di depan cermin yang mengontrol diri."


Setelah berguling kesana-kemari di atas ranjang, Airyn berdiri dan memandangi dirinya di cermin panjang dan besar di kamarnya. Pipinya yang merah sangat jelas menandakan jika hatinya sedang berbunga-bunga karena cinta.


"MasyaAllah, kalau seperti ini caranya ... Aku malah tidak bisa fokus. Aku terlalu bersemangat bertemu dengan Sean, jadi aku tidak bisa mengontrol emosiku,"


"Kamu bisa, Airyn. Yang kamu perlukan saat ini, keluar desa kan makanan untuk suamimu yang baru kembali. Buat makanan yang enak, makanan kesukaannya, dan jangan lupa selipkan doa supaya dia bisa ingat kembali sedikit demi sedikit memori bersamamu,"


"Iya, aku pasti bisa!"


Airyn meyakinkan diri, ia keluar dari kamar dan segera ke dapur untuk menyiapkan makanan untuk suaminya. Tak lagi gugup, Airyn menyibukkan diri memasak sembari bersholawat di dapurnya.

__ADS_1


Sementara itu, di kamar sebelahnya lagi, Sean juga merasa tidak tenang perasaannya. Ia merasa bersalah karena telah membohongi istrinya. Berkali-kali ia menampar pipinya sendiri hingga memerah karena merasa perasaan bersalahnya itu.


"Istriku kenapa sangat imut? Aku merindukannya, aku memeluknya lebih lama dan erat lagi,"


"Betapa imutnya dia tadi--"


"Astaghfirullah hal'adzim, aku menyesal mengaku hilang ingatan. Cintaku berada di depanku, tapi aku tak bisa memeluknya,"


"Kau bodoh, Sean! Kau bodoh!"


Plak! Plak!


"Huh, rasakan ini! Sakit, bukan? Kau harus sadar, Sean!"


Setelah lelah menampakkan dirinya sendiri, Sean pun merebahkan tubuhnya dengan menghentakkan keranjang dengan keras. Berharap supaya bisa segera mengakhiri sandiwaranya, karena tak tahan lagi ingin bersama sang istri.


"Hatiku sangat nyaman sudah sampai ke rumah ini lagi. Ai-ku terlihat kurus dan wajahnya pucat. Pasti dia mengalami hal yang buruk sendirian. Haih, rasanya ingin sekali aku memeluknya dan mengatakan kita semuanya sudah baik-baik saja,"


Ketika Sean hendak memejamkan matanya, dia mencium ada aroma lezat yang menusuk lubang hidungnya. Tak salah lagi jika rumah tersebut adalah wangi dari masakan Airyn. "Eh, bau harum apa ini?"


"Istriku memasak?" Sean langsung bangkit.


"Biasanya juga dia sedang masak aku memeluknya dari belakang. Bukankah itu sungguh romantis? Tapi sekarang aku tidak bisa melakukan itu sampai ... sampai sandiwara ini berakhir,"


"Hash, aku bodoh, aku menyesal!"


"Aku harus pikirkan lagi, bagaimana supaya aku segera mengakhiri sandiwara gila ini! Aku merindukan istriku ya Allah, aku merindukannya,"


Sean pun akhirnya terlelap begitu saja dengan menggenggam erat ponsel miliknya, yang dimana baru saja ia melihat wajah sang istri.

__ADS_1


__ADS_2