Mengejar Cinta Mas Tama

Mengejar Cinta Mas Tama
Kelucuan Suami Istri


__ADS_3

Makanan sudah siap semua. Airyn sangat bahagia bisa memasak makanan kesukaan suaminya lagi. Beberapa pangsit dan mie kesukaan Sean juga ada di sana. Tak lupa juga, Airyn menyelipkan doa supaya hubungannya bersama sang suami bisa kembali membaik segera.


"Alhamdulillah, semuanya sudah siap. Aku akan memanggilnya untuk makan, pasti dia sudah lapar. Biasanya, Sean paling tidak mau makan makanan di pesawat jika—"


Semangat Airyn menurun, ia mengingat bahwa suaminya belum ingat apapun kenangan bersamanya. Ia bingung sendiri akan mulai darimana untuk membuat suaminya bisa kembali mengingat memori yang hilang.


"Lupakan! Aku akan memanggilnya sekarang juga!" serunya dengan semangat pergi ke kamar sebelah, tempat Sean istirahat.


Perlahan, Airyn membuka pintunya. Teringat jika sang suami masih hilang ingatan, ia pun mengurungkan niat untuk langsung masuk. Ia mengangkat tangannya, kemudian mengetuk pintu. Terlihat sang suami sedang merebahkan tubuhnya dengan terlentang. Airyn kembali mengetuk pintu kamarnya, namun tidak ada respon dari suaminya. Akhirnya, ia pun memberanikan diri untuk masuk.


Sean saat itu tengah memejamkan matanya. Airyn mendekati dengan perlahan karena penasaran juga mengapa suaminya tidak menyahut panggilannya dan ketukan tangannya.


'Apa dia tertidur?' gumam Airyn dalam hati.


Ketika sudah mendekat, Airyn melongok memastikan kembali jika suaminya benar-benar sedang tidur atau memang hanya memejamkan matanya saja. "Oh, sepertinya dia memang tidur. Sebaiknya aku bangunkan nanti saja." gumamnya.


Kaki Airyn tersandung kaki sofa yang ada di depan tempat tidur di kamar itu. "Aduh," rintihnya lirih. "Sakit sekali, siapa yang menaruh sofa ini di sini. Untuk apa juga ada di sini, tidak ada yang duduk juga di sini!" keluh Airyn dengan lirih.


Wanita itu terus saja bergumam dan membuat suaminya terbangun. Tangan Sean meraih tangan istrinya dan menariknya hingga sang istri terjatuh tepat di atas tubuhnya.


"Ah!"


Teriakan Airyn membuat Sean semakin gemas saja. Kini, wajah mereka sangat dekat sekali, saling menatap satu sama lain. Membuat jantung keduanya sama-sama berdebar karena kembali jatuh cinta setelah perpisahan sementara sebelumnya.


Hampir tujuh menitan mereka masih berada di posisi yang sama. Tak ingin membuat momen membosankan, Sean pun menggoda istrinya dengan bertanya, "Apa tubuhku begitu nyaman, sehingga kamu tidak ingin beranjak, Nona Airyn?"


Airyn tersadar.


"Apa sebelumnya, kamu sangat mencintaiku dan cintamu paling besar daripada aku? Hm, ini sungguh menyenangkan—" bisik Sean, tepat di telinga istrinya.


"Enak saja! Huft, kamu yang kecintaan denganku. Kamu yang mengejarku, kamu yang memaksa aku menikah segera. Ih, kamu menyebalkan!" Airyn sampai mendorong tubuh suaminya yang kala itu ada di sisinya.

__ADS_1


"Lalu, untuk apa kau masih duduk di sini?" tanya Sean.


Airyn langsung berdiri. Sayangnya, kakinya terlilit selimut, sehingga membuatnya terjatuh lagi di pangkuan suaminya.


"Lihatlah, bahkan kau memainkan trik untuk tidak jauh dariku, bukan?" Sean kembali menggodanya.


Saat Airyn hendak kembali berdiri, Sean menahan pinggulnya supaya dirinya tidak bisa pergi darinya. Sontak, membuat Airyn terkejut karena sudah lama sekali dirinya tidak tersentuh oleh tangan suaminya sendiri.


"Apa yang kau la—" ucapan Airyn terhenti kala menatap mata Dishi.


"Maafkan aku," bisik Sean dengan pelan.


Perlahan Sean melepaskan rangkulan tangannya dari pinggul sang istri. Namun, bukannya langsung pergi, Airyn malah masih duduk dipangkuan Sean. "Untuk apa kamu datang ke kamar ini?" tanyanya.


"Aku sudah membuatkanmu makanan. Jadi, aku ingin mengajakmu untuk makan bersama. Itu jika kau bersedia memakan masakanku, Tuan Sean," jawab Airyn dengan wajahnya yang menunduk.


Mendengar istrinya memanggilnya dengan sebutan Tuan, membuat Sean sedikit tidak terima. Mau bagaimana lagi, sandiwara itu memang dirinya yang memulainya. Maka ia sendiri lah yang harus mengakhirinya.


"Baiklah kalau seperti itu, aku akan keluar dulu," Airyn menjadi murung.


"Bagaimana jika aku memakanmu saja?" lanjut Sean, masih saja menggodanya.


Airyn langsung menoleh dengan tatapan tajamnya. "Apa kamu gila? Kenapa kamu menyebalkan!" teriaknya.


"Hahaha, aku hanya bercanda. Ayo, kita keluar. Aku juga sudah kelaparan, jangan sampai memakanmu."


Merasa malu, Airyn keluar lebih dulu dengan wajahnya yang memerah. Jantungnya juga berdebar tak beraturan, sehingga membuatnya salah tingkah kala menyiapkan minuman untuk suaminya.


"Aku sudah gila, aku sudah gila. Aku jatuh cinta lagi pada suamiku. Tidak ada yang salah ini. Hanya saja, dia masih tidak mengingatku. Bagaimana ini? Aku akan bertanya dengan suaminya Leticia nanti."


Setelah selesai membersihkan diri, Sean baru keluar dan segera menuju meja makan. Di sana, Airyn sudah duduk di kursi yang agak jauh dari gelas dan piring yang disediakan untuk suaminya.

__ADS_1


"Kenapa kita berjauhan?" tanya Sean.


"Ya, karena … aku, aku hanya ingin duduk di sini. Itu kursimu, jadi kamu tetap harus duduk di sana," Airyn mulai gugup lagi.


"Oh~"


Jawaban singkat Sean membuat Airyn kecewa. Makan bersama untuk pertama kalinya sejak perpisahan itu sudah membuat Airyn bahagia. Akhirnya dia bisa berkumpul kembali dengan suaminya meski ada penghalang di dalam hubungannya.


Sean memang sebelumnya tidak suka makan sambil bicara. Setelah mengenal Airyn, dia jadi budak cinta, yang dimana dirinya selalu saja menempel kepada Airyn sebelumnya dan makan pun banyak sekali yang diceritakan. Menjaga rahasianya, Sean makan dengan tenang saat itu.


'Dia benar-benar kembali seperti Sean yang dulu. Dimana dia hampir mirip sikapnya dengan Kak Chen. Darimana aku memulai perjuanganku ini, ya?" Airyn berpikir untuk mengembalikan ingatan yang hilang suaminya.


Selesai makan, Sean tidak langsung kembali ke kamarnya. Dia melihat sekeliling ruangan dapur itu. Dimana tidak ada yang berubah, tapi malah ada yang bertambah barangnya.


"Apa kamu sungguh sangat mencintaiku? Apa aku cinta matimu?" tanya Sean tiba-tiba.


Membuat Airyn yang saat itu minum, sampai tersedak. Melihat sang pemilik hatinya itu tersedak, membuatnya khawatir dan reflek mendekatinya. "Kamu baik-baik saja?" tanyanya.


Airyn mengangguk dan mengusap-usap dadanya. Kemudian memasang wajah kesalnya kepada Sean. "Pertanyaanmu ini membuatku hampir mati tersedak, Tuan Sean!" ketusnya.


"Kenapa kamu harus mati? Aku tidak akan membiarkanmu mati, Nona Airyn," sahut Sean dengan tatapan yang begitu dalam.


Pandangan keduanya sama-sama dalam. Takdir memang ingin mereka bersama, hanya saja dengan sandiwara itu, sama-sama membuat keduanya tersakiti hatinya.


"Lihat di setiap sudut ruangan ini. Apakah kamu begitu mencintaiku, sehingga fotoku banyak sekali di setiap titik?" Sean kembali menggodanya.


"Aku membencimu!" sembur Airyn, kemudian hendak pergi.


Sebelum itu, Sean menahan tangan cintanya dan kembali menariknya untuk duduk di sana. Pria ini pun berbisik, "Apakah benar kamu membenciku? Ingatan seperti apa yang aku lupakan ini, Nona Airyn?"


"Kamu ingin tahu, bagaimana aku mencintai dan membencimu?" Airyn mulai melawan.

__ADS_1


Sean memasang wajah seperti meremehkan. Wajah yang ayu dan teduh itu selalu terbayang di ingatan Sean, kini sudah ada di depan mata, malah ia tidak bebas untuk menyentuhnya.


__ADS_2