
Ketika pagi datang, sarapan di meja makan yang begitu besar. Xia tengah menikmati sarapannya yang secara khusus dimasak oleh koki pilihan.
"Kakak, masakan siapa ini? Kenapa berbeda dari biasanya?" tanya Xia memperhatikan makanan yang tersaji di atas meja.
"Makan saja dulu. Setelah ini kita harus segera sampai ke asrama. Sekolah kamu tidak bisa menunggu lagi karena hari ini katanya ada kegiatan di sekolah," sahut Sean.
Xia terus menatap pie susu yang ada di depan matanya. "Kakak, tapi ini bukan buatanmu. Siapa yang membuatnya? Lalu, Apakah rasanya seenak buatanmu?" tanyanya.
Sean meletakkan roti bakarnya. "Xia, kamu makan saja. Bisa tidak, untuk saat ini jangan protes tentang makanan?" pintanya.
"Aku hanya bertanya saja, kenapa reaksimu seperti itu. Terlihat jika aku ini sangat salah di matamu," ucap Xia lirih.
Barulah Sean menghela nafasnya. "Semuanya yang maksa adalah koki pilihan. Suka atau tidak suka sarapan pagi ini, aku tidak peduli. Xia, masih banyak sekali pekerjaan yang harus aku selesaikan hari ini setelah mengantarmu ke asrama, tolong bantu aku dan bekerja sama-lah denganku, terima kasih."
Hanya sebuah pie susu saja Sean sampai meminta koki pilihan supaya tidak di protes oleh Xia. Sayangnya, Xia memang suka protes tentang apa saja. Namun, tetap saja pie susu tersebut membuat Xia sedih. Ia hanya mengharapkan kakaknya lah yang membuatkannya.
'Kak Sean tidak tahu saja. Aku ingin dia yang buatkan pie susu untukku, bukan orang lain.' keluh Xia dalam hati.
Hanya saja, Sean sangat sibuk hari itu, jadi tidak sempat membuat sarapan. Akan ada meeting penting pagi, setelah mengantar Xia ke asrama. Meeting itu juga ada hubungannya dengan kembalinya Xia di Amerika. Maka dari itu, Sean perlu berhati-hati.
Ketika hendak makan sesuap, Xia tiba-tiba teringat dengan sosok pria yang telah mengganggu pikirannya beberapa saat ketika dirinya berada di Tiongkok. Pria itu tak lain adalah Tama.
'Sedang apa dia di sana? Apa dia tidak merindukan aku? Apa dia tidak menyesal karena tidak mengantarku ke bandara? Sedang apa dia di sana, ya? Apakah dia sudah kembali ke negaranya?' batin Xia lagi.
'Aghrrr, sungguh sangat mengganggu pikiranku. Jangan-jangan Dia sedang asyik bercanda tahu dengan Kak Sachi,"
'Tidak, tidak! Dia pasti memikirkan aku, pasti!'
Xia menghibur dirinya sendiri dengan yakin bahwa Tama sedang memikirkan dirinya. Padahal apa yang ia pikirkan ini sebuah kenyataan, di jauh belahan dunia sana, Tama memang sedang memikirkan Xia.
__ADS_1
Tama yang saat itu harus mengerjakan sisa pekerjaannya di Tiongkok selalu teringat dengan remaja usil yang selalu mengganggunya. Sampai ia sering dimarahi oleh Ayden karena tidak fokus.
"Jangan melamun. Cepat makan sarapannya dan segera kita pergi!"
Lamunan indah Xia rusak karena Sean. Segera Xia makan sarapannya dengan perasaan kesal.
***
Sampai asrama.
"Aku harap kamu betah menempuh pendidikan disini. Aku juga tidak ingin ada hal yang membuat kamu harus keluar dari sekolah ini lagi," tutur Sean.
"Ingat, aku tidak menerima alasan apapun jika kamu ingin meninggalkan sekolah ini. Aku sudah cukup malu karena kamu keluar masuk di sekolah ini sebanyak 7 kali,"
"Ingat, Xia?"
"Ck, iya, Kak!"
"Ini kamarmu, Nona Xia," ucap salah satu petugas yayasan sekolah.
"Jadi ini tetap menjadi kamarku? Aku tidur sendirian?" tanya Xia.
"Semua ini sudah disiapkan oleh mendiang Kakak. Jadi jangan banyak protes dan nikmati saja fasilitas yang mendiang Kakak memberikan," ketus Sean.
"Cih, kau juga semakin menyebalkan setelah mendapat wewenang dari kakak," protes Xia.
"Xia, aku begini juga Kakak keduamu. Bagaimana bisa kamu bicara seperti itu pada kakakmu sendiri, apa kamu ingin dihukum?" tegas Sean.
Seketika Xia ingat jika dirinya tidak bisa menyebut nama Chen di sekolahan itu. Bahkan Sean saja tidak dipanggil menggunakan namanya, melainkan hanya marga dari yang pernah Chen berikan. 'Lee'
__ADS_1
"Perlu diingat lagi, margamu saat ini adalah Lee. Apa kamu mengerti?" bisik Sean.
Xia langsung menatap tajam Sean. Ingin sekali remaja cantik ini protes tentang marga yang ia miliki saat ini. Baginya, marga tersebut tidak cocok disambungkan dengan nama panggilannya, "Xia". Tapi lagi-lagi Xia tidak bisa membantah.
Xia segera masuk ke kelasnya. Untuk kamar, Xia akan masuk di kamar yang sama dengan sebelumnya iya tinggali. Meski Chen dan Sean meminta Xia untuk menyembunyikan identitasnya, tetap saja mereka menyediakan kamar tersendiri bagi Xia.
Pihak sekolah sebenarnya sudah tahu siapa Xia sebenarnya. Hanya saja, dengan kekuatan akan Chen dan Sean miliki, mereka mampu membungkam sekolah supaya bisa menyamarkan nama aslinya Xia. Hal itu supaya bisa membuat Xia leluasa dalam mengerjakan misi pentingnya menjadi siswi teladan.
"Baiklah, jika kamu sudah meletakkan barang-barangmu, ikutlah denganku masuk ke kelas. Aku akan mengantarmu sampai di depan kelas, Nona Xia," ajak petugas yayasan sekolah.
"Iya," jawab Xia patuh.
Sebelumnya, Sean memberikan Xia sebuah gelang. Di mana gelang tersebut adalah benda yang bisa Sean gunakan untuk memantau Xia.
"Jaga gelang ini sebaik mungkin. Apapun yang terjadi, tetaplah menjadi anak yang baik. Jangan sampai aku dipanggil lagi hanya karena untuk menyelesaikan masalah yang kamu buat," bisik Sean.
"Iya, berisik!" desis Xia lirih.
Mereka pun berpisah. Sean akan menampungkan pekerjaannya dan segera kembali ke Tiongkok untuk membantu yang lain menyelesaikan pekerjaan. Pria ini juga harus terbang ke Korea untuk menemui istrinya—Airyn.
Xia masuk di kelas yang sama dengan kelas sebelumnya, mendapatkan teman yang buruk, perlakuan buruk juga, membuat ia tetap akan bertahan sampai kelulusan. Dirinya sudah berjanji dengan diri sendiri, untuk menjadi gadis yang baik seperti yang diharapkan mendiang kakaknya, juga kakak keduanya yang masih ada.
"Apa ini? Kamu kembali lagi?" ketus salah satu seorang siswi di kelas itu.
"Sebenarnya seberapa kaya keluargamu itu? Sampai-sampai kamu bisa keluar masuk dari sekolah ini banyak yang kamu inginkan," lanjutnya.
"Megan, apa memang seperti itu cara mau bicara dengan temanmu?" Guru menegur. "Mungkin saja Xia sedang mengalami kesulitan sehingga mengharuskan dia harus keluar masuk dari sekolah ini," ucapnya.
"Kita tidak tahu masalah orang lain kecuali orang lain itu bicara dengan kita. Maka dari itu kita tidak boleh menghakimi orang lain, apa kamu paham Megan?"
__ADS_1
Guru itu kembali menasehati remaja yang bernama Megan. Megan ini adalah sesuatu yang tidak pernah menyukai Xia. Sebab, karena Xia dirinya tidak pernah mendapat perhatian lagi dari para guru.